Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Hari Pertama Pernikahan


__ADS_3

Siang hari Kasih berada di taman belakang menaiki sebuah ayunan bulat berwarna putih, ayunan itu terlihat sangat mahal, ia berayun sambil menikmati udara segar. Angin juga bertiup kencang, terdengar suara tapak sepatu mendekat, auranya tak asing, siapa lagi kalau bukan ibu mertua.


"Wow, lihat, betapa santainya permaisuri ini!" Nona datang bertepuk tangan untuk mencintai.


"Ibu mertua." kasih langsung berdiri merasa takut.


"Kenapa kau panggil aku, Ibu?" Nona duduk di sofa yang ada di situ.


"Bukankah Anda sudah menjadi Ibu mertua saya?" kata Kasih.


"Eh, kamu benar-benar naif, bukan? Ya, sekarang kamu adalah istri Nathan, tapi itu tidak berarti menjadi menantuku."


Nona ngomong sambil makan kacang yang ada di toples di atas meja, memang camilan spesial untuk bersantai.


"Kenapa?" tanya kasih.


"Mengapa?" Nona mengernyit. "karena kau tidak pantas menjadi menantu dari keluarga Wing, hati-hatilah!" Nona melemparkan kulit kacang yang dia makan sebelumnya ke Kasih


Sakit banget hidup dalam satu atap bersama orang yang tidak bisa menghargai, tolong hargai dia sedikit saja.


Pernikahan ini sama sekali tidak ada gunanya, bahkan Nona tidak bisa menerima dirinya sebagai menantu, apalagi Nathan yang tidak bisa menerima dirinya sebagai seorang istri, menyakitkan bila ada dua orang itu.


"Ibu." Billy berjalan ke taman sambil berteriak memanggil nama Kasih.


"Ibu, ajak Billy tidur siang, oke?" kata Billy sambil menarik tangan Kasih.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi Nyonya."

__ADS_1


Jika tidak bisa dipanggil ibu, panggil nyonya lebih dari cukup membuat wanita itu senang.


Kasih dan Billy akhirnya meninggalkan taman dan menuju rumah, namun Nona itu tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Kasih dari belakang.


"Ckckck, dia benar-benar pantas menjadi pelayan," kata wanita muda itu.


Sesampai di kamar, Kasih langsung menidurkan Billy sambil membacakan dongeng, meski tak bisa dekat dengan ayahnya, bersama putranya, ia bersyukur. Terlalu dalam untuk menceritakan kisahnya, akhirnya Kasih tertidur di samping Billy.


Meski merasa terhina oleh ibu mertuanya yang tidak mau mengakuinya sebagai menantu, namun ia tulus dan Billy adalah obat yang bisa menyembuhkan lukanya.



Nathan dan Rehan memilih untuk makan siang di kafe terdekat dengan kantor, mereka merasa sangat lelah selepas kerja.


"Rehan, coba kentang goreng ini! Rasanya enak." Nathan memberi Rehan seporsi kentang, lalu dia makan dengan cepat.


Wajah Rehan langsung menjadi aneh setelah dia mengunyah makanannya. Meski sama sekali tidak ada perbedaan dari yang lain.


"Apa Anda lapar, ya?" Dia bertanya sambil tersenyum kecil.


"Tidak lah, aku kan sudah kenyang."


"Tapi rasa kentang ini nggak ada bedanya dari yang lainnya."


"Masa?"


Nathan kembali mencicipinya, ia merasa bahwa sekali lagi makanan itu terasa sangat enak di mulutnya.

__ADS_1


"Enak kok." Nathan merebut kembali kentang itu.


"Sepertinya itu bawaan gairah malam pertama Anda tadi malam, Tuan," ledek Rehan.


"Uhuk ... uhuk." Ia terbatuk tak menerima olokan Rehan.


"Apa-apaan, Re, kau tahu? Aku tidak akan pernah menyentuh wanita selain istriku, yaitu Sera, hanya mendengar nama wanita desa itu saja sudah muak." Nathan menggigil sedikit.


Situasi menjadi sunyi, saling sibuk dengan ponsel.


Nathan tertawa saat melihat isi ponselnya. "Re, lihat berita ini! Suaminya menikahi istrinya tetapi pria itu tidak menyukainya, sedih ya." Nathan menunjukkan ponselnya pada Rehan, itu terlihat biasa saja karena Rehan membenci berita. Itu sangat membosankan baginya.


Apakah Anda tidak sadar diri, Tuan? Meledek orang tapi tidak mencerminkan diri Anda sendiri, jika dilihat Anda lebih miris tuan. batin Rehan.


"Kita pergi." Nathan bangkit dan meletakkan ponselnya di saku jasnya.


Tiba-tiba Rehan langsung berdiri dan bertanya "Mau kemana, Tuan?"


"Menemui istriku tercinta."


"Nyonya Kasih?"


"Eh, apa? Dengar, jangan sebut nama jelek itu lagi, telingaku sakit mendengar namanya."


Nathan berjalan sambil tertawa dan menceritakan tentang istrinya yang jelek, sekretaris Rehan tetap diam dan mengikuti jejak Nathan, yang telah jauh.


Nathan memberi tahu Rehan tentang semua keburukan fisik dari Kasih, apakah itu fabrikasi atau kenyataan, tetapi yang jelas adalah bahwa Kasih tidak seburuk apa yang dia katakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2