
Ceklek. (suara pintu kamar)
Membuka pintu secara perlahan takut jika di sembur oleh Tuan petir penghuni kamar bahwasanya ia telah terlambat pulang. Mengingat sikap galak Nathan rasanya Kasih tak ingin masuk kedalam sekali kena hantaman bisa saja nyawanya menghilang.
" Lama sekali kau pulang." sudah di bayangkan apa yang akan terjadi Nathan telah mengeluarkan suara toaknya untuk menyembur,pria itu tengah duduk di sofa menunggu kepulangan sang Istri.
Menutup pintu sebentar lalu berjalan menunduk. "Maafkan saya Tuan." semoga kemarahan tak berpanjang lebar.
Kasih berhenti setengah jalan saat Nathan melangkah menghampiri dirinya,Dag Dig Dug, suara detakan jantung nya.
berhadapan dengan Kasih Nathan terdiam sebentar entah apa yang ia fikirkan mungkin saja dia marah.
"Ini sudah jam berapa.?" menunjuk arloji di tangan tak lepas memandangi Kasih dengan mata elangnya.
"Jam 12 lewat Tuan." takut semakin takut bertahan menghadapi masalah.
Nathan mendekati wajah Kasih hampir menempel. "Bukankah sudah aku katakan, kalau kau harus ada di kamar sebelum aku sampai ke kamar duluan." mengingatkan dengan suara tegas.
"Maaf Tuan muda,tadi pekerjaan saya sangat banyak." Semakin takut tak berani menatap Nathan.
"Jangan bohong." menggertak membuat Kasih ketakutan. "Kau berselingkuh dengan Bos mu kan.?" tuduhan yang tak masuk akal
Kasih mengangkat wajah menatap Nathan tuduhan semacam apa itu padahal ia bekerja seharian dan mana sempat melakukan hal semacam perselingkuhan lagipula Bos nya mempunyai selera tinggi,aneh sekali jika menyukai dirinya yang sama sekali tak ada pesona.
"Ti tidak Tuan." melindungi diri dengan antusias. "Ngaku saja." Nathan membentak mendesak tutur pengakuan dari mulut Kasih.
__ADS_1
"Sumpah demi Tuhan." mengatakan sumpah demi tidak di fitnah terus. "Kau." jeritan Nathan hanya satu gertak.
Nathan mendorong Kasih sampai menempel ke dinding sebelah pintu diam tak berkutik, Nathan semakin mendekati wajah Kasih matanya merem melek tak dapat terbuka sempurna,Nathan mengunci Kasih di genggaman nya agar tak bisa kabur.
"Kau."
Bisikan Nathan menembus batas perasaan Kasih bibir mereka mendekat sedikit lagi tersentuh,hembusan setiap hembusan nafasnya mengipas telinga Kasih hembusan yang berhasil menusuk bulu kuduknya,antara geli dan rasa sensual dapat di rasakan Kasih hingga tak sadar diri bahwa ia telah di permainkan oleh Nathan.
Nathan memiringkan kepala mendekati kuping Kasih. "Kau bau." pekikan Nathan menyadarkan Kasih yang tengah separuh nge-fly.
"Haaaa." berteriak agak pelan tersadar mendadak.
Nathan menjauhkan diri dari hadapan Kasih. "Kau bau sekali,mandi sana.!" tuturan yang menyucuk jiwa.
********
Nona menyender di kepala kasur tampak sedang termenung
seperti ada sesuatu yang telah ia fikirkan sebuah majalah ada di pangkuannya sebagai benda terangguri,lembaran kertas hanya di mainkan dan di katup katup tak jelas matanya pun tak lepas memandangi langit langit kamar.
Abdi baru keluar dari ruang ganti mengenakan piyama sehari-hari sedikit heran menatap Nona,dari tadi Nona tak berhenti termenung saat ia masuk ruang ganti hingga keluar kurun waktu lumayan lama.
Abdi merangkak naik keatas kasur lalu duduk bersandar di sebelah Nona kian penasaran ia pun bertanya.
" Mama kenapa.?" menepuk pelan pundak Nona.
__ADS_1
"Emm." tepukan itu menyadarkan nya, Nona terjaga dan menoleh kearah Abdi rasa tak sadar ia rasakan,sejak kapan Abdi di situ begitu yang ia rasakan.
"Mama kenapa.? kok melamun terus dari tadi.?" terpaksa mengulangi kata lagi dengan lebih panjang.
"Mama mikirin Nathan pa." kembali melamun lalu Abdi memotong ucapan. "memangnya Nathan kenapa.?" merasa bingung padahal Nathan tidak kenapa-kenapa selama ini.
Nona bersila menatap Abdi dengan sorot mata kesal. "Pa,Nathan itu tidak mencintai Kasih dia mau menikah lagi karena ancaman papa ingin mencabut seluruh harta bahkan melepaskan Sera dan Kasih hanya karena ingin harta makanya dia setuju menikah dengan Nathan,kamu tau tidak pa.? Nathan itu menderita dengan keegoisan mu." Mengomel sepanjang mungkin namun Abdi tak menggubris perkataan nya.
"Buahahaha, Wek Wek Wek."
Tidak berfikir sama sekali Abdi malah terpingkal gelak tawa sendiri bertepuk tangan sekuat mungkin,Nona semakin kesal atas tingkah Abdi yang tak memihak padanya dan Nathan.
"Mama ini habis nonton sinetron Indosiar ya,? papa lihat hubungan mereka baik-baik saja bahkan terlihat harmonis penuh keromantisan,papa yakin Nathan sangat menyayangi Kasih." membenarkan sesuatu hal yang tidak fakta sebuah ketentuan yang telah terlanjur ia lakukan di Artikan secara salah kaprah.
"Nathan itu hanya bersandiwara demi papa selama ini." berjuang membenarkan fakta kepada Abdi tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Aaagghh sudahlah ma,papa capek mau tidur." menepis tangan ke udara meninggalkan Nona tanpa kata lagi.
Nona semakin kesal di angguri seperti itu percuma ia berbicara panjang lebar namun Abdi tak terpancing ucapannya,Abdi malah tidur senyenyak tak mengingat ucapan Nona.
Nona kembali termenung melanjutkan pekerjaannya tadi,
Kasih begitu merasuki fikirannya hingga ia tak bisa tidur entah apa alasan Nona memiliki rasa kebencian melebihi dalamnya Danau Toba terhadap kasih.
BERSAMBUNG
__ADS_1