Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Bersiaplah


__ADS_3

Nathan sedang berada di ruang kerja bersama sekretaris Rehan yang tengah sibuk mengobati lebam-lebam diwajahnya mereka tengah duduk di sofa, ingin sekali Rehan tertawa karena rasa jengkelnya sudah terwakilkan oleh perlakuan Tuan Abdi waktu malam itu.


"Kau tau Rehan aku itu semakin kesal dengan siudik, gara-gara dia aku yang dihajar." Nathan merobek satu buku yang masih baru di pangkuannya.


Udah dihajar seperti ini masih saja menyalahkan Nyonya muda, ckckck anda tidak sadarkah Tuan kalau itu semua salah anda sendiri.;; batin Rehan.


"Ehh Rehan kenapa diam.?" Nathan memukul pundak Rehan yang masih sibuk mengobati wajahnya.


"Saya kan sedang mendengarkan Anda bicara Tuan." ia pelan-pelan mengoles salep kepipi Nathan dengan ekstra hati-hati. "Aku sangat kesal." Nathan mencampakkan sisa sampul buku kelantai sudah berapa lembar kertas bersekan diruang itu.


Rehan lebih baik diam bosen sekali meladeni pria aneh itu ingin sekali ia mencakar wajahnya, pas sekalikan wajah Nathan ada dihadapannya tapi itu bukanlah hal yang terpuji.


Rehan terhenti saat Nathan sudah enyah dari hadapannya,kini pria itu sudah berdiri dan refleks Rehan ikut berdiri hormat disampingnya.


"Aku mau kerumah sakit." Ia berbicara sambil membenarkan jasnya.


"Baik Tuan." Rehan membungkuk menjawab.


Mereka berdua pergi begitu saja menuju rumah sakit, Nathan merasa malu jika melihat wajahnya sendiri kenapa tidak wajah itu terlihat lucu bonyok dimana-mana,siapa lagi kalau bukan ulah papa dan nenek yang membela putri mahkota tersayang jadi dia yang kena imbasnya.


_____


Cling Cling.!


Ponsel Kasih yang sedang tercas di atas meja berdering nyaring, saat itu ia baru keluar dari kamar mandi segera menyambar ponselnya dilihatnya panggilan masuk tertera nama Tuan Dilan tanpa ragu ia jawab.


{Percakapan ditelepon}


"Selamat pagi Tuan Dilan,ada apa ya." Kasih membuka percakapan dahulu sambil berjalan menuju jendela lalu duduk di rangaknya.


"Pagi,emm Kasih hari ini iklan kamu sudah ditayangkan." Dilan sedang berada di balkon apartemen sambil menikmati segelas kopi susu.


"Iya saya sudah lihat tadi Tuan." ia menggigit kuku.


"Emm begitu rupanya, oiya kamu bersiaplah ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."

__ADS_1


"Memangnya siapa Tuan.?" bertanya bingung.


"Nanti juga kamu tahu, pakaian yang rapi nanti saya akan jemput kamu ditempat biasa.Oke bye."


Tut,Tut.


{Percakapan usai}


Kasih menatap layar ponsel mencerna ucapan Dilan kenapa pria itu tiba-tiba menyuruhnya bersiap-siap untuk menemui seseorang, untuk apa?.


Tak mau ambil pusing Kasih turun dari jendela berjalan menuju meja dan kembali mengisi baterai ponsel, ia masuk keruang ganti untuk mengganti pakaian.


Ia memilih pakaian udik favoritnya sebuah dress panjang berwarna cokelat tua bermotif bunga-bunga,


rok sambungnya sangat kembang berenda renda nyaman sekali bila dikenakan.


Ia mengambil sepatu pansus karet bewarna coklat dari rak setelannya senadalah dengan penampilan, seperti biasa bergaya dengan penampilan culun udik-udik kampung.


Semua selesai ia pun bergegas pergi tak perlu minta izin pada Tuan petir paling juga ia akan mendapatkan jawaban "Aku tak perduli."


******


Kasih sudah hapal siapa pemilik mobil tersebut ialah Dilan sesuai janjinya tadi ia menjemput Kasih.


Kasih segera berlari dan pada akhirnya ia sampai tanpa mengucapkan sepatah katapun dia main masuk saja, satu sapaan ia berikan untuk Dilan pria itu membalas sapaannya mobil itu melaju menyusuri jalanan.


Kasih tak ingin bertanya takutnya nanti mengganggu konsentrasi Dilan yang sedang mengemudi jadi dia bermain ponsel saja.


Selang berapa lama mobil berhenti didepan cafe, Dilan turun terlebih dulu lalu pria itu dengan baik hati membukakan pintu untuk Kasih ia agak sedikit tidak enak.


"Tuan kita kok kesini.?" Ia menatap cafe itu saat sudah berada diluar mobil.


"Nanti kamu bakalan tau kok, yasudah ayo masuk." mengajak dengan antusias.


Dilan menggandeng tangan Kasih layaknya sepasang kekasih mereka memasuki cafe mewah tersebut, sebuah meja kosong berlogo VVIP sudah tersedia ditempat. Dilan menarik kursi mempersilahkan Kasih duduk usai wanita itu duduk ia pun duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Pelayan!"


Dilan menjentikkan jari memanggil pelayan yang sedang melintas, karyawati Cantik itu datang berjalan anggun membawa daftar menu dan meletakkannya keatas meja.


Dilan mengambil buku tersebut. "Kamu mau pesan apa.?" Dilan menawarkan Kasih untuk memilih makanan yang enak-enak.


"Volcano curry dan Fossil excavation cake minumnya air limit saja." Kasih asal memilih menu Jepang ia tak tau bagaimana bentuk makanan itu sesekali tidak mengapa bergaya mewah.


"Saya juga sama ya." Dilan tak tau harus milih yang mana jadi ngikut saja.


"Baiklah mohon menunggu sebentar." pelayan itu mengambil buku menu dari tangan Dilan lalu pergi.


Dilan membuka sebentar ponselnya selanjutnya menelpon seseorang selama ia menelpon Kasih hanya diam melihat halaman latar depan Cafe, pemandangannya sangat indah kuping sebelah kirinya bergerak-gerak mendengar percakapan Dilan menggunakan bahasa Spanyol entah bicara pada siapa.


"Kasih!"


Dilan sudah selesai menelpon ia memanggil Kasih yang tengah fokus menikmati pemandangan latar cafe yang dihiasi berbagai macam bunga-bunga, mendengar namanya di sebut iapun menoleh kearah Dilan.


"Ada apa Tuan.?" ia memberikan senyuman sederhana untuk pria setampan Dilan.


Pria itu menggeleng tersenyum melihat Kasih sejenak matanya menangkap sepasang mata Kasih, dua pasang mata itu saling tatap menatap beberapa menit.


"Apa kamu sudah punya kekasih?"


Pertanyaan Dilan membuyarkan lamunannya secara mendadak pria itu membahas soal pacar apa yang harus ia jawab, ingin mengatakan hal yang sebenarnya jika ia bilang sudah menikah kan tidak mungkin, kemarin ia mengaku masih gadis dan statusnya sudah tercatat di semua berkas yang ia ajukan kemarin waktu semua orang sudah tau termasuk Dilan, jadi terpaksa ia harus berbohong lagi.


"Belum." berbohong demi kebaikan sepertinya tidak mengapa lah.


"Kok belum, emm maksudnya sudah berapa lama kamu jomblo?" Dilan tidak yakin kalau Kasih beneran jomblo tapi kalau dinilai dari segi penampilan bisa jadi begitu.


"Mana ada pria yang mau sama saya Tuan, saya inikan hanya remukan kerupuk saja." kata dari mama mertua masih tersimpan kekal di otaknya.


"Sebenarnya kamu itu sangat cantik tapi penampilan kamu, ehh mohon maaf sebelumnya, kamu sangat terlihat kampungan dengan gaya kuno seperti ini tapi kalau kamu rubah sedikit saja pasti kamu akan terlihat lebih cantik dari seluruh wanita cantik yang ada di satu benua Asia." memberi sedikit gombalan maut.


Dilan menyusuri rambut Kasih yang terkepang dua membelah rambutnya dari atas hingga bawah menggunakan jari-jari kanannya, sedikit geli Kasih rasakan ia pun menggeser kursinya sedikit menjauh dari pria agresif tersebut.

__ADS_1


Makanan yang dipesan pun datang Dilan berhenti memegang rambut Kasih segera ia mengambil makanan, mereka makan secara bersama makanan ala Jepang itu terasa tidak enak ia rasa mau muntah ketika menelan makanannya, tapi sudah terlanjur di pesan mau bagaimana lagi.


BERSAMBUNG


__ADS_2