
DI KAMAR
Kasih termenung sambil memeluk pakaian pemberian mertuanya, sudah berapa menit ia menghabiskan waktu memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan? Sedangkan Nathan duduk di atas kasur sambil sibuk dengan laptop, sepertinya ia banyak kerjaan dan kayaknya dia tak memerintah kasih hari ini.
Krring, kriingg. (Dering telepon)
Dering telepon membuyarkan lamunan Kasih, Nathan tak berkutik sekalipun mendengar suara telepon, dengan malas. Kasih berjalan ke meja telepon yang ada di sudut tembok ingin menghentikan suara nyaring mengganggu.
"Hallo, selamat malam... ada yang bisa saya bantu?" kata pembuka dari Kasih di dalam telepon.
"Selamat malam, apakah ini dengan nona Kasih??" terdengar suara pria dari sebrang telpon.
"Iya saya sendiri, ada apa ya?"
"Saya Coky Andriano. Bos dari restoran xx tempat anda melamar kerja tadi siang, anda diterima dan mulai besok anda bisa bekerja."
Mendengar itu Kasih merasa terkejut, seolah ia memenangkan lotre dadakan, ia langsung terngiang-ngiang bahagia, ternyata rejeki tak menjauh darinya.
"Benarkah? Aaagghh terimakasih Tuan, terimakasih banyak."
"Cup, cup, cup." Kasih memberikan banyak kecupan ditelepon penuh rasa bersyukur, alhasil telepon terputus.
__ADS_1
"Aaagghh, terimakasih ya Tuhan, akhirnya aku diterima kerja." Kasih berteriak kembali penuh kemenangan, hingga suara cempreng nya mengganggu Nathan yang tengah fokus ke laptop.
Nathan menghentikan aktivitas nya saat mendengar Kasih diterima bekerja, padahal ia sudah menyuruh Rehan untuk memblokir semua lowongan untuk Kasih, dan siapa yang telah berani menerima gadis itu.
Dia diterima bekerja? Apa Rehan tidak melakukan semua yang aku perintah. batin Nathan.
"Bbbrrukk..." Nathan melempar sebuah bantal untuk sandarannya tepat mengenai wajah Kasih, merasa suara kasih sangat menggangu.
"Berisik banget sih." Nathan mengeraskan rahang menatap kasih. "Tidur sana, udah malam nih." suara Nathan nyaring menggema di dalam kamar.
Kasih langsung terdiam menaruh telepon ke tempatnya, dan ia mengambil bantal yang sudah terjatuh ke lantai, ia berjalan menunduk menuju ke sofa. Mata Nathan melotot menatapnya, Kasih melipat pakaian nya dan menaruhnya ke meja untuk sementara, lalu ia merebahkan diri keatas sofa.
"Ehh... siapa yang menyuruh kau tidur?" suara Nathan kembali membentak menggagalkan Kasih untuk larut dalam mimpi.
"Enggak ada kok, buatin aku kopi sana! Jangan diberi gula." ia memerintah Kasih sebagai pengalihan kesalahan nya.
"Baik Tuan, mohon ditunggu." Kasih bangkit dari duduk ingin melakukan perintah yang tak dapat di tolak.
Nathan tersenyum licik menatap langkah Kasih dari belakang, rasanya belum puas kalau tak memperbudak wanita itu, selang beberapa menit kasih kembali ke kamar dengan membawa segelas kopi panas atas pesanan Tuan muda.
"Ini kopinya Tuan." Kasih memberikan kopi dan langsung diterima oleh Nathan.
__ADS_1
Separuh kopi panas itu berkurang akibat di seruput oleh Nathan, Nathan yang meminum, tapi Kasih yang merasa kepanasan sendiri. Bukankah kopi itu sangat panas? Nathan meminum nya tanpa jeda sebentar, manusia macam apa dia? Hingga tak merasa kepanasan saat minum kopi yang jelas-jelas tak dapat diminum sebelum dingin, lebih anehnya kopi itu dimuntahkan seperti jus kemarin, padahal sudah banyak berkurang dan apa penyebab ia memuntahkan kopi itu.
"Ini kopinya kok pahit banget sih? Gak ada rasa pula." Nathan mengangkat gelas kehadapan Kasih.
"Tadi Tuan bilang tidak usah di beri gula, jadi jelas saja jika kopinya pahit dan tidak berasa."
"Itu gak enak, ganti kopinya! Buatin yang baru jangan ditambahin gula doang." Nathan menjatuhkan gelas ke tangan Kasih dengan kasar.
Penuh rasa jengkel kasih kembali ke dapur, ia merasa sangat terbebani oleh tingkah laku konyol suaminya, apa yang ia lakukan selalu salah bagi Nathan, padahal itu sudah sesuai kemauannya. Akhirnya Kasih kembali membawa gelas berisi kopi untuk kedua kalinya.
Nathan menyeruput kopi itu untuk kedua kalinya. "Bagaimana Tuan, apakah masih ada yang kurang?" Kasih sangat takut jika Nathan kembali menumpahkan kopi itu.
Usai tertelan, Nathan terdiam sebentar menilai rasa kopi dan tidak ada yang kurang, ia menatap wajah sedih Kasih merasa terharu di campur lelah akibat perintahnya.
"Sebenarnya terlalu manis, tapi tidak mengapa. Kau pasti capek kan? Duduklah sana, tunggu aku tidur baru kau boleh tidur."
"Baik Tuan."
Kebaikan pertama telah di berikan oleh Nathan, walaupun awalnya sangat berat, tanpa rasa sungkan. Kasih berjalan kembali ke sofa, ia duduk sambil menatap bulan, ia baru saja mendapatkan kabar baik jadi dia tak boleh sedih hanya karena perilaku Nathan, sebenarnya tak ada masalah dengan kopi buatannya. Hanya saja si Nathan ingin mengerjainya sebelum tidur, sepertinya Tuan muda itu tak akan membiarkan Kasih tenang sedikitpun, Nathan curi-curi pandang kearah Kasih, namun yang dipandang terlalu fokus menatap indahnya bulan hingga tak sadar ditatap oleh pria tampan yang ada di kasur.
Ada dua kebahagiaan telah Kasih dapat malam itu, satu hadiah dari kedua mertua dan satu lagi Kasih diterima bekerja besok, ia baru percaya bahwa takdir, rejeki, dunia, tak begitu kejam padanya, dan Tuhan telah memberkahinya di hari Rabu ini
__ADS_1
BERSAMBUNG