
Sepeninggalan dua pria tersebut Kasih tampak senang,kartu itu tak berhenti ia kecup sambil meloncat kegirangan. Tingkahnya berhasil menarik perhatian para pengunjung,ia tersipu malu kala disadarkan oleh Dilan.
Mereka duduk kembali kekursi. "Tuan saya sangat senang." Kasih menepuk lengan Dilan hingga meninggalkan rasa perih.
"Iya saya juga." ia mendukung kebahagiaan yang terpancar dibenak Kasih.
__
Mobil Rehan berhenti didepan Cafe selanjutnya diparkiran dulu, mereka turun memasuki Cafe khas Jepang itu dan setibanya disana mereka segera mencari meja kosong.
Ketika meja itu sudah dapat segeralah mereka tempati.
Mata Nathan spontan melotot melihat Kasih dan Dilan duduk bercanda tawa diseberang meja sana.
Ia sudah tak bisa berkedip lagi. "Rehan bukankah itu si udik dan si Kadal." Nathan menunjuk dua manusia itu kepada Rehan, untuk memastikan bahwa pandangannya tak salah.
Rehan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nathan, spontan ia juga terkejut melihat apa yang dimaksud Tuan muda, ia langsung percaya saat melihat Kasih dan Dilan saling berbincang dengan akrab. Rehan pun membenarkan ucapan Nathan.
"Iya Tuan,itu nyonya muda dan Dilan." hardiknya membenarkan fakta.
"Rehan apa siudik sedang berselingkuh? dia juga tidak memberitahuku kalau dia mau keluar." ada sedikit bumbu kemarahan dibenaknya, Nathan beranjak kasar dari duduk untuk mendekati dua orang tersebut.
"Anda mau kemana Tuan?" Rehan berdiri menarik lengan Nathan yang hendak melangkah.
"Lepas Rehan siudik itu semakin lama semakin kurang ajar,dia sudah kelewatan batas." Nathan menepis tangan Rehan berusaha melepaskan diri.
"Anda mau melabraknya? Tuan lihat disini banyak orang anda akan malu jika mereka melihat anda marah-marah, fikirkan martabat anda." Rehan membujuk Nathan dengan ucapannya agar pria itu mereda.
Nathan melihat sekeliling cafe terdapat banyak orang didalam, beberapa mata juga memperhatikan dirinya. Ada benarnya apa kata Rehan ini bukanlah saatnya marah-marah.
"Kau benar Re, lihat saja kau udik berani sekali bermain-main denganku." Nathan mengeram kesal, ia melonggarkan dasi hingga kusut tak menentu.
"Ayo kita duduk Tuan."
Rehan membawa Nathan duduk,mata elangnya tak lepas memandangi Kasih dari kejauhan hidungnya sudah seperti Ba*i, saat seorang pelayan datang menawarkan makanan ia pun tak perduli lagi.
"Tuan ingin makan apa?" Rehan menunjukkan buku daftar menu kepada Nathan.
__ADS_1
"Pesan semuanya,aku sangat lapar!" ia tak tau lagi mau memilih pesanan yang mana, ia sibuk memantau siudik.
"Berikan semua makanan yang terfavorit di Cafe ini." Rehan juga tak tau mau pesan yang mana jadi lebih baik mengatakan itu saja.
Sipelayan cantik mengambil buku menu dari tangan Rehan seraya tersenyum manis.
"Mohon menunggu."
Sebelum pergi wanita itu melirik Nathan, ada sesuatu yang membuat ia ingin tertawa wajah pria itu sangat lucu dan akhirnya ia memilih pergi saja.
Nathan terus mengendus bonyok diwajahnya juga belum hilang.
Prang...
Sangking kesalnya Nathan memukul wajah meja hingga mengagetkan beberapa pengunjung disekitar, suara itu tak sampai ketelinga Kasih dan Dilan.
Rehan memberikan senyuman ramah untuk para pengunjung ketika malu diperhatikan semua orang, Nathan bertingkah konyol semakin kesal bila melihat Dilan dan Kasih cubit cubitan.
"Kasih apa kamu suka ke toko buku?" Dilan mengajukan pertanyaan itu, ia berniat ingin berkunjung kesalah satu museum perpustakaan terdekat.
"Suka sekali Tuan, apalagi saya sangat suka membaca." ia memasukkan kartu tadi kedalam tas.
"Iya saya mau." menjawab dengan antusias.
Dilan pun mengajak Kasih pergi, walaupun mereka sudah terbilang cukup dekat tapi Kasih selalu menjaga jarak, ia senantiasa sadar diri tentang statusnya yang masih menjadi istri sah Tuan petir.
Sesudah membayar merekapun langsung cabut dari tempat.
"Rehan mereka mau pergi kemana?" Nathan panik ketika melihat Dilan dan Kasih berjalan bersama menuju pintu.
Si pelayan wanita tadi datang membawa makanan diatas trolly, namun Nathan bak cacing kepanasan tak bisa diam.
"Tuan anda mau kemana? ini makannya sudah datang,ayo makan dahulu." Rehan menarik tangan Nathan saat pria itu sudah setengah berdiri.
"Lepas Rehan, ayo ikuti mereka." Nathan melepaskan tangan Rehan lalu berlari mengejar dua orang tadi.
"Tapi Tuan." Rehan benar-benar pusing mana lagi makanan sudah banyak dipesan, ia menoleh si pelayan. "Baiklah ini makanannya beri saja kepada orang, ada masalah mendadak yang harus kami selesaikan." Rehan memberikan lembaran uang kertas sebagai tanda pembayaran atas makanan yang sudah dibeli tapi tidak dimakan.
__ADS_1
Usai membayar Rehan langsung berlari mengejar Nathan, si pelayan berdiri bengong merasa kesal atas perlakuan dua pengunjung itu, tak hanya satu pasang mata bahkan semua pasang mata yang ada di Cafe memperhatikan aksi dua pria itu.
Diluar Nathan terus berlari mencari keberadaan Kasih, Kasih dan Dilan sudah masuk kedalam mobil yang terparkir tak jauh dari mobil milik Nathan,mereka hanya berjarak sekitar 60 meter saja.
"Dasar udik sialan, berani sekali kau berselingkuh dariku." Nathan berlari mendekati mobil ingin segera mengejar Kasih, tapi saat ini kunci mobil tak bersamanya melainkan bersama Rehan.
"Dasar sekertaris bodoh, lama sekali dia." Nathan menendang permukaan mobil menunggu Rehan sambil mengoceh marah-marah.
Rehan berlari mendekatinya dengan wajah panik, nafasnya terengah-engah akibat berlari.
"Tuan anda mau kemana?" Rehan membungkuk menyusun nafas.
"Ahh kau lama sekali, ayo kejar si kadal dan si Udik itu." Nathan menarik lengan Rehan agar segera masuk kedalam mobil.
Dengan terpaksa Rehan harus mengikuti kemauan Nathan, mereka masuk bersama-sama kedalam mobil untuk mengejar dua orang yang diduga berselingkuh oleh Nathan.
Didalam mobil Kasih tersenyum-senyum sendiri membayangkan semua keberuntungan yang ia dapat, rasanya semua apa yang ia inginkan mulai berdatangan satu-persatu, tapi masih belum lengkap rasanya tanpa cinta dari suami, apalagi cara ia mendapatkan semua ini adalah balik dari kejahatan yang dilakukan.
(Mungkin ini bukanlah kejahatan melainkan takdir)
"Kasih apa kamu senang?" Dilan juga tak kalah bahagia dengan apa yang dirasakan oleh Kasih.
"Saya sangat senang Tuan." ia melemparkan senyuman untuk Dilan sambil menjawab.
Dilain tempat Nathan dan Rehan mengikuti mobil Dilan dari belakang, Rehan sangat gusar melihat kecemasan diwajah Nathan ditambah lagi tingkahnya yang mulai mengesalkan.
Rehan selaju mungkin membawa mobil berharap bisa sampai beriringan dengan mobil Dilan. Bukan Nathan saja yang murka melihat Kasih,Rehan yang hanya berperan sebagai sekretaris saja merasa tidak nyaman dengan kemunculan Dilan, yang lebih pantas di sebut Kadal seperti yang dikatakan Nathan.
"Ayo Rehan kenapa kau lama sekali, tambah kecepatannya." Nathan semakin kesal merasakan mobilnya berjalan sangat lambat, tapi bagi Rehan ia sudah sangat laju membawa mobil hingga jalanan kacau.
"Santai Tuan, anda tidak boleh gegabah." Rehan juga sangat pusing jiwanya bak seperti jaringan, hilang timbul.
"Bagaimana aku bisa santai dalam keadaan seperti ini? lihat itu siudik dia sudah berselingkuh dariku." suaranya yang bernada tinggi seharusnya tak ia berikan pada Rehan, entah kenapa bisa-bisanya ia membentak Rehan.
Owhh ya Tuhan kenapa cobaan hidupku buruk sekali. Kau tau Nathan? aku juga merasakan apa yang kau rasakan, huh dasar idiot.; batin Rehan. Rehan hanya bisa diam mendengar ocehan petir yang tak berhenti terus-menerus menghujamnya.
Jarak antara mobil Dilan dan Nathan sekitar 80 meter, sebenarnya sangat mudah untuk bisa saling beriringan berhubungan jalanan sangat padat jadi mobil yang dikendalikan oleh Rehan kalah jauh.
__ADS_1
Kasih juga tak menyadari bahwa sang suami mengikutinya dari belakang, ia malah sibuk tertawa dan tak sabar ingin melakukan syuting besok.
BERSAMBUNG