Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Akhir Syuting


__ADS_3

Seluruh team work berkumpul diruang rapat, mereka sudah meninggalkan gedung tempat syuting tadi dari beberapa jam yang lalu, kini mereka sudah beralih ke perusahaan TVE. Mereka membahas tentang produksi perfilman yang akan segera ditayangkan. Sekaligus mereka juga saling mengucapkan kata-kata terakhir yang tentunya sedikit membuat mereka sedih.


Dewa terus saja memperhatikan Kasih yang fokus melamun, jujur saja, Kasih sangat risih dengan Dewa. Ia berharap setelah semuanya beres ia tak akan bertemu Dewa lagi, kontrak dengan klan TVE akan segera berakhir, maka ia tak akan bekerja di sana lagi.


Berapa menit kemudian rapat selesai, mereka semua bubar satu-persatu. Hanya tinggal beberapa team work yang bekerja membereskan sisa-sisa kebutuhan penayangan film nanti, Kasih keluar dari ruangan itu.


''Beb.'' Dora memanggil dari belakangnya.


''....'' Kasih hanya diam tak menjawab.


Dora tak perduli mau dijawab atau tidak yang penting Kasih mendengar suaranya, Dora langsung merangkul tangan Kasih disepanjang mereka berjalan di koridor kantor.


''Ayo kita makan bersama.'' Kasih menarik tangan Dora agar cepat melangkah. Dora hanya pasrah sajalah, seorang wanita memang memiliki sifat yang sukar ditebak, seperti halnya Kasih.


***


Malam itu.


Nathan duduk di sofa dengan posisi bersandar sambil membaca buku, ia mengenakan baju kaos berwarna putih polos serta celana training bewarna cokelat muda.


Kasih baru keluar dari ruang ganti, ia baru selesai mandi. Seperti biasa, ia hanya memakai pakaian kolotnya.


Ia duduk membawa selimut ke sofa, hari ini ia merasa sangat kelelahan.


''Hai udik.'' panggil Nathan.


Kasih kembali berdiri ketika ia dipanggil, ia menoleh Nathan dari jarak berapa meter itu. Jujur ia masih sangat takut mengingat ucapan Nathan yang ingin memperkosanya.


''Ada apa Tuan?'' menjawab sambil menunduk.


''Kemarilah!'' ia menggerakkan jari-jari seraya memberi isyarat agar Kasih mendekat.


Kasih meninggalkan selimutnya ke atas sofa, ia melangkah perlahan mendekati Nathan, jantungnya sudah berpacu dengan cepat.


Kasih berdiri di samping kasur menunggu kata-kata keluar dari mulut Nathan, ia mendongak menatap Kasih.


''Tidur di sini.'' ia menepuk sebelahnya seraya menyuruh Kasih mengikuti perkataanya.


Kasih spontan terkejut lagi, ia menatap wajah Nathan dengan seksama.


''Tidak Tuan... saya tidur di sofa saja.'' ucap Kasih sembari menolak.


''Tidur di sini denganku.'' matanya fokus melihat rangkaian kata yang ada di buku.


''Saya tidur di sofa saja, Tuan. Seperti biasa.'' Kasih membalik badan ingin beralih ke sofa.


''Kamu tidak dengar apa yang aku bilang? tidur di sini.'' Nathan sedikit meninggikan suara agar Kasih mengikuti perintahnya.


Di pertengahan langkahnya Kasih berhenti, ia membalik badan lagi menatap Nathan. Pria itu juga menatapnya dengan tajam.


''Saya tidur di sofa saja Tuan.'' sekali lagi menolak.


Nathan menaruh buku tadi ke atas meja lampu, ia menatap Kasih seakan ingin menerkamnya.

__ADS_1


''Kamu takut kalau aku akan memperkosamu nanti?'' Nathan duduk di sisi kasur.


''Tidak, bukan begitu Tuan. Maksud saya.'' Kasih berhenti berbicara lantaran bingung mau bilang apa.


''Jadi... kamu tidak takut kalau aku perkosa?'' Nathan terlihat genit ketika melontarkan kata itu.


''Tidak tidak... bukan seperti itu, saya akan tidur di sofa saja Tuan. Anda tidurlah.'' Kasih melambaikan tangan seperti menolak.


''Kamu beneran tidak ingin tidur di kasur ini bersama dengan aku?'' tanya Nathan sekali lagi.


''Tidak Tuan, saya akan tidur di sofa saja.'' Kasih membalikkan badan mengarah ke sofa.


Nathan bangkit dari kasur sambil berkata. ''Baiklah kalau begitu, aku akan memperkosamu di sofa itu.'' ia melangkah pelan.


Kasih spontan terkejut lalu berhenti melangkah, matanya melotot ingin keluar.


Ia membalikkan badan menatap Nathan yang secara perlahan mendekat dengannya, namun ia juga mundur menjauh secara perlahan.


''Jangan begitu Tuan.'' Kasih terus mundur tapi Nathan terus maju.


''Aku begini bukan begitu.'' jawab Nathan.


''Anda becanda kan Tuan?''


''Siapa yang bercanda? Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?''


''Kalau begitu, saya akan tidur di ruang tamu saja.'' Kasih berlari mendekati sofa lalu mengambil selimut dan bantalnya.


''Baiklah kalau begitu... aku akan memperkosa mu di ruang tamu saja.'' Nathan tersenyum genit mengatakan hal sedemikian.


Astaga apa ini? Kenapa Tuan petir begitu. batin Kasih. ia menggigit bibir bawah.


Mau sampai kapan kamu akan menolak ku sayang. batin Nathan.


''Baiklah kalau begitu, saya akan tidur di kasur. Tuan.'' keputusannya sudah bulat.


Kasih berlari memeluk selimut ke kasur, Nathan terkekeh geli menghadapi sikap Kasih yang sangat polos ia rasakan. Nathan berjalan ke kasur ketika Kasih sudah terbaring di sana.


Nathan pun membaringkan tubuhnya di atas kasur, Kasih memiringkan tubuh mengarah jendela. Nathan menutup tubuhnya menggunakan selimut yang dipakai oleh Kasih. Ia mengintip wajah Kasih sedikit, dipastikannya Kasih sudah menutup mata ingin tidur, ia pun memeluk tubuh Kasih dari belakang.


Lagi-lagi Kasih terkejut, ia tersentak ketika Nathan memeluk tubuhnya dengan erat. Jangan sampai pria itu benar-benar memperkosanya.


''Anda kenapa Tuan?'' Kasih mengedip-ngedipkan mata, pelukan itu sangat hangat sekali.


''Aku kedinginan.'' Nathan berbicara sambil memejamkan mata.


''Pakailah selimut, Tuan.''


''Balikkan tubuhmu.''


''Emm?'' Kasih berdehem memberikan pertanyaan dari maksud Nathan.


''Balikkan tubuhmu menghadapku.''

__ADS_1


''Baiklah.''


Kasih memutar tubuh menghadap Nathan, ia melihat Nathan sudah memejamkan mata. Ketika ia sudah berbalik badan, Nathan langsung memeluknya dari depan dan langsung memendamkan wajahnya ke dada Kasih.


Kasih merasa senang bercampur tak menyangka bahwasanya Nathan akan begitu, ia pelan-pelan mengelus kepala Nathan, betapa nyamannya tidur dalam posisi seperti itu. Bahkan sekarang ia tak perduli kalau Nathan memang benar akan memperkosa nya.


''Mulai sekarang tidurlah di sini bersamaku, jangan menghindari ku terus menerus atau aku akan memperkosa mu beneran.''


Kasih tersenyum mendengar bisikan Nathan, pria itu seperti bayi yang sedang kelonan.


''Kamu tau?'' ucap Nathan.


''Emm.'' Kasih berdehem pelan.


''Aku sangat senang kalau kamu berada di kamar ini bersamaku, aku merasa tidak kesepian.''


Usai mengatakan itu, Nathan pun tertidur pulas dalam pelukan Kasih. Dirinya sudah sangat mengantuk, ia mungkin sudah tak berdaya jika mau memperkosa Kasih. Malam itu terasa sangat indah, dunia terasa sangat damai ketika dua insan yang tadinya bermusuhan sekarang menjadi dekat.


***


Rehan tengah belanja di sebuah minimarket di pinggiran kota, ia belanja sedikit kebutuhan yang ia perlukan. Usai berbelanja ia pun keluar. Tak sengaja ia melihat Dilan tengah duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket.


Rehan berinisiatif menghampirinya sebentar.


''Dilan.'' sapanya.


''Rehan.'' Dilan kembali membalas sapanya, ia sambil akan popmie di situ. Keadaan menjadi sangat kikuk, seolah mereka tak kenal satu sama lain.


Tanpa dipersilahkan duduk Rehan duduk dengan sendirinya, barang-barang belanjaannya ia taruh di meja. Ia memperhatikan Dilan yang tengah makan dengan lahap.


''Bagaimana hubunganmu dengan Yura?''


''Uhuk uhuk.'' Tiba-tiba Dilan tersedak mendengar pertanyaan pria yang ada dihadapannya.


''Hahaha, kenapa kau bertanya seperti itu padaku, aku tersedak jadinya.'' Dilan terkekeh sebentar lalu mengilap mulutnya menggunakan tissue.


''Kenapa?'' Rehan bertanya dengan singkat.


''Kenapa? Karena aku sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.''


''Maksudnya? Kalian putus?'' bertanya lagi karena tak mengerti.


''Ya begitulah.'' Dilan menganggukkan kepalanya sambil mengunyah.


''Kenapa bisa?''


Dilan berhenti mengunyah makanan, ia melirik Rehan dengan lirikan kesal. Ia juga sebenarnya menyalahkan Rehan atas kandasnya hubungannya yang bertepuk sebelah tangan saja.


''Karena dia tak mencintaiku, akhirnya kami sepakat memutuskan hubungan ini. Kau tau? Rasanya sakit sekali bila mencintai seseorang yang hanya mencintai orang lain.'' Dilan mengucapakan itu berharap Rehan mengerti.


Rehan hanya bisa terdiam, ia juga sadar diri kenapa hubungan mereka berakhir, ya. Itu karena dia.


''Jadi aku saranin untuk kau, jangan mencintai dan berharap dengan seseorang yang sama sekali tak pernah menganggapmu ada. Belajarlah dariku.'' Dilan kembali mengunyah mie itu menikmatinya dengan sempurna.

__ADS_1


Rehan tersenyum mendengar nasihat sindiran itu, setidaknya ia lebih beruntung dari Dilan. Dirinya sangat tampan sehingga Yura tergila-gila dengannya dan dia sudah menjadi penyebab kandasnya hubungan orang.


BERSAMBUNG


__ADS_2