Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Ciuman Pertama


__ADS_3

Di kamar, Abdi tengah berbaring di kasur. Ia mencubit pangkal hidung berulang kali, hari ini tubuhnya kurang sehat jadi selama satu hari ia terus berada di kamar.


Nona datang membawakan segelas minuman untuknya, ia duduk di sisi kasur sambil menyuruh suaminya duduk sebentar.


"Pap, minumlah! Mama buatin teh hangat campur jahe, ini akan menghangatkan tubuhmu." kata Nona, ia membantu Abdi duduk.


"Terimakasih Ma." Abdi mengambil gelas yang berisi teh itu dari tangan Nona.


"Srrupp." minuman itu diseruput sampai setengah takaran di gelas, airnya tak panas ataupun dingin. Ya hangat kukuh begitulah.


Usai meminumnya, gelas ditaruh keatas meja, ia bersender di kasur sambil memandang istrinya yang cantik.


"Kenapa setiap hari kecantikan mu tidak pernah mengurang?" Abdi memuji nakal Istrinya itu.


"Apa sih pa?" Nona tersenyum tersipu ketika dirayu begitu, ia memukul pelan bahu suaminya.


"Hahahaha." Abdi tertawa merasa lucu.


"Oh iya, dimana Nathan? Dari pagi dia tidak menemuiku." Abdi menatap Nona seraya meminta jawaban.


"Dari tadi pagi dia pergi bersama istrinya." Nona menjawab dengan perkataan yang serasa ketus.


"Pergi? Mereka pergi kemana?" tanya Abdi menjadi penasaran.


"Ah sudahlah pa, mereka sedang jalan-jalan. Mungkin sudah pulang."


Abdi mengangguk sambil tersenyum, ia merasa ada sesuatu yang sudah hadir. Cinta. Dia tak mau bertanya lagi dan ingin melanjutkan tidurnya, namun Nona mencegahnya dengan satu pertanyaan.


"Pa, sebaiknya Billy tetap disini saja." Nona menepuk pundak suaminya lagi.


Abdi berhenti bergerak ketika hendak merebahkan tubuhnya, ia menoleh Nona.


"Kenapa ma?"


"Mama rasa sebaiknya dia disini saja, disini ada kita yang merawat dia serta kedua orangtuanya." ucap Nona mengomel.


Abdi terdiam, ia merebahkan tubuhnya sambil berfikir. Benar juga kata Nona. Ia berbaring di situ seraya memainkan jari jemari mencari akal.

__ADS_1


"Kita semua disini sibuk, aku masih mengurus pusat perusahaan kita, Nathan juga. Jasmine dan Anna tidak mungkin, kamu tau sendiri kan? Kalau kedua menantu mu itu hanya bisa hura-hura. Dan Kasih, Kasih sudah memiliki pekerjaan, dia bahkan tidak sempat untuk mengurus Billy."


"Kalau begitu, kenapa kamu memintanya menikah dengan Nathan dulu? Bukankah tujuan pernikahan ini untuk Billy? Agar ada yang merawatnya, lantas apa gunanya Kasih menjadi istrinya Nathan?" Nona mengomel lagi dengan tampang cemberut.


"Aku akan memikirkannya nanti, aku ingin istirahat. Kamu juga tidurlah!" Abdi kalah debat, ia lebih memilih diam saja.


Nona menjadi kesal, ia beranjak dari duduk lalu beralih ke tempat ia tidur. Yang benar saja, Abdi malah meninggalkan dirinya tidur.


***


Nathan duduk di sofa sambil memegang ponsel, Kasih juga duduk di sebelahnya. Keadaan menjadi kikuk, mereka baru sampai kamar, jadi butuh waktu dulu untuk menghilangkan rasa lelah.


"Udik." panggil Nathan, nada suaranya agak tinggi hingga mengejutkan Kasih.


"Ada apa Tuan?" Kasih membenarkan posisi duduknya.


"Bolehkah aku bertanya?"


"Silahkan Tuan." suara Kasih terdengar pelan akibat kecapean.


Nathan meletakkan ponsel ke atas meja, ia menatap Kasih dengan seksama. Melihat Nathan sedemikian Kasih pun membenarkan posisinya, ia merasa kalau Nathan ingin bertanya serius.


Kasih spontan Kaget akan pertanyaan itu, bukankah itu hal privasi? Namun yang bertanya itu suaminya, itu juga pertanyaan yang tidak sopan menurutnya.


Ya Tuhan, kenapa Tuan petir bertanya seperti itu?. Batin Kasih, ia cengar-cengir mencari jawaban, jujur saja ia tak pernah berciuman dan bahkan ia sama sekali tak tau cara berciuman yang benar.


"Kenapa kamu diam?" Nathan menepuk pelan pundak Kasih karena pertanyaannya belum dijawab.


"Belum pernah Tuan." jawabannya dengan perasaan gugup.


"Serius?" Nathan bertanya meyakinkan sekali lagi, ia seakan tak percaya.


"Iya Tuan."


Nathan mengangguk, ia juga percaya akan jawaban itu. Lelaki mana yang mau mencium gadis polos udik dan kampungan seperti istrinya itu.


"Apa kamu pernah pacaran?" mengajukan satu pertanyaan lagi.

__ADS_1


"Belum pernah Tuan." Kasih menunduk.


"Apa kamu pernah mencintai seseorang ketika belum menikah denganku?" bertanya semakin dalam.


"Anda cinta pertama saya Tuan." satu pengakuan yang tentu sudah diketahui kian terlontarkan.


"Hah?" Nathan terdiam mendengar jawaban itu, ia menatap Kasih secara seksama. Seketika hatinya menjadi cenat cenut.


"Aku cinta pertamamu?" meyakinkan sekali lagi, berharap itu benar. Benarkah itu Tuhan?. Batinnya.


"Iya Tuan." mengangguk seperti orang bodoh.


Ahh benarkah? Aku cinta pertama si udik ini. Batin Nathan. Ia tersenyum kegirangan. Tapi aku belum yakin kalau dia belum pernah berciuman.


"Kamu yakin belum pernah berciuman?" terus bertanya.


"Ia Tuan, pria mana yang mau mencium gadis seperti saya ini." mencoba membenarkan fakta.


"Apa kamu tau caranya berciuman?" pertanyaan aneh sekali lagi muncul.


Apa ini? Kenapa Tuan petir malah mempertanyakan itu lagi. Duh. Batin Kasih. "Berciuman saja belum pernah, apalagi mengetahui caranya. Saya tidak tau Tuan." berharap tak ada pertanyaan lagi, dan membahas soal ciuman berakhir.


Kasih mencari cara untuk lari dari pertanyaan aneh aneh itu, Nathan terus memandangnya seakan ingin diterkam.


"Apa kamu ingin melakukannya?"


"Hah?" Kasih tak paham apa yang dimaksud dengan Nathan.


"Berciuman." Nathan berbicara pelan.


"Haha, anda bercan."


"Begitulah caranya berciuman." bisik Nathan, tatapannya sangat nakal.


Kasih mengedipkan mata berulang kali, ia tak percaya momen ini terjadi juga. Tanpa disengaja dan tanpa disadari, kedua tangannya mencengkram bahu Nathan.


Nathan memegang belakang kepala Kasih menggunakan tangan kanannya, lalu tangan kiri ia gunakan untuk melingkari pinggul Kasih. Ia menarik tubuh Kasih agar semakin mendekat dengannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2