Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Tuan muda akan datang sebentar lagi." Pak Tejo memberi kabar saat setelah menelpon Nathan.


Jasmine mengangguk panik, Kasih sibuk menenangkan Billy. Ia tak bisa melepas pelukannya karena saat ini Billy jelas-jelas membutuhkan pelukan seseorang.


Hiks... hiks... hiks...


"Sudahlah jangan menangis lagi." Kasih mencium pucuk kepala Billy sambil mengelus punuknya.


"Aku rindu Mama." air mata Billy terus saja tumpah membasahi baju Kasih, seperti air gerimis yang menitik dari langit.


Billy bertemu mamanya saat ia berusia 2 tahun, kala itu tentunya dia sangat banyak di limpahkan kasih sayang dari Sera. Kasih sayang yang tak dapat ia rasakan berhenti pada saat 3 tahun terakhir, dari kecelakaan yang menimpa Sera mereka hanya bisa berkomunikasi dengan cara yang berbeda.


Billy senantiasa berdoa saat bertemu mamanya dan ia selalu berbicara kepada Sera dalam keadaaan wanita itu koma, apalah daya seorang anak kecil seperti dia yang masih sangat kehausan kasih sayang dari seorang ibu.


"Kalian keluarlah! saya akan menidurkannya." Kasih menggendong Billy untuk membawanya tidur.


"Baik nyonya muda." kata para pelayan sembari pamit keluar kamar, Jasmine juga keluar mengikuti pak Tejo.


Setelah pintu di tutup Kasih merebahkan tubuh Billy keatas kasur, anak itu sudah mulai tak menangis lagi dan Kasih sudah agak tenang. Tampaknya Billy sudah mengantuk dan juga sepertinya ia kelelahan akibat menangis.


Kasih menyelimuti tubuh Billy sampai keleher, anak itu tertidur pulas saat kepalanya dielus oleh Kasih.


Sudah dipastikan ia tertidur Kasih pun mematikan lampu lalu berjalan keluar, entah apa penyebab anak itu bisa menangis dan memikirkan Sera, yang jelas mungkin saat ini dia sangat merindukan mamanya.


Kasih membuka pintu kamar Billy untuk keluar.


"Tuan, anda sudah pulang?" Kasih sedikit kaget mendapati Nathan ketika membalik dari hadapan pintu pria itu tengah berdiri di belakangnya.


"Bagaimana keadaan Billy?" Nathan sedikit panik buru-buru membuka pintu.


Kasih mengingat kini Billy sudah tertidur pulas maka ia akan bangun apabila Nathan masuk, jadi ia memutuskan melarang Nathan masuk kedalam.


"Emm Tuan, Billy sudah tidur dia juga sudah baikkan, sebaiknya anda jangan masuk bisa-bisa dia akan bangun lagi nanti." Kasih menarik ujung tangan kanan Nathan.


Nathan menutup kembali pintu saat dicegah oleh Kasih, ia menoleh kesebelah kanan tempat Kasih berdiri. Wajah lelah dan lesu sudah terpancar diraut wajah Kasih, seketika iapun merasa iba.


Nathan melepaskan tangan Kasih lalu ia membenarkan jasnya yang sudah tersingkap. "Kau pergilah tidur, lihat wajahmu sangat jelek." ia membuang muka tanpa menoleh wajah jelek si udik.

__ADS_1


"Baiklah." Kasih membalik badan mengarah kamar mereka, ia rasa semua masalah kecil tadi sudah selesai.


Nathan memandangi bokong Kasih yang terlihat semok, ia membalikan arah menatap anak tangga sambil menarik nafas sedikit.


Dia akan menjadi pria jelalatan jika terus memandangi bokong si udik.


******


PAGI HARI SETELAH MALAM YANG SINGKAT TERLEWATKAN


Nathan sedang berada di atas meja kerja, ia duduk menghadap jendela kaca yang begitu lebar miliknya. Dia bersila menaruh telapak tangan diatas lipatan ujung lutut sekaligus membentuk jari-jari seperti orang bersemedi.


Kilauan cahaya matahari pagi menyoroti wajahnya sehingga aura tampannya terpancar disana, sudah 30 menit ia berada didalam posisi tersebut, ia berkomat-kamit memejamkan mata membaca mantra yang tak jelas. Ia tak berbicara bahkan tak membuka mata sekalipun, ketika ada karyawan yang ingin masuk memberikan semua informasi penting ditolak mentah-mentah olehnya.


Rehan sendiri hanya diam duduk di sofa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Tuannya.


"Aahhaa... Re aku sudah punya ide." Nathan yang sedang fokus bersemedi tiba-tiba mendapatkan ilham dadakan, dia memutar badan seperti gasing menatap wajah Rehan.


Rehan mengelus dada akibat sedikit tersentak kaget saat mendengar suara nyaring Nathan, dia diam menaikkan kedua bahu meminta jawaban.


Rehan bangkit dari sofa memasang wajah mengesalkan. "Ada apa Tuan?" ia bertanya.


Nathan menarik bahu Rehan, ia mendekatkan mulut kelubang kuping Rehan seraya membisikkan sesuatu, Rehan membungkuk sesuai posisi. Dia berbicara dengan sangat cepat Rehan pula mendengarkan dengan seksama memahaminya.


Usai berbicara ia melepaskan bahu Rehan sambil berkata. "Ide yang cemerlang bukan?" memberikan sebuah senyuman licik.


Rehan berdiri disaat Nathan tadi melepaskan cengkramanya, ada rasa tak paham telah menusuk otaknya.


"Cemerlang apanya Tuan?" Rehan tak tertarik dengan ide Nathan merasa itu sangat konyol.


Nathan lompat dari meja turun kelantai sambil berkata. "Ahh sudahlah Re, itu ide terbaik yang telah Tuhan berikan padaku." ia berbicara sembari membalikkan badan kearah jendela.


"Tapi untuk apa Tuan?" Rehan mengikuti arah pandang Nathan.


Nathan pun menoleh kearah kanan menatap tajam kearah Rehan. "Untuk menyelidiki kepengkhianatan siudik itu." hardiknya membalas dengan keangkuhan super.


Rehan tercengir sendiri mendengar ucapan tak masuk akal itu, ia membuang muka seraya berjalan kearah sofa mengabaikan ide gila dari Tuannya.

__ADS_1


"Tuan-tuan, kayak gak ada kerjaan aja. Mana mungkin nyonya muda berkhianat terhadap anda, lagipula siapa yang mau dengan wanita udik seperti beliau." Rehan menghempaskan bokong menolak keinginan Nathan.


Nathan cepat-cepat membalik badan melotot menatap sekertarisnya. "Hey jangan panggil dia udik, siudik itu istriku! Jadi kau harus menghormatinya."


ia merasa tidak terima mendengar ucapan itu.


"Tapi... Tuan sendiri yang mengatakan seperti Itukan?" Rehan membalikkan fakta sembari mendongak menatap sang pria, ia sedikit menyindir.


Nathan diam sebentar mengibaskan tangan kedepan wajah. "Yasudah.. ayo kita pergi memata-matai siudik itu." hardiknya memotong pembicaraan.


Ia menarik tangan Rehan agar segera keluar, mau tak mau ia harus menuruti keinginan Nathan kalau tidak gajinya akan di potong. Mereka masuk kedalam mobil yang masih terparkir di Basement, Nathan cepat-cepat duduk disebelah kemudi sekaligus memasang sabuk pengaman.


"Re, kita pergi ke Mall dahulu!" perintah Nathan, ia menatap Rehan yang masih sibuk memakai sabuk pengaman.


Rehan sudah siap memasang sabuk lanjut menatap Nathan. "Untuk apa Tuan?" sedikit kebingungan.


"Sudah jangan banyak tanya, ikutin saja perintahku." sedikit membentak.


Rehan tak mau memperpanjang pertanyaan, ia segera menyalakan mobil segera meluncur ke Mall sesuai perintah Tuan muda.


*******


Kasih keluar dari ruang Makeup, dia berdiri dibelakang sutradara yakni Dilan sambil membaca narasi.


Dilan memutar kursi tepat kehadapan Kasih, ia memberikan tatapan genit penuh pesona.


"Kamu sudah siap? Ayo stan by!" Dilan sedikit risih melihat penampilan Kasih yang sangat kuno.


"Iya Tuan." Kasih menaruh narasi keatas meja didekat hadapan Dilan, ia berjalan kearah Ruang tamu diikuti oleh pandangan Dilan.


Hari ini mereka syuting di sebuah rumah megah yang dijadikan sebagai tempat tinggal didalam film itu, mereka juga harus berpindah tempat ketempat lainnya.


Dilan memutar kursi kembali, disana banyak pemeran yang sudah siap. Satu sosok yang ia perhatikan adalah Kasih, wanita udik berpenampilan jauh dari kata anggun tapi sangat memiliki aura pesona luar biasa.


"Seandainya kamu cantik mungkin aku akan memilihmu." gumam Dilan sendiri sembari menatap Kasih. Dia tersenyum genit melihat wanita yang tengah berdiri disana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2