
"Jadi, apa pekerjaanmu sekarang beb?" tanya Dora sambil meletakkan gelas kopinya di atas lempengan piring, ia masih berada di Cafe bersama Kasih.
"Tidak ada, aku hanya menganggur dalam dua bulan ini." jawab Kasih dengan tampang lesu. Jelas saja dia sangat bosan di rumah terus tanpa melakukan sebuah pekerjaan, terkecuali segala pekerjaan yang di perintah oleh Nathan setiap hari membebaninya.
Dora mengangguk paham menerima jawabannya, ia juga sudah menganggur selama dua Minggu ini, dikarenakan ingin liburan sejenak. Itu waktu yang cukup panjang bukan.
Kasih mengangkat gelasnya lalu menyeruput isinya dengan sedikit hembusan, kopi itu masih terasa panas. Jam tangan Nathan ia letakkan keatas meja, jangan sampai rusak, ia harus membawanya secara berhati-hati sampai di rumah.
Tiba di rumah, Anna buru-buru masuk ke dalam kamar. Namun langkahnya berhenti ketika saling berpapasan dengan Nenek di ruang tamu.
"Anna." sapa nenek seraya mendekati Anna.
"Nenek." Anna tersenyum mencoba menutupi beban pada dirinya.
"Kamu dari mana?"
"Aku tadi." belum sempat ia menjelaskan sedikit, nenek langsung memotong ucapannya.
"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat sekali, dan mata kamu sembab. Kamu baik-baik saja kan?" tanya nenek yang terlihat kawhatir.
Nenek memperhatikan Anna dari atas kepala sampai ujung kaki, setiap celah di wajahnya juga tak lepas dari pandangan nenek. Wajahnya yang terlihat pucat dan sembab dapat membuat semua orang berpendapat bahwa ia tengah mengalami sesuatu hal.
"Aku gak apa-apa kok Nek. Aku hanya kelelahan saja, aku ke kamar dulu ya. Mau istirahat sebentar." Anna memegang bahu kanan nenek sekaligus memberikan sedikit senyuman, sambil melangkah meninggalkan nenek ditengah ruang tamu.
Nenek memperhatikan terus langkah pelan Anna, tidak seperti biasanya. Nenek sedikit merasa khawatir akan istri cucunya itu.
"Ada apa dengan dia? Kelelahan, ternyata orang pengangguran juga bisa kelelahan ya?" Nenek menggeleng kepala sambil menyeletuk sendirian.
*
"WAH." seru Dora dengan suara kuat seolah terkejut.
Kasih merasa kaget karena dikejutkan oleh suara Dora yang tiba-tiba memekik, semua orang yang berada di dalam Cafe nyaris terkejut juga. Suara Dora ketika berteriak hampir mengimbangi toa.
"Kamu kenapa?" Kasih terlihat bingung melihat ekspresi wajah Dora yang seakan-akan habis memenangkan lotre.
"Kasih lihat ini." Dora memanggil Kasih agar mendekat dengannya, ia menunjuk isi ponsel dengan jemarinya. Matanya tak lepas memandangi layar ponsel.
"Ada apa?" tanya Kasih penasaran namun ia juga tak perduli.
"Lihat, Indonesian fashion week mengadakan lomba fashion show bergengsi Minggu ini." Dora menyeret kursinya agar sejengkal lebih dekat dengan Kasih, ia menunjukkan isi ponselnya mengenai pemberitahuan tersebut.
Kasih melihatnya sedikit namun tak begitu peduli, "Lalu?" ia sibuk mengaduk gelasnya tanpa tertarik melihat apa yang di tunjukkan oleh Dora. Kopi itu sekali lagi ia seruput.
"Kamu harus ikut." Dora bak cacing kepanasan berlagak mentel sambil menepuk pundak Kasih untuk menyuruhnya mengikuti ajang tersebut.
__ADS_1
"Uhuk uhuk." Kasih spontan tersedak bila mendengar perkataan konyol Dora.
"Apa kamu bilang?" ia menatap serius ke wajah Dora, pria itu ikut membalas tatapannya.
"Kamu harus ikut lomba ini, lihatlah, sangat menarik bukan?" mencoba menawarkan lagi.
"Hahaha." Kasih terkekeh menggeleng kepala, tak habis fikir. Bagaimana bisa ia harus ikut lomba-lomba tidak jelas itu.
"Kamu tidak waras ya." sambil mengibaskan tangan di hadapan Dora.
"Kenapa?" tanya Dora dengan serius.
Sejenak Kasih menatapnya dengan arti yang tak bisa ditebak, ia menganggap bahwa Dora tengah meledeknya.
"Aku ini mana cocok untuk ikut lomba begituan, aku ini jelek, cupu, kampungan, miskin, kolot, kuno. Huh semuanya. Bahkan suamiku sendiri saja mengatakan aku udik, setiap hari dia memanggilku dengan nama udik. Menyebalkan." menggerutu sendiri memasang tampang kasian.
Dora terpaku mendengar suara Kasih bak kilat begitu laju, ia mengelus kepangan rambut Kasih.
"Semua wanita itu cantik, cantik itu relatif. Kamu cantik, cantik luar dalam. Hanya saja kamu yang tidak bisa menunjukkan kecantikan dirimu. Cantik tidak hanya dipandang dari fisik ataupun penampilan, namun dari sifat wanita itu. Jika kita mati, nanti di kuburan Malaikat juga tak akan bertanya, kamu cantik atau jelek?" Kasih sedikit tersipu mendengar kata-kata Dora, ia menyelipkan seutas poninya ke kupingnya.
"Tapi aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu." mengepal tangan menolak suatu kesempatan berharga itu.
"Lihat, lomba ini akan diadakan secara langsung di tiga siaran televisi, para pemenang akan mendapatkan hadiah puluhan juta berturut seusai juara pemenang. Para peserta akan memamerkan rancangan dari beberapa desainer terkenal tanah air. Beberapa pengusaha terkenal tanah air akan menjadi tamu dalam lomba tersebut, salah satunya dari perusahaan Wing Group. Wah so amazing." Dora membaca semua yang ada di dalam formulir yang ada di salah satu media yang ia ikuti.
Kasih langsung mematung ketika mendengar Wing Group menjadi salah satu tamu di sana, ia langsung menoleh ponsel yang ada di genggaman tangan Dora. Ia juga menjadi lebih terpukau dari Dora. Berita itu seketika membuat hatinya menjadi lebih segar.
"Lomba fashion ini bertema Casual, pemenang akan diumumkan pada hari perlombaan tersebut. The best in teh world, pergelaran nama fashion show." mereka berdua membaca formulir itu bersamaan.
Kasih dengan seksama kembali membacanya, di formulir itu tertulis syarat pendaftaran. Pendaftaran dibuka online dan bisa mendaftar melalui online, atau juga bisa kunjungi pusat penyelenggara, pendaftaran dibuka mulai tanggal 4 Oktober sampai tanggal 6 Oktober. Para peserta akan mengikuti testing pada tanggal 7 Oktober. Lomba akan diadakan jatuh pada tanggal 10 Oktober. Pendaftaran gratis tanpa dipungut biaya.
Sangat menarik. Setelah selesai memahami intinya, ponsel pun diambil oleh Dora. Ia membujuk Kasih untuk ikut lomba itu, siapa tau dia bisa menang dan kemungkinan bisa terkenal. Dia juga akan dengan senang hati mau membantu Kasih.
"Aku tidak akan ikut." ucap Kasih tanpa rasa apapun.
"Yah, padahal aku mendukungmu jika ikut di lomba itu. Aku akan membantumu, sayang sekali." kata Dora dengan harapan sirna dan seketika lunglai tak berdaya.
Kasih merasa tak enak hati melihat Dora yang berubah ekspresi, wajahnya terlihat murung saat ini. Namun mau bagaimana lagi, dia tidak tertarik sama sekali dengan lomba itu. Dirinya tidak merasa percaya diri, sangat sulit untuk memantaskan diri untuk ikut serta.
***
Malam hari
Nathan sudah terbaring di atas tempat tidur, matanya sudah separuh tertutup. Nyawanya sedikit lagi jatuh ke dalam mimpi, Kasih baru selesai mandi, ia hanya menggunakan daster lalu pelan-pelan naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Nathan.
"Hai udik." ia memanggil sambil menyepak selimut Kasih sampai merosot ke lantai.
__ADS_1
"Iya, Tuan." Kasih membalikkan badan memiring menatap Nathan.
"Di mana jam tanganku?" dari tadi Kasih belum juga memberikan jam tangan itu padanya.
"Oia saya lupa." Kasih pun duduk di sisi kasur, ia mengambil paper bag yang ada di meja lampu.
"Ini Tuan." ia mengambil kotak jam dari dalam paper bag lalu menyerahkannya kepada sang pemilik.
Nathan pun bangkit terduduk di sebelah Kasih, ia mengecek keadaan jamnya, harus ia pastikan jangan ada sedikitpun lecet di sana. Kasih menunjukkan sedikit kerusakan yang sudah diperbaiki. Sebenernya Nathan tak perlu memperbaiki jam, karena dia juga pasti punya banyak jam dan bisa membeli yang baru. Namun jam tangan itu sangat berharga untuknya, itu juga barang pemberian dari Sera sebagai kado ulang tahunnya masa dulu.
"Kerja bagus." Nathan menaikkan alis sambil menatap serius ke arah jam, tidak ada yang salah berarti.
Kasih baru teringat ada membeli satu barang tadi, ia mengambil paper bag satunya lagi di tempat tadi. Ia harus diam-diam dulu.
"Tuan, saya punya sesuatu untuk anda." kata Kasih sambil menyembunyikan benda ke belakang badannya.
"Apa itu?" Nathan merasa penasaran berusaha melihat benda yang dipegang olehnya.
"Tuan tutup mata dulu."
"Untuk apa? Aneh-aneh saja."
"Kumohon pejamkan matamu sebentar." mohon Kasih sekali lagi, ia berharap Nathan menurutinya.
"Baiklah."
Mau tak mau Nathan tetap menuruti kemauan si udik itu, ia menutup mata menggunakan kedua belah tangannya. Kasih mengeluarkan benda itu dari paper bag, sedangkan Nathan sibuk menutup mata sambil berhitung.
"Sudah belum?" tanyanya dengan rasa tak sabar ingin membuka mata untuk melihat kejutan apa yang akan ia dapatkan.
"Sudah." kata Kasih sambil mengangkat benda itu kehadapan Nathan.
Nathan cepat-cepat membuka matanya, ia tak terkejut ataupun merasa terpukau sedikit. Ia mengernyit dahi sambil mengambil benda itu dari tangan Kasih, dua smartwatch itu bersanding di hadapan mereka.
"Smartwatch?" Nathan memegangnya sambil menciutkan bibir, dia fikir ia akan mendapatkan hadiah lain, hadiah yang bisa membuatnya merasa bahagia. Namun hanya benda kecil itu yang ia dapat, untuk apa? Ia sudah punya banyak smartwatch di lemari aksesorisnya.
"Anda pernah meminta hadiah jika saya mendapat pekerjaan dan mendapat gaji, anda ingin hadiah yang saya berikan berasal dari jerih payah saya. Tadi saya melihat itu di gedung tempat jam tangan anda di perbaiki. Itu untuk anda." jelas Kasih takut-takut, ia takut kalau Nathan tak akan menyukainya.
Rasa tak suka jelas terlihat dari mimik wajah Nathan, tak terlihat ekspresi kebahagiaan di sana. Nathan memasukkan smartwatch itu ke dalam kotaknya lalu di kembalikan lagi ke tangan Kasih.
"Aku kembalikan, aku tidak suka. Smartwatch aku sudah banyak." berkata dengan cetus.
"Anda tidak suka ya? Saya akan menunjukkan sedikit keunggulan dari benda ini." berusaha keras supaya Nathan bisa tertarik dengan hadiah kecilnya.
Kasih kembali mengeluarkan smartwatch dari kotaknya, lalu ia bergeser mendekat dengan Nathan. Ia mengambil tangan Nathan, lalu memasangkannya ke tangan itu. Sambil ia menunjukkan keunggulannya, seperti apa benda dapat bekerja.
__ADS_1
"Jika anda merindukan saya, anda bisa tekan tombol ini. Maka smartwatch punya saya akan berbunyi, coba lah." Kasih menyuruh Nathan menekan tombol kecil yang ada di smartwatch itu. Nathan pun menurut, ia juga penasaran, apakah benda itu akan melakukan hal yang sama dengan Kasih ucapkan.
BERSAMBUNG