
Drett Drett Drett...
Ponsel milik Bagas bergetar di saku jasnya, ia melepaskan ciumannya bersama sang adik ipar. Ia pun meraih pucuk kemeja untuk meraih ponsel, ia melihat nama Anna di sana, ia sangat malas untuk meresponnya. Namun tak bisa ditolak.
"Hem." ucap Bagas dalam telepon, ia malas berbicara, justru lebih asyik bermain buletan di dada Jasmine.
"Sayang, kamu sibuk gak? Bisa jemput aku sebentar?" Anna tak mau mengatakan bahwa dia berada di rumah sakit, maka ia akan berpindah tempat nanti jikalau Bagas mau menjemputnya.
"Maaf aku sibuk banget nih, ada meeting penting dengan klien. Kamu pulang sendiri aja ya naik taksi. Maaf, kalau begitu sudah dulu ya. Bye." Bagas mengakhiri telepon.
Ia mematikan ponsel itu dengan senyuman, bahkan ia tak perduli dengan keadaan Anna. Ia juga sangat merasa lelah untuk menjemput Anna ke sana, tenaganya habis terkuras akibat acara live yang mereka lakukan.
"Apa itu kak Anna?" tanya Jasmine.
"Ya." jawab Bagas sambil mengelus pipi Jasmine dalam pelukannya.
"Mau apa dia?"
__ADS_1
"Sudahlah, sama sekali gak penting." Bagas memberikan satu kecupan lagi kebibir Jasmine, rasanya ia masih sangat bernafsu.
Jasmine lagi-lagi tersenyum tanpa berfikir tentang kakak iparnya, siapa sangka. Mereka yang selalu akrab berdua, dan sering menghabiskan waktu berdua. Tega berselingkuh dengan suami kakak iparnya sendiri, bukan hanya satu hati yang akan terluka, namun banyak yang akan terluka jika kepengkhianatan ini terungkap.
Bagas memang selalu sibuk ya, huh. Aku gak boleh mengganggunya, dan apa yang harus aku katakan kepada keluarga. Jika mereka semua tau aku sedang sakit, maka aku akan ditendang dan tak akan diterima lagi, terutama Bagas. Dia pasti akan langsung menceraikan aku seandainya tau kalau aku mengidap leukimia, gak... gak, aku gak boleh mengatakan ini kepada mereka semua, aku harus diam. Aku akan menahannya sendiri, demi hidup aku. Anna pun berinisiatif menyembunyikan penyakit itu dari semua orang, ia akan sembuh apabila rajin berobat. Maka semua orang tak perlu tau tentang penyakitnya.
***
Nathan tengah duduk di ruangan kerja sambil memegang ponsel ingin menghubungi seseorang, wajahnya terlihat segar bugar habis terkena air. Ia mencari nama Udikku tersayang didalam daftar telepon, lalu segera menghubunginya.
Tut Tut Tut...
"Iya sudah Tuan, saya sudah mengambil jam tangan anda." jawab Kasih yang tengah berada di depan Cafe, rencananya ia ingin singgah bersantai di sana.
"Aaa baiklah, bawa dia dengan selamat sampai rumah. Jangan sampai rusak sedikitpun. Jika tidak, aku akan memperkosa mu." kecam Nathan dengan ancaman yang menakutkan untuk Kasih.
"Baik Tuan." usai mendapatkan beberapa pesan itu, Kasih segera menutup telepon. Selama dua bulan ini ia terus kerepotan akibat semua perintah Nathan, dia menganggur tak bekerja. Jadi Nathan selalu saja mengerjainya dengan berbagai perintahnya.
__ADS_1
"Kasih." sapa seseorang yang tak jauh darinya.
Kasih mencari asal suara yang menyebut namanya, ia melihat kanan kiri belakang dan depan untuk menemukan orang itu. "Hai." seorang pria yang tak asing berlari mendekatinya. Dora. Kasih masih mengingat anak itu walaupun agak menjengkelkan. Dengan senyum ramah ia berdiri menunggu Dora sampai pada tempatnya.
"Hai." Dora menyapa sambil ngos-ngosan, ia merasa senang bisa bertemu Kasih ditempat itu. "Apa kabar?" sambungnya.
"Aku baik-baik saja, kamu?" Kasih berbalik tanya mengenai kabar Dora.
"Aku juga baik-baik saja." mereka saling cipika-cipiki dan berpelukan.
"Aku rindu sama kamu." hardik Dora, ya dia sangat rindu dengan Kasih. Sepanjang perjalanannya sebagai asisten artis, hanya Kasih lah orang yang paling cocok dengannya. Cocok dalam segi berteman.
"Aku juga." kata Kasih walaupun sebenarnya tidak, dia sama sekali tidak merindukan Dora.
"Kita ngobrol di dalam Cafe yuk." ajak Dora yang kebetulan sangat haus dan lelah.
Mereka pun masuk ke dalam Cafe hanya untuk nongkrong sebentar, dua cappucino panas dan beberapa cemilan sudah dipesan dan siap disantap. Pelan-pelan mereka meminum minuman itu di Cafe bersama-sama.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...