Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Kesal


__ADS_3

Sesuai ekspektasi berita penyerangan Dilan tersebar luas di media sosial, bahkan berita itu sudah tayang diberbagai stasiun televisi membuat jagat raya geger. Kini Dilan merasa syok dan merasa sedikit takut, ia terus berwaspada takutnya penyerangan itu akan terjadi lagi nanti.


Dilan sudah dibawa kerumah sakit untuk pengobatan secara maksimal, polisi juga sudah menangani kasus tersebut dan saat ini juga polisi tengah memburu sang pelaku.


Keadaan Dilan sudah membaik tak terlalu parah, tapi sepertinya dia harus menginap di rumah sakit.


Kasih berdiri di teras rumah sakit untuk mencari taksi yang mangkal disana, semilir angin terus menghembus kulitnya. Syuting tadi dihentikan sementara saat musibah menimpa Dilan, dari situ ia berada dirumah sakit untuk menemani pria itu.


Karena taksi tak kunjung ketemu ia memilih memesan taksi online saja.


Seluruh kru TVE sudah pulang semua termasuk tuan Alrico dan asisten Dora, Dilan tinggal sendirian diruang UGD. Dilan menyuruh Kasih pulang juga, mengingat ini sudah larut malam dan tentunya Kasih pasti merasa lelah.


"Kasih!" saut seorang pria dengan suara serak-serak basah diiringi kelembutan.


Kasih membalik badan kebelakang ketika namanya disebut, ia melihat Dilan berjalan mendekatinya.


"Tuan, anda kenapa keluar?" tanyanya sedikit panik. Ia pun melangkah juga mendekati Dilan.


"Aku akan mengantarmu pulang." Dilan menarik tangan kanan Kasih mengajaknya pergi.


"Tapi anda masih sakit Tuan? Saya akan pulang sendiri saja." ia menahan langkah.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka ringan saja, aku tidak perlu menginap ditempat ini. Aku akan mengantarmu pulang." ia kembali menarik tangan Kasih.


"Tapi tuan, sebaiknya anda kembali kedalam saja. Saya akan pulang dengan taksi online."


"Sudahlah, ayo aku akan mengantarmu."


Dilan merangkul pinggang Kasih membawanya berjalan menuju mobil, dibagian pinggir bibirnya terlihat lebam, agaknya sangat perih kalau disentuh. Mau tak mau Kasih harus menuruti keinginan Dilan untuk mengantarkannya pulang.


***


Ssuuurrrrrr!


Kasih mengisi air kedalam bak mandi, badannya sangat bau akibat lembab keringat. Ia melepas semua pakaian, kacamata dan kepangan rambutnya. Ia menuangkan beberapa tetes aromaterapi kedalam bak sambil di obok-obok hingga menjadi buih-buih harum.


Selanjutnya ia masuk kedalam bak merendam tubuh disana.


Nathan baru masuk kedalam kamar, ia menghempaskan tubuh keatas kasur dengan sangat kuat hingga tubuhnya membal keatas. Dia menatap sekeliling kamar dan fokus melihat langit-langit kamar yang indah dihiasi lampu. Fiuh. Ia menghembus nafas sekali lalu duduk diujung kasur.


Ia menyambar satu botol air Aqua sekitar 400ml diatas meja sofa lalu ia teguk sampai habis, dilihatnya tas Kasih sudah ada di sofa berarti si udik itu sudah pulang, begitu fikirannya. Botol dikembalikan keatas meja dalam keadaan kosong.


Nathan melangkah menuju kamar mandi niat hati ingin mandi, ia membuka pintu kamar mandi yang tak di kunci itu, kemungkinan tidak ada orang jadi dia tak perlu ketuk-ketuk untuk memastikan isinya. Betapa terkejutnya ia karena diperlihatkan dengan pemandangan teramat vulgar.


"AAAGGHH!"


Kasih menjerit duluan ketika Nathan masuk kekamar mandi, begitu juga Nathan yang ikut menjerit ketika melihat Kasih berdiri di shower dalam keadaan bugil.


Bukannya pergi, Nathan malah mengamati tubuh molek milik Kasih yang terlihat mulus, putih, bersih tanpa ditumbuhi bulu-bulu sedikitpun.


Tubuh itu mungil namun memiliki bentuk gitar Spanyol, payudara Kasih terlihat montok, kencang, padat dan bulat. Glek', Nathan menelan ludah tampak fokus melihat objek wisata gratis itu. Kasih merasa malu segera menyenderkan tubuh di sudut tembok, ia menyilangkan kedua paha menutupi apem miliknya dan kedua tangannya pula menyilang menutup payudaranya.


Ya Tuhan, indah sekali ciptaan mu yang satu ini. Itu itu benda itu, aaaa aku ingin meremasnya dengan pelan. Paha itu juga terlihat mulus sekali, aku ingin membelainya. Batin Nathan.


Nathan meremas jari-jarinya yang sudah beraksi ingin menyentuh sesuatu, dedek kecilnya juga tampak mulai bangun. Dia terus menatap Kasih tanpa berkedip sekalipun ingin sekali ia peluk, ada aura sensual menusuk nusuk dirinya serta aura aura panas mulai hadir.


Ia menggigit bibir menatap Kasih, ternyata dibalik penampilannya yang jelek, udik dan cupu dia mempunyai body yang aduhai. Nathan mengelus leher dari kiri ke kanan, dedek kecil sudah terbangun dan mulai rewel memberikan kode alam untuk menyerang mangsanya.


Kasih tertimpa rasa malu bercampur takut, pria itu seperti orang kesenangan memandangnya,


ia benar-benar bingung bagaimana caranya mengusir pria itu dari hadapannya. Walaupun pria itu sudah menjadi suaminya, namun ia masih tak sanggup menunjukkan aurat kepada sang suami.

__ADS_1


"Tu, tuan... bisakah anda keluar?" Kasih tergugup berharap Nathan akan menurutinya.


"Iya iya... ak aku keluar. Ma maaf, aku tidak melihatnya kok. Sumpah. Hahaha mandilah."


Nathan gelagapan sendiri, ia maju mundur tak tau arah mau keluar. Objek itu berhasil membangunkan sang dedek kecil tadi, bersyukurnya sang dedek tak rewel lagi meminta masuk kedalam kelambu.


Melihat Nathan yang sudah keluar, Kasih melangkah tenang tapi malu menuju pintu. Pintu itu dikunci agar kejadian tadi tak terulang lagi, ia kembali ke shower untuk membasahi tubuhnya yang mulai mengering.


Aahh sial, harusnya aku tak boleh ceroboh seperti tadi. Pasti tuan petir berfikir yang tidak-tidak tentang aku, huh memang aku ini si udik yang idiot ya. Batin Kasih.


Ia menggerutu sendiri menerima rasa malu luar biasa.


***


Di taman belakang Anna termenung duduk di ayunan, ia memikirkan hal yang begitu mencurigakan spontan membuatnya resah. Sepasang kekasih yang tak sengaja ia temui di hotel tadi sungguh tak berhenti membuat ia berfikir.


Ayunan bergerak pelan, ia memakai syal rajut halus untuk melilit lehernya dikarenakan malam ini sangat dingin. Ia menggigit kuku sambil berfikir, para jangkrik beramai-ramai bernyanyi mengiringi malam yang indah itu dengan suara berisik mereka.


"Kak Anna." suara lembut itu terdengar pelan memanggil Anna yang tengah fokus bersama fikirannya.


Anna menoleh arah kedepan, Jasmine dengan anggun berjalan menghampirinya. "Sedang apa?" ia langsung duduk disebelah kanan Anna.


Anna tersenyum melirik wajah Jasmine, ia tak menjawab dan lebih memilih melanjutkan lamunannya.


"Kak, ada apa?" Jasmine melihat Anna yang tak menjawabnya, hal itu membuat ia penasaran.


"Jas, tadi aku melihat Bagas bersama seorang wanita disebuah hotel, ketika aku menghadiri pesta sahabatku." Anna menghentikan lamunan untuk mengatakan itu.


"Uhukk." Jasmine terbatuk mendengar perkataan kakak iparnya.


Jasmine terdiam tak ingin berbicara lagi, Anna menoleh dirinya karena tak bersuara.


"Kenapa kau terdiam?" dia menepuk pelan pundak Jasmine.


Anna berdiri lalu mengilap bokong sambil melangkah maju.


"Entahlah, aku juga tidak yakin kalau itu Bagas atau bukan, tapi aku merasa kalau itu dirinya."


Jasmine menyelipkan rambut kesamping telinganya, ia bangkit dari ayunan sembari berjalan menghampiri Anna.


"Kak, sebaiknya kau jangan mencurigai suamimu, kau tau? Jika itu tidak benar maka kau akan salah besar." hardiknya menjelaskan, ia tak mau jika sang kakak ipar berfikir yang tidak-tidak.


"Tapi Jas?" Anna merasa sangat bimbang.


"Sudahlah kak, sebaiknya kau tidur! Aku juga mau tidur, bye." Jasmine melangkah pergi meninggalkan Anna sendirian.


Merasa udara semakin dingin, Anna pun memilih untuk masuk kedalam rumah.


***


Kasih memakai daster polos bewarna putih setelah lama berada diruang ganti, ia keluar berjalan menuju sofa dimana tempat itu sudah dikuasai oleh tuan petir.


"Tuan, anda kenapa tidur disini?" ia merasa takut dan sedikit kesal karena Nathan tidur di sofa miliknya, kebetulan dikamar itu hanya ada satu sofa saja.


Nathan cuek dan hanya membuka mata sedikit seperti orang mengintip, Kasih beridiri diujung sofa berharap Nathan enyah dari sana.


"Baiklah jika tuan ingin tidur, saya izin keluar kamar sebentar untuk mengecek keadaan Billy." Kasih menunjuk arah pintu sambil bermohon diizinkan.


Mendengar hal itu, Nathan cepat-cepat membuka mata lalu duduk disisi sofa.


"Mau kemana kau?" Nathan membentak sedikit.

__ADS_1


"Mau keluar, saya mau melihat Billy tuan." Kasih membalik arah menatap lirih kearah Nathan yang tengah duduk.


"Kemari!" Nathan menepuk kuat sofa memberi isyarat agar si udik duduk disebelahnya.


Kasih membatalkan niat ingin kekamar Billy, ia kembali ke sofa. Dia duduk disebelah kiri Nathan sesuai dengan perintahnya, mereka duduk berdua disana dan seketika keadaan menjadi hening. Hening cipta dimulai.


Keduanya kikuk bersamaan, Nathan sibuk dengan ponselnya begitu juga Kasih yang hanya bisa terdiam mematung. Pada akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada apa Tuan?" ia menatap wajah Nathan setelah dia sudah beberapa menit berada disebelah pria itu.


Nathan mematikan ponselnya lalu dihempas pelan keatas meja, ia merentangkan kedua tangan ke tepi sofa, ia memandangi Kasih dari belakang.


"Kenapa kau pulang lama sekali?" tanyanya sambil melirik lirik.


Kasih memandangi Nathan yang sedikit berada dibelakangnya.


"Tadi saya menemani tuan Dilan dirumah sakit, tuan."


"Sakit? Memangnya dia sakit apa? Kenapa dirumah sakit?" Nathan membenarkan duduknya sambil bertanya seolah tak tau.


"Tuan tau tidak? Tadi ketika kami sedang istirahat dan waktunya makan siang, tiba-tiba ada dua pria yang mencurigakan dan berpenampilan aneh menyusup di lokasi syuting. Lalu pria yang satunya menonjok wajah tuan Dilan hingga ia mengalami pendarahan, jadi syuting dihentikan maka dari itu saya sedari tadi siang menemani tuan Dilan dirumah sakit." Kasih menjelaskan sedikit kronologi kejadian yang menimpa Dilan tadi siang.


"Ehem..." Nathan berdehem saat mendengarkan cerita Kasih yang begitu cepat, singkat dan jelas.


"Tuan kenapa?" Kasih dengan berani mengelus pundak Nathan dikarenakan dia sedikit khawatir ketika Nathan terbatuk.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Oh Tuhan siapa yang telah berani melakukan hal sejahat itu?" Nathan pura-pura merasa cemas, ia menatap Kasih dengan meminta jawaban atas segudang pertanyaannya.


"Tuan Dilan bilang saat ini dia sudah tidak apa-apa, jahat sekali mereka yang telah berani memukulnya. Saya tidak mengerti apa salah tuan Dilan, dasar brengsek." Kasih memasang wajah sedih memikirkan keadaan Dilan yang malang.


Melihat reaksi Kasih yang berlebihan atau mungkin memang dia merasa sedih, cukup membuat Nathan bertambah jengkel, dia menciutkan bibir menatap Kasih.


"Kenapa kau kasian dengannya?" Nathan setengah membentak.


"Tentu saja saya kasian, anda tidak kasian dengan tuan Dilan? Dia sedang mengalami musibah, lalu saya harus bagaimana tuan? Anda tidak punya perasaan ya tuan?" Kasih sedikit menggertak Nathan atas ucapan dan pandangan tajamnya.


Nathan pun terdiam kehabisan kata-kata, tak seharusnya dia tadi mengatakan itu.


Ahh kenapa dia memarahiku? astaga dia sudah berani sekali denganku. Batin Nathan.


"Kenapa kau cerewet sekali? Kenapa kau memarahiku dan malah membelanya?" Nathan berdiri kesal, ia menyalahkan Kasih kali ini.


"Saya tidak bermaksud seperti itu tuan, saya tidak memarahi anda." Kasih mencoba menjelaskan maksud dari ucapannya, namun sepertinya Nathan malah kesal.


"Ahhh sudahlah, tidur sana! Kau sangat menyebalkan." Nathan membanting bantal keatas sofa.


Ia berjalan menuju kamar mandi sambil mengendus, Kasih mengikuti langkah Nathan menggunakan tatapannya. Melihat Nathan kesal atas ucapannya, iapun berniat menjelaskannya sekali lagi.


Kasih bangkit dari sofa lalu mengikuti langkah kaki Nathan.


"Tuan anda mau kemana?" Kasih berlari pelan menghampiri Nathan.


Nathan berhenti ditengah jalan lalu menatap Kasih. "Aku ingin mandi, kau mau ikut?"


Kasih menelan ludah sambil berkedip-kedip, lalu ia menjawab. "Tidak tuan." ucapnya dengan cepat.


Nathan tak mau berlama-lama, ia melanjutkan langkah tanpa menoleh Kasih. Kasih menggeleng seraya berjalan kembali menunju sofa, dia menyesal atas ucapannya dan ia merasa lucu dengan sikap Nathan. Bahkan ia tak bisa mencurigai suaminya sendiri, begitu sempurna sekali penyamaran Nathan, sehingga tak ada satu orangpun yang bisa mengenalinya termasuk istrinya sendiri.


Didalam kamar mandi Nathan berdiri didepan cermin menatap wajahnya yang tampan rupawan, dibalik ketampanannya ia memiliki akhlak yang tak terpuji, namun ia sendiri tak menyadarinya.


"Kenapa si kadal itu tidak mati ya? Haruskah aku bunuh dia? Atau sebaiknya aku santet saja? Ah omong kosong." Nathan. menggerutu sendiri dikamar mandi seraya melepas pakaian untuk cepat-cepat membasahi tubuh.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2