
Nathan duduk di ruang rapat kantornya, rencana hari ini akan ada rapat penting dengan klien. Rehan tengah menelpon seseorang di pojokan, ia terus melamun sambil ketawa-ketawa sendiri. Bayangan si udik terus saja gentayangan di fikirannya.
"Udik... udik.... udik, lama-lama kamu sangat cantik." Nathan memainkan pulpen yang ia pegang ditangan.
Sudah berapa lama dia dengan posisi seperti itu, ia juga berharap agar rapat dibatalkan.
Rehan berulang kali memperhatikan tingkah laku Nathan, baru kali ini ia melihat Tuannya menjadi gila. Bagaimana tidak, pria itu terus saja tertawa sendiri persis orang gila.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih." Tut Tut Tut. Rehan mengakhiri obrolan ditelpon. Ia melangkah mendekati Nathan yang tengah duduk di kursi rapat.
Ia geleng-geleng kepala, berfikir. Kapan Nathan akan berhenti seperti itu dan kembali menjadi orang normal.
"Tuan, rapat hari ini di cancel." Rehan duduk di sebelah Nathan sambil mengumpulkan berkas-berkas di sana.
"Aaa." Nathan tak menggubris perkataan Rehan, ia malah lanjut mengkhayal.
"Tuan Mahendra tiba-tiba sakit perut, jadi katanya rapat di cancel." Rehan sibuk menjelaskan kendala permasalahan rapat sedangkan Nathan malah sibuk menggila sendiri.
Percuma menjelaskan panjang lebar toh Nathan tak akan menyaring perkataannya, Rehan mencatat beberapa berkas, ia menulis dokumen tentang rapat yang di cancel barusan.
"Rehan." tiba-tiba Nathan berteriak, ia mengangetkan kuping Rehan.
"Anda kenapa Tuan?" untung jantung Rehan tak copot, ia mengelus dada.
"Rapat di cancel kan?" Nathan membenarkan posisi duduknya.
"Ia Tuan, karena Tuan Mahendra sedang sakit perut." memperjelas sekali lagi.
"Kalau begitu, ayo pergi." Nathan bangkit dari duduk, ia membenarkan jas serta rambutnya.
Rehan tak berdiri, ia malah masih berdiam diri dan hanya memperhatikan Nathan.
"Hey, kenapa masih diam? Ayo!" Nathan menarik lengan Rehan agar berdiri, mau tak mau lagi-lagi Rehan harus pasrah.
Nathan menarik Rehan untuk keluar dari ruang tersebut, mereka melewati koridor kantor. Langkah Nathan begitu cepat.
Banyak karyawan yang menatap kepergian mereka, seolah terburu-buru ada sesuatu yang terjadi.
Nathan menyetir mobil sedangkan Rehan bak Bos duduk disebelahnya, itu sendiri kemauan Nathan. Tak masalah.
Mobil melaju sangat cepat diatas rata-rata, ia cengar-cengir sendirian. Akhir-akhir ini hidupnya seperti tak ada beban, suatu masalah.
Beberapa menit kemudian mobil yang mereka kendarai telah tiba di lokasi syuting, lokasi berada di sebuah gedung besar yang sudah terbengkalai untuk dijadikan tempat terakhir Kasih syuting film. Dengan buru-buru Nathan keluar lalu disusul oleh Rehan, setibanya di area syuting tampak sebuah adegan perkelahian terjadi.
Nathan berjalan mendekat di tempat Dilan duduk merekam aksi laga, Dewa melakukan aksi perkelahian bersama pemeran pendukung.
BRUK BRUK TREK
Para orang-orang disana sibuk beradegan bertarung, Kasih hanya terduduk sambil melakukan perannya. Di dalam cerita Kasih tengah diculik saat itu dan diselamatkan oleh Dewa, begitu akhir dari cerita perfilman yang dijalani.
"Lihat Re, aku juga bisa bertarung seperti itu." ujar Nathan tiba-tiba.
Rehan menciutkan bibir mendengar penuturan Nathan yang sombong, cuaca hari ini tak ini tak begitu panas.
''CUT...'' Dilan berteriak menghentikan syuting, ctek' satu orang kru menutup clapper board ketika Dilan bersuara, para pelakon berhenti semua. Dilan melihat ke belakang ternyata di situ ada Nathan, ia sedikit terkejut.
''Hai Nathan.... sudah lama di sini?'' sapanya sambil tersenyum.
__ADS_1
''Hai, baru aja kok.'' jawab Nathan sambil memasang wajah datar.
Dilan beranjak dari kursi lalu melangkah pergi dengan memberikan senyum hangat kepada Nathan, menyadari ada Nathan di sana, Kasih pun mendatanginya. Ia melangkah sambil membawa sebotol Aqua untuknya, ia sangat senang mengetahui ada sang pujaan hati.
''Hai Tuan petir.'' sapa Kasih sembari tersenyum.
Nathan juga tersenyum melihatnya, mereka saling menatap satu sama lain cukup lama. Rehan merasa minder ada diantara mereka berdua, rasanya ingin pergi tapi ia tak mau juga.
''Ehem.'' Rehan terpaksa berdehem dengan sengaja agar mereka berhenti saling menatap.
Kasih dan Nathan cengar-cengir bersama, seolah ada yang lucu.
''Ekting mu sangat bagus.'' Nathan mencari topik pembicaraan dengan pujian.
''Ya... Tuan.'' Kasih tersipu malu mendengarnya, ia menyelipkan seutas rambut kebalik kupingnya.
Masih akan ada syuting selanjutnya, itu syuting terakhir mereka. Dilan tadi sengaja menutup syuting karena ia ingin istirahat sebentar.
Kasih masih merasa kikuk berhadapan dengan Nathan, terlebih lagi mengingat kata-kata seramnya.
Tak lama Dilan kembali, ia mengeluarkan suara menyuruh semua tim work kembali stay di lokasi. Menyuruh semua orang bersiap-siap.
''Semuanya bersiaplah, selanjutnya akan ada scene Kiss untuk penutupan film.'' perintah Dilan, lalu kemudian dia kembali duduk ditempat.
Apa? Kiss, ciuman? Oh tidak mungkin. Kasih memasang raut wajah menyedihkan ketika mendengar kalimat Kiss, Nathan serta Rehan ikut kaget juga.
Mereka berdiri diruang tengah di gedung kosong yang amat besar itu. Di sana Dewa terlihat semangat ingin segera melakukannya, bagaimanapun ia adalah Dewa Kiss, paling ahli dalam hal berciuman.
''Bye bye Tuan.'' Kasih melambaikan tangan meninggalkan Nathan, ia seperti orang ketakutan.
Nathan kegeraman tak bisa menerima hal tersebut, ia mengumpat di dalam hati sambil melirik Rehan.
Ahh bagaimana ini, aku bahkan tidak tau caranya berciuman. Dan aku sangat takut sekali. Kasih bergumam sendirian memenangkan perasaannya. Entah mimpi apa dia tadi malam hingga bisa menjadi hal sedemikian.
''Ada apa Kasih?'' Dewa bertanya sambil berbisik ketika melihat ekspresi Kasih yang terlihat panik.
''Tidak ada.'' Kasih menjawab singkat.
Ia menoleh ke kamera tempat Dilan berada ia juga sambil melihat Nathan, situasi macam apa ini? Begitu fikirannya.
''Oke semuanya bersiap.''
''Kamera rolling eksyen.'' Dilan berucap menggunakan toa.
''Diva, aku sangat mencintaimu.'' ucap Dewa di dalam adegan yang berlangsung, ia memegang kedua belah pipi Kasih.
''Aku juga mencintaimu Rangga, sangat mencintaimu.'' balas Kasih.
Mereka saling bertatapan mata sebentar.
''Cih... dia bahkan tidak mengatakan itu padaku.'' Nathan terlihat sewot sendiri.
''Itu hanya skenario film Tuan, bukan beneran.'' Rehan menjelaskannya agar tak ada kesalahpahaman.
Nathan menciutkan bibir menanggapi penjelasan Rehan, kamera person masih fokus menangkap setiap gerak-gerik sang pemeran.
''CUT...'' adegan di stop sebentar.
__ADS_1
Dilan memberikan aba-aba untuk mereka, sang penulis skrip pun membantu memperagakan adegan kiss yang akan dilanjutkan.
Dengan serius Kasih memahaminya secara perlahan, semuanya sudah oke. Syuting berlanjut.
''Eksyen.'' jerit Dilan.
Di belakang kamera, Nathan seperti orang kebakar jenggot, seharusnya ia yang melakukan itu bersama Kasih.
Ia mengepalkan tangan menyaksikan adegan kiss yang menyiksa batinnya, tak hanya dia saja. Rehan juga lebih panas melihat hal serupa.
Mati kau nanti malam udik. Nathan membatin geram, ia mengumpat terus menerus.
''Kau lihat itu Re.'' Nathan mencengkram bahu Rehan sangking geramnya.
''Sabar Tuan, itu hanya ekting saja.'' Rehan berusaha menenangkan diri Nathan yang sudah kepanasan.
''WRAP.'' ctek', mereka yang ada di sana sudah berhenti bekerja, dilan sendiri sudah mengakhiri syuting.
''CUT.'' Dilan sekali lagi berteriak.
Adegan ciuman itu masih berlanjut, sebagian kru saling tertawa bersiul menggoda. Nathan semakin dibuat mabuk kepayang hingga ingin melayang.
''Apa-apaan ini.'' Nathan sudah bersiap mau melangkah maju dengan rasa emosional.
''Tahan Tuan, tahan.'' Rehan menahan langkah Nathan, jangan sampai pria itu membuat kekacauan di situ. Bisa-bisa ia kehilangan Martabat.
''Lepaskan Re.'' Nathan terus memberontak.
''Kendalikan diri anda Tuan.'' Rehan terus membujuknya, agar tak bertingkah konyol.
Cukup, aku sudah kehabisan nafas... pria ini bernafsu sekali. batin Kasih.
Dilan juga berusaha mengehentikan adegan itu dengan suaranya mengunakan toa, alih-alih Dewa tak mau berhenti, semua kamera dimatikan, mereka tak boleh sampai terekam.
''Tuan, berhenti.'' Kasih berhasil melepaskan ciuman ganas dari Dewa, ia menolak Dewa kah beberapa centimeter darinya.
''Hehe, maaf. Sepertinya aku merasa ketagihan berciuman denganmu.'' Dewa membisikkan kata-kata itu kekuping Kasih, lalu ia mengusap bibirnya dan bibir Kasih yang sedikit basah.
Kemudian Dewa melangkah pergi meninggalkannya, Kasih berdiri di depan orang-orang itu dengan rasa sedikit malu.
Dewa tak sengaja melihat Nathan, lalu ia berencana mendekatinya sebentar.
''Hai Nathan, tumben ke sini? Sudah berapa lama?'' Dewa bertanya sambil membenarkan rambutnya.
Nathan ingin sekali menonjok wajah Dewa sialan itu, namun demi martabat ia terus bersabar.
''Sudah dari tadi.'' ia menjawab dengan senyuman palsu.
''Oh ya, kau tau? Aku sangat senang berciuman dengan gadis itu hingga aku lupa situasi, bibirnya sangat lembut. Namun dia tidak tau caranya berciuman, aku ingin sekali mengajarinya cara berciuman yang benar kalau ada waktu nanti.'' Dewa terlihat senang mengungkapkan kata itu.
Dasar sialan. Nathan semakin emosi, jika tak ada orang di sana, ia ingin sekali membakar mulut Dewa.
''Kalau begitu, sampai jumpa lagi ya.'' usai mengatakan itu Dewa langsung melangkah pergi.
Kasih menatap Nathan dari kejauhan, bisa ia pastikan kalau Nathan sangat marah padanya. Nathan bahkan membuang muka tak ingin menatapnya lagi.
Ini hanyalah syuting, entah kenapa Nathan sangat marah. Nathan pergi keluar dari gedung, Kasih terus melihatnya, rasanya ingin sekali menangis.
__ADS_1
BERSAMBUNG