
Nathan serta para kolega Korea masih sibuk didalam Banquet room, mereka membahas pasal-pasal produk yang akan diproduksi oleh kedua belah pihak. Saat ini perusahaan mereka telah terikat tali kerjasama.
Nathan semakin kegerahan berada didalam ruangan tersebut, keringatnya semakin banyak bercucuran membasahi kulit. Ia berulang kali mengibas tangan ke area leher.
Pak Tae oh yang duduk disampingnya mencium aroma-aroma tidak enak, sesuatu bau yang menyengat menusuk lubang hidungnya, dia mengendus kearah Nathan sudah bisa ditebak bahwa aroma bau itu berasal dari Nathan.
"Miseuteo Nathan ssi, neo mog-yog anhe?" (Maaf Tuan Nathan, apakah anda belum mandi)
Pak Tae oh terpaksa mengungkapkan kejujurannya, dikarenakan ia tak sanggup lagi mencium bau keringat dari tubuh Nathan
Semua orang mengangkat kepala menatap Tae oh baru beralih ke Nathan, mereka juga sebenarnya sudah dari tadi mencium bau itu tapi mereka takut ingin mengatakannya.
Tentu Nathan juga terkejut ia memandang pria separuh abad mengelak dari pengakuannya.
"Naega ajig mog-yoghaji anh-eun bangbeob-eun." (Sudah kok, masa saya belum mandi) ia tersenyum lebar membela diri atas tuduhan Tae oh, bagaimana bisa pria itu asal menuduh dan menyangka dirinya belum mandi.
"Hajiman jeon-e naemsaeleul mat-aseo mianhane." (Tapi maaf sebelumnya, anda bau sekali)
Tae oh merasa lega tatkala mengungkapkan kejujurannya, walaupun dia merasa agak sedikit tidak enak hati terhadap Nathan. Pasti Nathan sudah ditimpa rasa malu atas sesuatu kejujuran tanpa kebohongan, tapi itu adalah sebuah fakta yang tak dapat disembunyikan.
"Emm."
Nathan terpukau malu mendengar ucapan Tae oh, orang-orang yang ikut dalam acara rapat sedikit saling tertawa kecil, mereka takut tertawa kuat takut juga menyinggung perasaan Nathan. Nathan merasa terpojokkan segera mencium tubuhnya.
"Ffiiuhh."
Ia membuang nafas setelah mencium aroma bawang busuk dari tubuhnya, bau itu berasal dari bajunya yang lembab akibat keringat yang membasahi nya.
"Hahaha." Nathan terkekeh sendiri tak dapat menyangkal fitnah nyata tersebut, ia ingin mengganti topik namun ia sudah kehilangan akal.
Malu malu malu. Kata itu yang bergejolak di benaknya, bagaimana bisa ia mempermalukan diri sendiri dihadapan semua orang. Bukankah tadi sudah diusahakan jangan sampai dirinya bau saat bertemu klien, ternyata ini yang dinamakan usaha mengkhianati hasil.
"Neamsaega ssoji anhdolog-i seonsaengnim sayonghasibsio." (Pakai ini Tuan, agar baunya tidak menyengat)
Pak Tae oh memberikan sebotol parfum kecil yang ia keluarkan dari tas kecilnya, tanpa sepengetahuan orang diam-diam pak Tae oh punya kebiasaan membawa benda tersebut.
"Gomawo." (Terimakasih)
Dengan rasa penuh malu Nathan meraih parfum itu dari tangan pak Tae oh, ia menyemprotkan parfum keseluruhan tubuh. Sekertaris Rehan membantu menyiramkan cairan wewangian kesekeliling tubuh Nathan, satu hal yang tak dapat ia lakukan adalah. Sebuah tawa yang ingin ia pecahkan diruangan itu bersama para anggota rapat.
*****
"Oke cut."
Dilan berteriak memakai toa menghentikan aktivitas mereka semua. "Ctek." Sebuah clapper board telah menutup adegan yang tengah dijalani saat ini, akting yang sangat memuaskan hati produser Alrico dan sutradara Dilan.
"Oke good."
Giliran pak produser yang berteriak memberikan pujian, mereka yang berperan didalam syuting telah bubar meneduhkan diri sendiri dari sinar matahari yang memantul di permukaan bumi.
Masing-masing assisten membantu sang artis, begitu juga dengan Dora ia membantu menyingkirkan semua keringat dari tubuh Kasih menggunakan tissue dibalik kamera.
__ADS_1
"Hay Kasih!" suara itu terdengar renyah tiba-tiba.
Dewa datang mendekati Kasih bersama assisten miliknya, apa semua assisten artis itu jiwanya bercampur ya? Assisten milik Dewa juga sama persis sikapnya seperti Dora. Kasih mempertanyakan itu didalam benaknya, dia selalu saja memikirkan hal yang sama sekali tidak penting, tapi masalahnya apa yang ia lihat pasti akan menjadi suatu tanda tanya sendiri baginya.
"Hay Kasih." Dewa sekali lagi memanggil Kasih dengan menjentikkan jari, Kasih itu lumayan tinggi jadi Dewa tak perlu membungkuk untuk menatap wajahnya.
"Iya-iya Tuan." Kasih tersentak mendengar suara jentikkan jari Dewa, wajah mereka berdua saling bertatap dekat.
"Kok bengong?" Dewa mengernyitkan dahi penasaran dengan Kasih
"Tidak Tuan, sebenarnya saya hanya ." Kasih buru-buru menjawab namun Dewa menghentikan ia berbicara, Dewa mengunci mulutnya dengan jari telunjuk Dewa.
Dewa melanjutkan ucapan Kasih dengan topik lain. "Kamu sangat lancar sekali dalam berakting. I Like It. Aku berharap akan ada adegan berciuman antara kita nanti. Bagaimana kalau kita kenalan?" hardiknya membalas dengan jurus kegenitan.
"haaahh." Kasih terbelakak mendengar ucapan Dewa seperti pria ganjen.
Dewa membalas tatapan Kasih yang seakan menunjukkan tanda risih. "Sorry saya hanya bercanda, tapi memang saya akui akting anda sangat top sekali. Oiya salam kenal nama saya Dewa kemungkinan kita akan bertemu setiap hari."
Dewa mengulurkan tangan berharap akan dibalas, Kasih sangat senang hati membalasnya dan salam perkenalan terjadi.
"Terimakasih Tuan." ucap Kasih.
Dewa beridiri tegak lalu menjawab. "Panggil Dewa saja."
Tiga kata untuk percakapan terakhir Dewa berikan, pemuda itu lanjut berjalan meninggalkannya dengan sejuta pesona.
Kasih berdiri memperhatikan langka Dewa dari belakang.
"Cieee senyum-senyum." Dora mencolek pipi Kasih menggunakan telunjuknya, spontan Kasih berhenti tersenyum.
"Semua wanita bilang begitu." Dora menyambung ucapan Kasih.
"Dia mirip oppa-oppa Korea." Kasih membisik kekuping Dora.
Dora mengangguk tersenyum mendengar pengakuan Kasih. "Semua wanita mengatakan dia mirip Park Bogum, tapi kalau versi Dora dia mirip Song Joong Ki, kalau anda?" Dora merasa kepo lanjut mendekatkan diri ke kuping Kasih.
"Dia mirip Ji Chang Wook." ia bersemangat membalas pertanyaan kepada Dora.
Seketika Dora terkekeh mendengar pengakuan Kasih yang sudah biasa ia dengar dari orang lain, ia semakin geli mendengar anak itu tertawa bak kuntilanak.
Kasih bertemu Ji Chang Wook berawal dari Group medsos yang ia ikutin, dari situ ia mendapatkan nama Ji Chang Wook. Sangking tertariknya melihat oppa Korea, Kasih menyimpan semua foto oppa tersebut kedalam galeri foto ponsel mahalnya yang seharga 88 milyar.
*****
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dari siang berganti malam dari terang berganti gelap. Matahari sudah tak bekerja menerangi bumi karena telah berganti dengan bulan.
Tadi Dilan tak mengantarkan dirinya pulang karena pria itu sibuk, jadi Kasih pulang dengan sendirinya bersama taksi online.
Ketika Kasih melewati lorong lantai dua ia mendengar tangisan suara.
"Hiks Hiks Hiks." suara itu berasal dari kamar Billy.
__ADS_1
Kasih merasa penasaran berjalan mendekati pintu kamar Billy, sebenarnya ia sangat lelah dan ingin segera tidur namun lelahnya berhenti ketika mendengar suara tangisan itu.
Kasih mendekatkan kuping kewajah pintu, ia menekan gagang pintu untuk segera masuk.
Ceklek. (Suara pintu)
Kasih melangkah masuk kedalam kamar ingin memastikan keadaan Billy.
"Billy." Ia memanggil Billy ketika anak itu duduk menangis diujung tempat tidur, Billy telah di bujuk oleh Jasmine. Disana juga ada pak Tejo yang terlihat gelagapan.
Kasih bertekuk lutut di lantai menatap anak kecil tersebut. "Billy, kamu kenapa nak?" dengan jiwa keibuannya ia merasa iba serta khawatir melihat Billy.
"Dia menangis terus sejak tadi." Jasmine enyah dari hadapan Billy, ia memberikan posisinya kepada Kasih.
"Hay sayang kamu kenapa nak?" Kasih memegang pipi Billy menggunakan kedua tangannya.
"Mama.. Hiks hiks hiks." Billy menangis sejadi-jadinya dihadapan Kasih.
Jasmine merasa panik tak bisa membujuk Billy agar berhenti menangis, namun nyatanya Billy tetap tak bisa diam. Dirumah tak ada siapa-siapa selain Jasmine dan Anna serta para pelayan rumah, sedangkan Anna tak perduli dengan keadaan Billy nyatanya dia lebih asyik tidur dikamar.
Kasih berusaha keras membujuk Billy, seorang pelayan wanita datang membawa segelas air putih yang dipesan Jasmine untuk keponakannya.
"Berikan dia minum." Jasmine menyerahkan gelas tersebut kepada Kasih.
Satu penyihir itu terlihat baik hari ini, Kasih tak mau perduli ia menganggap itu hanyalah salah satu sandiwaranya. Ia mengambil gelasnya dengan ekstra hati-hati.
"Ayo sayang diminum." Kasih mengarahkan mulut gelas kemulut Billy.
Prangg...
Billy menepis tangan Kasih hingga gelas itu jatuh kelantai, gelas tersebut tergelincir dari tangannya dan berakhir pecah dilantai.
Pak Tejo dan Jasmine begitu juga dengan satu pelayan tadi merasa terkejut, tingkah Billy saat ini tak pernah terjadi di hari lalu.
"Billy, kenapa gelasnya dipecahkan? Kenapa kau nakal sekali?!" Kasih sedikit meninggikan suara, tangannya sedikit naik keatas udara berniat melayangkannya kepipi Billy, dia merasa sudah sangat lelah apalagi melihat tingkah Billy membuat emosinya naik sedikit demi sedikit.
"Bunda jahat." Billy berteriak menutup kuping menundukkan wajahnya, ia merasa sangat sedih kala dibentak seperti itu.
Kasih berdiri membuang nafas terengah-engah, ia tak mau melakukan bujukan setan seperti niat yang ingin ia lakukan, Jasmine melangkah mendekati Billy ia juga sudah sangat bingung. Sedangkan pak Tejo sedang berjalan mendekat jendela hendak menelpon Tuan muda.
Hiks Hiks Hiks...
Tangisan Billy pecah dikamar itu, ia sangat merindukan Sera.
"Sudahlah sayang, cup cup cup jangan menangis lagi." Jasmine bertekuk lutut memeluk Billy.
Kasih menyadari bahwa suaranya sudah membuat Billy ketakutan, serta gertakan ingin menampar cukup keterlaluan.
Ia mengelus dada mengucapkan kata penyesalan didalam hati, Kasih pun melangkah mendekati Billy.
"Maafkan Bunda sayang." Ia langsung memeluk Billy penuh ketulusan.
__ADS_1
"Mama.. Aku rindu Mama, aku mau Mama." Billy menangis lagi di pelukan Kasih.
BERSAMBUNG