Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Panik


__ADS_3

Kasih melangkah mendahulukan kaki kanan, saat melewati pintu ia berjalan di lantai dengan pelan-pelan, ia mencari tiga penyihir tumben mereka tidak kelihatan, biasanya tiga manusia itu yang sering bergentayangan di rumah.


Saat Kasih mendekati ruang tamu ternyata semua orang tengah duduk menunggunya pulang.


"Kasih."


"Kamu darimana saja nak?"


"Kenapa kamu luka-luka seperti ini?"


Mereka langsung mewawancarai Kasih yang tampak sedang bingung, mereka mendekatinya. Sebegitu lamanya ia pergi dan pulang dalam keadaan luka-luka, keadaannya cukup membuat mereka semua panik berat.


Lalu Nathan berjalan mendekati nya sambil bertanya. "Sayang kamu darimana saja? Kenapa begini?" Nathan sok-sokan terlihat care dengan keadaan istrinya, Kasih menatap semu wajah palsu Nathan.


"Nak, kamu kenapa terluka seperti ini?" disitu Tuan Abdi lah yang paling terlihat panik, Abdi memegang kepala Kasih yang terbalut perban.


"Tadi Kasih habis kecelakaan." ingin berbicara saja kasih merasa berat.


Mendengar itu Abdi dan Nenek semakin kawhatir sekaligus terkejut, mereka langsung memastikan keadaannya, Abdi yang sangat takut disitu ia membungkuk melihat lutut Kasih yang terbalut perban di campur warna merah, Abdi ingat betul tadi siang kasih pergi ke kantor, kenapa mereka tidak pulang bersama? Abdi langsung melotot menatap Nathan.


"Ini gara-gara kamu Nathan! Kamu gak becus jagain istri. Bukankah tadi Kasih pergi ke kantor bertemu dengan mu?" Abdi membentak menatap Nathan yang sedang merangkul pinggang Kasih.


Hadehh ini papa malahan nyalahin aku sih? karena si pembantu ini aku yang salah. batin Nathan. ia hanya bisa mendengar kemarahan papa namun tidak bisa menjawab, entah siapa yang anak entah siapa yang menantu? Yang pasti Kasih lebih berharga dari pada Nathan.


Abdi terus saja menyalahkan Nathan, Kasih merasa tidak tega berusaha melindungi suaminya, tiga penyihir itu hanya menunduk di sofa, mereka merasa telah hilang harapan seharusnya. Kasih tidak usah pulang.


Kasih melangkah ke depan Nathan menghadapi papa. "Ini bukan salah Nathan kok pa, tadi Nathan udah ngajak pulang bersama, tapi Kasih nya aja yang nolak." Kasih terpaksa berbohong pada papa agar Nathan tak terus disalahkan.

__ADS_1


Karena Kasih yang mengatakan, Abdi terlihat mereda, ia berhenti menyalahkan Nathan.Ya dalam keadaan seperti ini tidak baik untuk saling menyalahkan, yang nama nya musibah itu datang nya dari Tuhan tidak ada yang mengetahui kapan itu. Naas akan datang.


"Ya sudah, istirahat lah nak!" Abdi memberikan jalan untuk dua pasangan itu.


Nathan menuntun Kasih berjalan menuju tangga, ia seakan tak merasa bersalah. Lebihnya lagi ia kembali bersandiwara, agar papa menganggap nya suami harmonis penuh perhatian.


Setibanya di kamar Nathan menidurkan Kasih di atas sofa, ia masih belum ingin satu ranjang dengan Kasih, malam ini ia memberikan kesempatan untuk Kasih beristirahat, ia tak mau memperintah, ia juga tak tega melihat keadaan Kasih yang luka-luka.


Pelan-pelan Nathan mengelus kepala Kasih, Nathan bertekuk di pinggir kanan sofa sambil menatap wajah Kasih yang sudah terpejam. Ia memandang Kasih dengan rasa kebencian bercampur rasa kasihan yang membuat ia tak bisa memarahinya.


Di dalam diam Kasih merasakan setiap titik helaian tangan Nathan begitu lembut menyentuh rambutnya.


Nathan aku gak peduli kamu melakukan ini penuh dengan kebohongan atau rasa kasihan.


Hanya karena papa, Billy, harta, dan Sera tapi aku merasa kalau kamu melakukan ini dengan tulus.


Biarlah kepedulian mu hanya sebatas drama, setidaknya aku bisa merasakan sedikit kasih sayang mu dari sandiwara ini.


Tapi sebelum itu aku akan membuat mu jatuh cinta padaku Nathan walaupun aku yang akan menderita duluan. batin Kasih.


Nathan masih mengelus kepala Kasih sampai wanita itu terlelap di sisinya, usai Kasih tertidur Nathan bangkit sekalian menyelimuti tubuh Kasih, ia pun berjalan ke kamar mandi ingin membersihkan dirinya yang sudah bau keringat kemana-mana.


***


PAGI HARI


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan menyantap makanan masing-masing, Nathan dan Kasih duduk ditempat seperti biasa, keadaan Kasih cukup membaik karena luka kemarin juga tidak terlalu parah tapi sekarang masih di perban.

__ADS_1


Kasih secara pelan-pelan menyuap nasi kemulut tangannya agak sedikit sakit kalau di angkat.


Nenek memperhatikan Kasih yang kesusahan segera menyuruh Nathan. "Nathan suapin dong istri kamu makan, itu tangannya masih terluka." Nenek menjeda nasi yang sudah ada di sendok berhenti di tengah udara demi menyuruh Nathan.


Semua mata tertuju pada mereka, Kasih melihat tatapan orang yang ada di depan segera berhenti menyendok nasi lalu menunduk, Nathan menoleh ke sebelah kanan tempat dimana Kasih duduk, ia tersenyum paksa mendapatkan perintah Nenek.


"Iya Nathan, ayo suapin dong!" Abdi pula ikut campur.


Duh duh tangan dia kan masih ada, luka gitu aja kok manja amat sih. batin Nathan.


Walaupun agak sedikit malas, ia menciduk nasi yang ada di piring Kasih lalu memberikannya kepada istrinya.


" Baiklah sayang, aaaakk."


Nathan mengangkat sendok menghampiri mulut kasih, ia menatap Nathan sebentar. Ada rasa ketidak ikhlaskan diwajah Nathan, ia pun membuka mulutnya tidak lebar asal sendok itu bisa masuk, lagipula mulut Kasih itu sangat kecil dan mungil, satu suapan sudah masuk Nathan menyuapinya bak menyuapi Billy sangat hati-hati tapi pasti.


Lebih baik aku segera pergi, dari pada melihat pemandangan buruk pagi-pagi seperti ini. batin Nona.


Nona sudah tak tahan lagi berada di situ, bahkan makanan yang ada di piring belum tercolek sama sekali, ia meneguk segelas teh hangat sebelum bangkit. Saat ia bangkit kursi itu tergeret hingga mengeluarkan suara yang cukup mengagetkan, Nona mencantolkan tas ke bahu.


"Loh mama mau kemana?" Abdi menoleh ke kanan tempat keberadaan Nona.


" Ke kantor lah, udah telat." jawaban Nona sangat ketus kepada Abdi, tidak seperti biasanya.


Abdi melihat makanan yang belum tersentuh menghentikan langkah Nona. "Tapi mama kan belum sarapan?" Abdi menunjuk piring itu.


"Mama udah kenyang!" usai menjawab itu Nona melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Mereka yang ada disitu menatap kepergian Nona, hanya Kasih Nenek dan Nathan serta dua penyihir lah mengetahui apa yang dirasakan Nona, ia pergi karena melihat adegan suap-suapan pengantin baru. Abdi tidak mau mencegah kepergian Nona, Nathan terus menyuapi Kasih sampai nasi di piring habis tak tersisa, selesai sarapan orang-orang itupun pergi untuk melakukan pekerjaan.


BERSAMBUNG


__ADS_2