
Rabu 4 November 10:02 pagi WIB
"Kita ketemu di Cafe tempat kemarin ya, ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku akan segera ke sana." ucap Kasih ketika memutus telepon ke pada seseorang.
Ia tengah berada di kamar, berdiri di balkon menikmati udara pagi. Dia sudah rapi mengenakan pakaian udiknya sehari-hari, ia pun masuk ke dalam kamar, di sana kosong bagai tak berpenghuni. Nathan sudah tak terlihat ketika dia bangun tidur tadi, sewaktu ditelpon juga tak ada jawaban. Kemungkinan dia masih marah.
Kasih berjongkok mengambil smartwatch yang dilemparkan Nathan tadi malam, ia bangkit kembali sambil mengecek keadaan benda tersebut.
"Dia pasti sangat marah padaku."
Kasih melangkah mendekati meja lampu, smartwatch di letakkan di sana, harga benda itu lumayan mahal walaupun kecil bagi orang kaya. Begitu pula ia membelinya menggunakan uang hasil jerih payahnya selama ini.
Kasih lalu bergegas pergi keluar dari kamar, dia ada janji untuk menemui Dora hari ini di tempat Cafe semalam. Ada sesuatu hal yang ingin ia bahas.
"Aku tau, kamu bermain dengan seseorang wanita di luar sana kan?" Anna berteriak pelan bercampur emosi melihat Bagas.
"Kamu menuduhku melakukan hal itu ke pada wanita di luar sana, kamu gak percaya dengan aku?" Bagas selalu membela dirinya ketika berdebat dengan Anna, dia tak mau mengalah ataupun diam sekedar menenangkan suasana, dia tak mau mengalah sehingga keadaan menjadi lebih rumit.
"Sudah berapa kali aku menemukan cap bibir wanita di kemeja mu, dan aku selalu mencium parfum wanita di kemeja mu ketika kamu pulang." Anna menimpa Bagas dengan tuduhannya.
Mereka sudah dari tadi saling berdebat di kamar, banyak pelayan yang sudah mendengarnya. Namun tak satupun ada yang berani ikut campur, ya karena bukan urusan mereka. Pintu kamar terbuka sedikit, jelas suara lantang bisa di dengar orang ketika ada yang lewat.
Keributan itu masih terjadi, Kasih yang melintas di depan kamar pun berhenti sejenak untuk menguping, ia tak sengaja mendengar keributan rumah tangga itu.
"Astaga, apa yang mereka ributkan pagi-pagi begini." Kasih mengintip sedikit ke dalam kamar, dia merasa penasaran namun tak ingin membiarkan percekcokan itu berlangsung lama.
Ia mencondongkan tubuhnya mengintip melewati celah di pintu, semua percakapan mereka pun terdengar. Sekitar satu menit Kasih mendengarnya, hingga ia lupa ingin pergi tadi.
"Hai."
Kasih spontan kaget mendengar suara itu, pundaknya di pukul oleh seseorang dari belakang. Pukulannya tak begitu kuat, namun ia berhasil terkejut hingga.
Kasih segera membalik badan melihat orang yang telah mengganggunya, ia juga merasa takut karena tertangkap basah telah menguping.
"Jasmine." ujar Kasih ketika sudah melihat orang itu.
Jasmine terlihat cantik, ya setiap hari dia selalu cantik dengan bermacam gayanya. Ia tersenyum melihat Kasih yang seperti maling ketika tertangkap basah.
"Apa yang kau lihat?" ia menatap sinis ke arah Kasih.
Matilah aku, duh Kasih. Kenapa juga kau harus menguping, aduh aku harus bilang apa ini. Kasih merasa kebingungan dan berusaha mencari akal untuk pertanyaan itu.
"Ak ... aku." Kasih tergugup mulutnya terasa beku tak bisa bergerak.
"Kau menguping? Apa kau tidak punya kerjaan selain menguping masalah rumah tangga orang?" Jasmine sepertinya sedang marah.
"Aku hanya." benar, Kasih benar-benar ketakutan, dia tak tau mau jawab apa. Dirinya benar-benar mencari masalah saja.
"Ayo."
Jasmine menarik tangannya dengan kuat, pintu kamar Anna di buka lebar-lebar. Anna dan Bagas pun berhenti berdebat ketika Jasmine masuk dengan membawa Kasih juga.
Kasih bingung kenapa Jasmine membawanya masuk, apa akan ada masalah.
"Lihatlah, sepertinya ada seseorang yang ingin tau masalah rumah tangga orang. Ckckck, Kasih, kau sungguh ingin tau tentang masalah yang mereka ributkan, ya kan?" Jasmine membuat Kasih malu akan hal itu.
Anna dan Bagas menatap Kasih, Anna mungkin marah. Namun Bagas tampak biasa saja, tapi dia juga sedikit kesal.
"Ada apa?" Bagas seolah tak ada masalah, malah berbalik bertanya.
__ADS_1
"Dia menguping perdebatan kalian, sepertinya dia sudah mau menjadi paparazi di rumah ini." Jasmine semakin menambah perkataan.
"Bukan maksudnya seperti itu, saya tidak berniat sama sekali ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian. Saya hanya." Kasih tak dapat lagi berkata-kata, maksud hatinya tadi ingin mengehentikan perdebatan mereka mangkanya menguping sebentar, namun malah begini jadinya.
Tok tok tok!
Tiba-tiba pak Tejo sudah berdiri di depan pintu kamar sambil mengetuk pintu, ia juga sudah menguping sejak Kasih masuk ke dalam.
"Nyonya muda Kasih, Tuan muda Nathan sedang mencari anda." panggil pak Tejo dari sana, mendengar Nathan mencarinya. Kasih pun segera pamit.
"Saya permisi kalau begitu, maafkan saya." Kasih menunduk tanpa menatap satu orangpun dari mereka.
Ia terus melangkah agar cepat sampai keluar, hawa di dalam kamar itu sangat panas. Tinggallah mereka bertiga di dalam kamar. Tak ada lagi yang diributkan.
"Jika ingin berdebat, jangan lupa kunci pintunya. Entah sudah berapa kuping yang mendengar kalian berdebat pagi ini." usai mengatakan itu Jasmine pun langsung keluar, Bagas memandangi langkahnya dari belakang. Penampilan Jasmine yang begitu menggoda berhasil membuat Bagas terpesona pagi ini.
Kamar menjadi hening, mereka mengakhiri keributannya. Anna terduduk di sofa sambil menahan tangisnya, sedangkan Bagas tengah bersiap-siap ingin pergi.
Kasih mengikuti langkah pak Tejo sampai menuruni anak tangga, ketika sudah sampai di tangga terakhir pak Tejo menghentikan langkah Kasih. Kasih mencari bayangan Nathan, namun tak ada.
"Dimana Tuan mudanya pak?" tanya Kasih sambil mencari Nathan.
"Tuan muda sedang ke kantor." jawab pak Tejo dengan datar.
"Tadi pak Tejo bilang?" Kasih menunjuk Tejo.
"Saya berbohong." timpal Tejo dengan santai.
"Hah?" Kasih mengernyit heran melihat pak Tejo.
"Saya hanya ingin menyelamatkan anda." sambung pak Tejo.
Tejo selangkah mendekat dengan Kasih, ia memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada orang di sekitar sana. Lalu ia mendekat menatap Kasih.
"Saya beri saran, jangan pernah ikut campur dengan urusan seseorang. Termasuk orang di rumah ini, jangan mencari masalah dan berurusan dengan mereka. Tidak semua masalah orang bisa kita bantu, dan jangan bertindak di luar batas, anda mengerti nyonya?"
"Iya saya mengerti pak, maafkan saya." Kasih menunduk sambil menggenggam kedua tangannya, tak seharusnya tadi dia berlagak seperti orang kepo begitu.
"Kalau begitu, saya permisi." Tejo melangkah pergi meninggalkan Kasih sendirian berdiri di sana, fiuhhh, syukur sekali pak Tejo membawanya turun ke bawah. Ia juga salah karena sudah kelewatan batas.
Kasih tak mau berlama-lama lagi, ia pun melangkah pergi ke luar, sebaiknya ia harus cepat-cepat pergi.
***
Pagi itu Nathan tengah rapat di ruangan, ia sedang melakukan presentasi bersama beberapa klien. Moodnya benar-benar buruk hari ini, sudah berapa kali ia salah dalam berbicara mengenai proyek baru mereka.
Ia memikirkan Kasih terus-terusan sedari tadi, bahkan bayangan Kasih berlalu lalang di otaknya. Hanya nama Kasih yang dari tadi ia sebutkan, sudah hampir 5 kali nama ia menyebutkannya. Semua menjadi tak fokus.
"Maaf semuanya, rapat di lanjutkan besok saja ya. Saya merasa sedang tidak enak badan." Nathan menyerah tau mau melakukan presentasi lagi, ia terduduk di kursi. Lalu beberapa klien bubar satu persatu.
Rehan membereskan semuanya yang ada di sana. Ruangan menjadi kosong, hanya ada mereka berdua.
Kenapa dari tadi kamu terus muncul di fikiran aku udik? Kamu menyusahkan aku saja, kenapa kamu tidak membiarkan aku untuk berfikir hal yang lain sebentar saja. Nathan berdecak sendiri, apa yang bisa ia lakukan. Si udik telah menghantui pikirannya, jujur saja ia masih sangat marah dengan Kasih.
"Apa anda sedang memikirkan nyonya muda, Tuan?" Rehan bagai dukun, tau saja apa yang dipikirkan Nathan.
Nathan mengibaskan tangan ke udara seraya menolak ucapan Rehan, ia tak mau di sangka seperti itu.
"Bukanlah."
__ADS_1
Rehan hanya bisa tersenyum tak percaya, ia sudah yakin bahwa Nathan benar-benar sedang memikirkan Kasih. Toh buktinya sudah jelas, ia sedari tadi menyebutkan nama Kasih saja. Gengsinya terlalu besar.
"Permisi pak, ada seorang wanita ingin menemui anda." seseorang staf wanita masuk untuk memberi tahukan itu.
"Suruh masuk saja." kata Rehan karena Nathan tak merespon staf itu.
"Baiklah." sang staf pun keluar seraya menyuruh seseorang itu masuk untuk menemui orang yang ia cari.
"Selamat pagi menjelang siang." sapa wanita itu.
Rehan kaget karena yang datang ialah Yura, hah Rehan sangat benci pada wanita itu. Untuk apa dia datang, Rehan sudah memasang tampang kesal, namun Nathan bak menonton sebuah Drama, cengengesan di kursinya.
"Hai Yura." Nathan menyapa dengan senang hati.
"Hai Nathan, hai Rehan." sapanya dengan ramah, ia berjalan mendekati Nathan.
"Silahkan duduk." Nathan mempersilahkan Yura duduk di kursi sebelahnya.
"Terimakasih." Yura pun duduk dengan senang hati.
Yura menatap Rehan yang tak senang dengan kedatangannya, namun Yura datang bukan untuk mengemis-ngemis cintanya, tapi hanya untuk datang untuk bertemu saja.
"Tumben ke sini? Ada apa Yur?" tanya Nathan.
"Tidak ada, aku hanya ingin sekedar bertamu dan mengajak mengobrol sebentar sambil minum teh. Sudah lama kita tidak ngobrol bareng kan?" Yura menebar pesonanya, namun dari dua orang di situ tak ada yang terpesona.
"Oh begitu." kata Nathan. Mereka pun berbincang sedikit sambil menunggu teh yang sudah di pesan kepada OB yang ada untuk membawanya ke ruang rapat.
***
Kasih duduk di Cafe itu sendirian, dia menunggu kehadiran si Dora. Dan tak lama kemudian, Dora pun datang.
"Hai Kasih, duh maaf ya aku telat." Dora terlihat centil sekali, dirinya terlalu ceria.
Dora pun duduk di sebelah kanan Kasih sambil memperbaiki lipstiknya, Kasih tak habis fikir akan pola hidup Dora. Dirinya terlahir menjadi seorang pria, namun penampilannya seperti wanita, bahkan tak jauh-jauh dari kata makeup.
Kasih sangat geli sebenarnya.
"Ada apa beb? Ada yang bisa aku bantu?" menawarkan sejuta kebaikannya.
"Aku ingin daftar di acara fashion show nanti."
Dora bagai tak menyangka bahwa Kasih akhirnya menyerah, dia merasa sangat senang hingga belum percaya, ia bertanya-tanya lagi akan keputusan Kasih.
"Aku senang sekali." Dora sedikit untuk Kasih, dia menjadi lebih bahagia dari Kasih.
"Bantu aku untuk mendaftarnya." Kasih membuka situs web yang tertera nama Indonesian fashion week di layar hp, suatu organisasi yang mengadakan acara lomba fashion show kemarin.
Beberapa pertanyaan ada di sana, Kasih hanya tinggal mengisinya dengan lengkap. Dora membantunya sedikit mengenai apa yang tidak dia ketahui.
"Berhasil." sorak mereka berdua ketika sudah berhasil di mendaftar.
Walaupun belum tentu terpilih, Kasih sudah bisa senang. Permintaan untuk mendaftar lomba masih di proses, mungkin beberapa waktu lagi ia akan diberitahukan tentang lulus atau tidak, tunggu sampai pendaftaran di tutup. Jika sudah di terima, maka ia harus ikut testing untuk mempelajari segalanya.
Waktu pendaftaran hanya berlaku sepanjang tak sampai 24 jam, karena sudah terburu-buru. Mungkin nanti malam pemberitahuan akan di umumkan.
"Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, aku dengan senang hati akan membantumu." Dora merelakan tenaganya dengan cuma-cuma untuk Kasih. Kasih adalah orang yang sangat baik untuknya, jadi alangkah baiknya ia juga memperlakukan Kasih dengan baik.
BERSAMBUNG
__ADS_1