Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Penyamaran Nathan dan Rehan (3)


__ADS_3

Orang-orang yang ada disana fokus memperhatikan mereka, Nathan bingung dengan meraba daerah bawah hidungnya. Kumis palsu sudah tak ada lagi disana melainkan sudah tertenggek dilantai, Dilan merasa curiga dengan tingkah laku dua pria yang tengah menyamar itu, bukan Dilan saja tetapi yang lain juga termasuk Kasih.


Kembang kempis jantung yang sudah dirasakan oleh Rehan membuat ia kehilangan nafas, keadaan menjadi gawat darurat tak dapat berkutik. Rehan merasakan akan ada hal yang tidak enak terjadi, ia siap-siap memasang kaki seribu untuk bisa kabur nanti.


Mata dari mata saling bertatapan disana, semua manusia memandang Nathan penuh rasa kecurigaan, Nathan pula tak berani bergerak ia mati kutu di tempat. Hal tersebut membuat orang-orang heran.


Nathan menutup mulut dengan tangan kanan merasa malu.


Dilan semakin curiga segera berdiri lalu menunduk mengambil kumis itu, ia memandangi bulu hitam kecil bercampur lem dengan teliti.


"Ini." Dilan menyerahkan kumis itu pada Nathan.


Dilain itu Alrico juga memasang wajah curiga melihat Nathan, wajar sajalah kalau dia memang tidak pernah melihat dua orang aneh itu.


"Who are you guys? I've never seen you guys join as one of the crew here." (Kalian ini siapa? Saya tidak pernah melihat kalian bergabung di salah satu kru disini) jelasnya Alrico terus memandangi dua orang tersebut.


Ohhh Tuhan selamatkan aku, ini semua ulahmu Tuan muda. Sudah aku katakan dari tadi padamu untuk membatalkan penyamaran konyol ini, namun kau. Aahhh sial. Batin Rehan.


Ia tak dapat lagi menahan emosi dan rasa malu yang bertubi-tubi menusuk sanubarinya, wajahnya hanya bisa ditutupi oleh bulu-bulu halus itu.


Detik-detik Dilan memberikan kumis itu Nathan mengumpulkan emosinya, ia mengumpulkan rasa geram ditangan ingin sekali ia keluarkan. Maka saat ia berbalik menoleh Dilan seraya mengambil kumisnya, ia pun langsung melakukan tindakan kekerasan.


BRRRUKKKK!


Dengan segenap kekesalan Nathan menonjok wajah tampan milik Dilan, tanpa tau permasalahan.


AAAGGHH!


Dilan mengerang kesakitan hidungnya mengeluarkan darah hingga ia terjatuh ketanah, orang-orang disana merasa terkejut ikut histeris berteriak.


KABUR!


Usai menonjok sang musuh, Nathan menarik tangan Rehan mengajaknya kabur. Rehan yang sedari tadi sudah siap memasang kaki seribu kian berlari lebih cepat meninggalkan Nathan.


PENYUSUP!


Satu orang kru berteriak, beberapa dari mereka mengejar Nathan dan Rehan. Semua orang beramai-ramai membantu Dilan yang tergeletak di tanah, hidungnya mengalami pendarahan dengan cairan merah yang begitu deras keluar serta beberapa memar ada diwajahnya.

__ADS_1


Entah seberapa kuat Nathan memukul Dilan hingga bisa seperti itu.


Begitu sempurna penyamaran Nathan hingga tak ada satu orangpun yang tau siapa dia, bahkan Kasih yang sebagai istrinya saja tak mengenali dirinya. Benar-benar aktor multitalenta.


"BERHENTI!"


"HEY BERHENTI!"


Para kru berlari mengejar Nathan dan Rehan sampai keluar area syuting, mereka berteriak seolah yang mereka kejar adalah maling atau penjahat. Kedua pria itu berlari secepat-cepatnya dengan berhati-hati agar tak tergelincir, mereka berlari hingga sampai ke area tempat mereka memarkirkan mobil.


Nathan cepat-cepat membuka pintu mobil dengan gaya terbirit-birit.


"Ayo masuk Re!" ia masuk kedalam mobil diikuti oleh Rehan.


Mesin mobil dinyalakan, Nathan membawa mobil pergi meninggalkan kawasan itu. Semua para kru ketinggalan jauh, mereka merasa jengkel akibat tak dapat menangkap sang penjahat. Mobil sudah pergi jauh melaju lantas mau bagaimana lagi.


"Wuhuhu, Re aku berhasilkan?" Nathan berteriak bergembira ria merasa penuh kemenangan.


Detik itu juga Rehan ingin sekali menonjok wajah Nathan, tapi itu tidak mungkin.


"Apanya yang berhasil Tuan? Kita hampir saja tewas karena anda menonjok wajah Dilan!" protes Rehan, nafasnya ngos-ngosan akibat berlari, ia membongkar semua pernak-pernik penyamaran yang melekat diwajah.


"Hahahaha."


Nathan merasa sangat puas telah berhasil memberikan pelajaran untuk Dilan, ia bahkan tak memikirkan rasa bersalah ataupun menyesal. Ia juga tak perduli akan kondisi Dilan yang sedikit mengenaskan.


Bagaimana bila berita ini akan tersebar ke media? Maka aku dan tuan muda akan menjadi buronan. Aahhh anda tidak waras tuan muda, semoga Tuhan melindungi diriku. Batin Rehan.


Sekarang yang difikirkan Rehan adalah soal media, dia sangat takut jika fikirannya akan nyata terjadi. Tentang si PU, apakah dia akan membuka mulut? Mereka juga tadi tak menutup mulutnya.


Rehan memandangi Nathan dengan kekecewaan teramat besar, bagaimana bisa pria itu tak merasa takut sedikitpun setelah memukul orang yang tak bersalah.


***


Anna sedang menghadiri pesta di sebuah Hotel berbintang lima, hari ini ada sahabatnya yang sedang menggelar acar pernikahan. Ia tak bersama sang suami jadi ia pergi sendiri saja, dengan gaun putih dihiasi manik-manik dirinya terlihat elegan dan juga di lengkapi perhiasan berlian dibagian tubuh tertentu.


Rencananya ia ingin menghadiri acara nanti malam saja namun rasanya lebih enak dini hari saja, ia berbincang dengan para tamu disana. Kelihatannya para tamu itu barisan masyarakat elite.

__ADS_1


Tadinya juga Anna ingin mengajak Jasmine namun adik iparnya itu sedang sibuk juga.


Usai satu jam dia menghadiri pesta ia pun memutuskan untuk kembali pulang, ketika dia berada di lobby hotel matanya menatap sosok pria yang tak asing berjalan menuju lift usai dari meja resepsionis sambil merangkul pinggang seorang wanita seksi. Anna tak jelas pasti sebenarnya namun ia merasa bahwa pria itu sangat tak asing.


Anna spontan kaget sekaligus penasaran, ia mengikuti langkah sepasang kekasih tak jelas itu, pria itu memakai jas berwarna biru dan celana jeans hitam, sedangkan sang wanita memakai dress ketat bewarna mocca dengan heels sepadan, wanita itu memakai kacamata hitam jadi wajahnya tak terlalu jelas.


Anna mengikuti dua orang tersebut menuju lift namun sayang dia tertinggal, dua orang itu masuk kedalam sedangkan Anna masih berdiri diluar lift dengan kecewa karena tertinggal. Ia melihat keatas pintu lift yang menunjukkan angka 7 artinya lift itu akan naik kelantai 7, Anna menoleh ke lift sebelah yang baru saja terbuka ia pun masuk kedalam.


Entah kenapa hatinya merasa tak tenang ia berdiri didalam lift memegangi dadanya yang berpacu cepat, ia merasa penasaran akan pria tadi.


Ting. (Lift terbuka)


Pintu lift terbuka ia pun segera keluar dan dilihatnya bahwa lift sebelah tadi sudah kosong, ia juga melihat dua orang tadi berjalan di lorong sambil berpelukan. Anna berjalan pelan mengikuti dua orang itu dengan rasa kecurigaan, jaraknya lumayan jauh dari mereka.


Dua orang itu berhenti di depan kamar hotel nomor 202 dengan refleks Anna membalikkan badan menghadap pintu hotel lainnya seolah ingin masuk kamar agar tak dicurigai. Dua orang tadi membuka pintu kamar VVIP sambil berciuman. Anna enggan melihat aksi tak senonoh itu tapi ia penasaran siapa pria itu, ia gak dapat mengenali wajah orang asing tersebut.


Akhirnya sepasang kekasih itu masuk kedalam kamar, Anna melangkah mendekati kamar 202 ia berdiri didepan pintu sambil berfikir keras.


Pria itu seperti Bagas, namun siapa wanita itu? Dan apa yang dilakukan Bagas disini? Tidak, itu tidak mungkin, itu pasti bukan Bagas karena saat ini dia sedang sibuk di kantor. Ahh aku tidak boleh begini, mana mungkin itu Bagas dan mana mungkin dia berselingkuh dariku kan? Ah tapi aku merasa kalau itu Bagas. Batin Anna.


Fikirannya kacau berbelit-belit, iapun menyudahi rasa penasaran itu dan memilih pulang saja.


Kembali di lobby Anna berjalan keluar menuju pintu keluar, ia mengehentikan langkah saat melihat meja resepsionis dan memikirkan dua orang tadi. Kini ia kembali merasa penasaran berinisiatif menghampiri meja resepsionis.


"Permisi." sapa Anna kepada satu resepsionis wanita.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" dengan ramah sang resepsionis bertanya.


"Bisakah anda memberitahu saya, siapa orang yang membooking kamar 202. Siapa nama tamu kamar itu?" Anna bertanya penasaran.


"Maaf nona saya tidak bisa memberikan identitas para tamu kepada orang lain, itu sudah menjadi peraturan hotel. Bisa-bisa saya kena hukum jika melanggarnya." jelas sang resepsionis.


"Aku mohon tolonglah." Anna sedikit memaksa.


"Maafkan saya nona, tapi saya benar-benar tidak bisa memberi tahu anda. Mohon mengertilah." sang resepsionis mengangkat tangan seraya meminta maaf atas ucapannya.


"Baiklah terimakasih."

__ADS_1


Anna bisa mengerti akan hal itu, karena ia juga paham peraturan hotel yang melarang setiap resepsionis memberitahu identitas tamu kepada kepada orang lain, ia tak bisa memaksa juga dan akhirnya ia memilih pulang saja. Mungkin saja kecurigaannya salah bahwasanya itu bukan Bagas melainkan orang lain.


BERSAMBUNG


__ADS_2