Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Batalkan Perceraian


__ADS_3

"Berani sekali lagi kau menyakiti putriku akan aku cabut semua warisanku untukmu dan akan aku serahkan 100% untuk putriku yaitu Kasih. Camkan itu." hardik Abdi.


Abdi mengutuk Nathan malam itu betapa marahnya dia kepada putra kebanggaannya, sewaktu lalu dia tak pernah menyiksa Nathan apa lagi memukulnya itu sama sekali tak pernah terjadi saat ia dengar keluhan Kasih tadi emosinya langsung membara ibarat api yang disiram bensin.


Abdi berhenti memukul Nathan dan beralih mendekati Kasih ia langsung bertekuk lutut. "Nak papa mohon batalkan Perceraian ini papa mohon papa tidak mau kehilangan kamu nak,kamu putri papa satu-satunya." ia bermohon kepada pembantu seperti sudah tak ada wibawa lagi.


"Buat apa papa bermohon dengan Pembantu itu? biarkan saja dia bercerai dengan kak Nathan bukankah itu lebih baik papa merendahkan kehormatan demi si pembantu sialan itu.!"


kini Yoan selaku adiknya Nathan suaminya Jasmine angkat bicara merasa tak menerima melihat papanya seperti budak yang bermohon kepada wanita pembawa perpecahan di keluarga mereka.


Abdi semakin panas mendengar kata Pembantu langsung bangkit, ia benci kata seperti itu.


"Berhenti memanggilnya Pembantu.!" Abdi marah membentak semua orang.


"Aarrggghhh.!"


Tiba-tiba Abdi terkulai lemas dia meremas dadanya yang terasa nyeri luar biasa, Kasih menahan tubuhnya agar tak jatuh anaknya yang lain ikut menolong tak terkecuali Nathan.


"Papa.!" mereka menjerit keras.


Semua orang merasa panik dengan sigap mengangkatnya keatas sofa kemudian dibaringkan disana, Kasih memangku kepala Abdi diatas sofa.


"Cepat panggil Dokter." satu lagi anaknya bernama Bagas suami Anna berteriak memerintah.


Pak Tejo segera menelpon dokter keluarga untuk segera datang meminta pertolongan, semuanya panik terutama Kasih ia tak tega melihat Abdi yang sedang kesakitan merasakan nyeri di jantung.


Diketahui Abdi punya riwayat penyakit jantung mungkin penyakitnya kambuh kalau sedang marah.


Tak berapa lama seorang Dokter pria seperempat abad datang membawa peralatan medis sendirian,Dokter duduk disisi sofa menaruh stetoskop di sekitar dada Abdi dirasanya jantung itu berdegup lambat lalu menyuntikkan satu jarum di area lengan.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya.?" Nona sangat panik tak bisa diam.


"Jantung Tuan Abdi sangatlah lemah dan rentan dia tidak boleh setres ataupun mendapatkan berita mengejutkan hingga naik tensi, ada dua kemungkinan resiko yang akan terjadi yakni Tuan Abdi akan meninggal atau bisa saja mengalami stroke berat."


sekian penjelasan si Dokter ia pun membuatkan beberapa resep obat-obatan untuk Tuan Abdi setelah itu ia pun permisi pulang.


Dokter pergi Yoan pun mengantarkannya sampai keluar, Abdi menggenggam kedua tangan Kasih dengan erat sambil menitikkan air mata dari kedua sudut.

__ADS_1


"Nak kamu dengarkan apa kata dokter? bahwa jantung papa sudah lemah kemungkinan sebentar lagi papa akan meninggal." mengulang kata dokter.


"Papa tidak boleh bicara seperti itu." Kasih menggeleng sedih mengelus kepala Abdi.


"Jadi tidak bisakah kamu memberikan satu permintaan papamu ini." meyakinkan Kasih.


"Papa mau minta apa pasti akan Kasih lakukan asal papa sembuh." ya tentu dia akan melakukan apapun agar papa sembuh itu adalah suatu kebaikan darinya.


"Jangan berpisah dengan Nathan, papa mohon papa akan selalu melindungi kamu jika ada yang menyakitimu, katakan pada papa jika Nathan berani macam-macam maka papa akan menghajarnya lagi." bujukan terakhir ia ajukan semoga itu berhasil membuat Kasih tak jadi pergi.


"Iya."


Kasih mengangguk menjawab permintaan papa mungkin dirinya terlalu bodoh masih mau bertahan didalam lubang hitam yang menjeratnya tapi ia yakin bahwa ini adalah malam terakhir kegelapan bagi hidupnya, Abdi memeluknya penuh kehangatan kini sakit di jantungnya mulai menghilang.


Kasih sedikit merasa aman karena akan ada papa yang selalu melindunginya bukan hanya papa masih ada nenek juga yang akan melakukan hal serupa jika ia disakiti,kini si pria brengsek terpuruk di atas sofa seberang merasa kesakitan serta malu dan merasa bersalah.


"Bunda.!"


Anak kecil itu memeluknya sebagai rasa kasih sayang seorang anak untuk ibu,tiga Penyihir memandang Kasih dengan disertai amarah dan dendam, mereka mengumpat didalam hati masing-masing bersumpah akan tetap menghancurkan kebahagiaan Kasih sampai anak itu tiada.


PAGI HARI


Hari Minggu setelah satu hari berselang.


Minggu adalah hari yang ditunggu semua orang dimana itu adalah hari yang sangat sepesial.


Hari untuk berlibur dengan keluarga,pacar atau teman hari untuk bermalas-malasan menghilangkan penat selama enam hari.


Kasih sibuk menyusun pakaian yang sudah rapi di setrika oleh pelayan memasukkannya kedalam lemari, mengingat kejadian malam itu ia merasa bersalah gara-gara dia Nathan sampai digebuk Nenek dan papa hingga babak belur, sampai sekarang Nathan masih merasakan kesakitan wajahnya juga masih lebam akibat hantaman kuat yang diberikan Abdi.


Kasih keluar dari ruang ganti usai menyusun baju sembari berjalan keluar kamar, papa sudah baikan jantungnya sudah tak berdenyut lagi nyatanya tuh papa sedang asyik tertawa menonton TV serial komedi ditemani Pak Tejo.


Kasih mencari Billy yang tak kelihatan dari awal pagi sudahlah anak itu sedang bermain diluar bersama dua pelayan, Kasih masuk lagi kedalam melewati ruang televisi.


"Nak kemarilah." Abdi memanggil mengehentikan langkahnya.


Kasih dengan rasa gembira ria mendekati sang papa lalu duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Ada apa pa.?" ia bertanya secara lembut ketika bersebelahan dengan papa.


"Tidak ada hanya saja papa ingin menonton televisi bersama putri papa yang cantik ini." Abdi menjepit ujung hidung Kasih menggunakan dua jarinya.


"Hihihi."


Kasih tertawa geli dia memegang hidungnya yang kembang kempis bewarna merah, betapa senangnya ia bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah yang sudah 9 tahun tak pernah ia rasakan walaupun bukan dari ayah sendiri.


Bersyukurlah selama ada papa dia akan bahagia masih punya harapan yang bisa dipertahankan untuk sandaran hidup.


Mereka menonton TV komedi bersama-sama sepasang bola matanya menyoroti setiap ruangan mencari bayangan Tuan petir, tiba-tiba papa teriak mengagetkan dirinya.


"Agghhh."


"Nak itu kamu.?" Abdi menunjuk televisi yang berisi iklan dari siaran Klan TVE tentang promosi produk minuman mereka.


Abdi merasa tak percaya bahwa Kasih ada didalam TV ia juga tak tau jika yang menjadi bintang iklan produk mereka yaitu Kasih, ia terlihat senang tak karuan sampai-sampai mencubit pipi Kasih sangking senangnya.


Nenek yang sedang melintas tak sengaja melihat TV pas sekali iklan itu belum habis bahkan di putar tiga kali oleh pihak Chanel TV.


"Uluhhh uluhhh cucu nenek jadi bintang iklan."


Nenek duduk disebelah dan memeluk Kasih begitu erat padahal itu hanya sebuah iklan biasa tapi mereka terlihat senang, Anna dan Jasmine tengah berada diruang tamu merasa cemburu menyaksikan kedekatan papa dan nenek pada Kasih.


"Lihat kak lama-lama tuh anak makin merajalela ya.?" celetuk Jasmine dengan menggerakkan tubuhnya kesal duduk diatas sofa.


"Iya tuh padahal cuma jadi bintang iklan biasa aja bangga." Anna mendengus melihat kearah televisi. "Sewaktu ada Sera dia yang merajalela dan sekarang si pembantu itu malah naik daun di keluarga ini." ia menyamakan dua orang seperti Kasih dan Sera.


"Kak ini tidak bisa dibiarkan nanti lama-lama kita tidak ada harga dirinya disini."


Aarrggghhh.!


Dua penyihir seperti cacing kepanasan menggelupur diatas sofa merasa iri dengan keberuntungan yang berpihak kepada siudik, lagipula mereka tidak ada pekerjaan selain berfoya-foya menghabiskan uang Keluarga bercinta dengan suami bermanja-manja hanya itu yang bisa dilakukan.


Wajar saja jika Abdi dan Nenek tidak pernah perhatian dengan mereka sejak awal bergabung menjadi keluarga Wing.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2