Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Berakhirnya hubungan Yura dan Dilan


__ADS_3

"Ap apa kamu?" untuk berbicara sepatah kata saja sudah gak sanggup, air matanya sudah mengapung di kantong mata, air itu ia tahan supaya tak tumpah dan agar terlihat tak lemah.


Yura tak merespon sama sekali bahkan ia enggan menatap Dilan, ia terus menatap luar gerbang menunggu Dilan melewati gerbang itu. Entah apa salah Dilan namun ia benar-benar tak suka pada pria itu, apalagi jika kelak ia akan menjadi suaminya, hah dia sama sekali tak sudi.


"Hah, aku fikir selama ini perasaan kita sama." ucap Dilan dengan hati teriris, Yura mengalihkan pandangan menatapnya ketika kata-kata itu keluar.


"Selama ini aku salah sangka, aku fikir kamu mencintai aku ketika perjodohan kita terjadi. Jadi, semuanya berakhir begini, ahh tidak ada awal dari hubungan ini. Aku juga tak tau dari mana awalnya, tapi bisa gak? Kamu hargain aku sekali aja, aku mati-matian berharap dan melakukan segalanya untukmu, tapi apa? Hasilnya nihil. Sedikit aja hargai aku, hargai perasaan aku!" kata-kata panjang itu hanya memiliki satu makna, ialah belas kasihan. Tapi sepertinya tidak mungkin.


Yura merasa semakin sebal melihat Dilan berdrama di situ, ia merogoh Hermes miliknya lalu mengambil satu kertas cek, nominal jumlah uang ia cantumkan di kertas tersebut serta nomor rekening.


"Ini." usai menulis ia memberikan cek kepada Dilan.


"Apa ini?" tanyanya seraya bingung dengan menatap cek itu.


"Itu uang seratus juta untuk membayar cintamu, kalau masih kurang katakan saja. Aku tidak tau berapa besar jumlah uang untuk membayar cintamu selama ini." cara itu memang menyakitkan, tapi itu juga sudah termasuk hal yang baik bagi Yura.


"Cih, segitu buruknya aku di matamu? Kau pikir cintaku selama ini bisa dibayar dengan jumlah uang di kertas ini!" ia tak bisa menahan rasa sakit itu hingga tak sadar berbicara dengan nada tinggi.


Hah dasar lebay. Batin Yura, ia tersenyum tak bersalah.


"Oke aku mengerti sekarang, kau tak mencintaiku dan kau membenciku. Mulai sekarang aku juga begitu, aku sangat membencimu. Ini." ia merobek cek itu dihadapan Yura, merobeknya hingga tak berbentuk. "Ambil ini!" ia meletakkan cek yang sudah hancur itu ke tangan Yura.


"Aku pastikan suatu saat kau akan menyesal dan akan mengemis meminta semua ini kembali." kata-kata itu ia lontarkan sebagai kata-kata terakhir, ia melangkah pergi menuju mobilnya.


Yura yang masih beridiri terpaku sedikit terasa tertusuk dengan ucapan Dilan, namun begitu ia sama sekali tak peduli ataupun berniat untuk minta maaf. Ia bahkan tak menyesal sedikitpun.


Dilan menyalakan mobil lalu keluar dari kawasan rumah itu, Yura memandang gerbang ketika mobil Dilan sudah keluar. Itu yang ia tunggu sedari tadi, hubungan yang tiada arti akhirnya kandas begitu saja dengan beberapa kata-kata. Yang satu merasa lega dan yang satunya merasa terluka hingga menjadi hal kebencian.


***


Usai berkeliling puncak tadi Nathan dan Kasih duduk di tepian mengarah tempat matahari akan terbenam, mereka memakan jagung bakar. Mereka sangat merasa tenang tanpa ada yang menggangu, Nathan juga begitu romantis walaupun dengan cara yang berbeda.


Angin meniup isi bumi dengan begitu kencang, area puncak dipenuhi setiap manusia. Ada yang pacaran, ada sepasang suami istri, ada yang bersama teman-teman dan ada juga yang bersama keluarga. Hari Minggu sangat baik digunakan untuk berwisata.


Aroma jagung bakar bergentayang menusuk hidung manusia yang ada di sana, anak-anak kecil ramai-ramai bermain bola dan berlarian ke sana ke mari. Suara hiruk pikuk terdengar berisik sekali.


"Kasih, aakkk!" seru Nathan memanggil Kasih yang ada dihadapannya.


Nathan memiringkan jagungnya ke arah mulut Kasih, niatnya ingin menyiapkan jagung itu. Kasih sedikit agak malu dengan deg-degan ia membuka mulut, Nathan tanpa rasa malu terus saja menyodorkan jagung itu.

__ADS_1


"Nyamm."


Jagung itu disantap oleh Kasih, rasanya menjadi lezat walaupun bekas Nathan. Nathan mengusap sedikit bumbu jagung yang menempel di pipi Kasih.


"Gantian, aakk." ia menawarkan diri untuk disuapin juga.


Nathan mendekatkan mulutnya Kasih seraya meminta disuapin, Kasih terlihat malu-malu menyuapkan jagung itu. Tangannya gemetaran bak ingin memegang sesuatu yang menakjubkan.


"Nyam nyam." Nathan mengunyah tersenyum ketika sudah disuapin.


Ahh apa ini Tuhan? Kenapa jantungku berdebar tak karuan, ahh aku merasa sangat senang. Batin Kasih.


Mereka memakan jagung sambil bermain-main berdua, sudah lama Nathan tak merasakan hal itu.


"Kamu senang?" tanya Nathan sambil menatap Kasih.


"Yah saya sangat senang Tuan." tak ada kata lagi yang harus ia katakan, hari ini hatinya benar-benar bahagia.


Nathan terdiam ekspresi wajahnya berubah menjadi datar, ia memandangi wajah Kasih yang tak lepas dari senyuman. Kasih memandangi telaga yang ada disana, sampai saat ini ia belum bisa memikirkan apapun.


Ia menoleh Nathan, ia menatap wajahnya yang menjadi datar tak berbentuk. Ada apa? Kasih pun menjadi heran.


Nathan kembali tersenyum seperti tadi, ia menatap nakal ke wajah Kasih.


"Tetaplah tersenyum seperti itu, kamu sangat cantik kalau sedang tersenyum." Nathan memegang tangan kanan Kasih, ia berbicara dengan serius.


Tersenyum? Astaga apa dari tadi Tuan petir terus memperhatikan aku tersenyum ya?. Batin Kasih. "Saya akan tersenyum jika anda juga tersenyum Tuan." senyumannya kali ini bermakna lain, banyak makna dari senyumannya.


Astaga! Aku bilang apa tadi?. Batin Nathan. ia tak menyadari apa yang ia ucapkan barusan. "Hahaha." dia tertawa seakan ada yang lucu. "Kalau begitu sebaiknya kau tak usah tersenyum." apa yang ia katakan tadi sekarang menjadi berbalik.


Kasih berhenti tersenyum, ia berfikir keras maksud dari Nathan. Apa aku salah berbicara? Hah kenapa Tuan petir menjadi tidak nyambung?. Batin Kasih, pipinya hampir merona tadi namun sekarang sudah biasa saja.


Keadaan menjadi hening diam dalam keheningan masing-masing, saling berfikir sendiri.


"Besok Billy akan pergi." ujar Nathan.


Kasih langsung menatap Nathan, ia spontan kaget tentunya.


"Kemana Tuan?"

__ADS_1


"Dia akan pergi ke Norwegia, ke tempat orang tuanya Sera." ia berbicara sambil memasukkan jagung ke dalam kantong kresek.


"Untuk berapa lama?" mengetahui itu hatinya menjadi sedih.


"Sampai Sera sadar, gak tau sampai kapan."


"Lalu kenapa dia harus ke sana?"


"Di sana banyak keluarga yang akan menyayanginya, aku juga sangat menyayanginya."


"Apa dia mau?" Kasih menjadi ragu kalau seandainya Billy menolak, namun sepertinya tidak.


"Ini sudah direncanakan dari beberapa minggu yang lalu, Kasih kamu tau? Tidak ada kasih sayang di rumah itu, dia akan kembali pada waktunya nanti." kata-kata itu menjadi sebuah kata yang menyedihkan untuk Kasih, dia merasa gagal untuk menjadi ibu.


"Saya gagal menjadi ibu untuknya." Kasih menunduk memasang raut wajah yang sedih.


Nathan meraih wajah Kasih menggunakan kedua tangannya, alih-alih ia ingin menghilangkan kesedihan itu.


"Terimakasih." ucapnya.


Kasih mengangkat wajah menatap Nathan, mendengar kata-kata yang tak pernah ia dengar.


"Terimakasih untuk apa?" ia sendiri merasa tak melakukan hal apapun untuk diberi kata terimakasih.


"Terimakasih karena kamu telah mau merawat Billy dengan baik selama ini, terimakasih kamu sudah mau menerimanya sebagai putramu. Kamu sudah menjadi ibu yang baik untuknya, itu sudah lebih dari cukup." kalimat itu diharapkan agar membuat Kasih tak bersedih hati.


Kasih tersenyum melepaskan tangan Nathan dari pipinya, ia juga malu karena beberapa pasang mata memperhatikan mereka dari tadi. Sebaiknya jangan bersedih dalam waktu seperti itu.


"Pukul berapa dia pergi?" mencoba tersenyum walaupun perih.


"Pukul 6 pagi, Yoan akan mengantarkannya, sepertinya aku tidak bisa karena ada urusan penting besok."


Kasih mengangguk menerima jawaban itu, tak terasa hari semakin mau gelap. Matahari mau tenggelam pada tempatnya.


"Ayo kita pulang!" ajak Nathan.


Nathan membantu Kasih berdiri, tangan itu ia pegang erat-erat takut lepas. Sebelum pergi mereka membersihkan tempat yang mereka duduki tadi, sampah-sampah dimasukkan ke dalam kantong kresek untuk dibuang lalu mereka pergi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2