Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Pecat Dia


__ADS_3

Setelah selesai mengisi perut Kasih dan Nathan beriringan berjalan keluar rumah, seperti biasa bersandiwara berlakon romantis agar papa senang.


Diluar sudah ada sekertaris Rehan berdiri hormat di sebelah mobil,Rehan membukakan pintu belakang mempersilahkan Tuan muda masuk sedangkan Kasih sudah berjalan keluar gerbang utama Rehan melajukan mobil keluar kawasan rumah.


"Rehan berhenti.!" Nathan memerintahkan agar Rehan menghentikan mobil padahal belum juga keluar gerbang utama.


Kasih masih berlenggak-lenggok ketinggalan beberapa meter dari mobil,saat Rehan menghentikan mobil ia bertanya namun Nathan tak menjawab ia malah fokus melihat luar dari jendela yang sudah terbuka.


Kasih melewati mobil dan Nathan memanggilnya. "Hay udik masuk.!" Kasih berhenti saat Nathan memanggilnya dengan sebutan itu. "Saya Tuan." Kasih mematung di tempat.


Nathan mendengus melihat kebodohan si udik terus saja membuatnya jengkel."Iya udik,jadi siapa lagi.? ayo masuk.!" Nathan setengah menjerit sambil mengoceh.


Mendengar Nathan menyuruhnya masuk dia melangkah masuk kedalam mobil lewat pintu samping sebelah kiri,Rehan telat paham kenapa Tuan Muda menyuruhnya untuk menghentikan mobil itu ternyata ingin menyuruh si udik masuk.


Kasih duduk di sebelah kiri Nathan dia menjauhkan jarak beberapa centi,mobil melaju kembali keluar dari kawasan rumah.


Nathan menoleh ke arah Kasih. "Hey udik mendekat sini.!" Nathan menepuk sebelahnya yang masih lapang agar Kasih duduk di situ, begitu juga dengan Kasih ia pun menggeser pantat. "Mulai hari ini kau jangan naik Bus lagi, Itu hanya untuk orang miskin." ia menyentil jidat Kasih menggunakan jari telunjuk.


Kasih mengelus jidat itu karena rasanya sangat perih walaupun di sentil pelan. "Jika saya tidak naik Bus,lalu saya naik apa jika berangkat bekerja Tuan.?" menyedihkan diri.


Nathan memalingkan wajah kearah jendela. "Disinikan banyak mobil,kau bisa pakai salah satu atau yang manapun kau mau." penawaran terbaik.


Kasih mengingat sesuatu yang tak dapat ia lakukan. "Tapikan saya tidak bisa menyetir mobil Tuan.?" kejujuran yang mengakui dirinya benar-benar tak bisa melakukan itu.


Nathan menoleh Kasih dengan tatapan elangnya. "Bukankah dirumah ini ada banyak supir pakai saja mereka,lagipula aku tidak menyuruhmu untuk menyetir sendiri aku tau kalau kau itukan udik."


Kasih mengucapkan kata terimakasih kepada Tuan petir, Rehan fokus menyetir sambil menyimak beberapa perkataan yang dapat ia dengar, Kasih tertunduk diam apa yang di perintah Nathan harus dipatuhi tidak boleh di langgar, mulai besok ia pergi harus diantar oleh supir ia harus menurut kalau tidak pria itu akan berubah kembali menjadi petir. Sebenarnya sifat Nathan dan Abdi tidak jauh berbeda dimana ucapan mereka tidak boleh dikatakan tidak harus iya dan langsung di laksanakan bedanya saja Abdi sudah tua dan Nathan masih muda.

__ADS_1


CHHIIITTT..!


Mobil berhenti di depan restoran Kasih pun keluar sebelum itu ia memastikan jika tak ada seseorang karyawan melihat ia keluar dari mobil mewahnya,


dia keluar dari mobil harusnya sekertaris Rehan tidak perlu menurunkan ia tepat didepan restoran.


"Terimakasih Tuan muda,terimakasih Tuan sekertaris,terimakasih atas kebaikannya saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian, pergilah dengan hati-hati semoga hari kalian menyenangkan.!"


Kata penutup yang panjang ia persembahkan untuk dua orang yang ada di dalam mobil setelah mendengar nya Rehan kembali melajukan mobil ke tujuan selanjutnya,Nathan tak peduli sama sekali dengan Kasih Ia memperhatikan mobil sampai sejauh mungkin.


RM.SAKIT


Nona duduk di sebelah tempat tidur Sera ia menggenggam tangan Sera seraya bersedih hingga menitikkan beberapa air mata, seorang suster tengah membersihkan tubuh Sera menggunakan handuk di basahi air hangat.


Dia juga sayang dengan menantu kebanggaannya satu ini,seorang suster wanita tersebut sedari tadi sibuk bekerja.


"Sampai kapan wanita ini tertidur terus.?" suster itu berbicara tiba-tiba sambil mengilap tangan Sera.


"Sudah tiga tahun dia koma dan sampai sekarang belum ada perkembangan,sampai kapan suaminya akan bertahan menunggu kesadaran dirinya." celetukan sang suster spontan membuat Nona marah.


Nona beranjak dari duduk menatap tidak suka pada gadis yang hanya bekerja sebagai suster namun ia tak menyadari bahwa Nona menggenggam amarah,Nona melangkah keluar tanpa berkata-kata dan suster kembali mengilap tubuh Sera.


Tap,Tap,Tap.


Nona berjalan menghentakkan kaki hingga memunculkan suara tapak heelsnya terdengar kuat,Ia berjalan di lorong rumah sakit dan menuju lobby.


Nona tiba di lobby ia berjalan menghampiri meja resepsionis. "Selamat pagi.!" ia menyapa seorang staf yang bertugas.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya Wing,ada yang bisa saya bantu.?" wanita itu memberikan salam hormat padanya.


"Pecat suster yang bertugas merawat Sera." Wanita tersebut sedikit bingung akan permintaan Nona lalu ia bertanya. "Memangnya kenapa Nyonya, emm maksudnya kenapa anda meminta ia di pecat.?" canggung saat bertanya.


"Dia tidak merawat Sera dengan baik,saya harap sebaiknya dia di pecat atau saya akan menuntut rumah sakit ini." meminta dengan campuran kata ancaman.


Wanita itu sedikit bergedik saat mendengar ancaman Nona Ia tak bisa berkata apa-apa lagi bahwa ia sadar kalau keluarga Wing sangat hebat dalam menjatuhkan orang, Keluarga tajir melintir yang bisa melakukan apapun sesuka hati mereka.


"Baik nyonya saya akan memecat ia sekarang juga. "wanita itu tak tega ingin menyetujui permintaan Nona apalagi memecatnya tanpa sepengetahuan suster itu adalah adiknya.


Nona pergi dari area resepsionis ia melangkah menuju pintu mungkin ia masih banyak pekerjaan.yang


PT WING GROUP


Sesampainya ke kantor Nathan dan Rehan masuk ke dalam lift menuju ruang kerja, Didalam keadaan sangat hening tak ada yang berbicara.


"Cekikik Wkwkk." tiba-tiba Nathan tertawa sendiri membuat Rehan terkejut akan tawanya yang seperti kuntilanak.


Rehan menoleh Nathan yang ada di sebelah kiri. "Tuan,anda kenapa.?" ia merasa penasaran apa yang membuat si Tuan tertawa.


Ting.


Pintu lift terbuka mereka pun melangkah keluar saat Rehan bertanya Nathan tak menjawab malahan ia semakin tertawa,para staf satu persatu menegur mereka.


Nathan menarik nafas berhenti tertawa. "Wek,Wek,Wek. Rehan kau tidak,? ternyata si Udik itu bisa memijit ya,kau tau tidak rasanya sangat enak uhh aku merasa ketagihan." kembali cekikikan tak jelas.


"Ooohh." Rehan diam tak ikut terkekeh karena ia rasa itu sama sekali tak lucu,namun ia merasakan tak senang mendengar penjelasan Nathan.

__ADS_1


Mereka terus berjalan di sepanjang koridor semua orang memberi salam hormat,Nathan terus tertawa gila memikirkan pijitan lembut dari tangan si udik yang mampu membuat ia ketagihan ingin lagi,para staf dan petugas lainnya melihat Nathan yang sedang tertawa. mereka merasa heran sekaligus kaget karena tak pernah melihat monster itu tertawa gembira entah sejak kapan mereka melihat Nathan sebahagia itu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2