
Nona sedang berada di sebuah toko pakaian bersama Tuan Abdi, mereka berkeliling melihat pakaian yang sudah tersusun rapi disetiap tempat. Nona menyentuh setiap pakaian untuk memastikan bahan dari baju yang akan ia beli, para Pramuniaga toko juga melayani mereka untuk memilih pakaian dengan sepenuh hati.
Sepasang pakaian terpasang di manekin, Abdi mengambil pakaian itu, di rasanya sangat cantik. "Ma, baju ini cantik kan?" Abdi menunjukkan setelah rok kembang panjang serta baju berlengan panjang berwarna merah.
Nona mendatangi abdi yang jauh beberapa meter darinya. "Cantik sih pa, tapi mama gak suka modelnya seperti kuno banget." Nona memonyongkan bibir saat memegang pakaian yang di tunjukkan abdi.
Abdi mengarahkan pakaian itu ke hadapan cermin. "Kan ini bukan untuk Mama."
Nona sedikit terkejut saat baju tersebut bukan untuk nya. "Loh... jadi untuk siapa?"
"Untuk putri kesayangannya ku, Kasih." Abdi berjalan meninggalkan Nona untuk berkeliling lagi ia akan memilih beberapa baju lagi.
Idih si papa ini, kenapa baik banget mau beliin baju untuk anak udik itu. batin Nona.
Nona mendengus kesal menatap langkah Abdi, ia merasa tak terima di beliin baju, ia juga teringat kepada dua menantu kesayangan nya. Ia berusaha membujuk Abdi agar membeli kan mereka juga.
"Jasmine dan Anna tidak papa belikan?" Nona bertanya sambil mengikuti langkah Abdi.
Abdi menghentikan langkah begitu juga dengan Nona. "Ahh ma, mereka kan sudah banyak pakaian, lagipula ini pertama kalinya papa membeli sesuatu untuk Kasih, jika mama mau. Ayo dong belikan sesuatu untuk putriku tercinta."
__ADS_1
Abdi malah menyuruh Nona untuk membelikan pakaian, padahal Nona sangat membenci wanita itu. Wajar sih, Abdi juga tidak tau kalau Nona membenci kasih.
Oke, untuk kali ini aku beliin gadis itu hadiah, bukan karena sebagai hadiah, tapi sebagai sumbangan rasa kasihan. batin Nona.
Nona menarik nafas sekali, lalu ia meminta kepada pramuniaga itu menunjukkan beberapa baju yang paling cantik di toko. Sang pramuniaga seksi memberikan satu gaun putih panjang sangat modis nan mewah, tentu saja harganya bukan kaleng-kaleng.
Mereka pun membawa beberapa pakaian untuk di kemas di kasir, sebagai tanda jual beli, usai melakukan transaksi. Nona dan abdi pun keluar dari toko, saat baru keluar dari pintu mereka telah di pertemukan dengan wanita yang cukup familiar.
"Om, Tante!" wanita itu lebih dulu menyapa Nona dan Abdi tanpa mereka sadari.
Abdi dan Nona mencoba mengingat siapa orang yang telah berani menyapa mereka. "Yura, kapan pulang?" Nona terlihat senang pun menyapa Yura.
"Semalam Tante." Yura menyalami Nona dan Abdi secara bergantian.
"Ya udah, kalau begitu Om dan Tante pulang dulu ya." Abdi memeluk Yura sebagai salam pelepas. "Kapan-kapan main kerumah ya?" Nona pun menyambung kata Abdi ikut juga memeluk Yura.
"Iya Om."
Nona dan Abdi pergi meninggalkan Yura yang masih berdiri menatap mereka dari kejauhan, Yura masuk ke toko, sedangkan dua pasutri itu melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.
__ADS_1
***
Kasih merasa lelah akibat berjalan jauh menyusuri setiap sudut kota Jakarta, ia menghapus keringat yang terus mengalir dari kepala hingga membasahi baju. Tak ada satupun orang yang mau menerima dia bekerja, padahal jelas-jelas banyak lowongan buka. Lantas kenapa dia di tolak? Sepertinya Rehan melakukan perintah Nathan dengan sempurna, tanpa sepengetahuan nya.
Kasih berjalan di sepanjang protokol jalanan sambil termenung, ia membawa sebuah map surat lamaran beserta botol Aqua untuk ia minum. Dunia sangat kejam terhadap manusia kecil seperti dirinya, bukan dunia saja, manusia nya juga sama lebih tragis.
Kenapa mencari pekerjaan sangat susah sekali? Memang benar ya apa kata pepatah. Kalau ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, lebih-lebih lagi aku tidak lulusan sarjana, hanya lulusan SMA, tapi aneh sekali, kenapa satupun tidak ada yang mau menerima ku? Belum sempat aku mengajukan interview, mereka langsung menolak ku mentah-mentah. batin Kasih sambil mengomel.
" Aaagghh."
Kasih berteriak di sepanjang jalanan meluapkan emosi yang membara mendengar, jeritan nya seperti Tarzan. Semua orang yang lewat tak lepas memandangi nya. Dunia. Takdir. Rezeki. dan Manusia saling bekerja sama menjebaknya dalam hidup ini, sekian lama waktu yang ia habiskan mencari pekerjaan hanya menjadi basi sia-sia, dari pagi hingga petang, hanya harapan kosong yang didapat. Sabar terus bersabar juga ada batasnya, doa para orang-orang jahat telah di kabulkan.
Kasih mendongak menatap langit yang memasuki senja, hari akan berganti malam, matahari akan berganti bulan, waktunya semua makhluk hidup akan beristirahat dari lelahnya aktivitas sehari-hari.
Sedikit demi sedikit air mata menetes ke pipinya, perlahan-lahan Kasih mengilap airmata yang tak ada gunanya, kekalahan adalah hal yang biasa dalam permainan, dan kegagalan adalah hal yang sering terjadi saat dalam usaha menuju kemenangan.
"Tidak apa-apa Kasih, kan masih ada waktu untuk mencari pekerjaan besok."
Kasih merekah kan senyuman kepada diri sendiri, percaya diri itu lebih baik untuk mencapai kesuksesan, banyak orang di dunia melakukan hal yang memalukan untuk meraih apa yang diinginkan. Intinya ia harus lebih semangat dan percaya diri, Kasih berjalan menuju jalanan sambil mencari-cari sebuah taksi yang akan lewat, sebenarnya naik taksi lebih mahal ongkosnya dari pada naik bus, namun menuju halte menempuh perjalanan beberapa ratus meter dari lokasi nya sekarang. Kalau mau naik ojol butuh sebuah ponsel agar bisa memesan tumpangan, namun ia sendiri tak memiliki ponsel.
__ADS_1
Tak lama muncul sebuah taksi yang ditunggu, tanpa ragu-ragu Kasih menyetopnya. Langsung ia masuk kedalam duduk di belakang kemudi, mobil pun melaju menuju kediaman Wing. Kasih menyenderkan tubuhnya menatap jalanan memikirkan nasibnya yang sudah berubah menjadi kerak.
BERSAMBUNG