Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Izinkan saya pergi


__ADS_3

Setelah usai bertemu dengan Dora, Kasih menyempatkan diri untuk singgah ke rumah sakit sebentar. Dora masih ikut dengannya, Dora menunggu di luar rumah sakit hanya Kasih saja yang masuk. Ia hendak melihat keadaan Sera dahulu, kini ia tengah duduk di ruang ICU sambil menggenggam tangan Sera.


Kasih tak lupa memberikan sedikit doa untuk kesembuhan Sera, dirinya belum pernah berbicara langsung oleh Sera. Dia berharap suatu saat ia bisa berbicara dengan Sera lalu meminta maaf atas perbuatannya ini. Kemungkinan besar Sera akan membencinya.


Bangunlah Sera, ini sudah saatnya kamu bangun. Lihat dunia ini, temui suamimu, anakmu, dan keluargamu. Semoga Tuhan segera membangunkan mu dari tidur panjang ini.


Kasih berdoa di dalam hati, tangannya menggenggam erat tangan Sera. Usai itu ia pun bergegas untuk keluar.


Dora tengah menunggu di taman rumah sakit, di sana banyak berbagai orang sakit. Dora duduk dengan santai lalu Kasih mendatanginya.


"Hai Dora." sapa Kasih mengejutkan Dora yang tengah fokus melihat pemandangan.


"Eh sudah selesai?" Dora menoleh ke sebelah.


"Sudah." jawab Kasih seraya duduk di sebelah Dora.


Sejenak mereka terdiam bersama menikmati suasana yang indah di taman tersebut, Kasih memejamkan kedua matanya. Ia merasa damai sekali kala itu.


"Oh ya Kasih, memangnya kamu sedang menjenguk siapa tadi?" Dora bertanya penasaran, Kasih belum memberitahu apa-apa padanya.


Kasih menyapa Dora, sepertinya dia sangat penasaran. Kasih tak langsung menjawab melainkan terdiam menunduk.


"Hey Kasih, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Siapa yang kamu jenguk di sini?" Dora menyentuh pundak Kasih seraya mendesaknya untuk menjawab.


"Aku menjenguk istri pertama suamiku." jawab Kasih sambil menunduk.


"Hah? Maksudnya bagaimana?" Dora semakin penasaran tak mengerti.


Kasih mengangkat wajah lalu memutar pandangan melihat sekitaran, ia harus memastikan bahwa tak seorangpun mendengar perkataannya. Sudah yakin aman, ia pun ingin menceritakan sedikit hidupnya pada Dora.


"Kamu tau kan? Kalau aku itu udah punya suami, tapi sayangnya aku hanya menjadi istri kedua." jelas Kasih.


"Lalu? Suamimu siapa?" Dora semakin penasaran.


Kasih menceritakan semuanya, dia mengatakan tentang keluarga Wing. Ia mengatakan kisah hidupnya secara terperinci. Tak ada yang terlewatkan, sehingga Dora hampir-hampir tak percaya.


"Hah benarkah? Kamu istri Nathaniel? Kamu menantu dari keluarga Wing?" Dora dibuat tak percaya oleh pengakuan Kasih.


"Sudahlah tak usah berlebihan seperti itu, aku istrinya tapi tak punya hak sama sekali atas dirinya." Kasih terlihat sebal.


"Aku kasian sekali denganmu, tak seharusnya kamu mendapatkan perilaku buruk seperti itu. Ujian cinta memang rumit, dan mencintai seseorang yang tak mencintai kita sedikitpun memang sangat menyakitkan. Kamu yang sabar ya." Dora merangkul Kasih sambil memberikan sedikit dukungan.


Kasih bercerita sambil meneteskan air mata, ia ingin lari. Namun tak tau mau lari ke mana, merekalah harapan satu-satunya saat ini.


"Tapi kamu janji ya, jangan katakan hal ini kepada siapapun." Kasih harus bisa membungkam mulut Dora agar tak besar kemana-mana.


"Iya tenang aja, aku janji." Dora memeluk Kasih dari samping, mereka sudah menjadi teman untuk selamanya.


"Oia, nanti jika sudah diterima mendaftar, kamu harus izin pergi sebentar ke pada suami kamu. Aku akan membantumu sampai kamu bersinar di atas catwalk nanti."


"Terimakasih Dora."


"Ah aku terharu." mereka saling berpelukan haru, mereka saling menerima kekurangan satu sama lain. Menyempurnakannya dengan tali persahabatan.


***


Malam hari.


Nathan baru keluar dari kamar mandi, ia terlihat tampan ketika hanya mengenakan sepotong handuk saja. Ia bukan langsung ke ruang ganti, namun langsung mendekati kasur karena mau menelpon Kasih yang belum pulang sedari tadi.


Nathan memandangi smartwatch yang ada di atas meja lampu, ia merasa bersalah karena sudah mencampakkan benda itu kemarin malam. Smartwatch pun di pasang ke tangannya, ia membuka ponsel lalu mencari nama si udik di sana.


Ceklek. (Suara pintu terbuka)


Kasih masuk ke dalam kamar, mendengar pintu terbuka, Nathan segera membalik badan menghadap pintu. Ia melihat Kasih masuk.


Nathan mematikan ponsel langsung menaruhnya ke tempat tadi, ia pun melangkah mendekati Kasih.

__ADS_1


"Bagus ya, jam segini baru pulang. Dari mana saja kamu?!" Nathan langsung membentak Kasih, tangannya mencengkram pinggangnya sendiri.


Ah astaga, Tuan petir sudah pulang. Dia sepertinya sangat marah, aku harus apa ya agar dia tak memarahiku. Kasih tertunduk bingung sambil menahan diri, ia sudah ketakutan saat ini.


"Kenapa diam?! Ayo jawab." Nathan semakin melangkah mendekat.


Kasih mengangkat kepala sambil memasang wajah sedih serasa ingin menangis.


"Ah Tuan petir, anda kemana saja? Saya satu harian mencari anda di luar sana." Kasih seolah sedang merasa khawatir, ia berjalan mendekati Nathan sambil bersedih hati.


"Hah." Nathan menciutkan bibirnya.


"Tuan, taukah anda? Saya seharian mencari anda di luar sana. Saya sangat khawatir pada anda, tadi malam anda keluar dari kamar, lalu ketika saya bangun tidur tadi pagi anda sudah tidak terlihat di kamar ini. Kata pak Tejo anda pergi meninggalkan rumah, lalu saya sangat khawatir, saya langsung mencari anda tadi pagi. Saya keliling kota untuk mencari anda Tuan petir. Hiks hiks." Kasih dengan berlinang air mata langsung memeluk Nathan, sesungguhnya itu hanyalah dramanya saja agar tak di marahin.


Astaga, benarkah itu? Si udik ini mengkhawatirkan diriku, dia mencariku seharian. Nathan terpaku ketika di peluk, ia berfikir sejenak.


"Saya sangat khawatir dengan anda Tuan, saya takut kehilangan anda, saya fikir anda menghilang, jadi saya dengan sekuat tenaga mencari anda kemana-mana, syukurlah anda sudah kembali Tuan. Tuan jangan kabur kabur lagi ya seperti ini." Kasih memegang kedua belah pipi Nathan seraya memastikan keadaan nya, sehabis itu ia memeluk Nathan kembali.


"Padahal saya sudah mengkhawatirkan anda, tapi kenapa anda malah membentak dan memarahi saya seperti ini Tuan? Apakah saya segitu tidak berharganya di mata anda Tuan? Sehingga apa yang saya lakukan selalu salah." sambungnya.


"Huhuhu.. Hiks hiks." Kasih tersedu-sedu menangis berlinang air mata, dirinya sangatlah menghayati aktingnya. Sambil tersenyum licik berharap lolos dari kemarahan Nathan.


Astaga dia sangat baik sekali, padahal aku ingin memarahinya. Namun tak bisa, tak seharusnya aku membentaknya, padahal dia sangat menghawatirkan diriku ini. Nathan mengelus punggung Kasih.


"Maafkan aku." Nathan benar-benar terharu, dia merasa sangat bersalah.


Kasih melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata buaya yang berjatuhan di pipinya, jujur ia sangat malu berhadapan dengan Nathan, karena pria itu saat ini hanya mengenakan sepotong handuk dengan bertelanjang dada.


"Pakailah pakaian anda Tuan." Kasih menutup mata sambil berbalik badan membelakangi Nathan.


Nathan tersenyum, lalu ia memeluk Kasih dari belakang.


"Kenapa? Kamu tidak tahan ya?" kata Nathan sambil menggoda.


Ah hangatnya. Kasih merasa sangat nyaman dan ingin lebih lama lagi dipeluk seperti itu.


"Tidak." Kasih berusaha melepas pelukannya.


"Anda kenapa semakin lama semakin mesum Tuan petir?" Kasih berbalik badan melepas pelukannya sambil menatap Nathan.


Nathan kembali tersenyum lalu memeluk Kasih dari depan, pelukannya sangat erat sehingga bisa ia pastikan bahwa Kasih tak akan bisa lepas dari pelukannya kali ini.


"Aku rasa aku mulai mencintaimu." Cup, Nathan langsung mengecup bibir Kasih, ia ******* sedikit bibir Kasih dari atas hingga bawah.


Kasih terdiam mematung, usai menciumnya. Nathan pun langsung melepaskan pelukan mereka, ia melangkah pergi meninggalkan Kasih.


Apa aku harus mengganti gelar untuknya, sekarang Tuan petir sudah menjadi mesum. Apa sebaiknya aku harus memanggilnya dengan nama Tuan mesum saja mulai saat ini? Kasih menyentuh sedikit bibirnya, hatinya cenat cenut tak karuan.


Drett Drett... Ponsel Kasih bergetar di tasnya, sepertinya ada sebuah pesan yang masuk, ia segera melihatnya.


"Woahhh." Kasih terbelakak kaget melihat isi ponselnya, ia mendapatkan sebuah pemberitahuan tentang daftar fashion show itu. Tak di sangka dirinya dinyatakan lulus, ia diterima dalam lomba fashion show itu.


"Benarkah ini?" Kasih melompat kegirangan merasakan bahagianya dirinya, ia membaca kembali pemberitahuan itu secara detail, takutnya ada yang salah. Dan benar saja, bahwa dia betul-betul diterima.


Kasih menahan rasa kebahagiaannya untuk saat ini, ia tak mau Nathan tau akan hal ini. Tak boleh ada satu orangpun yang tau.


Dora pasti akan ikut senang mendengarnya, aku harus segera memberitahu Dora. Kasih cengar-cengir sendiri, dirinya sangat bahagia.


Ia pun segera lari ke kamar mandi ketika Nathan sudah keluar dari ruang ganti, di dalam kamar mandi, Kasih cepat-cepat menghubungi Dora. Tentu saja Dora ikut bahagia mendengar kabar tersebut, mereka pun bercakap-cakap sedikit untuk kedepannya. Sehabis itu Kasih pun segera mandi.


*


Usai mandi Kasih duduk di sisi kasur, ia menatap wajah Nathan lekat-lekat. Pria itu benar-benar tampan sempurna, Nathan tengah terbaring hendak tidur, namun ia membatalkan tidurnya.


"Tuan, ada sesuatu yang ingin saya katakan." ucap Kasih sembari bergeser lebih dekat kepada Nathan.


"Apa?" Nathan bertanya sambil memejamkan mata dengan badan telentang.

__ADS_1


"Besok saya izin pergi."


"Kemana?" mendengar itu Nathan langsung kaget bak di sambar petir, refleks ia duduk menatap serius kearahnya.


Kasih terdiam sejenak mencari akal untuk kalimat yang telah ia sampaikan.


"Saya ingin menjenguk kerabat saya yang ada di kampung."


"Bukankah kamu bilang, kalau kamu tidak memiliki kerabat lagi selain paman Bambang itu?" Nathan tahu sekali, bahwa Kasih sudah tak memiliki keluarga. Hanya tinggal satu figur paman yang ia miliki di kota maupun di dunia.


"Hem iya, sebenarnya bukan kerabat dekat. Ini kerabat jauh bagian belah pihak ibu saya. Sudah lama saya tidak berkunjung ke kampung, saya merindukan mereka. Sekalian saya ingin mengunjungi makam kedua orang tua saya di kampung." usai mengatakan itu Kasih menggigit bibirnya, ia terpaksa berbohong.


"Ooo begitu... apakah aku boleh ikut juga? Aku belum mengetahui silsilah keluargamu, aku juga tidak tahu bibit bobot tentang dirimu. Sudi kah kamu mengajakku ke kampung mu?" tanya Nathan penuh harapan.


Kasih semakin kebingungan harus mengatakan iya atau tidak, fikirannya langsung kacau. Nathan tak boleh ikut, dia juga sebenarnya bukan ingin kembali ke kampung, namun ingin mengikuti audisi untuk lomba fashion show nanti.


"Tidak Tuan, tidak bisa."


"Kenapa? Aku ingin ikut dan berkenalan kepada sanak saudara mu, tidak boleh kah?" tanyanya serius.


Aduh bagaimana ini? Tuan petir malah minta ikut, kan seharusnya. Ah aku pusing.


"Begini Tuan, anda kan tau kalau pernikahan kita ini sangat tertutup, anda mau jika semua orang tau tentang hubungan kita? Di kampung saya, warganya sangat suka menggosip, saya takut nanti mereka membocorkan rahasia kita ini kepada semua orang termasuk awak media. Anda dan keluarga tidak ingin itu terjadi kan?" Kasih terus mencari alasan supaya Nathan tak meminta ikut, hal hal yang buruk ia katakan sampai Nathan menyerah tak jadi ikut.


"Benar juga katamu." ujar Nathan sambil berfikir. "Kalau begitu, aku tak jadi ikut." sambungnya.


Ahh berhasil, syukurlah si Tuan petir ini percaya. Tersenyum penuh kemenangan atas kebohongannya, sesungguhnya apa yang ia katakan tak begitu benar. Faktanya di kampung dia para warga sangat ramah anti menggosip, di sana juga belum terlalu canggih, jarang ada yang mengenal artis, dan pasokan listrik juga tak sepenuhnya ada di sana. Intinya masih sangat kampungan.


"Berapa lama kamu akan pergi?"


"Sekitar enam hari Tuan."


"Enam hari?" ia tersentak kaget mendengarnya. "Apa kamu tidak waras? Itu waktu yang sangat lama, dan kamu ingin meninggalkan aku. Apa jangan-jangan sebenarnya kamu pergi untuk selamanya dan tak akan kembali lagi ke rumah ini? Iya begitu kan?" mengoceh tak berhenti.


Kali ini Kasih dibuat kelabakan untuk menjawabnya, mana mungkin ia ingin kabur. Mau kabur kemana, ia saja tidak punya harapan lagi untuk bernaung selain di kediaman Wing.


"Hahaha." Kasih terkekeh kecil, Nathan menciutkan bibir menatapnya. "Apa maksud anda Tuan? Saya tidak akan kabur, saya tidak pernah berfikir sedemikian. Saya hanya ingin mengunjungi kerabat, saya rasa itu waktu yang singkat."


"Hah... kamu bilang enam hari waktu yang singkat? Satu detik aja kamu tidak ada di sampingku, rasanya sangat sepi, apalagi enam hari. Kamu mau buat aku gila?" Nathan menatap tajam kearahnya, Kasih seketika tersenyum mendengar kata-kata manis itu.


"Anda kesepian jika tidak ada saya Tuan? Benarkah?" Kasih merasa kepedean.


"Tidak." Nathan menjauhkan diri dari Kasih, ia membuang muka karena malas menatap wajah wanitanya.


"Intinya kamu tidak boleh pergi, aku melarang mu pergi." Nathan langsung membaringkan tubuh seperti anak kecil yang tengah merajuk, Kasih menunduk sedikit kecewa. Usahanya sia-sia.


"Tuan." Kasih memanggil mencoba membujuk agar di ijinkan, namun Nathan seolah menutup mata dan telinga tak mau peduli.


Kasih menggeser mendekati Nathan, ia duduk di sampingnya sambil memberi sedikit belaian ke kepala Nathan.


"Tuan... apakah anda marah?"


"...." Nathan tak menjawab.


"Saya minta maaf."


"...." lagi-lagi tak ada jawaban.


"Saya hanya pergi sebentar saja, jika anda tidak mengijinkan, tidak masalah. Saya mengerti." Kasih menunduk pilu menghadapi nasibnya.


"Pergilah! Aku tak perduli, aku sama sekali tidak akan merindukanmu, aku juga tidak akan kesepian." akhirnya Nathan menjawab.


"Benarkah? Terimakasih." Kasih sedikit kegirangan, namun dia masih khawatir akan sikap Nathan yang tiba-tiba dingin.


"Tidurlah, besok kamu akan pergi. Kamu juga harus siap-siap." ujar Nathan dengan suara yang agak seram, ia sama sekali tak mau menatap Kasih walau hanya sekilas.


"Baiklah... selamat malam Tuan petir." Kasih menggeser tubuhnya lalu berbaring.

__ADS_1


Malah sempat-sempatnya memanggilku dengan nama Tuan petir, dasar udik tidak tau diri. Kata Nathan di dalam hati.


Tuan petir pasti sangat marah, harus bagaimana lagi. Aku harus pergi, ini juga hanya sebentar kok. Maafkan saya Tuan karena telah membohongi mu, tapi setelah saya kembali nanti, saya akan memberikan anda kejutan. Anda pasti suka.


__ADS_2