
Bagas tengah berdiri di depan cermin, ia terlihat tampan dengan mengenakan jas hitam dengan di pasang kemeja putih. Ketampanannya tak jauh beda dengan Nathan, memang anak Tuan Abdi semuanya tampan-tampan sepertinya.
Anna duduk di sofa sambil bermain ponsel, ia mewaspadai suaminya sedari tadi malam hingga kini, ia juga memantau telepon kamar. Jikalau berbunyi ia langsung cepat-cepat menjawabnya. Ia merasa curiga, Bagas akan pergi kemana hari ini, ia juga berdandan sangat lama.
"Sayang, kamu mau pergi kemana?" ia bertanya dengan lembut.
"Aku ada meeting dengan klien penting hari ini." ia enyah dari hadapan cermin, ia berjalan ke sofa tempat dimana Anna berada.
"Selesai pukul berapa?" Anna langsung berdiri untuk memperbaiki rambut suaminya.
"Belum tau."
"Emm, kamu ada waktu gak nanti malam?"
"Belum tau juga, soalnya hari ini jadwal aku penuh. Ada banyak tugas yang harus aku selesaikan." ia beralih lagi ke cermin untuk memastikan ketampanan dirinya.
Anna mencium aroma parfum Bagas terlalu menyengat, baunya berbeda dari parfum biasanya.
"Sayang, kamu kok wangi banget? Baunya beda dari parfum biasanya yang sering kamu pakai. Kamu ganti parfum ya?" ia melangkah mendekati Bagas sambil mengendus bau parfum itu.
"Iya, kan bosen pakai parfum itu-itu aja. Sesekali gantilah." ia berjalan ke kasur untuk mengambil tasnya.
Anna merasa sangat curiga padanya, Bagas membuka ponselnya lalu tersenyum ketika menatap layarnya. Ada sebuah pesan masuk yang ia dapatkan, entah apa isinya sehingga ia tersenyum ceria.
"Kalau bisa kamu cepat pulang ya sayang." Anna kembali ke sofa.
"Ya udah aku pergi dulu." Bagas hanya mengucapkan kata itu lalu pergi, akhir-akhir ini sifatnya berubah drastis setelah kepulangannya dari Kazhakstan.
Anna tentu merasakan hal itu, ia menjadi semakin dijauhi oleh suaminya sendiri. Ada beberapa hal yang membuat ia semakin curiga, pernah ketika kepulangan suaminya dari Kazhakstan, ia menemukan cap lipstik berbentuk bibir wanita di kemejanya, saat ia bertanya kepada Bagas, pria itu mengelak dan mengatakan bahwa, ada seorang pramugari yang tak sengaja tersandung dan bibirnya menempel di bahunya, akhirnya jadilah cap lipstik tersebut. Itu terjadi ketika sang pramugari berjalan di kabin pesawat.
Mengingat hal itu Anna semakin khawatir akan terjadi hal tidak enak dalam rumah tangganya, ia segara mengambil tas lalu keluar dari kamarnya.
Ia berlari keluar melewati lorong kamar mengejar Bagas, ketika ia berlari. Jasmine baru keluar dari kamar dengan penampilan yang amat cantik.
"Kakak kenapa berlari seperti itu?" Jasmine mendekati Anna, di lorong kamar mereka berbincang sebentar.
"Kamu mau kemana?" bukannya menjawab, Anna malah balik bertanya.
Jasmine mengenakan dress panjang berwarna hitam, ketat hingga membentuk lekuk tubuhnya. Bibirnya merah diwarnai oleh lipstik, rambutnya ikal dibiarkan menjuntai sangat indah, parfumnya sangat harum nyaris menusuk hidung.
"Aku ada reunian dengan teman-teman waktu SMA dulu kak." Jasmine mengunci pintu kamar lalu mendekati Anna.
"Oh, begitu."
"Ya, kakak sendiri mau kemana?"
Anna mengingat suaminya tadi pergi, ia kembali penasaran. Dia ingin memata-matai Bagas hari ini, tak bisa juga sendirian akhirnya ia memaksa Jasmine ikut.
"Eh kak mau kemana?" Jasmine terkejut ketika Anna menarik tangannya.
__ADS_1
"Bantu aku sebentar." tanpa peduli, Anna terus menarik tangan Jasmine.
Mereka menuruni anak tangga dengan cepat, jika Tuhan berkehendak, bisa saja mereka jatuh bersamaan kala itu. Pak Tejo yang tengah mengecek kebersihan di ruang tamu, dibuat penasaran dengan kepergian Anna dan Jasmine. Jiwa kepo nya terus bertanya-tanya.
Anna segera menekan remote control mobil, ia masuk ke dalam serta menyuruh Jasmine ikut. Jasmine agak kebingungan maksud dari kakak iparnya itu, ia sebenarnya buru-buru juga karena ada acara penting, tapi masalah kakak iparnya, itu lebih penting baginya.
Mobil melaju meninggalkan kawasan rumah, Anna yang menyetir sedangkan Jasmine duduk disebelahnya. Mobil ia dan Bagas hanya berjarak 50 meter saja, disepanjang perjalanan Anna terus mengikutinya.
"Kakak kenapa membuntuti kak Bagas?" Jasmine baru menyadari kalau sang kakak ipar telah membuntuti Bagas dari tadi.
"Aku curiga padanya Jas." jelas Anna, ia fokus ke jalanan.
"Curiga kenapa kak?" Jasmine dibuat penasaran, ia menatap wajah cemas Anna.
"Dia berselingkuh, aku yakin itu. Aku yakin hari ini dia telah janjian dengan selingkuhannya di suatu tempat."
"Kakak masih mencurigai kak Bagas selingkuh?"
"Iya, aku yakin dia selingkuh. Awas aja, aku akan menangkap basah dia dengan si wanita ****** itu." Anna terlihat geram sendiri.
"Untuk apa sih kak? Kakak salah paham pasti, gak mungkin kak Bagas selingkuh." Jasmine berupaya untuk menghilangkan rasa kecurigaan di hati Anna.
"Salah paham gimana?"
Jasmine lebih baik diam saja, ia tak mau ikut-ikutan dalam rumah tangga kakak iparnya. Ia membuka ponsel untuk menghubungi seseorang melalui pesan chat, mungkin menghubungi temannya.
Mobil berjalan sangat pelan ketika melihat mobil Bagas memasuki parkiran di sebuah cafe, Anna mengintip gerak-gerik Bagas yang belum keluar dari mobil.
"Aku yakin dia ketemuan disini bersama wanita itu." ucap Anna pada Jasmine, ia sudah seperti peramal saja.
Jasmine tersenyum melihat kecurigaan sang kakak yang terlihat berlebihan, mau bagaimana lagi. Semua istri pasti akan melakukan hal yang sama jika mengetahui suaminya mulai mencurigakan.
"Itu dia." Anna menunjuk Bagas yang baru keluar dari mobil.
Bagas berjalan menyusuri area parkir, ia memasuki sebuah restoran yang berkonsep outdoor. Kafe yang tak begitu mewah tapi terlihat begitu elegan karena dihiasi dengan berbagai kreasi, Bagas berjalan santai disana. Sedangkan Anna sudah bersiap dengan firasatnya.
"Aku akan menangkap mu hari ini Bagas." celetuk Anna.
Di sana sudah ada tiga orang pria memakai jas sedang menunggunya.
"Hay pak Bagas, apa kabar?" sapa hangat dari tiga orang klien itu.
"Kabar baik."
"Hay senang bertemu dengan anda." mereka berempat saling menyapa.
Anna terkaget di dalam mobil, ia merasa firasatnya berbeda dengan apa yang terjadi. Firasatnya mengatakan bahwa Bagas berselingkuh, ini nyatanya Bagas beneran meeting dengan klien.
"Kak Bagas gak berbohong kan kak?"
__ADS_1
"Hah, ada apa denganku?" Anna memukul kepalanya menggunakan kedua tangan.
"Kak Bagas pergi menemui klien bukan menemui selingkuhannya, kenapa kau menuduhnya selingkuh kak?" imbuh Jasmine.
"Kau benar, kenapa aku harus mencurigai suamiku sendiri." ia memukul kemudi sangking merasa bersalah.
Jasmine tersenyum lalu mendekat mengelus bahu Anna seraya memenangkannya, ia tak bisa lama-lama lagi karena dia bisa saja terlambat nanti.
"Semuanya sudah beres kan kak? Itu hanya salam paham. Kalau begitu aku permisi dulu, aku akan naik kendaraan lainnya. Kau berhati-hatilah." pamitnya, Jasmine keluar dari mobil meninggalkan Anna sendiri.
Anna masih berdiam diri merasa bersalah, ia sedih karena menuduh Bagas yang bukan-bukan.
Dirinya terlalu posesif sehingga bisa sampai terjadi hal seperti ini, seharusnya juga ia tak perlu melibatkan Jasmine.
***
Di lokasi syuting Kasih tengah duduk dengan Dora di tenda peristirahatan, sedari tadi Dora terus menggodanya. Mereka bercanda tawa sendiri tanpa ada akar dari pokok pembicaraan. Kasih tak terlalu fokus dengan apa yang dibicarakan Dora karena ia terus berfikir tentang perkataan Tuan petir.
"Dora." ia memanggil Dora yang tengah duduk disebelahnya.
"Ya?" jawabannya.
"Apa anda pernah berciuman?" matanya kosong menatap arah tak tentu.
"Hahaha." Dora terkekeh mendengarnya, baru kali ini ada orang yang tertarik menanyakan hal tersebut padanya. Banyak orang yang tak ingin mengetahui tentangnya, dan baik sekali Tuhan sudah mau memberikan seorang wanita untuk mempertanyakan itu.
"Tentu saja pernah." imbuh Dora, ia mengipasi tubuhnya yang gendut itu.
Kasih menoleh Dora yang tengah duduk disebelah kirinya, ia merasa tertarik ingin bertanya-tanya beberapa hal lagi.
"Apa yang anda rasakan?" Kasih merasa penasaran.
"Biasa saja." kata Dora.
"Biasa saja? Apa rasanya?" bertanya lebih dalam.
"Yah hanya merasakan gairah rangsangan saja." imbuhnya.
"Begitu ya." Kasih mengangguk sendiri mencerna jawabannya.
Dora menatap Kasih dengan seksama, kenapa Kasih bertanya hal sedemikian padanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu beb?" Dora menggeser kursinya agar berdekatan dengan Kasih.
"Tidak ada." mengakhiri pembicaraan.
Syuting akan segera berjalan, Kasih kembali bersiap-siap untuk penampilan selanjutnya. Mereka sudah 1 kali pindah tempat dalam waktu beberapa menit saja. Itu lokasi kedua untuk syuting.
BERSAMBUNG
__ADS_1