Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Persetujuan Tawaran


__ADS_3

Kasih terduduk di sofa memikirkan tawaran Dilan tadi sore dirinya sangat bingung harus apa,dihempaskan tubuhnya ke sofa lalu berfikir lagi rambutnya yang terurai panjang ikal ia jambak menggunakan kedua tangan.


Dia kembali duduk berfikir lagi dirinya benar-benar galau malam ini sudah pukul dua lebih dia belum tidur juga,Nathan tak berada di kamar dia masih berada di ruang kerja bersama sekertaris Rehan jadi Kasih bebas melompat dan berteriak di kamar,


Kasih bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kecil yang ada di pojok tembok sebelah pintu Ia mencabut charger ponsel lalu membawanya ke sofa,


Ia duduk di tempat tadi sambil memegang kartu pemberian Dilan lalu disandingkan dua benda tersebut ditangannya.


Kasih menekan nomor ponsel lalu disimpan ke daftar telepon ingin sekali ia menghubungi Dilan tapi tidak yakin kalau pria itu belum tidur,takutnya jika ditelpon nanti Dilan sudah tidur


Ragu akan niatnya ditaruhlah ponsel ke meja dekat sofa beserta kartu nama.


Kasih merasa sangat haus seketika tenggorokannya terasa kering segera ia berjalan membuka pintu beralih kedapur,dia menapaki anak tangga dilihatnya ruang utama sudah gelap dan beberapa ruangan juga gelap,tak ada satupun manusia yang terlihat mungkin mereka semua sudah tidur


Kasih memasuki dapur malam ini ia terlihat sedikit berbeda mungkin pengaruh ia tak memakai kacamata dan rambutnya diurai hingga terlihat ikal panjang sampai pinggang, dia memakai piyama panjang putih berlengan kengsi tali satu hingga menunjukkan kulitnya yang putih mulus.


Tapi wajahnya tetap biasa saja tanpa polesan makeup masih terlihat udik dan jiwa kampungannya masih menonjol.


Pak Tejo tengah mengilap meja Dia melihat Kasih yang masih berkeliaran Kasih hanya cuek bebek.


ia berjalan menghampiri kulkas lalu menyambar satu botol untuknya setelah mendapatkan itu Kasih balik berjalan kekamar.


_________


Nathan barusan masuk kekamar ia menaruh laptop keatas meja dan ia mencari si Udik yang tak kelihatan.


Nathan beridiri di kamar memutar sorot mata.


"Udik." ia memanggil Kasih namun yang di panggil tak muncul.


"Ceklek." Pintu terbuka dan Nathan menatap Kasih baru masuk membawa sebotol minuman,Kasih menutup pintu dan berjalan menunduk.


"Dari mana saja kau?" Nathan terlihat sedikit sebal menatap Kasih.


Ia berjalan menuju sofa tempat keberadaan Nathan. "Saya dari dapur Tuan." menjelaskan sambil menunjuk botol sebagai bukti.


Nathan diam saat sudah dijelaskan dan Kasih pun duduk di sofa menatap Nathan yang sedang berdiri memperhatikan dirinya.


Nathan menatap Kasih yang terlihat sedikit anggun jika berpakaian seksi.

__ADS_1


Nathan duduk disebelah Kasih. " Pijitin pundakku.!" Ia memukul pundak agar Kasih memijitnya,ia merasa ketagihan dengan pijitan si udik.


Kasih memijat pundak Nathan dari belakang pria itu merasakan sensasi enak ketika di pijit oleh Kasih,Kasih Sebenarnya ingin menutup tubuh namun Nathan menahannya dengan perintah pijitan.


Nathan memutar arah menghadap Kasih. "Pijat Tanganku." ia mengulurkan tangan.


Kasih meraih tangannya dan melakukan pijitan luar biasa sesekali Nathan memandanginya dengan tatapan tak biasa. Kasih menunduk mengetahui itu merasa tatapan Nathan sangat berbeda dan aneh.


"Apa kau sedang memancingku,?" Nathan bersuara dingin sambil menatap tubuh mungil Kasih.


"Memancing apa maksudnya Tuan,?" Kasih tak mengerti apa maksudnya padahal ia tak melakukan apapun.


"Berani sekali kau menunjukan p*******mu." Nathan blak-blakan mengatakan hal itu hingga membuat Kasih terpingkal malu .


Karena baru sadar Kasih langsung melepas tangan Nathan dan menutup dadanya yang sudah terlihat separuh,b***h sekali dia telah melakukan hal seperti itu hingga Nathan langsung menganggapnya seperti sedang memancing.


" Maafkan saya Tuan." Kasih menunduk malu meminta maaf.


Nathan merasa ketagihan melihat Kasih berpenampilan vulgar. "Pijit lagi tanganku." Nathan mengulurkan lagi tangannya dan Kasih memijit tangan Nathan menggunakan satu tangan saja karena satunya lagi untuk menutup dada. "Pijit dengan dua tangan mu." Entah apa maksud Nathan.


Kasih terpaksa harus mau menuruti kemauan Nathan secara pelan-pelan ia memijat tangan Nathan hingga bajunya melorot menampakkan p*******nya yang montok, Nathan tak bisa mengalihkan pandangan kelain arah ia terus menatap bagian sensitif Kasih seakan menyaksikan sebuah hiburan semata


Ia mengambil ponsel Kasih dari atas meja tapi tak melihat ada sebuah kartu di sana, Nathan memainkan ponsel 88 milyar milik Kasih sambil melirik lirik sebuah pemandangan indah yang ada dihadapannya. Kasih tak menyadari itu karena fokus memijat kaki Nathan,hingga malam pun berjalan dengan damai menunggu hari pagi.


PAGI HARI


Kasih bertekuk lutut memasangkan sepatu di kedua kaki Nathan pria itu sudah terlihat rapi walau masih memakai kemeja putih untuk bekerja,setelah sepatu terpakai mereka berdiri bersamaan.


Kasih memakaikan Dasi untuk suaminya Nathan menatap Kasih yang tak memakai seragam kerja,dia masih menggunakan piyama tadi malam dan rambutnya terlihat rapi di sanggul menggunakan jepitan serta kacamata.


"Kenapa kamu belum bersiap-siap.?" Nathan bertanya penasaran saat mereka saling bertatapan.


"Saya berencana ingin libur hari ini Tuan." menjelaskan Sambil memasang dasi. "Kenapa.?" Nathan bertanya serius.


"Saya kurang enak badan Tuan." menjelaskan kebohongan.


Nathan menempelkan punggung telapak tangan ke jidat Kasih ingin memastikan panas atau dingin. "Tapi jidatmu tidak panas.?" tangan di lepaskan.


Kasih memegang jidatnya."Memangnya kalau tidak panas kenapa tuan.?" bertanya apa yang tak ia ketahui.

__ADS_1


"Kalau tidak panas berati tandanya kau tidak sakit." dia beralih menatap cermin sambil membetulkan dasi yang sudah Kasih pasang.


Kasih mengangguk mengecek suhu tubuh nya sendiri seperti anak kecil yang baru diajarkan sesuatu.


Nathan membalik badan menatap Kasih. "Kalau tidak enak badan pergilah kerumah sakit." perintah Nathan.


Nathan berjalan keluar kamar meninggalkan Kasih sendirian yang masih beridiri di depan cermin memandangi sendiri,melihat Nathan yang sudah keluar dia langsung berlari secepat kilat menyambar ponsel di atas meja sofa,dia berlari menuju kamar mandi membawa ponsel dan kartu nama Dilan semalam,Kasih mengunci kamar mandi agar tak ada yang masuk ia duduk diatas kloset memandangi ponsel sembari mencatat nomor Dilan sesudah tercatat ia pun segera menekan ikon lalu menghubungi nomor Dilan.


Tut,Tut,Tut.! Nada sambung.


Beberapa kali panggilan itu tak dijawab ia coba lagi sampai ada jawaban dia menggigit kuku sambil menggetarkan kaki di atas lantai berharap penuh,sudah 13 kali dia menelpon tapi belum juga ada respon nya setelah 14 kali baru di jawab.


(Perbincangan dalam telpon)


"Hallo.!" Dilan duluan yang mengucapkan kata pembuka.


"Hallo selamat pagi Tuan,maaf sudah menggangu.!" Hardik Kasih.


Dilan masih terbaring diatas kasur sepertinya baru bangun tidur. "Emm dengan siapa dan dimana.?" bertanya dengan nada lemas.


"Saya Kasih,wanita yang anda temui kemarin."


"Aaaa,Ya saya sangat menantikan telepon dari anda,emm bagaimana dengan jawaban anda kemarin.?"


"Saya setuju dengan tawaran anda Tuan." merasa sudah yakin akan keputusan singkat.


"Kamu serius kan.?" Dilan ingin memastikan dulu apakah Kasih benar-benar setuju. "Iya Tuan saya setuju." benar sudah setuju.


Dilan bangun dari tidur dan duduk disisi kasur. "Oke jangan berubah fikirannya,kalau kamu setuju bersiaplah saya akan jemput kamu,hari ini kamu harus interview." berharap Kasih tak akan berubah fikiran.


"Baik Tuan,anda bisa jemput saya di taman xx pukul sembilan."


"Baiklah see you."


Tut,Tut.! Telepon terputus.


Yes .! Kasih melompat kegirangan dia berjoget-joget meluapkan isi hatinya, bernyanyi dengan suara cempreng cukup memuaskan jiwa raga,dia melepas Pakaian beridiri di shower seakan berdiri di atas panggung.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2