
Kasih dan Nathan sedang berada dikamar, karena ini hari Minggu mereka memilih untuk bermalas-malasan di rumah. Nathan dari tadi kelihatan salah tingkah dihadapan Kasih, Nathan hanya lalu lalang di depan Kasih yang tengah fokus menonton TV. Ia memperhatikan gerak-gerik Nathan yang hanya bolak-balik tak menentu.
Kasih duduk di sofa tempat ia tidur sambil makan cemilan ringan, dia menonton drama Korea cerita pelakor yang tengah trending Minggu ini. Ia bahkan belum mandi setelah bangun tidur.
"Hay, nonton apa tuh?" Nathan memutuskan duduk di sebelah Kasih.
"Itu, tuan tidak lihat?" ucap Kasih.
Ia cuek bebek sambil menggerakkan kepala menunjuk TV, ia terlalu fokus sambil terharu melihat adegan sedih yang ada didalam drama.
"Kamu?" Nathan tak jadi bertanya lantaran bingung mau ngomong apa.
Nathan seperti sedang grogi ketika berada di samping Kasih, ia hanya memakai celana boxser dan singlet bewarna putih. Perawakannya terlihat begitu bersinar ditambah otot-otot nya yang begitu kekar.
"Ada apa tuan?" Kasih bertanya penasaran, sedari tadi Nathan hanya diam cengar-cengir sendiri seolah ingin bertanya tapi gengsi.
"Ti, tidak apa-apa, maaf mengganggu." Nathan semakin grogi kemudian memutuskan bangkit dari sofa, dia berjalan menuju kasur.
"Ckckck aneh." Kasih berbicara pelan, ia pun menghentikan aktivitasnya dan menaruh cemilan itu keatas meja, ia beranjak dari duduk lalu berjalan kekamar mandi.
Saat dipertengahan jalan, langkahnya berhenti saat dipanggil. Nathan berlari kecil menghampirinya, Kasih hanya tersenyum bila memandang wajah yang ada dihadapannya.
"Ada apa tuan?" tanya Kasih.
Sebenarnya Kasih masih merasa malu atas kejadian tadi malam, dimana semua auratnya dilihat jelas oleh Nathan. Sekarang ia hanya pura-pura acuh sebagai pengalihan ingatan.
"Kamu mau kemana hari ini?" tanya Nathan dengan lembut.
"Tidak ada." singkatnya
"Oh begitu, gimana kalau kita jalan-jalan berdua?" mengajak penuh harapan.
Tumben sekali tuan petir mau mengajakku jalan-jalan? Emm, ada apa ya?. Batin Kasih.
Kasih menatap wajah keseriusan Nathan dengan seksama, ditatap dari atas hingga bawah takutnya ada yang mencurigakan. Tapi jujur saja dia sangat senang atas ajakan itu, sebelumnya juga ia tak pernah pergi keluar dengan suaminya.
"Kamu takut aku tinggalkan dijalan ya? Kamu tenang aja, aku akan jagain kamu sampai pulang nanti." ia dapat menilai ekspresi Kasih yang kurang percaya dengan dirinya.
"Saya mau kok." sorak Kasih sembari bersenang hati.
"Yasudah, kamu siap-siap saja."
Kasih membalik badan meneruskan langkahnya, sedangkan Nathan melompat kegirangan sebab ajakannya tak ditolak.
Yes, yes, yes... akhirnya dia mau, hore hore. Batin Nathan.
__ADS_1
Nathan tak berhenti bersorak gembira, betapa senangnya dia. Tak mau menghabiskan banyak waktu melompat-lompat gak jelas iapun terkicir-kicir berlari keruang ganti, tadi saat pagi-pagi sekali ia sudah mandi, jadi ia hanya perlu ganti pakaian saja.
Didalam ruang ganti Nathan memakai jas putih serta celana putih, ia tampak cerah memakai setelan style sendiri, ia tidak suka bergaya ala anak kekinian untuk saling berlomba-lomba menampilkan fashion atas perkembangan zaman. Dia lebih suka dengan penampilan rapi dengan memakai jas atau blazer seperti layaknya pria dewasa, itu juga akan membuat dirinya terkesan seperti orang berwibawa dan jiwa seorang pengusaha.
Usai memakai pakaian, Nathan keluar ruang ganti saat itu pula ia berpapasan dengan Kasih. Wanita itu hanya memakai handuk untuk membalut tubuhnya, lagi-lagi Nathan terpukau melihat Kasih.
Oh Tuhan, kenapa aku jadi begini? Ketika aku melihat Kasih sedang memakai handuk aku berharap handuk itu lepas dari tubuhnya, aku ingin sekali melihat tubuhnya. Batin Nathan.
Nathan berdecak sendiri mengelus dada, matanya sekalipun tak bisa berkedip. Sambil menunggu Kasih selesai berpakaian Nathan kembali duduk di sofa sambil bermain ponsel.
Didalam ruang ganti Kasih menatap isi lemarinya, ia mencari pakaian yang akan ia kenakan hari ini, isi lemari tersebut menjadi sedikit acak-acakan akibat ia bolak-balik demi mendapatkan pakaian yang cantik.
Kedua tangannya memegang pinggul seraya berfikir keras mencari akal, ia tak punya pakaian yang bagus, semua pakaiannya terlihat kuno dan sederhana. Ahha. Ia menjentikkan jari sambil tersenyum ketika mendapatkan akal, ia punya satu gaun yang amat mahal kan, ya gaun putih pemberian mama mertua kala itu, kenapa tidak dicoba saja.
Gaun itu ia tarik dari sangkutannya, gaun yang sangat indah dan elegan terlihat mewah tapi simpel. Namun sayangnya gaun itu hanya cocok digunakan untuk acara pesta dan untuk dinner dimalam hari, bukan untuk jalan-jalan biasa seperti saat ini, ia juga belum tau Nathan akan mengajaknya pergi kemana, mungkin saja ia akan ditinggalkan di jalanan.
Merasa itu tidak cocok, gaun tersebut dikembalikan ketempatnya. Satu dress panjang kembang bewarna cokelat ia dapatkan, pakaian itupun ia kenakan disaat itu juga.
Usai dikenakan, ia mulai membenarkan rambut ditata dan dikepang dua berbentuk kelabang, tak lupa kacamata kesayangan yang teramat penting untuknya. Ia menenteng Tote bag dan disangkutkan dibahu.
Gaya seperti itu sangat membosankan, maka dari itu ia disebut udik oleh suaminya sendiri tapi itu bukanlah hal yang memalukan untuknya.
Ia pun keluar kamar.
Nathan mengehentikan aktivitasnya bermain ponsel, ia sedikit bengong melihat penampilan si udik yang tak berubah. Tapi entah kenapa, semakin lama ia sangat suka melihat gaya kuno ala si udik itu, tidak seperti dulu, di mana ia sangat benci melihat penampilan udik itu.
"Ayo kita pergi!" Nathan bangkit dari duduk lalu mereka berjalan keluar bersama.
Saat mereka memijak anak tangga Nona juga berjalan naik ke lantai dua, Nona menatap dua pasutri itu dengan tajam terutama dengan Kasih.
"Nak, kamu mau kemana?" Nona menghadang jalan Nathan.
"Kami mau jalan-jalan ma." Nathan membalas pertanyaan itu.
Nathan menarik tangan Kasih seraya dirangkul dihadapan Nona, ia tak sabaran ingin pergi, tanpa memperdulikan sang ibu, Nathan langsung menyelonong pergi.
Mereka pergi jalan-jalan? Itu Nathan kenapa menggandeng tangan si pembantu itu, jangan bilang kalau Nathan mulai mencintai pembantu itu. Ini gak boleh terjadi, Nathan gak boleh jatuh hati padanya. Aku gak akan biarkan hal ini sampai terjadi, bagaimana dengan nasib Sera jika mereka bersama, tidak akan ada lagi ruang cinta untuk Sera di hati Nathan jika ruang itu sudah ditempati oleh si pembantu sialan itu. Malang sekali nasibmu Sera, ahh dasar pelakor tak tau malu. Batin Nona.
Nona membatin sendiri, wajahnya terlihat panik dan tegang serta diselimuti aura kebencian. Ia menatap Kasih yang tengah berjalan keluar pintu bersama Nathan, Kasih menoleh kebelakang merasa sangat takut melihat Nona, cepat-cepat ia memutar pandangan menatap Nathan.
Setibanya diluar, Nathan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Kasih. Kemudian Nathan berlari pelan menuju pintu tempat jok depan untuk mengemudi, ia tak membutuhkan Rehan kala ini, ia juga terpaksa tak mengajak Billy karena ia sangat ingin menghabiskan waktu berdua dengan si udik kesayangan, mobil melaju sedang keluar dari kawasan rumah mewah mereka.
***
Rehan tengah berada di rumahnya, ia duduk santai di sofa yang terletak di ruang tamu. Hari ini ia kedatangan tamu tak diundang dengan malas ia menyambut dan meladeni sang tamu, anehnya tamu itu justru ia cuekin, ia malah sibuk bermain ponsel sambil cengar-cengir sendiri tanpa berbicara sepatah katapun, Rehan juga tak mau menyuguhkan secuil makanan dan minuman untuk sang tamu.
__ADS_1
"Re, apa aku mengganggumu?" Yura merasa kesal lantaran dicuekin terus, ia merasa bahwa Rehan tak senang dengan kedatangannya.
"Hem." Rehan hanya berdehem.
"Apa yang kamu lihat?" Yura merasa penasaran sekali, apa yang membuat Rehan tak berhenti menatap ponselnya.
"Tidak ada." cetus Rehan.
"Lihat apa sih?" karena meras penasaran sekali Yura memilih beranjak dari duduk, ia melangkah mendekati Rehan.
Yura memiringkan kepala mengintip sedikit ponsel Rehan, ketika melihat isi ponsel itu Yura secepat kilat menyambarnya.
"Kamu apa-apaan sih?" bentak Rehan, spontan Rehan kaget refleks berdiri.
Rehan berusaha merampas ponsel itu kembali namun sayang Yura tak mau kalah, dengan seksama Yura memperhatikan foto yang ada didalam ponsel.
"Dia! Kamu melihat gadis ini dari tadi?" gusar Yura dengan sedikit nada tinggi.
Bukankah gadis ini yang bekerja di restoran itu? Kenapa Rehan terus saja memandanginya?. Batin Yura. Seketika ia merasa lunglai dan terbengong.
"Kamu kepo banget sih!" Rehan berhasil merebut kembali ponselnya.
Yura tersadar dari bengong ketika merasa ponsel tak lagi ditangannya.
"Dia siapa, Re? Apa dia gadis yang ada didalam hati kamu saat ini?" Yura merasa tak percaya akan hal itu.
"Memangnya kalau iya kenapa? Aku memang menyukainya, jadi kumohon lebih baik kau pergi sekarang dari rumahku. Aku mau tidur." Rehan mengulurkan tangan seraya mempersilahkan Yura pergi.
"Tapi, aku masih ingin bersamamu Re." Yura masih mematung mengeraskan diri karena ia masih ingin berada disana.
Rehan menggeleng kepala lalu mendorong tubuh Yura. Brukkk. Rehan membanting pintu lalu dikunci secepat mungkin ketika Yura sudah berhasil ia keluarkan, ia akhirnya lega karena si pengganggu sudah enyah.
"Re, buka pintunya!"
"Aku gak mau pulang, aku masih ingin bersama kamu!"
Yura berteriak dan menggedor pintu itu sekuat tenaga, bukannya peduli, Rehan justru lari ke kamar tanpa memperdulikan seorang wanita yang tengah memekik didepan rumahnya.
Karena Rehan tak kunjung keluar, Yura berhenti memekik seperti orang tak waras. Isshhh. Ia menggerutu kesal bercampur rasa sedih.
"AGGHH!" Yura berteriak lagi mengeluarkan sedikit rasa kesalnya, pada akhirnya ia meninggalkan teras rumah itu.
Rehan berbaring ditempat tidur seraya tersenyum menatap layar ponselnya, ia menatap setiap celah diwajah sang gadis yang ada didalam ponsel. Hari ini ia akan menghabiskan waktu seharian dirumah, uhhh, pasti sangat menyenangkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1