Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Penolakan hak Suami


__ADS_3

Ketika benda itu di coba, dan mata Nathan pun terbelalak kaget. Ia tersenyum melihat benda itu berbunyi dan menyala, mereka berdua terlihat seperti orang norak. Namun begitupun mereka bisa bahagia dan tertawa bersama.


"Wah." seru Nathan, ia memencet mencet tombol itu berulang kali, rasa ingin tahunya kian membara.


"Ini akan berbunyi juga, jika jantung anda berdetak lebih kencang." timpal Kasih.


"Cukup menarik." ujar Nathan sembari mengelus smartwatch yang tengah melingkari pergelangan tangannya.


"Anda suka?" tanya Kasih, ia sudah bisa memastikan bahwa Nathan suka benda itu.


"Bolehlah." singkatnya.


"Jika anda merindukan saya, silahkan tekan tombol ini ya."


"Siapa yang akan merindukanmu? Aku tak akan merindukanmu." Nathan berlagak songong karena Kasih yang merasa kepedean.


Kasih terbelakak malu, ia menyesal mengatakan kalimat pede itu. Benar juga, Nathan tidak pernah merindukannya dan bahkan tidak akan mau merindukannya.


"Baiklah, terimakasih atas hadiah kecil ini. Aku suka walaupun tidak ada gunanya." ia tengah menghina ataupun merendahkan, yang jelas itu adalah sifatnya. Dia sering melontarkan kata jelek untuk si udik.


Kasih menyimpan paper bag tadi ke tempatnya, smartwatch itu sudah terpasang satu satu ditangan mereka. Nathan duduk sambil memperhatikan Kasih, ia mau tidur saja.


"Kasih." Nathan mengehentikan Kasih yang hendak berbaring.


"Ya?" Kasih membalik badan menatap Nathan yang tengah memperhatikannya.


"Kemarilah, mendekat denganku."


Kasih mengangguk lalu menggeser badan membawanya lebih dekat dengan Nathan, kali ini pria itu entah mau apa. Sudah cukup dia mengintimidasinya setiap hari, semenjak ia menganggur, Nathan selalu banyak tingkah, ingin ini ingin itu. Membuat ia pusing tujuh keliling.


"Ada apa Tuan?" ia bertanya ketika sudah sangat dekat dengan Nathan, mereka duduk hampir menempel di atas kasur sambil berhadapan.


"Kemarilah."


Detik itu Nathan menarik tubuhnya lebih dekat dan memeluknya dengan erat, Kasih sedikit kaget. Pelukan itu sangat hangat dan erat, Kasih hampir tak bisa bernafas akibat dipeluk oleh badan kekar itu. Nathan menepuk pelan punggungnya, tanpa ragu Kasih pun memeluknya, ia merasa damai ketika berdiam didalam dekapan Nathan.


"Terimakasih." kata Nathan, ia mengucapkannya dengan nada yang sangat lembut.


"Untuk apa?"


"Untuk segalanya."


"Segalanya apa?"


"Terimakasih atas pemberian hadiah jelek ini, aku senang kamu bisa membelinya untuk ku menggunakan hasil jeri payahmu selama ini. Dan maaf atas perlakuan buruk selama ini, aku." belum sempat ia selesai berbicara, Kasih melepas pelukannya sambil membekap mulut Nathan menggunakan tangan kanannya.

__ADS_1


Kasih menutup mulut Nathan agar berhenti berbicara, di tatapnya sebentar wajah pria itu dengan teliti. Mata mereka berdua saling beradu pandang, Kasih terlihat cantik terkena sinar lampu kamar, ditambah tidak memakai kacamata, rambutnya dibiarkan terurai berbentuk keriting, baju daster yang ia kenakan membuat ia terlihat sexy malam ini.


Nathan melepaskan tangan Kasih dari mulutnya, Kasih menunduk takut dimarahin.


"Berani sekali kamu mengehentikan aku berbicara, aku belum selesai berbicara." Nathan mengomel.


"Anda cerewet sekali Tuan, anda malah mengatakan hadiah yang saya berikan itu jelek. Anda menyukainya namun mencelanya, anda mau hadiah yang seperti apa?!" kini Kasih pun yang mengomel memakai eksepsi cemberut.


"Memang benar hadiahnya itu jelek kan, aku menerimanya agar kamu tak kecewa. Aku ini kan sudah memberikan mu kebaikan, aku menerimanya dengan ikhlas." Nathan melipat kedua tangannya ke dada.


Kasih memberikan tatapan mematikan untuk Nathan, rahangnya mengeras.


"Kenapa kamu menatapku seperti?" Nathan menjadi sewot ketika Kasih benar-benar menatapnya.


"Kenapa?"


"Hei kenapa?" Nathan semakin takut melihat Kasih yang tak berhenti menatapnya, ia bertanya juga tak kunjung diberi jawaban.


Kelihatanya Kasih marah padanya kali ini, Nathan bertanya berulang kali pun tak dijawab juga.


Brukkk!


Kasih menolak tubuh Nathan sampai terbaring, Kasih menghimpit tubuhnya dengan agresif. Tiba-tiba Nathan tak bisa berkutik, jantungnya berdebar tak karuan. Smartwatch itupun berbunyi mengeluarkan suara detak jantung Nathan, suara yang terdengar jelas. Kasih menatapnya semakin dalam.


"...." Kasih terpaku diam sambil mengigit bibirnya.


"Karena kita sudah berciuman sedalam ini, bagaimana kalau kita."


Nathan melepaskannya, ia menatap lagi wajah Kasih. Sambil memberikan senyuman.


"Bagaimana, kalau kita melakukan malam pertama kita, malam ini juga. Kamu sudah siap?" mengajak untuk melakukan sesuatu hal yang wajib, hal terindah yang sudah jauh ketinggalan.


"Sa saya, mau tidur dulu Tuan. Selamat malam." Kasih buru-buru enyah dari hadapan Nathan, ia segera mungkin berbaring di sebelah pria itu.


Jujur dia sangat belum siap untuk melakukan hal intim itu walaupun dia juga menginginkannya terjadi, dia harus memberanikan diri dulu. Namun tidak bisa sekarang dengan waktu singkat.


Ia memiringkan tubuh lalu mengangkatnya sendiri, ia melihat wajah Kasih yang indah. Rasa hasrat Nathan kian bergejolak seperti api, rasanya ia ingin sekali menciumi seluruh lekuk tubuh Kasih. Dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Kapan kamu akan memberikan hak ku? Kamu tidak mau memberikannya malam ini?"


Kasih membalas tatapan nanar Nathan, kenapa dia malah seperti orang yang sedang mengemis meminta hak. Kasih ingin memberikannya, namun dia belum ada keberanian.


"Sebaiknya anda tidur saja Tuan." mengalihkan pembicaraan.


"Aku menginginkannya sekarang juga." Nathan tak bisa lagi menahan rasa yang sudah membuatnya berkeinginan melakukan sex, ia menciumi leher Kasih sekaligus meninggalkan tanda merah di sana.

__ADS_1


Tentu saja Kasih merasa terbuai oleh hasratnya, di satu dia sangat takut. Dia belum berani, dirinya masih menjadi seorang pengecut.


"Berhenti Tuan." pinta Kasih agar Nathan mengasihaninya, namun sayang, Nathan sudah gelap mata. Ia tak lagi mendengar suara Kasih, dia terus saja melakukan aksinya.


Hingga Kasih bermohon agar Nathan mengehentikan itu, tak juga dihentikan. Ini bukan saatnya yang tepat.


Brukk!


Dengan sekuat tenaga, Kasih menolak tubuh Nathan hingga terjatuh disampingnya. Nathan terlihat sedikit marah. Dia tidak terima ditolak seperti ini.


"Kenapa?" tanyanya, mereka duduk bersamaan.


"Saya belum siap Tuan, jangan sentuh saya. Jangan paksa saya melakukannya, saya tidak mau melakukannya." Kasih seperti orang ketakutan langsung membalut tubuhnya menggunakan selimut. Nathan mengernyitkan dahi seperti orang kebingungan.


"Kenapa? Aku kan suamimu, kamu itu istriku, kenapa kamu seperti orang ketakutan, kenapa kamu menolak ku?" justru dia yang marah akibat tak terima di tolak begitu.


"Maafkan saya Tuan, tapi beri saya waktu." memohon diberikan kesempatan sebentar untuk bisa mempersiapkan diri.


"Aku mau itu sekarang, kamu yang memulainya kan? Kamu yang memancingku duluan tadi!" gusar Nathan.


"Saya tidak bermaksud seperti itu Tuan." berusaha membela diri.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukaiku? Kamu tidak mau memberikannya padaku?"


"Maafkan saya Tuan, saya belum ingin melakukannya." memasang wajah sedih.


"Baiklah kalau begitu, aku sudah tak berselera. Aku marah padamu, ambil ini. Aku tidak menyukainya, hadiah yang kamu berikan itu sangat jelek." Nathan melepaskan smartwatch tadi, lalu melemparkannya ke lantai, wajahnya memerah akibat marah. Lalu ia enyah dari atas kasur.


"Tuan." Kasih merasa tak enak hati berupaya membujuk sambil meminta maaf.


"Maafkan saya Tuan."


"Jangan berbicara denganku, aku sedang marah padamu." Nathan berjalan keluar kamar meninggalkan Kasih sendirian.


Pintu dibanting kuat oleh Nathan, Kasih berdiam diri di tengah kasur itu. Ia merasa sangat takut dan sedih, Nathan yang tadinya baik kini kembali berubah seperti dulu. Kasih takut, keperubahannya akan berlangsung lama. Bukan maksudnya ingin menolak dan tidak ingin memberikan hak Nathan sebagai suami, namun banyak hal yang ia fikirkan. Pernikahan ini hanya sementara, ia ingat semua perkataan Nathan dulu. Dia tak mau kelewatan batas.


***


Nathan berdiri di taman depan rumah, ia merasa marah hari ini. Hatinya panas sekali. Ingin ia cabut rumah mewah itu dari tanah, namun tak mungkin.


"Apa kurangnya aku? Padahal dia yang memulainya tadi, dasar si udik itu. Dia fikir dia siapa? Beraninya menolak ku, berlagak sok jual mahal. Kau fikir kau itu cantik, heh, udik." Nathan mengoceh sendiri menatap jendela kamarnya, lampu masih hidup di kamar.


Ingin juga ia mengambil batu lalu memecahkan kaca jendelanya, hingga Kasih terkena lemparan batu itu.


BERSSMBUNG

__ADS_1


__ADS_2