
Nathan tengah berada dikamar, dia bolak-balik dari kamar mandi kekasur dari kasur kekamar mandi begitulah kegiatannya dari tadi.
Beberapa kali ia menoleh kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22:04, sudah pukul segitu Kasih belum juga pulang. Ingin sekali ia menelpon tapi takutnya anak itu akan kegeeran merasa diperhatiin.
Nathan melompat berapa kali keatas kasur persis anak kecil, ia menjerit beberapa kali menyebut nama si udik, tangannya sudah tak sabar ingin menjambak rambut siudik itu dan memukulnya seperti beberapa waktu lalu dengan melakukan KDRT.
"Argghhhh."
"Udik beraninya kau berselingkuh di belakangku bersama sikadal."
"Dimana kau sekarang udik."
Nathan mengaum sekeras mungkin bak harimau yang sedang lapar, ia duduk ditengah kasur mengangkang lebar sambil menggigit seprai.
Wajahnya semakin memerah dicampur warna biru bekas bonyok, diatas kasur itu ia persis seperti cacing kepanasan yang sedang menggelupur. Ia terlungkup tengkurap tak sabar menunggu siudik pulang tubuhnya ia balut seperti lontong dengan bed cover. Sesaat ia diam menenangkan jiwa.
Ceklek. (Suara pintu)
Kasih sudah pulang dalam keadaan senang ia melihat Nathan yang tengah terbaring diatas kasur, Kasih berfikir kalau Nathan sudah tidur dan tak menyadari dirinya pulang. Ia melangkah pelan menuju sofa seperti maling yang mengendap-endap.
"Udikkkkkkkkkkkk."
"Kemari kau."
Nathan melompat dari atas tempat tidur menyerang Kasih dari belakang, seperti Captain Amerika melawan Thanos melompat dari gedung lantai 30.
Nathan melipat kedua tangan Kasih kebelakang.
"Agghhh Tuan apa yang sedang anda lakukan? lepaskan saya." Kasih berteriak kaget, mengapa tidak, dia merasa seperti terjerat dalam jaring.
Dilantai itu Nathan melakukan aksinya menangkap Kasih.
"Hah rasakan kau, berani sekali kau bermain-main denganku ya." Nathan melipat kuat kedua tangan Kasih agar tak bisa lepas.
"Siapa yang sedang bermain-main Tuan?" Kasih berteriak keras membantah tuduhan Tuan petir.
"Kau sudah berselingkuh di belakangku, kau berselingkuh dengan Dilan sialan itu." kini Nathan membalut tubuh Kasih menggunakan seprai yang ia pakai tadi.
__ADS_1
Berselingkuh, siapa yang berselingkuh? apa yang Tuan petir katakan, kapan aku berselingkuh dengan Tuan Dilan, apa Tuan Petir tau kalau aku pergi bersama Tuan Dilan. batin Kasih.
"Kau fikir aku bodoh heh, aku melihatmu bermesraan dengan Dilan di Cafe xx tadi siang, dan seenaknya kau keluar tanpa izin dariku." Nathan mencengkram dagu Kasih.
Apa, kapan aku bermesraan? apa dia disana melihatku bersama Tuan Dilan. Tidak tidak ini fitnah. Aku tidak berselingkuh. batin Kasih.
Kasih melepaskan diri dari cengkeraman Nathan dan menjauh beberapa meter.
"Tuan itu fitnah, saya tidak berselingkuh!" ia tak dapat menerima opini Nathan yang telah menuduhnya.
"Oho kau mulai berbohong ya, kemari kau." Nathan melepas seprai yang ia balut ketubuh Kasih hingga terlepas.
"Tuan saya bisa jelasin."
"Awww."
Kasih berlari saat Nathan mengejarnya, dia melindungi diri menggunakan benda-benda yang ada disitu, ia menaiki kasur sambil melompat-lompat ketika pria itu mengeluarkan tanduknya.
Nathan mengejar Kasih kemanapun dia berlari, Kasih melompat dari kasur ke lantai tepatnya diujung kaki kasur didekat sofa.
"Hahaha, dapat kau udik." Nathan memeluk Kasih dari belakang sambil menepuk jidatnya berulang kali.
Nathan berhenti dan melepaskan Kasih. "Kerjasama apa?" ia memegang tangan kiri Kasih.
Kasih menarik nafas sebentar sebelum berbicara. "Tadi siang Tuan Alrico menemui saya di Cafe tersebut, dia meminta saya untuk membintangi film di stasiun televisinya." Kasih menjaga jarak merentangkan kedua berputar was-was melindungi diri.
"Dan kau tidak meminta izin dan tidak memberi tahuku." Nathan menarik Kasih hingga mendekat.
"Awww."
Kasih berteriak saat Nathan menerkamnya mereka seperti anak kecil bermain candaan. Mereka berguling-guling dilantai saling menukar posisi. Kasih diatas,Nathan dibawah berulang kali melakukan hal tersebut sambil menggelitik tubuh satu sama lain.
Mereka duduk dilantai saling sepak-sepakan, jambak-menjambak dan saling menarik baju. Tak tersadar suara tawa keluar dari mulut mereka hingga suara rintihan kecil.
Abdi yang sedang melintas tak sengaja mendengar suara dari kamar Nathan, ia yang mulai merasa kepo berupaya mencari tahu dengan membuka pintu yang tak terkunci.
Setelah membuka pintu ia sedikit terkejut. "Kalian sedang apa?" Abdi berdiri di mulut pintu menyaksikan permainan pasutri itu.
__ADS_1
Kasih menatap Abdi. "Papa tolong Kasih." ia berharap papa mau menolongnya dari "cengkeraman Tuan petir.
"Hihihi, tidak apa-apa kok pap, kami hanya sedang berciuman dan kedatangan papa sudah menggangu suasana keromantisan kami."
Kasih terperangah mendengar penjelasan konyol dari pria itu, Nathan membekap mulut Kasih agar wanita itu tak mengadu kepada papa atas perlakuannya.
"Haha romantis sekali, papa sangat senang melihat kalian seperti ini, akhirnya kalian saling mencintai, papa minta maaf karena sudah menganggu, silahkan lanjutkan ciumannya."
Abdi merasa malu diri melihat tingkah kedua anaknya itu hingga ia memutuskan enyah, ia menggeleng kepala ketika sudah menjauh dari kamar.
Nathan tersenyum penuh kemenangan menatap Kasih usai menyakinkan bawah papa benar-benar hilang, mereka saling berpelukan.
"Hah mati kau malam ini udik." ia kembali menyerang Kasih.
Nathan mengangkat tubuh berdiri dari lantai, Kasih berdiri menggoyangkan tubuh yang sudah oleng, ia tak sanggup berdiri karena sudah nge-fly kemana-mana akibat ulah Nathan yang tak berhenti mengganggunya.
Nathan berlari mengambil dua buah guling di kasur. "Ayo kita berperang, aku Captain Amerika dan kau Thanos." ia melemparkan satu bantal guling untuk dijadikan senjata oleh Kasih.
"Tuan salah, seharusnya saya yang menjadi Captain Amerika dan Tuan sebagai Thanos, intinya kan anda yang jahat.
"Baiklah kau Captain Amerika dan aku Thanos." Mereka berdiri diatas kasur masing-masing membawa guling.
PERTEMPURAN DIMULAI
"Brukkk."
"Brukkk.'
Mereka saling memukul dan mendorong menggunakan guling, guling tadi rusak sampai mengeluarkan busa.
Kapas itu lengket dibagian kepala baju yang mereka pakai. Kamar yang tadinya indah kini berubah menjadi kapal pecah dengan barang yang berserakan dimana-mana.
Tak ad yang mu mengalah satupun, suara mereka memecah dikamar hingga terdengar. Suara mereka memecah dikamar sehingga terdengar menggema keruan Raja. Suara itu juga tak sampai terdengar oleh siapapun, Pak Tejo yang silap makanan. Sebenarnya Tuan, Tejo tidak percaya ..
BERSMBUNG
POV author.
__ADS_1
**guys maaf ya jika author update sangat lama hingga melampaui satu Minggu, author masih banyak pekerjaan selain menjadi penulis, seperti tugas keseharian. Jadi maaf ya jikalau update nya lama sekali Karena author disibukkan banyak tugas.
Semoga kalian dapat memaklumi kondisi author ya.