Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Ceraikan Aku


__ADS_3

MALAM HARI


Kasih duduk di meja rias memandang wajah sendiri dengan tatapan kosong, mata itu menampung air mata yang tak bisa di tahan lagi, sedari tadi ia memikirkan tentang hubungan tersembunyinya dengan Nathan ia bertekad ingin mengakhiri semua ini dari pada ia harus hidup ditengah-tengah kebencian orang, mau sampai kapan ia harus bersembunyi didalam keluarga itu.


Kamar sangat sunyi terasa sejuk dingin oleh AC yang terus menyala,cahaya kamar yang hanya diterangi oleh pantulan sinar lampu keadaan yang hening membuat suasana semakin haru.


Menjadi istri kedua memang bukanlah hal yang menyenangkan tatkala juga aku hanya seorang istri bayangan.


Aku merasa seperti seorang pelakor telah merebut suami orang,


tapi aku tidak merebutnya lagipula aku tidak mendapatkan apa-apa.


Harta,Cinta, Martabat, Kehormatan,figur seorang istri. Segalanya tidak aku dapatkan lalu untuk apa aku harus bertahan didalam Pernikahan main-mainan ini.


Hanya karena perasaanku yang dibutakan oleh cinta demi papa dan Billy demi mencari kesenangan untuk lepas dari status Pembantu dan menjadi istri seorang raja.


Aku akan memutuskan semuanya dan mengakhiri nya malam ini pada dasarnya hubungan pernikahan ini bukanlah karena cinta tapi paksaan, aku menderita dan Nathan juga menderita lalu bagaimana mana lagi dengan Sera yang berjuang hidup di ujung kematian tapi aku menggantikan perannya disini, baiklah aku akan mengakhiri nya sebelum terlambat.;; batin Kasih.


Kasih terbenam oleh Fikirannya sendiri jari-jemarinya bekerja memijat pangkal hidungnya, sebenarnya ia ragu akan rencananya apalagi dia sangat berat meninggalkan Nathan sebagai cinta pertama dan si buah hati yaitu Billy walaupun bukan anak kandungnya tapi ia tidak boleh begini terus.


Kini dia hanya menunggu Nathan yang tak tau berada dimana dan kapan akan pulang.


"Ceklek." (Suara pintu)


Nathan masuk kekamar membawa laptop dan beberapa buku lainnya, Kasih enggan menoleh dia tetap fokus kecermin memandang wajah hinanya.


Nathan menaruh barang-barang keatas kasur sambil memperhatikan Kasih yang mengabaikan dirinya.


Rasa penasaran mulai menghampirinya dimana Kasih sedang sesenggukan ia pun berdiri di belakang wanita itu, Kasih tersadar saat Nathan memegang kedua bahunya.


Kasih menatap kedua wajah mereka melalui pantulan cermin ia menilai memang benar wajah mereka tak serasi.

__ADS_1


"Kau kenapa.?" Nathan melihat wajah Kasih yang begitu semu tapi Kasih tak menjawab pertanyaan malah menggeleng.


"Ada apa,kenapa kau menangis? jika ada masalah ceritalah" ia melihat setetes air mata tumpah dari mata Kasih.


Sekali lagi Nathan bertanya namun tak ada jawaban yang ia keluarkan, mendengar ucapan Nathan yang menyuruhnya bercerita jika ada masalah ia pun beranjak dari duduk membalikkan badan, diambilnya tangan kanan Nathan lalu digenggam.


Kasih meneteskan air mata lalu menampungnya dengan kedua tangan Nathan. "Ceraikan aku." itulah kata yang ingin ia ucapkan.


Kasih mengangkat wajah memandang Nathan ia memaksakan diri untuk melakukan hal tersebut, pengakuannya berhasil membuat Nathan terpaku penuh pertanyaan.


"Kenapa.?" syok seperti orang yang mendapatkan berita buruk.


Kasih melepaskan tangan. "Tidak ada gunanya Pernikahan ini kalau aku sama sekali tidak ada gunanya buat kamu, aku bosan dengan semua ini aku bosan bersandiwara terus menerus demi kebohongan dan aku mohon sama kamu tolong kabulkan permintaanku satu ini.Hiks Hiks." ia bermohon kepada suaminya.


Air mata terus menetes membanjiri wajah cukup membuat ia lega, entah itu dorongan dari niat atau dorongan dari ego tapi itu sangat berat jika diucapkan kini juga sudah tidak ada kata Tuan Saya hanya ada kata Aku Kamu.


Tuturan itu tentu saja membuat Nathan kaget sampai ia tertawa kecil. "Hahaha,aku gak salah dengar nih, bukannya kamu selalu ingin bertahan menjadi istriku dan sekarang kamu menyerah begitu saja." ia membalik badan menghadap jendela dia semakin besar kepala.


Jawaban itu sudah bisa dipahami Nathan dengan sikap warasnya dia tau apa artinya karena dia bukan anak labil,dia mengambil nafas singkat lalu membalik badan.


"Yasudah kalau itu mau kau, sekarang juga bereskan barang-barangmu dan pakaianmu jangan membawa satu barangpun dari kamar ini dan pastikan tidak ada satu barangmu tertinggal disini setelah itu kita temui semua orang dan katakan ucapanmu tadi, kemudian aku akan menjatuhkan talak untukmu." kata-kata panjang yang tak ada rasa penyesalan.


Memang benar aku tidak ada gunanya untuk kamu Nathan,


aku fikir kamu akan mencegahku pergi atau sekiranya membujukku merayuku agar berhenti meminta cerai memelukku lalu mencinumku. Ternyata benar itu semua nihil.;; batin Kasih.


Dengan hati yang tersayat Kasih berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan segala barang-barangnya, terdapat banyak pakaian yang tersimpan didalam lemari super besar berpintu pintu,serta aksesoris yang terpajang rapi dan barang-barang lainnya milik Nathan dan Sera.


ia mengambil sebuah koper ungu bersama ransel besar didalam lemari kecil khusus untuknya sahaja, keputusan gila ini sudah ia pertimbangkan dengan mantap dia bisa pergi membawa sedikit kebahagiaan kenangan bersama keluarga Wing.


Dia juga tak perlu khawatir akan hidupnya dia akan menjadi janda perawan muda, dia bisa bekerja setelah mengontrak rumah dengan uang yang diberikan Dilan senilai 10 juta, jumlah itu bisa menjamin hidupnya selama 1 bulan apalagi dia orang yang sangat irit.

__ADS_1


Diapun keluar dari ruang ganti menenteng koper dan ransel, Nathan yang tengah duduk di sisi tempat tidur merasa kaget melihat tindakan Kasih yang tak main-main.


Ya ampun dia beneran mau pergi,ku mohon jangan pergi tetaplah disini jangan tinggalkan aku, aaahhh Nathan apa yang kau ucapkan tadi kenapa kau mengusirnya.;; batin Nathan.


ia berdiri saat Kasih mendekat.


"Ayo!"


Kasih menarik tangan Nathan untuk keluar dari kamar mereka berjalan beriringan, jujur saja ada sedikit kesedihan di hati Nathan separuh jiwanya melarang Kasih pergi, mereka menapaki anak tangga dengan serentak wajah yang tak lagi dapat disembunyikan kian tampil sesuai ekspektasi.


Semua orang tampak bahagia duduk di ruang tamu termasuk papa dan Billy suara mereka memecah tak berhenti tertawa, mungkin setelah mendengar keputusannya mereka akan sedih dan sebagian lagi akan berpesta kesenangan, pelan-pelan dengan rasa malu Kasih mendekat.


Abdi sudah melihat Kasih mendekat sebelum ia tersadar. "Nak kalian mau kemana? kenapa membawa koper dan tas.?" dua pertanyaan ia lontarkan untuk satu orang.


Semua orang berdiri menatap Kasih dan Nathan termasuk tiga penyihir yang mulai kepo,ia menatap wajah Nathan meminta bantuan tetapi bingung.


Nenek dan Abdi maju mendekati dua pasutri itu meminta jawaban yang belum didapat.


"Nak kenapa diam,Nathan kalian mau pergi kemana.?" Abdi bertanya sekali lagi.


Tiga penyihir itu tak mau banyak tanya mereka lebih ingin menyaksikan saja apa yang akan terjadi, jika sudah tau pasti mereka duluan yang akan mengusir si pembantu udik.


"Hey kenapa kalian diam saja, ayo jawab pertanyaan papa.?" Abdi bertanya untuk ketiga kalinya.


Mata ke mata saling pandang meminta jawaban berharap ada yang tau, Kasih menoleh Nathan meminta bantuan namun apa daya Nathan hanya diam menunggu pengakuan keluar dari mulut siudik, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara dia menghirup udara sekali mulutnya ia paksa untuk bergerak, ingin sekali ia kembali kekamar tapi dia malu.


Ayo Kasih ceritalah kalau kau ingin berpisah, tunggu apa lagi aku yakin kau tidak beranikan, apa kau membutuhkan bantuan ku, hah.;; batin Nathan.


Nathan berharap harap sendiri melihat Kasih yang tak kunjung bicara dia semakin yakin kalau Kasih akan mengembalikan fakta dan membatalkan perceraian itu.


"Kami akan bercerai." dengan segenap jiwa raganya dia memberanikan diri mengucap kata itu sehingga mengagetkan semua orang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2