Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Pemberian Ponsel Baru


__ADS_3

Nathan terus menunggu ia ingin pulang saja tapi sebentar-sebentar niatnya terkurung dan seperti ada rasa yang menahannya untuk menunggu jadi Nathan putuskan sekali lagi tunggu sebentar beberapa menit lagi matanya mulai terpejam-pejam mulai mengantuk.


20 menit berlalu Kasih keluar dari restoran bersama Sari dan para karyawan lainnya mereka berpisah di depan sana,Nathan merasa lega saat Kasih sudah keluar artinya ia tak perlu menunggu lagi Kasih berjalan melenggang melompat-lompat memijak bayangannya yang gelap di jalanan,Nathan merasa tak sabar melihat Kasih berjalan santai padahal ia sudah menunggu dalam waktu mencapai 1 jam.


Karena mobil Nathan terparkir tak menggunakan lampu kasih hanya melewati mobilnya,Nathan jengkel dirinya di lewatkan ia menyalakan mobil lalu di jalankan pelan-pelan Kasih tak menyadari bahwa mobil tersebut telah mengikuti nya.


"Udik ssttt ssttt." Nathan memanggil seperti orang berbisik dari belakang tentu saja Kasih tak mendengar. "Hey udik,Ssttt ssttt." sekali lagi Nathan memanggil ia mengeluarkan kepala dari jendela namun Kasih tak mendengar malah semakin melajukan langkah.


"Dasar si udik tuli." Nathan bergumam sendiri ia menyalakan lampu mobil lalu melajukan untuk mendekati Kasih.


Ten,Ten.!


Nathan menekan klakson sekuat mungkin dan berulang kali hingga Kasih terkejut mendengar suara itu Ia berhenti saat mobil itu berhenti tepat di hadapannya Kasih lebih terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam mobil.


"Tu,Tuan muda." ia melongo terbata Nathan meluruskan kembali mobilnya dan berbicara. "Masuklah." Ia tak mau menatap Kasih namun Kasih tak bergerak saat ia perintah. "Hey udik masuk." Nathan berteriak spontan Kasih langsung tersadar ia bertanya kembali karena tak mendengar saat di jawab ia pun masuk duduk di sebelah kemudi.


Saat sudah masuk Kasih terduduk diam menunduk ia masih takut berhadapan dengan suaminya tapi ia merasa heran tumben sekali pria itu menjemputnya,Kasih memegang dada dan berharap semoga tidak ada masalah ataupun akan memarahinya lagi karena sungguh ia sangat parno.


Suasana sangat hening tak ada yang berbicara Kasih fokus melihat jalan saat mobil itu berjalan dengan kecepatan standar.


Nathan melirik Kasih sesekali lalu ia berdehem mengisi keheningan.


"Maaf." Kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya Kasih menoleh kearah Nathan pria itu ikut menolehnya. "Tuan bilang apa.?" Kasih mungkin tak mendengar jadi ia bertanya lagi.

__ADS_1


Nathan menciutkan bibirnya karena gadis itu benar-benar tak mendengar lalu berbicara. "Tidak ada, Aku hanya bernyanyi saja." mengalihkan topik tapi memang benar niatnya tadi ingin minta maaf sekaligus memberikan ponsel itu sebagai tanda permintaan maaf nya.


Kasih tersenyum ia diam kembali menatap jalanan sekilas tadi dia mendengar bahwa Nathan mengatakan kata maaf,Kasih menyimpulkan kalau ia salah dengar mungkin memang benar pria itu sedang bernyanyi.


Nathan fokus menyetir ia belum mau memberikan ponsel itu sekarang karena dilihatnya Kasih sedang kelelahan jadi besok saja lebih baik.


PAGI HARI


Kasih sudah bersiap memakai seragam kerja seragam untuk mencari uang seragam yang menjadi kebanggaan tersendiri,ia menabur bedak my baby menggunakan tangan kewajahannya lalu menguncir rambut berbentuk lipan belah dua di kepala tak lupa mengilap kacamata agar terlihat jernih sebelum di pakai Ia bangga akan dirinya sendiri saat berkaca di depan cermin.


Nathan baru keluar dari ruang ganti setelah bersiap mengenakan setelan pakaian di tubuh,ia mengambil sebuah bag merah kemarin dari atas meja lampu sepertinya Kasih belum menyentuh benda itu apa mungkin juga Kasih takut ingin menyentuhnya karena mengingat sebuah larangan keras saat malam pertama.


Nathan menentengnya berjalan mendekati meja rias. "Ini." ia menyodorkan itu saat sudah berdiri di samping Kasih.


Apa benar itu untuknya Kasih pun mengambil sebuah kotak dari dalam bag sekejap ia tatap kotak tersebut ia melihat gambar ponsel di permukaan kotak yang Ia sudah menebak isinya itu pasti Ponsel lalu ia buka lagi plastik bungkusan kotak.


"Huaaaahhhh." Kasih terkejut takjub melihat isinya sebuah ponsel bewarna gold.


Kasih mencabut ponsel itu dari kotakanya ia melihat setiap sisi ponsel sungguh elegan, Nathan tersenyum melirik Kasih yang melanga-melongo.


"In,ini untuk saya Tuan.?" tangannya gemetaran mengangkat ponsel itu.


"Emm." Nathan mengangguk seperti orang tak ikhlas. "Terimakasih Tuan,terimakasih." Kasih terlihat gembira ria melihat ponsel baru.

__ADS_1


"Itu ponselnya sangat mahal jadi kau harus berhati-hati menggunakannya jangan sampai benda itu lecet dan jangan coba-coba berfikiran untuk menjualnya lalu uangnya kau jadikan biayaya hidupmu setelah kabur dari rumah." menitip pesan yang sudah bisa ia gambarkan.


Kasih menelan mendengar pesan itu ia mendapatkan sebuah benda kecil bewarna merah bercampur putih di dalam bag. "Tuan ini apa.?" ia bertanya saat Nathan setengah melangkah keluar.


Nathan memutar badan melangkah kearah Kasih. "Ini kartu perdana salah satu perlengkap terpenting untuk ponsel." Kasih tak mengerti jadi hanya mengangguk Nathan tau gadis itu sangat udik sudah bisa menebak jadi dia mengambil ponsel dan kartu itu agar bisa digunakan.


Nathan memasukkan kartu kedalam lubang kecil di sisi ponsel sudah terpasang ia mengajarkan cara menggunakannya kepada si udik itu,beberapa fitur ia tes sebagai contoh agar Kasih bisa menggunakannya.


"Kau sudah mengerti kan.?" ia menyerahkan kembali ponsel nya Kasih mengangguk merasa mengerti padahal dari penjelasan Nathan belum seluruhnya ia fahami.


Nathan melangkah berjalan keluar Kasih menyimpan ponsel kedalam tas pelan-pelan takut lecet jika lecet bisa-bisa Nathan menghajarnya,ia bahagia sekali akhirnya memiliki ponsel dan yang hebatnya ponsel itu sangat mahal dan jika di jual dengan uang ponsel itu ia bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun.


_______


Semua orang sudah rapi berkumpul di ruang makan mereka mengucapkan kata sapaan pagi,tiga penyihir merasa tak seperti Manekin hidup saat melihat Kasih ada di hadapan, Kasih dan Nathan duduk di tempat biasa ia menaruh tas kunonya ke kursi kosong sebelah kanan ia berdiri menyendok makanan untuk Nathan dahulu baru untuknya wajahnya terlihat begitu sumringah.


"Kasih apa Nathan sudah memberikan ponsel untukmu.?" Abdi ingin memastikan apakah Nathan benar-benar melaksanakan perintahnya.


Kasih duduk saat semua makanan sudah tersedia. "Sudah pa." menjawab kesenangan bahkan ia sudah tak malu-malu lagi sekarang.


"Kemarilah nak,kamu harus menyimpan nomor keluarga jadi jika kamu kenapa-kenapa di luar sana kamu bisa hubungi salah satu nomor siapapun."


Kasih berjalan mendekati Abdi di ujung meja untuk mengikuti apa perintah papa Kasih mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, Abdi merasa senang jika Kasih bisa memiliki ponsel.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2