Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Pertemuan


__ADS_3

Rapat selesai, Nathan dan Rehan kembali menuju ruangan, ponsel Rehan terus saja berdering hingga ia merasa risih. Belum sampai masuk ke dalam. Rehan meminta izin ingin pergi sebentar pada Nathan.


"Tuan muda, saya izin keluar sebentar ya." Rehan berhenti di depan tengah pintu tapi Nathan sudah melangkah melewati garis pintu.


Nathan memutar tubuh menatap Rehan yang ketinggalan beberapa langkah Darinya. "Mau kemana?"


" Ada urusan yang harus saya bereskan, Tuan." jawab Rehan dengan menunduk.


"Pergilah!" Nathan memutar tubuh sambil mengayunkan tangan tanda mengusir, baru ia maju dalam dua langkah, ia berhenti lagi memutar balik menatap Rehan yang baru mau pergi. "Re, kalau sudah selesai belikan aku burger king jangan pakai keju, jangan pakai saus, jangan pakai sayur-sayuran, dagingnya jangan yang sapi, ganti saja dengan ayam."


Mendengar perintah itu Rehan hanya mengangguk, lalu kembali berjalan keluar. Nathan beristirahat sejenak tidur-tiduran di sofa merilekskan tubuh dan fikiran, dia meraih ponsel di saku celana lalu ia hidupkan untuk menelpon Pak Tejo.


"Selamat siang Tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" kata sambutan dari pak Tejo yang ada di sebrang telpon.


"Dimana Kasih?"


"Nyonya muda baru saja pergi bersama Nenek Tuan."


"Pergi kemana?"


"Saya tidak tau Tuan."


"Oke yasudahlah, lanjutkan pekerjaanmu."

__ADS_1


Tanpa ingin bertanya lebih lanjut Nathan memutuskan panggilan, ia menatap sebentar layar ponsel yang berisi nomor pak Tejo beserta profil log panggilan. Pak Tejo yang berada di ruang outdoor tengah bersih-bersih melakukan hal yang sama dengan Nathan, ia menatap layar ponsel yang berisikan sama dengan Nathan.


Bukankah dia sedang sakit? Kenapa dia pergi? pasti dia mau caper lagi sama papa dan ujung-ujungnya aku yang disalahkan, tapi bagaimana dengan keadaannya sekarang? batin Nathan.


"Ahh bodo amat lah, dia itu kan wanita Hitler super kuat, peduli amat dengan keadaannya."


Nathan menaruh ponsel keatas meja Lalu memiringkan tubuh menghadap dinding sofa, ia memejamkan mata ingin tidur sebentar sampai Rehan kembali datang membawa burger pesannya.


PERTEMUAN KASIH DAN SERA


Mobil yang ditumpangi Nenek dan Kasih sudah tiba di rumah sakit, mereka berjalan memasuki lobby RS.


Kasih menatap sekeliling sisi gedung, ia teringat tempat itu adalah tempat dia dirawat saat kecelakaan tadi malam.


Nenek menarik tangan Kasih masuk ke dalam lift, didalam sudah ada beberapa orang. Nenek menekan tombol no 09 ingin naik kesana.


Kasih hanya berdiam diri melirik sekeliling, karena ini adalah pertama kalinya Kasih menaiki lift, tubuhnya serasa tergoncang agak sedikit mabuk, ada rasa yang ingin ia muntahkan namun ia tahan dari pada malu ketahuan udik, sebaiknya ia menahan diri dan memegang besi di sisi lift.


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka tiba dilantai yang dituju, saat Kasih memijak lantai melewati garis pintu lift. Tubuhnya goyang hampir mau tumbang, ia pun menarik tangan Nenek, beruntung ia belum sempat tumbang. Kasih menenangkan dadanya sebentar lanjut berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mereka belok ke lorong sebelah kiri, disana banyak orang-orang sakit serta beberapa suster yang lalu lalang, ruangan dari kelas I hingga kelas III berjejeran di setiap sudut akhirnya mereka tiba di ruangan paling ujung.


Kasih menoleh keatas pintu yang tertulis ICU, nenek menekan sebuah tombol di pintu ruang ICU, disana juga ada dua Bodyguard yang sedang bertugas. Sepertinya ruangan itu dijaga dengan ketat, Kasih melihat Nenek dan berfikir, kenapa ruangan ini di beri kode sandi sebagai kunci agar bisa masuk? Apa orang tidak boleh sembarang masuk? Nenek juga mengawasi gerak-gerik orang yang berada disekitar situ agar tak melihat sandi yang ia masukkan, bahkan ia menutupi tombol kode menggunakan tangan kiri dari pandangan Kasih.

__ADS_1


Log-in berhasil, Nenek mengajak Kasih masuk lalu mengakses pintu itu agar tertutup kembali, saat Kasih baru melangkah masuk ia terkejut melihat suasana ruang ICU yang bercap VVIP sungguh indah luar biasa dalamnya. Kasih tak berhenti terbengong menatap seluruh isi ruangan, apa Sera begitu berharga hingga di beri fasilitas super fantastis.


Ternyata di dalam ruangan itu terdapat satu ruangan lagi yang terbuat dari kaca tebal, berbentuk kotak transparan. Nenek mengajak kasih masuk kedalamnya, saat sudah masuk terdapat tiga dokter spesialis sedang mengecek keadaan seorang pasien yang tergeletak di atas tempat tidur, ruangan itu sangat dingin bahkan para medis menggunakan jaket saat bertugas menangani pasien. Kasih merasa kedinginan lalu nenek memberinya sebuah jaket yang sudah tersedia disitu, suhu ruangan itu dingin sekali.


"Selamat siang Nenek!" Para dokter bergantian menyapa nenek, mereka tak memanggil nenek dengan sebutan nama tapi dengan sebutan nenek, sepertinya mereka sudah akrab.


Kasih hanya fokus menatap wanita yang tengah terbaring di situ, salah satu dokter menatap Kasih penuh pertanyaan. " Siapa wanita itu nek?" Dokter memandang nenek meminta Jawaban saat menunjuk Kasih.


"Dia istri kedua Nathan." saat nenek memperkenalkan Kasih, mereka merasa terkejut tak percaya.


"Apa?! Istri kedua? Tapi kenapa Nathan tidak pernah cerita, dan kapan menikahnya?" ketiga dokter itu menimpa nenek dengan pertanyaan yang harus di jawab.


"Ini rahasia, kami memang sengaja menutupi pernikahan mereka, kalian taulah. Keluarga Wing sangat terkenal di seluruh dunia, jika berita itu tersebar maka resiko nya sangat besar." dengan menjelaskan begitu saja pasti para dokter sudah mengerti.


"Oh begitu, maaf nek. Kami tidak akan membocorkan rahasia keluarga Wing." salah satu dokter berwajah muda tersenyum canda menatap nenek, dia namanya Arnold, salah satu teman dekat Nathan sejak masa SD. Arnold juga sangat dekat dengan keluarga Wing.


Nenek kembali menarik tangan Kasih agar mendekat dengannya. "Dia namanya Kasih dan Kasih ini namanya dokter Arnold." nenek juga memperkenalkan dua dokter lainnya.


"Hay!"


Mereka pun saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing, Arnold menatap Kasih dari atas hingga bawah, ia merasa heran sendiri memikirkan Nathan. Kenapa temannya itu memiliki selera yang sangat rendah, wanita yang jauh berbeda dari Sera, lalu ia mengingat bahwa Nathan pernah menyampaikan sumpah Kramat kepada Arnold bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi sampai mati sekalipun, dan apa ini. Kenapa dia memilih cewek kampungan, kolot, sebagai pengganti Sera. Arnold ingin sekali tertawa melihat Kasih, jiwa julidnya langsung meronta-ronta namun ia tahan, Arnold itu memiliki sifat yang sopan, ia bisa menghargai sesama manusia walaupun sedikit berbeda dari fisik, kalangan, dan nasib, tidak seperti Nathan memiliki sifat ceplas-ceplos tidak bisa menghargai sesama manusia dan tidak bisa menatap baik semua kalangan, ia adalah orang yang suka memandang sebelah mata.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2