
Kasih sudah bersiap rapi mengenakan pakaian sehari-hari sepotong rok kembang bewarna hijau serta baju sepadan,gaya udik itu mungkin tak akan pernah lepas darinya setidaknya ia sudah menikah dan tidak takut menjadi perawan tua seperti Fikirannya disaat remaja.
Ia berputar-putar di depan cermin memandangi diri sendiri dan menilainya sudah sempurna, Dilan sudah berulang-kali menelponnya untuk mengajak bertemu ditempat kemarin.
Nathan baru bersiap keluar dari ruang ganti memakai pakaian kerja seperti biasa ia berdiri di sebelah sofa menatap Kasih, ia tak bisa melupakan khayalannya kemarin malam ingatan itu selalu merasuki pikirannya hingga kini.
Nathan tersenyum melihat siudik tengah bergaya di depan cermin merasa sok cantik.
Kasih berbalik badan ketika melihat Nathan berdiri melalui pantulan kaca ia berhenti berputar lalu berjalan menuju sofa, setibanya di sofa ia langsung mengambil tas serta barang-barang lainnya sedangkan Nathan seperti patung menatapnya.
"Tuan kenapa.?" Kasih tak bisa menahan rasa penasarannya saat menyadari ada yang salah dengan Tuan petir sejak tadi malam.
Nathan membuang muka disaat Kasih memperhatikan dirinya. "Tidak ada.!" ia berjalan menuju meja lampu untuk mengambil jam tangan.
Kasih memasang tas lalu melangkah menuju pintu Nathan berjalan melewatinya keluar pintu, Kasih menggeleng kepala melihat Nathan semakin aneh dengan tingkahnya.
Mereka turun bersamaan melewati anak tangga Kasih berhenti menarik tangan Nathan ingin mengajukan pertanyaan prihal permasalahan syuting yang belum di persetujuin oleh Nathan.
"Tuan tidak marah jika saya yang membintangi iklan itu.?" Kasih ikhlas jika Nathan melarangnya untuk melakukan hal tersebut lalu Nathan menjawab. "Aku tidak peduli.!" jawabannya ketus dengan pandangan nanar.
Nathan turun duluan meninggalkan Kasih yang masih beridiri di tengah anak tangga menerima jawaban cueknya,Kasih dengan juga bila memang benar Tuan petir tidak marah dan tidak melarangnya.
Ponselnya berbunyi lagi Dilan sudah lama menunggunya di taman sana kasian bila dibiarkan lama-lama bisa-bisa nanti dia marah.
******
Kasih sudah berada di studio syuting tadi Dilan menjemputnya ditempat yang di janjikan, syuting diadakan di gedung Klan TVE sekarang ia berada di ruang Makeup para MUA sibuk mendadani dirinya didepan cermin yang dipenuhi lampu walau sudah didandanin jiwa udik dan kampungannya masih tetap terlihat,
__ADS_1
Kasih tak mau merubah tampilan ia mau menjadi diri sendiri dengan style udik cupu kolot dan kampungan, biarlah orang membully dirinya karena bully adalah sesuatu ajian kepercayaan diri baginya.
Ia akan membintangi iklan minuman yang di produksi dari perusahaan suaminya sendiri selama dua hari,
ia merasa sangat risih dengan pekerjaan MUA sedari tadi melakukan hal yang paling dibencinya,Kasih berharap mereka berhenti melukis wajah natural miliknya.
Dilan masuk kedalam ruang Makeup untuk menjemput Kasih,Dilan berjalan mendekati Kasih yang tengah cemberut didepan meja rias.
"Kasih,apa kamu sudah siap.?" ia berbicara pelan seraya membungkuk meminta jawaban.
Kasih menoleh sambil merem melek akibat kuas-kuas makeup menggelitik wajahnya. "Siap Tuan.!" ia menjawab yakin.
Selesai Makeup Kasih berdiri dibantu oleh Dilan mereka keluar ruang itu secara beriringan,Kasih menatap wajah Nathan dan Rehan ketika melewati mereka kelihatannya Nathan sangat emosi memandang tangan Dilan yang tak lepas memegang tangannya.
Beberapa kru dan staf tak bisa menahan tawa ketika melihat penampilan Kasih yang begitu buruk namun begitu mereka tidak bisa tertawa ataupun membully karena bisa saja mereka akan kena teguran,Kasih tau itu apalagi disaat diruang makeup tadi tak satu suara saja yang ia dengar bahkan MUA yang merias dirinya saja tak habis-habis bergosip kepada rekan tim kerja telah menceritakan dirinya.
Satu staf lagi mengarahkan Kasih untuk beralih ke layar pemotretan untuk melakukan syuting,ia berdiri didepan kamera ditatap banyak orang dari laki-laki maupun perempuan termasuk dua orang laki-laki itu juga menatap serius dirinya,
Dilan yang berperan sebagai sutradara standby ditempat utama sebagai pemandu syuting, seorang bintang wanita ternama menjadi rekan syuting iklan itu sangat ramah kepadanya,dia sudah menghapal semua narasi yang tercetak di kertas putih untuk diungkapkan sebagai salah satu pondasi pembuatan iklan.
Diseberang sana Rehan memberikan senyuman manis untuk Kasih lain dengan Nathan yang tak bisa senyum sedikit saja.
Syuting dimulai.
"1 2 3,kamera rolling eksyen."
Dilan fokus melihat sebuah TV kecil hasil video dan kamera yang lain bekerja menangkap aktivitas yang dilakukan oleh Kasih,dengan lihai semua dialog yang di ajarkan Dilan bisa ia ucapkan dengan lancar saat memperkenalkan produk minuman itu,Dilan merasa senang tidak sia-sia ia mengajarkan Kasih seharian berdialog walaupun emosinya membara kala menghabiskan tenaga melatih wanita seudik Kasih.
__ADS_1
Kasih berkomat-kamit menjelaskan betapa enaknya minuman tersebut jika dikonsumsi bila tenggorokan kering,jika benar menjadi seorang bintang bukanlah hal yang mudah jadi untuk apa ia harus terlihat susah kalau menjadi bintang iklan sangat gampang baginya.
"Oke cut." Dilan berteriak memotong syuting dengan suaranya yang menggema.
"Prok prok." semua orang yang ada menyaksikan memberikan tepuk tangan untuk Kasih termasuk juga Nathan.
Syuting selesai ia masih berdiri di depan layar hijau menunggu aba-aba para kru sibuk membetulkan video hasil tangkapan mereka tadi,Nathan tersenyum melihat Kasih ditambah fantasi yang tak hilang-hilang dari tadi malam membuat ia seperti orang tak waras.
Kasih berjalan menuju keberadaan Dilan pria itu tampak sibuk dengan kamera Kasih berdiri di samping Dilan,
Dilan berdiri saat melihat Kasih.
"Kasih kamu sangat luar biasa.!" ia memberikan pujian dengan tanda dua jempol.
"Terimakasih Tuan." Kasih tersipu malu.
Masih ada tahap pasca produksi selanjutnya nanti mungkin akan selesai besok,para kru kembali sibuk membenarkan hasil rekaman dan memperbaiki setiap sisi pergerakan yang salah.
Dibelakang kamera situ Kasih berbincang dengan Dilan dan pak produser yakni Tuan Alrico serta beberapa rekan lainnya, sekali lagi mereka memberikan banyak support untuknya walaupun tidak sesempurna seperti bintang papan atas tapi setidaknya usaha Kasih tak begitu buruk.
Nathan berjalan mendekati perkumpulan orang itu Rehan pun ikut dari belakang, setibanya disana Nathan langsung berdiri diantara Kasih dan Dilan dia menghalangi jarak mereka dengan dirinya jujur dia sangat panas melihat Dilan mendekati istri udiknya.
"Jangan selingkuh." Nathan sedikit membungkuk badan membisikkan kata itu kekuping Kasih.
Kasih menatap wajah Nathan penuh makna tanpa tau apa maksud dari tudingan itu."Siapa yang selingkuh Tuan.?" ia meminta jawaban dengan melihat wajah Nathan yang penuh kecurigaan.
"Jangan melawan dan jangan kelewatan batas aku tidak suka itu.!" usai mengatakan kata terakhir Nathan mengangkat wajah menatap Dilan tak lupa ia memberikan senyum hangat.
__ADS_1
Kasih mengangguk tak memberikan respon apapun dia tak mengerti apa maksud suaminya,dia lebih fokus ke layar kamera melihat hasil di lain itu Nathan masih berdiri di sampingnya untuk berjaga-jaga.
BERSAMBUNG