
Pak Tejo dan empat pelayan lainnya tengah sibuk membereskan kamar Nathan, kamar itu sudah berantakan seperti habis di guncang gempa sekuat 1000,1000 Skala Richter.
Nathan dan Kasih merasa tenang-tenang saja tak perduli dengan kondisi kamar, kini mereka sudah turun menapaki tangga menuju ruang makan. Wajah Nathan sudah tak bonyok lagi karena sudah diolesi Kasih dengan beberapa tumpuk salep.
Mereka duduk bersebelahan papa tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi malam, Kasih juga sudah tampak rapi dikarenakan hari ini dia akan mulai syuting film, berhubung Nathan juga sudah mengizinkan dia syuting membintangi film itu.
"Kasih kamu mau kemana nak?" Abdi melihat ada sesuatu yang berbeda dengan diri Kasih, keceriaan yang tak terlihat biasanya.
Sambil mengaduk makanan Kasih menjawab. "Hari ini Kasih mulai syuting film pap di Klan TVE, Kasih jadi pemeran utamanya." ia terlalu senang dan percaya diri ketika menjawab.
"Wah wah putri papa semakin naik daun saja, sudah main film lagi dan lebih hebatnya menjadi seorang pemeran utama." Abdi memuji dengan rasa bangga.
Kasih langsung merasa terpuji. "Papa tolong doain semoga Kasih lancar syutingnya ya." wajahnya tersenyum kala melihat papa, dia juga tak lupa meminta restu.
"Pasti papa akan mendoakan yang terbaik untuk putriku tercinta." Abdi memberikan senyuman penuh makna.
Mereka bertiga termasuk Nenek terlihat bahagia mendukung Kasih, Nathan juga merasa senang tapi tak diperlihatkan diwajahnya.
Lain halnya dengan tiga penyihir yang semakin merasa dengki melihat Kasih naik daun, mereka berfikir keras bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan Pembantu sialan tersebut.
Selesai makan ia berangkat bekerja, sebelum itu dia pamitan dulu dengan Nenek dan papa tak lupa ia meninggalkan kiss morning untuk baby tercinta yakni Billy.
***
Kasih berjalan menuju Simpang, disana sudah ada Dilan yang tengah menunggunya.
Pria itu berdiri disamping mobil dipinggiran trotoar dengan gaya khas super kece.
Melihat Dilan yang sudah menunggunya ia pun berlari.
"Maaf Tuan saya terlambat." Kasih ngos-ngosan merasakan capek.
"It's oke." ia melepaskan badan dari senderan mobil.
Kasih menarik nafas menyusunnya dengan rapi, Dilan membuka pintu mobil untuk putri udik.
__ADS_1
Pria itu sangat kelihatan tampan, dia sangat stylish sepertinya dia anak yang suka mengikuti perkembangan zaman dan gaya internasional.
Nathan dan Rehan berada di dalam mobil membuntuti mobil Dilan.
"Rehan, kau benci dengan Dilan kan? Nathan menatap wajah Rehan yang tentunya akan menjawab iya.
Rehan hanya tersenyum seram tatkala mengeryit bibir, ia tak perlu menjawab karena tentunya Tuan muda sudah tau jawabannya.
"Hah, sudah kutebak." Nathan merasa senang mendengar jawaban kosong itu. "Kalau begitu ayo tabrak mobilnya." ia menyambung ucapannya.
Jelas saja Rehan kaget mendengar perintah konyol dari Nathan, Rehan menggeleng cepat tak mau mengikuti perintah Nathan dan malah memelankan mobil.
Nathan merasakan bahwa Rehan mengabaikan perintahnya, bisa dirasakan bahwa mobilnya berjalan sangat lambat bukan semakin laju.
"Hey Rehan kenapa kau lambat sekali! Ayo tabrak mobil Dilan." ia meninggikan suara agar Rehan takut lalu menurut.
"Tuan jika kita menabrak mobilnya itu sangat bahaya, didalam sana juga ada nyonya muda." Rehan tak habis fikir dengan sikap gegabah milik Nathan, bukankah perintahnya sama saja dengan rencana pembunuhan.
Sejenak Nathan diam memikirkan larangan Rehan, disana ada siudik jika ditabrak maka dia akan terluka tapi jika mengingat dia selingkuh itu lebih membuat ia marah.
Tadinya Nathan membatalkan perintah untuk menabrak mobil Dilan tapi disaat mengingat kepengkhianatan udik, maka tak jadi dibatalkan.
Nathan memaksakan kehendaknya menuntut Rehan agar menabrak mobil Dilan, tepat di lalu lintas Rehan memilih membelokkan mobil kekanan jalan menuju jalur kearah perusahaan Wing.
Sedangkan mobil Dilan sudah lurus melaju.
"Rehan kenapa belok?" Nathan membentak keras Sekretarisnya yang tak mau menurut, ia memutar kepala melihat luar mobil kearah mobil Dilan yang sudah melaju.
"Tuan untuk apa mengikuti mereka." Rehan pula yang mengeraskan suara membentak.
"Rehan aku tak percaya kalau mereka mau syuting, pasti mereka mau pergi ke hotel untuk berselingkuh aku yakin itu, ayo tunggu apa lagi cepat putar arah." Nathan menangkap kemudi mobil untuk memutar balik arah.
"Anda tau darimana kalau mereka mau berselingkuh?" Rehan berupaya mengendalikan kemudi.
"Rehan firasat seorang suami tidak pernah salah, aku yakin 1000% mereka itu berselingkuh mereka mempunyai hubungan gelap." Nathan semakin keras tak dapat mengendalikan diri.
__ADS_1
Ya Tuhan kenapa aku punya majikan gila seperti dia, dia ini selalu saja menyusahkan diriku. Apa sebaiknya aku cekik saja dia disini ya, Tidak tidak nanti aku bisa masuk penjara lalu menjadi seorang tersangka lalu jika aku mati aku pasti akan masuk neraka. Oke Rehan tenangkan dirimu dan ikuti saja kemauan sigila ini. batin Rehan. ia sangat lelah melihat perilaku buruk Nathan.
Mobil terhenti di tengah jalan disaat Rehan menginjak rem, Nathan nampaknya semakin marah.
"Yasudah Tuan tenanglah kita ikuti mereka, lalu kita pergoki mereka kalau memang sedang berselingkuh biar saya yang akan menggorok leher mereka berdua." Rehan menenangkan Nathan seraya mendorong tubuhnya kekursi sebelah agar bisa diam.
"Ya sudah ayo cepat!" Nathan merenggangkan dasi sambil marah-marah.
Dengan berat hati Rehan memutar arah mengikuti kemauan Nathan, ia sangat jengkel melihat tingkah laku Nathan yang sudah kelewatan.
Katanya tidak perduli tapi baru melihat Kasih pergi dengan Dilan saja dia sudah terbakar.
Alhasil mereka mengejar mobil Dilan untung saja mobilnya belum tertinggal jauh dikarenakan Dilan sangat santai membawa kendaraan.
Kasih sekilas melihat kaca spion yang ada di pintu, ia tak sengaja melihat mobil yang biasa ditumpangi Tuan petir. Dia berfikir kalau itu mobil Tuan petir tapi ia tak begitu yakin bahwa bukan Nathan saja yang mempunyai mobil semewah itu dimuka bumi ini.
Dia pun mengabaikannya menyangkal kalau itu mobil orang lain.
"Kasih apa kamu sudah membaca dan mempelajari buku yang aku berikan kemarin?" Dilan bertanya sembari memberikan sedikit lirikan.
Buku apa?
Aaa buku cinta dan resep kecantikan, Ishh buat apa aku baca toh sama sekali tidak penting untuk hidupku.
Untuk sekedar membaca judulnya saja sudah memuakkan apalagi baca isinya, males banget sih. batin Kasih.
"Sudah Tuan, saya sudah baca buku kecantikan sekitar dua bab."
Ia terpaksa berbohong kalau dia jujur belum membaca sedikitpun isi buku kemungkinan besar Dilan akan marah, pria itu kan sudah tulus memberikan dia buku untuk dipelajari.
"Baguslah, Oia sudah mempelajari apa saja." jikalau memang Kasih benar membaca buku itu ia pun tetap akan bertanya, ia juga mau mendengar sesuatu yang Kasih dapatkan saat mempelajari buku kecantikannya.
"Hah."
Kasih spontan gelagapan harus menjawab apa, dia fikir Dilan tidak akan mempertanyakan hal yang tak penting itu lebih dalam.
__ADS_1
Rupanya ia memberikan pertanyaan yang sangat susah dijawab.
BERSAMBUNG