
Acara sarapan bareng telah selesai kini mereka duduk bersendawa masing-masing habis mengunyah makanan membuat perut sedikit membuncit,Yura merogoh tas yang berada di pangkuannya Yura sangat suntuk berada lama-lama di tengah keramaian itu.
"Yura Dilan,ada sesuatu yang ingin kami sampaikan." Tama menatap dua orang yang ia sebut.
Yura menaruh ponsel kembali ke dalam tas. "mau ngomong apa.?" Kepo juga ingin tau.
" Kalian kan sudah kenal lama dan kami juga sudah kenal lama." maksudnya antara kedua orang tua Yura dan Dilan. "Jadi rencananya kami ingin menjodohkan Kalian dan kami semua sudah sepakat kok." sepakat tak sepakat belum tentu di terima oleh Yura..
Deg' Yura seakan terkejut mendengar permintaan aneh dari papanya,sedangkan Dilan lebih terlihat santai mungkin dia senang dengan perjodohan tanpa kepastian.
"Gimana nak,? Kamu mau kan.?" Mira menatap Yura dari sebrang meja.
5 Pasang mata tertuju padanya untuk meminta jawaban.Iya setuju.tapi mana mungkin Yura dapat menjawab semudah itu satu persatu mimik wajah di lihat nya.Apa keluarga Dilan bisa menerima ia apa adanya terutama Dilan disini ia sudah menjadi janda dan bakal pria yang dijodohkan dengannya masih bujangan.
Apaan sih nih orang main jodoh-jodohin aja,emang ini jaman Siti Nurbaya,? Ini udah jaman modern mana ada lagi cerita begitu,gak gak aku enggak mau,Aku harus menolak karena di hatiku itu hanya ada Rehan aku maunya dengan Rehan bukan dengan Dilan... ;; batin Yura..
"Maaf ya om Tante dan semuanya,tolong beri waktu Yura beberapa hari untuk mempertimbangkan nya." tubuhnya sudah mengeluarkan keringat panas dingin takut mereka semua akan marah,Yura pun menyeruput segelas juice belimbing yang di pesan tadi.
"Ya tidak apa-apa kok Yura,lami juga tidak memaksa kamu boleh fikirkan dulu sebagaimana keputusan kamu." Tama memberi senyuman tipis menerima keputusan Yura Ia juga bisa memahami bahwa mengambil sebuah keputusan tak semudah mengambil bunga dari pohonnya.
Mereka semua kembali berbincang sedalam mungkin Dilan sekilas menatap Yura diam-diam namun gadis itu tak peduli walaupun ia sadar di tatap oleh Dilan.
Yura dan Dilan sudah kenal sejak lama saat berada di awal SMA lumayan akrab lah, Diketahui dulu Dilan sangat menyukai Yura pernah ia nekat mengatakan isi hati kepada gadis pujaannya itu namun Yura menolak dan lebih memilih Rehan dan akhirnya mereka pacaran,setelah lulus kuliah Yura dan Rehan menikah diatas pertentangan kedua orang tua Yura, pernikahan tanpa restu berjalan selama dua tahun penuh lika-liku kehidupan banyak duri di dalam rumah tangga kecil mereka. Kedua orang tua Yura tak menyukai Rehan karena ia orang biasa yang di tampung oleh keluarga Wing,tidak tahan dengan semua penderitaan dan kebencian orang Yura bertekad meninggalkan Rehan dengan selembar kertas perceraian dari hakim persidangan dan cinta mereka berakhir di meja hijau.
Yura langsung pindah ke Amerika untuk melanjutkan studi menempuh seni lukis sesuai cita-cita masa kecil,selama empat tahun ia pergi dan kini ia kembali hanya ingin meneruskan cinta nya dengan Rehan namun itu semua tak semulus apa yang ia bayangkan,nyatanya Rehan sudah tak mau lagi dengannya akibat pengkhianatan masa lalu yang membekas di hati Rehan.
kantor Wing.
Nathan dan sekretaris Rehan berada di ruang kerja sibuk mengecek berkas-berkas yang berserakan di meja,Rehan duduk di kursi depan Nathan hanya di batasi meja kerja juga membantu mengamati sisi pekerjaan.
Suasana sangat Hening tidak ada suara keluar dari mulut mereka,empat mata hanya fokus ke arah pekerjaan.
__ADS_1
Cling Cling..!
Ponsel Rehan tergeletak di atas meja berdering tiba-tiba berhasil mengejutkan Rehan dan Nathan,ia menatap layar ponsel namun saat membaca nama panggilan telepon itu hanya di abaikan sampai ponsel itu kembali berdering mengganggu.
Drett, Drett..!
Ponsel itu dua kali bergetar kembali dengan malas Rehan pun mengambil ponsel untuk melihat pesan masuk.
Isi pesan.
{Rehan sedang apa.?}
{Kamu punya waktu gak.? Bisakah kita bertemu sebentar nanti malam soalnya ada yang ingin aku bicarakan.}
"Mau apa lagi dia.?" Bergumam sendiri menatap layar berat sekali mengangkat jempol mau menekan tombol keyboard membalas pesan.
Pesan itu hanya di read saja dia sama sekali tak mau membalasnya malahan ponsel itu di hempas pelan ke meja membuat Nathan mengerut kening melihat wajah Rehan seperti orang kalah lotre.
"Tidak ada Tuan." Berbicara tanpa menoleh mungkin itu bukan masalah yang penting baginya.
"owhh." Nathan tau betul sikap sekertarisnya. Rehan memang paling tertutup soal masalah privasi padahal dia cukup akrab dengan Nathan namun ia sama sekali tak mau menceritakan apapun masalah yang ia hadapi,dengan begitu Nathan pun tak mau ambil pusing tentang Rehan,Itu masalahnya dan itu hidupnya begitu fikiran Nathan,jika dipertimbangkan sikap Rehan lebih dingin dari pada Nathan.
"Ohhh ya Rehan,kamu udah tau belum tentang berita kepulangan Yura.?" Nathan mengalihkan pandangan menyoroti wajah itu. "Emmm atau kamu sudah bertemu dengannya.?" Sambung ingin memastikan.
"Sudah." jawaban rehan sangat ketus.
" Wah kapan,? Dan Dimana.?" Nathan menjadi kepo berhenti bekerja.
Rehan menarik nafas lega untuk menjawab pertanyaan di Tuan. "Di caffe,saat baru pulang ke tanah air Dia langsung memberi kabar petir ingin melihat aku sebagai orang yang pertama kali ia lihat." Singkat kata Rehan menatap lawan mata Nathan dia kembali menunduk..
"Wah Wah romantis sekali." Nathan terkekeh kagum mendengar cerita yang lain.
__ADS_1
Apanya yang romantis,? melihatnya saja aku sudah jengkel teringat dengan semua pengkhianatan nya dulu,
Apa lagi mendengar namanya muak-muak sekali lihat saja.
Pasti di sisa hidupku ini aku akan lebih sering bertemu dengannya,huff menyedihkan.
Apa aku perlu karantina sendiri di rumah selamanya sampai aku mati konyol..;; Batin Rehan. Suasana kembali'Hening mereka melanjutkan pekerjaan agar cepat selesai.
*******
Kasih duduk di lantai beristirahat sejenak di dapur sambil menyenderkan tubuh di tembok dan menjulurkan kaki,Sari juga berbaring di pangkuan Kasih sambil tersenyum dia melihat foto..
Kasih terbengong-bengong sambil memikirkan hubungan dengan Nathan hubungan palsu dan drama pernikahan ini semuanya palsu, menyedihkan jika membayangkan tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
hiks hiks." seketika air mata mengalir ke Pipinya segera ia menghapus agar Sari tak melihat ia bersedih,saat ini Sari sudah menjadi orang yang terpenting di hidupnya salah satu sumber tempat ia Tertawa.
Sari duduk lalu menyodorkan ponsel tanda untuk meminta. "Kasih berikan Nomor ponsel mu." berharap akan di berikan.
Kasih terdiam dan mengingat dia kan tidak punya ponsel. "Aku tidak punya ponsel Sari." berbicara dengan tangisan.
"Hah jaman sekarang sudah maju,teknologi juga sudah canggih semua manusia menggunakan ponsel untuk alat komunikasi dan kamu seperti ketinggalan jaman tidak punya ponsel dan gaya kamu juga sangat kuno,sebenarnya kamu datang dari planet mana Kasih.?" meledek secara halus.
"Aku." Kasih sadar bahwa dia memang manusia paling udik dan bodoh sampai-sampai ponsel tidak punya,tidak ada alasan untuk melawan kata Sari bahwa yang dia ucapkan itu fakta tapi rasanya juga sedikit sakit.
Melihat ekspresi Kasih yang berubah sedih Sari merasa bersalah mengatakan hal itu pada sahabat barunya. "Kasih maafkan aku, maksudnya bukan mau meledek tapi mulutku memang tak bisa di kontrol." Sari merasa panik tak karuan menepuk bibirnya.
"Tidak mengapa Sari aku faham kok." Kasih tersenyum menutupi kesedihannya mencoba sabar.
"Huh sayang." kini dua dara itu berpelukan haru saling meyakinkan agar tak ada yang bersedih ataupun sakit hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1