Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Si cupu yang menjadi ratu


__ADS_3

Hari di mana ajang lomba fashion show dimulai, di sebuah gedung yang ada di ibukota dijadikan untuk ajang tersebut. Para panitia telah bersiap duduk di meja kerjanya, para staf saling bekerja membereskan fasilitas untuk para tamu menikmati acara tersebut, para perancang perancang tanah air saling bersiap mempercantik karya mereka.


Para peserta lomba sedang bersiap di belakang panggung untuk penampilan mereka nanti, para tamu VIP kelas atas satu-persatu sudah berdatangan. Lampu kelap-kelip menerangi ruangan pagi itu.


"Oke beb, kau sudah siapa kan?" tanya Dora memastikan bahwa tak ada lagi yang kurang dari tubuh Kasih.


"Eumm." Kasih mengangguk, sejujurnya dia masih belum percaya diri. Kini tampilannya begitu anggun, banyak para peserta lainnya merasa itu dengannya. Kasih mengenakan busana casual sesuai tema yang diterapkan.


"Semangat ya." seru Dora memberikan semangat dan kepercayaan diri pada Kasih, Dora yakin bahwa Kasih akan menjadi juara hari ini. Dora berharap dari hari nama Kasih akan melejit tinggi, semua orang akan mengenalnya. Dora pastikan bahwa hari ini Kasih akan bersinar di atas catwalk dan disoroti cahaya lampu lalu disaksikan banyak mata. Semua itu sudah terbayang di otak Dora, kesuksesan Kasih nanti akan menjadi peluang untuk kesuksesannya juga, namun ia tak mau mencari kesempatan licik atas semua ini, dia akan sukses bersama dengan Kasih.


"Apa kalian semua sudah siap?" jerit seorang panitia wanita, dia melipat tangan ke dada melihat semua peserta yang tengah sibuk.


"Sudah." sorak bersama dari semua mulut peserta, mereka semua terlihat bersemangat lain halnya dengan Kasih yang tampak takut.


Panitia itu memperhatikan Kasih yang begitu gelisah, wanita itu sudah biasa melihat peserta seperti Kasih. Gugup dan rasa takut sudah biasa.


Wanita itu melangkah mendekati Kasih.


"Kasih." panitia yang mempunyai nama Laura memanggil Kasih.


Kasih tersentak, dia menatap wanita yang kini berdiri dihadapannya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah?" tanya Laura memastikan keadaan Kasih.


"Tidak apa-apa kak, saya hanya merasa sedikit canggung." ungkap Kasih, beberapa hari dikarantina, mereka lumayan dekat. Laura sebagai panitia terus-terusan membimbing Kasih sampai bisa walaupun itu bukan tugasnya.


"Semangat dan berdoalah, yakinkan dirimu. Em kamu paham? Percaya diri." Laura menepuk pelan pundak Kasih.


"Iya kak, terimakasih." Kasih tersenyum tipis sekilas menatap wajah Laura.


"Baiklah semuanya, acara akan segera dimulai. Semuanya siap-siap ya." timpal Laura, dia pun melangkah kembali ke tempatnya dan meninggalkan belakang panggung.


Kasih menghela nafas, apa kata Laura dan Dora itu benar. Dia harus percaya diri dan semangat.


Para tamu sudah menempati tempat duduk masing-masing, keluarga Wing sudah memilih front row atau bangku paling depan untuk ditempati. Di sana nenek, tuan Abdi, Nona, terutama Nathan dan Rehan. Satu keluarga ikut.


Dilan berjalan mencari tempat duduk yang kosong, di front row masih tersisa satu bangku lagi. Dia melihat Nathan dan Rehan duduk bersebelahan dan bangku itu ada di sebelah mereka.

__ADS_1


"Hai tuan Nathaniel." sapa Dilan ketika melihat Nathan tengah duduk tegak di sebelahnya.


"Hai tuan Rehan." Dilan juga menyapa Rehan yang ada di sebelahnya.


Astaga, ternyata si kadal ini di sini juga. Uhhh menyebalkan. Nathan terbelalak melihat Dilan yang tengah senyum menyapanya.


"Hai juga tuan Dilan, ternyata anda di sini juga ya? Hahah kita bertemu lagi." balas Nathan sambil tersenyum paksa, mereka saling melempar senyuman.


"Yah, saya diundang. Saya rasa semua tamu di sini diundang ya?"


"Hahah, iya benar sekali tuan Dilan. Ayo kita saksikan bersama para wanita anggun itu lewat di atas catwalk."


"Hem." Dilan hanya tersenyum singkat.


Cih, semoga ketika melihat para model itu lewat nanti kau akan jatuh cinta dengan mereka, maka dari itu kau akan berhenti mendekati istriku si udik itu. Nathan menciutkan bibir, dia membuang muka dari hadapan Dilan. Dia menoleh ke arah Rehan sambil mengomel pelan.


Nathan mendekatkan kepalanya ke telinga Rehan. "Ada hawa panas yang datang tiba-tiba ketika si kadal itu muncul." bisik Nathan.


"Sabar ya." Rehan menjauhkan jangkauannya dari Nathan, dia mendorong Nathan agar sedikit menjauh darinya.


Nathan menoleh ke sebelah kiri, di mana Dilan tengah duduk sambil memberikan senyuman sedikit untuknya.


Ketika lampu ruangan dimatikan dan lampu runway dinyalakan semua orang pun tertib tak ada lagi yang berbicara, para kontestan dipanggil satu-persatu satu untuk menampilkan keanggunan mereka dan busana yang dipakai, dengan segala ekspresi dan gaya mereka gunakan untuk memikat para penonton.


Mereka saling bertepuk tangan memberi apresiasi terhadap kontestan, tempat duduk untuk para tamu dibagi dua, mereka saling berhadapan. Antara kanan dan kiri catwalk lantas itulah para kontestan berjalan dihadapan para tamu.


Musik jazz mengiringi peragaan yang dilakukan oleh para kontestan, mereka berjalan begitu anggun.


"Re, cantik-cantik ya?" kata Nathan sambil mencolek tangan Rehan seraya menunjuk para bidadari-bidadari itu.


"Ya." jawab Rehan dengan singkat, sikap cuek dan dingin ala Rehan itu terkadang membuat Nathan frustasi.


Para kontestan maju satu-persatu, pakaian ala casual itu begitu terlihat bagus.


Kasih berdiri di atas panggung sebelum ia maju ke depan, ia terus meyakinkan dirinya untuk tidak gugup. Mau bagaimanapun dia harus berhasil.


Nathan memperhatikan ponselnya, ia ingin sekali menghubungi Kasih karena dari semalam tak ada kabar dari si udik itu. Hal tersebut sontak membuat Nathan sedikit khawatir, dia ingin sekali keluar dari ruangan itu namun sesuai peraturan, para tamu diharamkan keluar saat runway sudah menyala.

__ADS_1


"Selanjutnya penampilan dari nomor urut 23." seru presenter yang memanggil para kontestan selanjutnya.


Kasih berlenggak-lenggok di atas catwalk, penampilannya yang memukau spontan membuat semua orang pangling. Dengan semua semangat yang ia dapatkan, kini ia tampil dengan percaya diri, para penonton dibuat kagum oleh kecantikannya, mereka memberikan sorakan dan tepuk tangan yang bergemuruh.


Diantara itu, keluarga Wing yang menjadi tamu VIP dibuat terkejut melihat Kasih yang tengah berjalan di catwalk.


"Kasih."


"Itu Kasih kan?"


Abdi dan semua keluarganya tercengang mengetahui bahwa Kasih menjadi salah satu kontestan perlombaan itu, Nathan sendiri hampir tak percaya bahwa salah satu bidadari yang ada di sana ada Kasih juga. Bahkan Dilan dan Rehan ikut kagum melihat kecantikan Kasih yang baru mereka lihat.


Udik, kau? Astaga aku pasti sedang bermimpi. Nathan terpelongo lalu meyakinkan bahwa ini semua mimpi, namun nyatanya ini adalah nyata.


"Kasih." ucap Rehan dan Dilan, siapa yang tahu, bahwa sekali tampil dengan cantik semua yang mengenalnya bisa langsung mengenali dirinya.


"Ya ampun dia cantik sekali."


"Aku seakan melihat bidadari dengan nyata."


ucap para penonton lainnya, mereka masih sangat tertarik melihat kecantikan Kasih.


"Ayo sorot dia."


"Dia cantik sekali."


para kameramen saling mendorong hanya untuk dapat memotret dan merekam diri Kasih, bahkan para penonton tak sekalipun ingin mengedipkan mata walau hanya sekali saja.


Aku tidak percaya ini. Nathan berharap kalau wanita itu bukanlah si udik yang ia kenal, wanita yang selalu ia hina dengan segala macam perkataan. Seorang istri yang selalu ia intimidasi.


"Ma, itu beneran Kasih kan?" tanya Jasmine kepada Nona, dia yang sebagai perempuan saja begitu tertarik melihat kecantikan Kasih.


"Aku rasa iya." jawab Nona.


BERSAMBUNG


Hai kakak, bila berkenan mampir ke karya saya yuk judulnya. Nama pena Sea Starlee, atau Bisa klik profil saya. Awas jangan salah pilih ya. Gak bakal digantung kok.

__ADS_1



__ADS_2