Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Perlakuan


__ADS_3

Diperjalanan Nathan dan Kasih hanya terdiam tak ada yang bersuara, Kasih merasa deg'degan tak karuan. Ia menatap jendela melihat setiap pepohonan dan segala kendaraan dijalan, ia mengikuti alur jalan mobil itu sampai mana akan berhenti, sedangkan Nathan fokus saja menyetir.


"Kasih." Panggilannya sambil sedikit melirik.


"Ya Tuan petir?" Kasih sedikit terkejut segara menoleh kesebelasannya.


Sebutan sebuah gelar (Tuan petir) yang ia berikan sangat tak keberatan diterima oleh Nathan, itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Nathan cengar-cengir sendiri, didalam hati ia berkata. Kenapa dia selalu memanggilku dengan nama Tuan petir? Ahh apa mungkin itu adalah suatu panggilan sayang? Seperti kata beb, ayang, atau apalah itu. Okelah tidak masalah, itu panggilan yang sangat manis dan aku sangat menyukainya. Batinnya.


"Hem, udik. Kita harus pergi kemana?" tanyanya.


Kasih melirik Nathan dengan tajam. Kenapa dia terus memanggilku dengan sebutan udik? Memang sih aku udik, tapi apa salahnya jika dia tidak usah memanggilku seperti itu. Hufft. Batinnya.


Ia membuang nafas kesal lantaran terus disebut sebagai udik walau memang begitu kenyataannya, didalam benak mereka berdua tentu saja memiliki pertanyaan yang sama.


"Hey kenapa kamu diam?" Nathan menjentikkan jari ketika pertanyaannya belum dijawab.


"Terserah anda saja Tuan, saya hanya mengikuti anda saja." berbicara sedikit malu.


Nathan menampung jawaban itu, alih-alih dia juga bingung harus kemana. Ia baru ingat kalau dia memiliki sesuatu, yakni sekertaris Rehan. Yah kepada Rehanlah dia bisa bertanya.


Ia mengambil ponsel dari dari saku jas lalu menelpon pria andalannya itu, itulah satu-satunya jalan ninja yang sering ia gunakan.


(Dalam telpon)


Tut Tut Tut ...


"Selamat pagi menjelang siang Tuan muda." sosok suara pria yang tak lain adalah Rehan dengan cepat menyambutnya.


"Re, kau tau dimana tempat wisata yang paling bagus, untuk dikunjungi di kota ini?" pertanyaan yang spontan menyambar kuping Rehan.


"Memangnya anda ingin kemana Tuan?"


"Ahh sudahlah jangan banyak tanya, katakan saja. Sebaiknya aku harus pergi kemana?"


Diseberang sana Rehan berfikir mencari ide, ia juga tak tau harus menyuruh pria itu pergi kemana. Jujur saja dia juga kurang tau soal masalah tempat wisata, karena pengetahuannya setara dengan Nathan, mereka juga hanya tau tempat-tempat untuk proyek saja.


"Atau sebaiknya anda pergi ke puncak atau ke pantai saja Tuan." dua tawaran setelah mendapatkan ide.


"Jadi sebaiknya aku harus kemana?" dalam hal itu juga Nathan tak bisa memilih.

__ADS_1


"Sebaiknya ke puncak saja, karena itu sangat cocok untuk anda. Kalau ke pantai sepertinya tidak baik."


"Why?"


"Karena kau akan terangsang, ketika melihat wanita-wanita seksi yang hanya mengenakan bikini dan celana dalam saja disana, hahahaha." Rehan tertawa setelah sedikit mengatakan hal olokan itu.


"Kau, sialan!" Tut Tut Tut. Nathan menjauhkan ponselnya lalu mengetuk layar ponsel dengan menggerutu, ia ingin marah namun sayang obrolan telpon berakhir karena Rehan buru-buru mematikannya.


Nathan menciutkan bibir, ponsel dimasukkan kembali kedalam jas.


"Kita pergi ke puncak saja ya?" tujuan yang sudah ia dapatkan dari sang sekertaris


Kasih hanya mengangguk pasrah, ia sebenarnya agak sedikit takut ikut bersama Nathan. Ini adalah hari pertama kalinya mereka pergi berdua jauh dari rumah.


***


Beberapa menit kemudian.


Kasih dan Nathan telah tiba di tempat tujuan, karena kata Nathan mereka sudah sampai di lokasi, Kasih pun bersiap-siap keluar.


"Tunggu, tunggu disini." Nathan menyetop Kasih yang hendak keluar.


Kasih berdiam mengikuti kata-kata suaminya, Nathan melepaskan sabuk pengaman mereka berdua lalu ia keluar dari mobil. Kasih tak tau apa maksudnya.


"Welcome my empress" (Selamat datang permaisuri ku) katanya sambil membawa Kasih beridiri.


Nathan merentangkan tangan kiri sambil berjalan mundur menunjukkan pesona alam yang ada di puncak tersebut, ia berputar menghirup udara segar. Detik itu seketika Kasih tersenyum memandangi suasana yang begitu menyejukkan mata.


"Ahh pemandangannya indah sekali." ucap Kasih dengan terpukau.


Kasih membekap mulut sendiri menahan suara teriakannya, dia menarik tangan Nathan untuk mendekati telaga yang ada disana. Ternyata tempat itu sudah dipenuhi manusia yang lainnya, tempat yang sangat indah cocok sekali untuk menghilangkan rasa setres.


"Kamu senang?" tanya Nathan, ia merangkul pinggang Kasih sambil tersenyum nakal.


Kasih mengabaikan perlakuan itu, yang ia rasa saat ini dirinya benar-benar bahagia. Ia hanya mengangguk penuh tawa ketika menjawab pertanyaan sang Tuan petir.


Dipinggiran telaga itu mereka berdiri menikmati suasana, kali ini Nathan berbicara dengan kata-kata yang begitu lembut tak seperti biasanya.


***

__ADS_1


Yura mengemudi mobil begitu laju menuju rumahnya, ia benar-benar kesal telah diusir oleh Rehan begitu saja. Dia bertekad akan terus mendapatkan Rehan apapun itu caranya.


Ketika memasuki kawasan rumah, ia melihat di sana ada Dilan berdiri di sebelah mobilnya. Sepertinya Dilan menunggu kepulangan Yura, entah sudah berapa lama dia berada di situ.


"Hay Yura." Dilan menyapanya ketika Yura sudah keluar mobil.


Ngapain lagi anak ini ke sini. Batin Yura, ia melangkah ke depan sambil berkata. "Ngapain sih kamu ke sini?" menatap dengan rasa kekesalan.


"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan." Dilan menyingkirkan sehelai rambut yang menjuntai di wajah Yura.


"Sebaiknya kamu pergi aja sendiri! Aku gak mau." Yura menepis kuat tangan Dilan sambil beralih pergi.


"Yura!" Dilan menarik tangan Yura agar tak meninggalkan dirinya, ia pun lanjut berbicara. "Kamu kenapa?" bertanya dengan sikap lemah lembut.


"Aku capek." sekali lagi Yura menepis tangan Dilan sambil beranjak pergi.


"Yura!" seru Dilan.


"Apa lagi sih?" rasa kesalnya terhadap Rehan membuatnya kehilangan mood, ia berhenti melangkah sambil menoleh ke arah Dilan.


"Apa sesuatu terjadi padamu? Katakan? Apa kamu marah padaku?" rasa perlakuan dari Yura dapat dirasakan olehnya, sepertinya gadis itu kesal dengannya.


"Tidak!" bentak Yura.


"Lalu apa? Kenapa kamu selalu menghindari ku?" Dilan melangkah mendekati Yura seraya meminta jawaban serius itu.


Ahh, kenapa anak ini semakin membuatku kesal? Ayolah menyingkir dari sini. Batin Yura.


Ia tersenyum paksa menatap Dilan.


"Dilan, mulai saat ini kamu jangan temui aku lagi, kamu tidak perlu mengejar-ngejar aku lagi. Aku tuh gak cinta sama kamu, aku hanya mencintai Rehan dan bukan mencintai kamu. So please jangan temui aku lagi." bahwa Yura sendiri saja hampir tak sadar dengan ucapannya yang tentunya akan menyakiti perasaan Dilan.


Dilan terbungkam hampir tak percaya akan pengakuan jahat itu, ditatapnya wajah cantik Yura dengan tatapan nanar. Dianggapnya ucapan itu hanyalah omong kosong.


"Maksudnya?" bertanya sekali lagi.


Yura menggeleng kepala sembari menarik nafas menghadapi Dilan, rasa kesalnya semakin meningkat.


"Intinya adalah, aku benar-benar tidak menyukaimu. Ini." dia melepaskan cincin dijari manis lalu menarik tangan Dilan, cincin yang ia anggap tak berharga itu ia kembalikan kepada sang pemberi, ia lanjut berbicara. "Ambil cincin ini dan lupakan aku." usai memberikan cincin perasaannya sedikit agak lega.

__ADS_1


Dilan berdiri terpaku merasa sedih, apa itu? Perlakuan apa itu, sehingga bisa membuat hatinya sakit, bukan hati saja, tapi hampir menyakiti semua tubuhnya. Tutur kata yang lembut namun menyakitkan hampir menghancurkan jiwanya, bukankah itu terlalu jahat?


BERSAMBUNG


__ADS_2