
Selesai mandi Kasih mengambil handuk dan membalut tubuh mungil rambutnya juga basah ikut di balut agar air tak menitik kemana-mana,dia berjalan keruang ganti mengambil pakaian hitam putih yang ia kenakan saat melamar kerjaan dulu.
Setelah memakai pakaian Kasih berjalan menuju meja rias ia berkaca disana,
Kasih menyambar sebotol bedak baby lalu di poles kewajahannya ia tak perlu makeup alasannya juga ia tak pandai berdandan.
Rambutnya yang basah ia keringkan menggunakan hairdryer lalu sampai kering tak ada basahan ia kepang dua seperti rambut biasanya.
Kasih memakai sepatu pansus lalu keluar kamar berjalan menapaki anak tangga separuh berlari,dia tak ingin sarapan karena takutnya Dilan sudah menunggu tak ada siapapun lagi dirumah hanya para pelayan dan dua orang penyihir duduk bersantai di ruang tamu.
Kasih sudah menembus gerbang utama dia berjalan kaki menuju tempat tujuan sembari memegang ponsel memberi kabar kepada Dilan,jalanan sangat sepi di daerah kawasan perumahan elite mungkin semua orang sibuk beraktivitas.
Kasih sudah tiba di taman xx yang dijanjikan dia beridiri di dekat kursi taman seraya memutar pandangan mencari seseorang namun tak ada sesiapapun di sudut manapun,sementara menunggu Dilan datang Kasih memutuskan duduk di kursi bewarna keemasan yang sudah di fasilitaskan untuk masyarakat umum,dia bermain ponsel sejenak.
15 Menit Kemudian.
Sebuah mobil sedan berwarna silver sudah tiba lalu terparkir di tepi jalan Kasih mengingat bahwa dengan mobil itu Dilan menabraknya,Dilan keluar dari mobil dengan gaya kece baju kemeja berlapis oblong celana jeans ketat lalu sepotong kacamata hitam di tambah gaya rambut Curly sangat cocok untuknya gaya rambut itu sangat disukai oleh Kasih.
Kasih beranjak dari duduk saat Dilan melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.!" berbicara dengan senyum khas.
"Tidak masalah Tuan." Kasih sedikit pangling melihat ketampanan Dilan yang mengimbangi Tuan Petir.
Dilan memandangi Kasih dari atas kepala hingga bawah sedikit rasa tak percaya ia rasakan,baru kali ini dia melihat gadis yang berpenampilan buruk tak ada pesonanya namun Dilan adalah pria yang paling menghormati wanita seperti apapun buruknya wanita itu yang namanya wanita harus tetap di hormati seperti menghormati ibu sendiri.
Dilan memutar tubuh kearah luar Taman. "Ayo kita pergi.!" dia berjalan duluan baru Kasih membuntuti dari belakang agak sedikit canggung.
Dilan membukakan pintu belakang untuk Kasih namun ia menolak katanya ingin duduk didepan saja,Dilan tak keberatan menanggapi sikap rendah hati gadis udik itu setelah masuk bersamaan mereka pergi meninggalkan taman.
__ADS_1
Dilan sedikit mengajukan pertanyaan selagi di jalan Itung-itung menemani keheningan perjalanan singkat,Kasih juga menjawab pertanyaan setiap pertanyaan secara detail Dilan juga menceritakan bahwa menjadi seorang aktris bukanlah hal yang mudah,jika tidak punya bakat dan skill mana mungkin bisa tercapai,betapa beruntungnya Kasih bisa di tawarkan menjadi bintang iklan dengan keadaan mendadak
hingga tak terasa mereka sudah tiba di tempat tujuan,Dilan membukakan mobil seraya mempersilahkan Kasih turun namun ia sangat terkejut kenapa Dilan membawanya ke perusahaan Wing.
Dilan menunggu Kasih di dalam pintu Kantor menantikan Kasih yang terdiam diri tak mau masuk. "Ayo Kasih masuk.!" dia memanggil dari sebrang beberapa meter.
Lamban gemulai Kasih melangkah memasuki kantor mendekati Dilan. "Kenapa kita datang ke perusahaan ini.?" ia menahan langkah meminta jawaban.
Dilan berhenti saat Kasih menarik tangannya lalu menjawab. "Kami sedang bekerja sama dengan perusahaan ini produk merekalah yang akan kamu bintangi jika di terima.." ya itu adalah jawaban yang belum Ia jelaskan. "Ayo..!" Dilan menarik tangan Kasih.
Kasih terlihat tegang ketakutan baru saja sampai pintu depan kantor ia sudah merasa menciut,mereka melewati lobby berjalan bersama.
Kasih mengehentikan langkahnya menahan perjalanan beberapa satpam yang mengusirnya minggu lalu sedikit bengong melihat dirinya,
Kasih melihat para satpam dengan memberikan senyum kampungan di iringi rasa getir yang membara, dia berharap tidak akan bertemu Tuan Petir nanti karena sekarang dia berada di kantor suaminya.
Ting. (Pintu lift terbuka)
Sudah merasa baikan Kasih menenangkan jantung yang terus berpacu dalam melodi,Dilan menggandeng tangannya untuk melewati koridor menuju ruang khusus rapat beberapa karyawan yang berlalu lalang tak lupa menyapa mereka dengan sopan.
Tiba di ruang yang paling jauh berada di pojok sisi mungkin itu ruangannya, Kasih memandangi setiap celah betapa mewahnya perusahaan yang didirikan papa mertua dan di majukan oleh Tuan Petir, pasti membutuhkan banyak perjuangan untuk bisa menjadi hebat seperti ini.
Dilan masuk duluan kedalam ruangan sedangkan Kasih masih berdiri di depan pintu tak habis-habisnya bertakjub puji, Dilan memutar badan kebelakang mencari Kasih tapi wanita itu masih tertinggal diluar ia pun memanggilnya agar ikut masuk.
"Kasih ayo masuk.!" ia memanggil dari dalam.
Kasih mendengar panggilan itu bergegas melangkah masuk rasa kakinya sedikit mau patah ia memaksakan diri dengan menyeret kaki, Kasih menunduk masuk kedalam ruangan tersebut mendekati Dilan yang masih berdiri ia tak berani menatap seisi ruangan karena masih takut.
__ADS_1
Dilan menangkap tubuh Kasih menjadi mendekat. "Kasih sapa mereka semua.!" Dilan berbisik senyum melihat Kasih dipenuhi rasa malu.
Kasih berusaha tersenyum menenangkan diri menguatkan mental ia bertekad ingin masuk TV jadi untuk apa malu, pelan-pelan ia mengangkat wajah menghadap semua orang yang sudah menunggu sekedip dua kedip ia membuka mata.
"Huaaaahhhh.!
Betapa terkejutnya Kasih saat melihat Nathan dan Rehan beridiri di pojok ruangan menatapnya seakan melihat hantu,
nafasnya tiba-tiba berhenti jantungnya tak lagi berdetak kencang kakinya menjadi lemas serasa mati rasa ia menutup dada dengan menyilangkan dua tangan,
tubuhnya ambruk kebelakang dan Dilan menangkapnya secepat kilat beruntung dia tidak pingsan.
Tuhan cobaan apa ini, mengapa begini jadinya tolong cabut nyawaku hari ini.;;
Kasih masih terkulai lemas di dekapan Dilan para orang tadi sibuk memperhatikannya.
Nathan tampak kesal mengumpat dalam hati tangannya menggumpal emosi tatkala melihat pemandangan didepannya,
Rehan juga tak percaya kenapa Kasih ada bersama Dilan datang ke perusahaan Wing..
Dilan tak tahan lagi menampung tubuh Kasih yang lumayan berat, dia mendirikan tubuh Kasih dengan benar ia seperti Manekin tak bisa bergerak maupun bernafas tatapannya tak menentu mengarah ke mana.
Dilan merasa heran menatap gadis yang ada disebelahnya. "Kasih kamu kenapa.? ayo sapa mereka." Dilan menyadarkan Kasih dari jeratan kaget.
Kasih tercengir menatap Dilan ia menelan ludah yang kian mengering di tenggorokan,ia melebarkan senyuman menatap semua orang termasuk Tuan Petir.
BERSAMBUNG
__ADS_1