
pagi yang indah sangat indah menyegarkan mata para manusia, cahaya matahari masuk melewati jendela yang terbuat dari kaca tebal. Sebuah kamar yang biasanya panas sekarang menjadi sejuk, rasa ketakutan kian menghilang. Kamar yang tadinya seperti goa yang teramat gelap kian menjadi terang seperti ada kehidupan baru.
Di kamar, sepasang kekasih tengah terbaring bersama. Seorang pria tidur dengan memeluk seorang wanita yang ia jadikan bantal guling, sang wanita terlihat nyaman tidur dalam pelukan sang pria itu. Cahaya matahari masuk melalui lubang-lubang kecil yang ada disisi setiap sudut kamar, jendela tertutup menghalangi sinar cahaya masuk.
Kasih tertidur pulas diperlukan Nathan, mereka seperti orang kewalahan seakan usai melakukan suatu hal. Di dinding jam sudah menunjukkan pukul 07:20 namun mereka belum juga terbangun.
Kasih mulai tersadar, nyawanya mulai berkumpul untuk bangun. Ia menarik nafas dahulu sambil menggeliat sedikit, hoammm. Ia menguap dan mengangkat kedua tangan lalu sedikit menjauh dari pria yang ada di sebelahnya, lalu membalik kembali memeluk Nathan, ia merasakan bahwa tempat yang ia tiduri sangat lapang, ia menggoyangkan kaki dan tangan sambil meraba-raba sisi kasur. Tempat itu sangat nyaman sekali, ia memeluk Nathan seolah memeluk bantal guling.
Tempat ini sangat lapang sekali serta nyaman, bantal guling ini terasa aneh, seperti bukan bantal. Tapi apa ya?. Batinnya, Kasih merasa ada yang tak beres dengan posisinya saat ini. Segera ia membuka mata, ketika matanya terbuka ia berkedip berulang kali, terlihat tubuh sosok pria terbaring di sebelahnya, ia mendongakkan kepala melihat wajah sang pria itu.
Astaga! Apa aku sudah gila, kenapa aku tidur disini bersama Tuan petir?. Batinnya. Ia merasakan ada yang ganjal ditubuhnya, ya. Saat ini ia tak mengenakan pakaian, ia hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. "Aaaaa." Kasih berteriak spontan bangkit dari tidur. Ia duduk di situ memandangi Nathan yang tengah terbangun akibat teriakannya.
Nathan seperti dikejutkan dengan suara petir langsung terbangun, ia refleks duduk seperti ada badai yang terjadi. Wajahnya acak-acakan sambil menatap Kasih yang tengah ketakutan seolah ia sakiti.
"Kenapa kamu teriak udik?" celetuk Nathan, ia memasang tampang sebal menatap Kasih.
"And... anda, apa yang anda lakukan pada saya Tuan?" Kasih menyemprot Nathan dengan pertanyaan itu.
"Apa?" seakan tak tau Nathan bertanya kembali dengan wajah panik.
Kasih mengambil bantal yang ada di sebelah, bantal itu ia jadikan untuk pelindung. Ia menutupi dirinya menggunakan bantal tersebut.
"Anda memperkosa saya Tuan?" jeritnya.
"Hah?" Nathan tercengang akan lontaran aneh itu.
"Kenapa? Kenapa anda memperkosa saya Tuan?" Kasih menatap Nathan dengan tatapan membunuh.
"Kapan aku memperkosa mu?" Nathan tak terima akan hal itu, ia merasa kena fitnah.
"Tadi malam apa yang terjadi? Lalu saya kenapa ada disini? Kenapa saya tidur satu ranjang dengan anda? Kenapa kita tidur berdua berpelukan disini? Dan kemana pakaian saya Tuan? Anda pasti memperkosa saya kan?" Kasih mengomel sambil melemparkan kata-kata konyol itu.
Nathan tercengang tak mengerti, ia bahkan tak bisa menyaring pertanyaan Kasih. Ia memukul pipi dengan kedua tangannya, memastikan bahwa ini nyata atau hanya mimpi.
"Tuan, jawab! Kenapa anda diam?" Kasih meninggikan suara.
__ADS_1
"Hey udik, kamu mimpi ya? Sejak kapan aku memperkosa mu?" Nathan terus mengelak.
"Lalu, kenapa keadaan saya seperti ini?" Kasih memasang wajah sedih seakan habis disakiti.
"Udik, tadi malam kamu tertidur saat kita berciuman, lalu pakaian mu itu sangat bau dan kotor karena kena keringat. Aku tak mau membangunkan dirimu mangkanya aku lakukan itu." mencoba menjelaskan.
Melihat Nathan yang terdiam, Kasih semakin panik. Nathan terlihat santai.
"Lakukan apa Tuan?" Kasih sedikit membungkuk mendekati Nathan.
"Yah, aku melepaskan pakaianmu lalu aku membaringkan mu disini, aku tak melihat apa-apa." berusaha menjelaskan secara detail.
Kasih terdiam ditempat, ia seperti orang mabuk yang kehilangan ingatan. Bisa-bisanya dia ketiduran ketika berciuman tadi malam, seperti apa dirinya kala itu. Apa saja yang dilakukan Nathan padanya, jika memang benar Nathan melakukan hal mesum. Mungkin itu wajar-wajar saja dan tak ada masalah, tapi masalahnya, ia tak bisa menerima hal itu, karena ia berada di dalam situasi tak sadarkan diri.
"Anda benar tidak memperkosa saya kan Tuan?" memastikan sekali lagi.
Nathan tersenyum merasa terfitnah, kenapa juga ia harus melakukan hal itu.
Ia mengusap wajah lalu menatap Kasih.
"Jadi?" Kasih menutup mulut ketika mendengar pengakuan palsu dari mulut Nathan.
"Hahaha, tidaklah. Aku tidak memperkosa mu, aku bisa meminta tanpa harus memaksa kan? Lagipula kamu istriku, aku bisa meminta kapan saja. Kalau mau, hari ini juga bisa kan?" ia membisik kekuping Kasih, dirinya terlihat genit.
Kasih mengedip-ngedipkan mata memandang Nathan, ia merasa geli akan kata-kata saat itu.
"Sa... saya ke kamar mandi dulu." ia langsung melompat dari kasur dalam keadaan yang super sexi.
Mata Nathan melotot melihat keindahan tubuhnya yang hanya ditutupi oleh bra dan celana dalam, Kasih merasa tak sadar hanya acuh dengan keadaan.
"Aku merasa ingin memperkosa mu ketika melihatmu dalam keadaan seperti ini." Nathan sedikit menjerit, ia tersenyum menggoda.
Kasih mengehentikan langkahnya bila mendengar kalimat tersebut, ia menunduk dan melihat tubuhnya yang tak berpakaian. Berusaha ia tutup namun bagaimana lagi, tak bisa ditutup dengan tangan saja. Terpaksa ia kembali lagi ke kasur untuk mengambil seprai.
Ia menarik seprainya, namun sayang disaat itu Nathan menarik seprai itu juga. Kasih menariknya lagi, tapi Nathan sangat nakal dan malah mempermainkannya.
__ADS_1
"Tuan, berikan seprainya!" Kasih berusaha meraihnya.
"Pergi saja sana, kenapa harus memakai seprai ini."
"Tidak mungkin saya pergi ke kamar mandi dalam keadaan seperti ini."
"Kamar mandi berada di situ bukan diluar, lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya anda cabul Tuan! Anda memperhatikan tubuh saya dan anda mengatakan ingin memperkosa saya tadi."
Nathan berhenti menarik seprainya, ia tersenyum ingin menggoda. Hatinya sangat merasa terhibur dengan adanya seorang wanita polos berada didekatnya.
"Aku semakin ingin memperkosa mu kalau kamu masih tetap berada disini." Nathan mengesot mendekati Kasih.
Sebelum Nathan mendekat, ia segera menarik seprai dan pada akhirnya ia dapatkan. Ia buru-buru membalut tubuhnya menutupnya agar Nathan tak memperkosanya, Nathan berhenti mengesot, ia cengar-cengir sendiri.
Kasih berlari cepat menuju kamar mandi, namun tiba-tiba ia berhenti karena mengingat sesuatu. Billy. Ia berbalik badan melihat pria mesum itu tak lepas memandanginya, ia ingin bertanya namun takut, tak peduli akan hal itu. Ia pun mendatangi Nathan, lalu duduk disampingnya.
"Tuan, bagaimana dengan Billy? Apa dia sudah pergi? Hah astaga, saya ketiduran saya belum sempat melihatnya." Kasih terlihat sedih ngedumel sendiri.
"Dia sudah pergi tadi subuh, Yoan sudah mengantarnya. Dia hanya titip salam untukmu." jelasnya.
"Anda tidak sedih Tuan? Diakan putra anda." Kasih menatap Nathan seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
"Tentu aku sedih, tapi ini untuk kebaikannya, berapa lama dia akan kembali lagi kok. Mungkin dia hanya sekitar dua Minggu saja disana, dengar. Dia ke sana hanya untuk liburan saja."
"Berarti dia akan kembali kan? Dia tidak akan selamanya disana kan? Huh syukurlah, saya fikir dia akan selamanya tinggal di sana." Kasih merasa lega dengan mengelus-elus dadanya.
Nathan memandanginya lagi.
"Aku benar-benar ingin memperkosa mu." hardik Nathan meledek.
"Saya mandi dulu Tuan." Kasih segera berlari ke kamar mandi, dirinya merasa kebingungan lantaran dipermainkan seperti ini.
Hatinya juga sedih karena Billy sudah pergi, ia bahkan belum menemui Billy semalam dan tadi malam. Di kamar mandi ia menangis diatas kloset, tiba-tiba ia ingin sekali menangisi putra tirinya itu. Mungkin mereka hanya bisa berhubungan melalui Via WhatsApp saja. Ia tak bisa tenang juga walaupun tadi Nathan bilang Billy hanya liburan saja di sana dan akan segera kembali.
__ADS_1
Aku ibu yang buruk... hiks hiks hiks. Ia menangis menyalahkan diri, setelah puas menangis ia pun membasahi tubuhnya.