
Setelah selesai casting mereka kembali berkumpul tadi Kasih lumayan pintar melakukan tes,
Kasih lolos seleksi casting dengan sempurna dia mengikuti aba-aba yang di berikan Dilan.
Mereka duduk di sofa bagian ruang studio sambil bercakap-cakap sedikit,Dilan mengajarkan hal-hal yang dilarang saat syuting atau sebaliknya,
Dilan sangat sabar membantu Kasih ya walaupun Kasih sangat merepotkan dengan keb******nya tapi tak membuat ia marah malahan ia semakin senang mengajari Kasih dengan kemampuannya.
Nathan memperhatikan terus gerak-gerik Kasih tangannya ingin sekali menghajar si udik itu dari kejauhan,
Rehan juga senang mengetahui Kasih akan membintangi iklan besok tapi ia juga tak senang melihat keakraban Kasih dan Dilan di satu sisi lagi ia terus-menerus menahan emosi Nathan yang telah membara pada puncaknya.
Krekk Krekk.
Perut Kasih terasa keroncongan hingga mengeluarkan suara aneh dari dalamnya,dia mengelus lingkaran perut menahan rasa lapar jika diingat tadi pagi dia belum sarapan hingga kini sudah melewati waktu tengah hari perutnya juga belum terisi.
Dilan melirik Kasih yang gelisah tak menentu ia pun berhenti mengoceh. "Kamu kenapa.?" tangannya menggapai tangan Kasih agar berhenti memegang perut.
Wajah Kasih memelas seraya mendongak menatap Dilan. "Lapar." cara bicara sedikit manja membuat Dilan merasa haru bercampur gemes.
Dilan mengangkat tangan kiri menatap arloji. "Emm lapar,ya sudah ayo makan." ia beranjak dari duduk sambil menaruh buku yang ia pegang ke atas meja.
Dilan meraih tangan kanan Kasih untuk bangkit di saat wanita itu masih terduduk lesu memegang perut, Kasih mendongak menatap wajah tulus Dilan bukan hanya wajah tapi prilaku Dilan sangat baik padanya,Kasih beridiri dari duduk Dilan kembali meraih pinggang mungil Kasih sehingga ia refleks terkejut bahwa prilaku Dilan sudah kelewatan.
Nathan yang tengah berbincang dengan para kolega lainnya teralih melihat Kasih tengah berdiri dekat bersama Dilan seperti berpelukan nyaris ia salah faham, Nathan mengerang kesal menggumpal emosi di tangan ingin sekali melangkah menarik rambut kelabang Kasih tapi lagi-lagi Rehan menahannya.
Dilan menggenggam tangan Kasih untuk berjalan bersama ia melihat tangannya di genggam erat ingin sekali melepas namun itu sangat sulit, Kasih tak mau banyak tingkah ia sudah merasa sangat lapar perutnya juga sudah sakit melilit serta para cacing berdemo minta makan.
Sebelum pergi Dilan mau permisi dulu dengan yang lainnya terutama Nathan. "Nathan kamu permisi dulu ingin mengisi perut." Dilan meminta izin dengan hormat kepada Nathan tanpa tau siapa mereka berdua.
__ADS_1
Nathan menatap kedua orang yang ada di hadapannya. "Ya sudah pergilah, selamat bersenang-senang." dengan b****nya Nathan memberikan salam perpisahan.
Dilan melangkah sedikit mendekat Nathan lalu memukul pundaknya. "Kau tak mau ikut makan dengan kami.?" sesuatu keakraban.
Nathan tegak dari posisi menunduk menatap Dilan. "Tidak usah, saya masih banyak pekerjaan." ia membalas pundak Dilan.
Dilan melepas tangan dari pundak Nathan lalu beralih meraih pinggang Kasih. "Baiklah kami permisi dulu." dia memberi dua jari untuk Nathan sambil berjalan pelan bersama istri orang.
Dilan dan Kasih pergi keluar dari kantor sedangkan Nathan melihat kepergian Kasih hingga jauh, Kasih menoleh suaminya yang ketinggalan beberapa meter darinya sewaktu Nathan melotot ia langsung membuang wajah menatap Dilan saja, apa yang ia lakukan bukan dari unsur kesengajaan tapi sangat tiba-tiba, ia juga merasa sangat sedih menerima perlakuan Dilan yang terlalu romantis.
MALAM HARI
Dilan mengantar Kasih ketaman tempat dimana tadi ia menjemputnya,
sebenarnya bisa saja Kasih meminta di hantar sampai kerumah tapi ia takut nanti Dilan akan curiga dan banyak tanya jadi dia terpaksa turun di tempat lain, lagipula jarak dari Taman kerumah tidak terlalu jauh.
"Sama-sama,besok aku akan jemput kamu lagi disini kamu harus bersiap-siap dan ingat perkataanku tadi agar kamu tak canggung besok.!" ia mencondongkan tubuh menatap Kasih.
"Siap Tuan." kasih berdiri hormat seperti orang hormat dalam acara upacara bendera.
Dilan tersenyum senang melihat kesemangatan dari diri Kasih yang tak dapat ia temukan dari diri wanita manapun,cukup lama berpamitan Dilan pun enyah dari taman pergi bersama mobilnya meninggalkan Kasih seorang,
melihat jalanan yang sangat sepi Kasih buru-buru berlari pulang, lorong jalan sangat gelap dan hanya diterangi beberapa lampu yang berjejer di tepi trotoar.
Setibanya di rumah Kasih beridiri di depan pintu kamar dia pelan-pelan membuka pintu saat sudah di buka ia masuk dan menutupnya kembali, kamarnya sangat terang tapi Nathan tak kelihatan dia berjalan mengendap-endap seperti maling.
Dia menaruh tasnya di atas meja lalu duduk sebentar di sofa untuk merilekskan saraf-saraf tubuhnya yang sudah tegang,ia menjatuhkan tubuh di sana sambil bermain ponsel.
"Wah wah wah santai sekali Tuan putri." Nathan berbicara saat nongol tiba-tiba tak tau dari mana.
__ADS_1
Kasih duduk bila melihat Nathan berdiri di ujung kakinya. "Tuan Petir.!" mulutnya keceplosan mengatakan itu.
Nathan terperangah mendengar ucapan Kasih yang mengatakan dirinya Tuan Petir ia pun melangkah maju. "Kau panggil aku apa.?" ia membungkuk menatap Kasih yang masih duduk di Sofa.
"Tu,tuan Petir." Kasih merunduk takut menatap Nathan, Nathan semakin membungkuk. "Kenapa kau panggil aku petir, JAWAB.?" dia sedikit membentak sehingga gadis itu semakin takut.
Ketika Nathan semakin membungkuk menindih tubuhnya Kasih semakin tergeletak di atas sofa, berharap Nathan segera enyah dari hadapannya ia pun menjawab pertanyaan Nathan.
" maafkan jika saya men-mengatakan itu tapi anda seperti petir yang suka menyambar jantung saya mang-mangkanya saya panggil anda Tuan Petir." Kasih ketakutan melihat Nathan sudah mendekati dirinya.
Belum sempat Kasih selesai berbicara Nathan mengunci bibir Kasih dengan jari telunjuk,mereka sekarang sudah dalam posisi atas bawah bertengger di sofa.
"Dari mana saja kau,kenapa jam segini baru pulang.?" Nathan berbicara pelan menatap tajam Istrinya. "Sa-saya." Kasih ketakutan berlebih tertunduk ngeri.
Nathan menangkap kedua tangan Kasih menaruh keatas kepala Kasih dan ia genggam kuat sampai tak bisa di lepas.
"Sudah pukul berapa ini.?" ia membisik ke kuping Kasih. "Maafkan saya Tuan." hanya itu yang bisa Kasih jawab sekarang.
ia menatap wajah Kasih. "Apa saja yang kau lakukan dengan Dilan seharian,apa kau berselingkuh dengannya.?" pertanyaan yang lebih menunjukkan kata tuduhan.
Kasih membalas tatapan Nathan saat mendengar tuduhan itu. "Tidak Tuan,saya tidak berselingkuh,tadi Tuan Dilan seharian membantu saya belajar." mengaku dengan perucapan secepat kilat.
"Belajar apa,belajar selingkuh kan.?" Nathan sudah tak dapat menahan emosinya ia membentak Kasih sebagai luapan emosi.
"Maaf Tuan." Kasih ketakutan melihat wajah Nathan seperti hantu yang ingin menerkamnya.
Saat ia menunduk mendekati Kasih ia termenung sebentar menatap dalam wajah Kasih yang begitu polos udik kampungan tetapi bercahaya,ditambah bibirnya yang mungil berbentuk volume sangat menyenangkan bila dilumat.
BERSAMBUNG
__ADS_1