Di Paksa Menikahi Pembantu

Di Paksa Menikahi Pembantu
Casting audisi


__ADS_3

Pagi itu, Rehan mengantarkan Kasih ke terminal bus atas perintah Nathan. Saat ini Nathan masih sangat marah terhadap Kasih mangkanya iya tak mau mengantarkan Kasih pergi.


Mereka duduk di kursi antrian yang ada di terminal, Kasih benar-benar takut. Tadinya ia ingin pergi sendiri saja, dia tak mau diantarkan oleh siapapun, namun Nathan tetap keras menyuruh Rehan mengantarkan dirinya ke terminal. Ia juga sudah janjian dengan Dora untuk bertemu di terminal itu, sudah seribu cara Kasih fikirkan untuk mengusir Rehan agar ia bisa pergi, jangan sampai Rehan tak kunjung pergi sampai dia naik ke bus. Bisa-bisa gagal keinginannya.


"Ada apa nyonya? Kenapa anda gelisah seperti itu?" tanya Rehan yang terus saja memperhatikan gerak-gerik Kasih.


"Tidak ada, saya hanya merasa sedih dan berat hati untuk meninggalkan kota ini." jawab Kasih sambil cengar-cengir tak menentu.


Rehan mengangguk lalu berdiam diri, Kasih sedari tadi menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Dora. Kasih sudah berapa kali mengirim pesan ke Dora namun tak ada jawaban. Dan pada akhirnya Kasih melihat Dora ada di kursi belakang. Ia menoleh Dora sambil memberi kode.


(Suruh saja sekertaris mu itu pulang) Dora mengirimkan pesan itu pada Kasih.


Kasih melihat ponselnya lalu menoleh kebelakang menatap Dora kembali, ia mengedipkan mata dan mengacungkan jempol memberi tanda, Oke.


"Tuan sekertaris, sebaiknya anda pulang saja. Anda pasti banyak kerjaan kan?" Kasih menatap Rehan dengan berharap pria itu pulang segera.


"Saya tidak akan pulang sebelum anda pergi." Rehan berbicara.


"Tuan, saya bisa sendiri kok. Tidak mengapa jika anda pergi saja, katakan pada Tuan petir eh maksudnya Tuan muda, katakan bahwa saya sudah pergi."


"Baiklah." ucap Rehan.


Kasih tersenyum akhirnya Rehan mau pergi, namun dalam beberapa detik itu. Rehan tak kunjung beranjak dari duduk bahkan tak bergerak sedikitpun, Kasih semakin bingung, ia menoleh lagi kebelakang menatap Dora.


"Bagaimana ini?" Kasih berbicara dalam hati sambil memberi isyarat lagi pada Dora.


"Coba lagi." Dora pun membalas perkataan Kasih di dalam batinnya.


Kasih kembali duduk menghadap Rehan, ia mencari cara untuk mengusir Rehan.


"Tuan, sebaiknya anda pulang. Saya akan menunggu bus sendiri saja, anda pulanglah." Kasih memohon agar pria itu bisa mengerti, namun sepertinya tidak semudah itu.


Rehan malah semakin curiga pada Kasih, ia duduk tegak menatap Kasih lekat-lekat. Dilihatnya bahwa Kasih seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa Nyonya? Anda berusaha keras menyuruh saya pulang, apa anda menyembunyikan sesuatu? Apa jangan-jangan anda..." Rehan membungkukkan badan terus menatap Kasih sampai ia menyender ke kursi.


"Bukan begitu Tuan sekertaris, maksud saya. Anda itu kan banyak kerjaan. Saya takut kalau anda."


"Apa?"


Kasih terdiam bila saat Rehan menatap wajahnya terus-terusan, ia melihat ke sekitaran. Beberapa pasang mata terus memperhatikan mereka, terlebih lagi Dora. Ia seakan menonton drama terlalu fokus melihat mereka.


Kasih mendorong tubuh Rehan ke tempatnya semula, ia takut kalau Nathan tiba-tiba muncul. Ia langsung bangkit dari duduk.


"Tuan pergilah, saya akan pergi sendiri saja. Sebentar lagi bus akan berangkat." jantung Kasih berdebar kencang, ia tak mau menatap Rehan karena malu.


"Ehem." Rehan berdehem bangkit dari duduknya sembari membetulkan jasnya. "Baiklah saya akan pulang, hati-hati di jalan, nyonya." sambungnya.


Kasih seketika senang pada akhirnya Rehan pergi, pria itu membungkukkan badan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kasih memperhatikan kepergian Rehan sampai tak terlihat lagi.


Sudah yakin Rehan tak ada lagi, Dora bangkit lalu mendekati Kasih.


"Yes, akhirnya dia sudah pergi." Dora kegirangan sambil lompat-lompat sendiri.


"Iya, ayo kita pergi." Kasih mengambil koper dan tasnya yang ada di lantai.


Dora membantunya membawa barang-barang, mereka berjalan meninggalkan terminal menggunakan mobil pribadi milik Dora. Mereka akan pergi menuju gedung yang akan dijadikan tempat lomba fashion show nanti, sekalian juga untuk mengikuti pelatihan.


Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah gedung besar. Ya, gedung tempat lomba fashion yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi.


"Ayo beb." Dora segera keluar mobil usai memarkirkan mobilnya, Kasih pun menyusul keluar.


"Wah, gedungnya besar sekali." Kasih memandang takjub ke arah gedung tersebut, mereka berdua berlari mendekatinya.


"Ayo."


Dora menarik tangan Kasih untuk masuk ke dalam, ia harus mengukuti audisi agar bisa menjadi profesional dalam mengikuti lomba itu.


Mereka tiba di lobby, ada banyak peserta yang ikut dalam lomba, para wanita yang terlihat cantik serta memiliki penampilan yang sempurna. Kasih menatap dirinya sendiri, apa mungkin ia bisa menang. Dia juga harus mengikuti audisi ini, jikalau dia tak bisa memenuhi kriteria lomba, maka ia akan didiskualifikasi.


Banyak yang mengantri untuk mengisi beberapa formulir di tempat meja yang ada di pojok ruangan, mereka yang sudah lolos daftar awal kemarin, kini harus mengisi formulir lengkap. Orang yang sudah mengisi formulir itu pun langsung memakai pakaian hitam, yang terbuka maupun yang tertutup. Banyak orang di sana menatap Kasih dengan heran, mungkin karena penampilannya.


"Ayo." Dora membawa Kasih mendekati meja itu, ada beberapa staf yang bertugas di sana.


"Ha... halo, saya Kasih Sarasvati calon peserta lomba IFW." Kasih menyapa gugup orang-orang itu, mereka pun memperhatikan Kasih dari atas hingga bawah.


"Gak salah nih." seorang pria hampir persis dengan karakter Dora membisik kepada temannya, ia merasa tidak nyaman dengan penampilan Kasih.


"Dia sudah lolos daftar ya? Penampilannya sangat kuno."


"Sudahlah tidak mengapa, kita coba saja."


Tiga orang itu saling berbisik membicarakan Kasih, Kasih tentu saja sedikit malu, hatinya seketika menciut. Dora merangkul Kasih agar tetap percaya diri dan yakin.


"Baiklah, isi formulir ini." staf pria itu memberikan selembar kertas untuk di isi oleh Kasih.


"Ayo." Dora mendorong pelan tubuh Kasih agar ia segera mengisi formulir itu.

__ADS_1


Kasih menjadi ragu tak tau mau melakukan apa, ia pun menenangkan jiwa sebentar lalu mengisi formulir itu. Usai mengisi semuanya, kertas pun ia ambil sesuai perintah para staf.


Kasih pun enyah dari hadapan para staf, mereka duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu giliran selanjutnya. Dora mengeluarkan pakaian dari dalam tasnya.


"Beb, pakai ini." Dora memberikan pakaian itu untuk Kasih agar di pakai, karena di wajibkan memakai pakaian hitam untuk casting audisi ini.


"Ini terlalu seksi." Kasih merasa sangat kurang suka dengan pakaian itu, ia meminta pakaian yang agak tertutup sedikit.


"Sudahlah pakai saja." Dora tetap menyodorkan pakaian itu untuknya, mau tak mau Kasih harus mengenakan pakaian itu.


Ia pergi ke toilet bersama Dora untuk memakainya, harusnya sedari tadi ia mengenakan pakaian itu sebelum sampai ke gedung ini, namun karena berbohong ia tak bisa memakainya di rumah.


Usai berganti pakaian, Kasih keluar dari toilet. Ia terlihat seksi dengan mengenakan Tank top dan Hot pants muniko serba hitam, sesuai persyaratan. Mereka pun kembali ke lobby.


Di lobby, Kasih dan Dora kembali duduk sambil menunggu aba-aba selanjutnya, dua orang wanita yang duduk di sebelah Kasih terus menatapinya dengan tatapan tak suka.


"Anda ikut lomba fashion show?" kata si wanita itu sambil menatap Kasih.


"Iya." Kasih menjawab dengan kata singkat sambil tersenyum hangat.


"Gak salah? Gaya kamu terlihat kolot, kamu yakin lolos casting audisi?" tanya temannya satu lagi, mereka seolah meremehkan Kasih dengan berbagai pertanyaan.


"Terlihat norak dan kampungan. Upss."


"Hahaha." mereka tertawa pelan.


Kasih hanya tersenyum menanggapi cemoohan dua wanita cantik itu, Kasih benar-benar tak percaya diri. Lalu Dora merangkulnya kembali.


"Tidak usah di ambil hati, percayalah. Yakinkan dirimu." Dora memberi semangat untuk Kasih.


Kasih mengangguk tersenyum kecil, ia sudah biasa mendapatkan cemoohan dari berbagai manusia. Hanya orang biasa yang tak mau mencemoohnya.


"Lepas kacamata mu, dan juga lepas kepangan rambut kamu ini." Dora melepaskan kacamata Kasih serta membuka rambut Kasih yang sudah berlipat-lipat berbentuk kelabang itu.


Ia terlihat cantik ketika rambutnya terurai jatuh sampai ke pinggang, tanpa mengenakan kacamata. Tanpa juga memakai makeup ia sudah terlihat cantik natural. Rambutnya menjadi kriting seperti mie instan karena keseringan di kepang.


"Pakai high heels ini." Dora meletakkan heels itu ke lantai agar segera Kasih pakai.


Kasih bingung harus bagaimana, ia sama sekali tak terbiasa memakai heels. Kalau ia terjatuh bagaimana.


"Apa ini tidak terlalu tinggi?" Kasih memegang heels itu sambil dilihat-lihat.


"Tidaklah, itu sudah standard."


Kasih mencobanya, pas sekali heels itu cocoknya di kakinya. Dora tak salah pilih ternyata.


Kasih berdiri mencoba berjalan sedikit, ia ingin berlatih sebentar. Dora membantunya agar bisa mengimbangi tubuh ketika berjalan.


Tak lama kemudian, mereka semua menjalani beberapa seleksi. Dari mengukur tinggi badan, menimbang berat bedan, semuanya di latih dahulu. Para peserta di berikan nomor urut beserta namanya, lalu di tempelkan di baju bagian perut.


Usai melakukan seleksi, mereka di pinta untuk masuk ke dalam ruang audisi untuk casting selanjutnya. Beberapa juri sudah berkumpul di meja juri untuk membantu casting ini serta para staf lainnya dan juga kameraman.


Para peserta lomba saling mengantri tapi untuk duduk di kursi yang disediakan, Kasih duduk di sana bersama para peserta. Dora sendiri tengah melihat di luar ruangan audisi karena tak di bolehkan masuk.


Casting di mulai, para peserta di panggil satu persatu lalu melakukan pelatihan. Mereka maju berjalan sambil bergaya di depan juri. Semua peserta sudah maju sampai pada giliran Kasih.


"Next tes." kata satu juri yang ada di depan.


Kini giliran Kasih, ia benar-benar grogi. Bagaimana tidak, ini adalah awal pertama kalinya ia ikut audisi fashion show. Semoga ia berhasil, Kasih berjalan pelan maju ke depan, dirinya harus mengimbangi tubuh sesuai anjuran Dora.


Kasih berjalan kaku, para peserta lainnya menahan tawa akibat lucu melihat Kasih. peserta sangat banyak dari pria maupun wanita, mereka casting dalam satu ruangan. Kasih berjalan sambil bergaya pelan-pelan.


"Brukkk." karena tak bisa memakai heels itu, Kasih akhirnya terjatuh. Para orang-orang di sana terkejut hingga sebagian tertawa.


"Hahaha."


"Lihatlah, kasian sekali dia." sahut seseorang peserta wanita.


Mereka tertawa menyaksikan Kasih terjatuh, Kasih sendiri sangat takut hingga ingin menangis, namun ia tahan. Di depan pintu, Dora juga terlihat khawatir. Para juri sendiri sangat malu melihatnya namun juga merasa kasihan.


"Sangat memalukan." kata seorang juri pria yang memakai jaket bewarna putih.


Tak ada yang menolongnya untuk bangkit, Kasih berusaha bangkit sendiri. Ia harus yakin, dia juga memikirkan Dora yang sangat berharap ia ikut dalam lomba fashion show ini, Kasih bangkit lalu mengimbangi badannya. Ia berdoa sebentar seraya memenangkan dirinya.


"Maafkan saya Tuan, saya ulangi sekali lagi." Kasih meminta maaf kepada juri, ia mundur ke awal lalu mencoba sekali lagi. Tak di sangka ia pun berhasil.


Kasih berjalan seperti model di atas catwalk sambil bergaya, dirinya kembali percaya diri. Para juri sangat tertarik hingga yang tadi mentertawakan dirinya menjadi malu sendiri.


Kasih berhasil melalui seleksi ini, ia berdiri di barisan para peserta yang sudah casting tadi. Kasih bahagia sekali begitu juga dengan Dora.


Dari sekian ratus peserta akan di seleksi dan seleksi lagi, kemudian nanti akan di kelompokkan terhadap karakter-karakter model itu sesuai dengan konsep daripada setiap desainer atau perancang yang akan memperagakan karya-karya mereka di Indonesian fashion week nanti.


***


Nathan terbaring di sofa sambil melamun, ia mengenang kepergian Kasih yang meninggalkan dirinya. Ia merasa menyesal karena tak mau mengantarkan Kasih tadi.


Ia berulang kali mengecek ponselnya menunggu balasan pesan dari Kasih, ia juga berulangkali menekan tombol smartwatch agar di respon. Namun hasilnya sama saja.

__ADS_1


"Udik... kenapa kamu meninggalkan aku." Nathan bersedih hati berbaring di atas sofa.


Ruangannya sangat sepi karena Rehan belum juga kembali dari tadi, entah kemana ia pergi sampai saat ini belum juga datang.


"Dasar sekertaris sialan, kemana kau hah? Belum juga kembali." Nathan seperti orang setres di situ, dia tak tau harus berbuat apa lagi.


"*Rindunya hatiku padamu Kasih..."


"Rindunya cintaku sudah tak tahan*..." Nathan menyanyikan lagu Genta buana yang sudah lawas, lagu yang terkenal pada masanya. Seperti lagu India namun versi Indonesia. Ia terus bernyanyi sampai di pertengahan lagu.


"Ehem." Rehan berdehem mendengarkan lagu sedih dari Nathan, Nathan langsung terkejut dan berhenti menyanyi.


"Kau mengagetkanku saja, dasar menyebalkan." Nathan berceloteh sambil duduk melihat Rehan.


"Ada apa Tuan?"


"Apa? Tidak ada apa-apa." Nathan menyembunyikan kesedihannya sambil merasa malu.


"Sepertinya, anda sangat bersedih hati ya Tuan?" Rehan seakan menyindir Nathan dengan kata-katanya, sedari tadi ia mendengarkan semua ucapan Nathan.


"Bukan urusanmu." Nathan kembali membaringkan tubuhnya.


"Urusan anda berarti urusan saya juga Tuan." Rehan berbicara sembari duduk di sofa.


"Sejak kapan kau menjadi banyak bicara?" Nathan melirik kesal terhadap Rehan, pasalnya Rehan mengganggunya ketika sedang asyik bernyanyi.


Rehan tersenyum menerima ucapan Nathan, ia mengerti apa yang dirasakan oleh Nathan. Ya memang sedih jikalau di tinggal istri walaupun sebentar saja.


"Anda sedang sedih karena ditinggal oleh nyonya muda kan, Tuan?"


"...." Nathan diam tak bersuara.


"Padahal nyonya muda baru saja pergi, dia juga pergi sebentar. Tidak sampai satu minggu, namun anda sudah rindu duluan." Rehan melanjutkan ucapannya ingin menyindir Nathan.


Nathan pun duduk sambil melemparkan bantal ke arah Rehan. Refleks Rehan menangkapnya.


"Apa kau tidak punya kerjaan lain selain bertanya tentang itu? Aku sama sekali tidak merindukannya dan aku tidak perduli tentangnya." Nathan semakin kesal.


"Baiklah Tuan muda yang terhormat, lanjutkan lah mengenang kepergian istri anda." Rehan bangkit sambil melemparkan bantal kembali ke pada Nathan, pria itu semakin merasa jengkel. Ia sangat sensitif hari ini, entah apa masalahnya.


***


Malam hari itu, Kasih tengah duduk di kasur asrama tempat ia mendaftar fashion show itu. Semua peserta harus menginap di asrama sampai lomba berlangsung. Dalam satu kamar ada empat peserta, kasur mereka bertingkat dan Kasih tidur di kasur yang atas.


Ia menatap layar ponsel sambil melihat banyak pesan yang masuk hari ini. Dia sangat tak menyangka bahwa Nathan nyaris seratus kali menelponnya dan mengirim pesan berpuluh kali.


(*Hai udik, kamu sudah sampai atau belum?)


(Kamu sedang apa udik?)


(Kenapa tak membalas pesanku?)


(Kamu mulai mengabaikan ku ya*? )


Kasih membaca pesan-pesan yang berisi kata seperti itu, ia senang sekali Nathan mengirimkan pesan demikian.


Kasih menekan smartwatch itu agar sampai terhubung ke Nathan.


Tit tit tit.


Nathan langsung terperanjak bangun dari tidurnya, ia duduk di tengah kasur sambil mendengarkan smartwatch itu berbunyi.


"Ahh si udik sedang merindukanku." Nathan mendengar suara itu yang nyaring terdengar.


Nathan pun membalas menekan tombol smartwatch nya untuk membalas kode rindu dari Kasih, Kasih yang berada di sana pun tersenyum kegirangan. Ia membuka ponselnya lalu mengirimkan sebuah pesan pada Nathan.


(I love you Tuan petir) Ia mengirimkan kata-kata itu walaupun sedikit merasa malu.


Drett Drett Drett. Ponsel Nathan bergetar, ia pun membaca pesan singkat yang penuh makna dari Kasih.


I love you Tuan petir. Hahaha, Nathan tertawa geli membacanya, ia pun segera membalas pesan itu.


(Aku tidak mencintaimu udik) Nathan pun membalasnya, Kasih merasa kesal membaca pesan tersebut. Ia seketika memanyunkan bibir.


Nathan menunggu balasan pesan dari Kasih, namun tak ada pesan yang masuk. Nathan kembali uring-uringan, ia berfikir mungkin Kasih marah atau sedih dengan balasannya. Nathan pun mengirimkan satu pesan lagi.


(Aku merindukanmu, udik ku) Nathan mengirimkannya, Kasih yang tengah melamun pun segera membacanya. Kali ini ia di buat tersenyum.


(Saya juga) Kasih mengirimkan kata itu dan tak lupa ia memberikan emoticon love untuk Nathan.


Nathan tertawa bahagia di sebrang sana, ia berguling-guling di atas kasur seperti orang yang baru jatuh cinta.


(Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu) Itu pesan yang terakhir Nathan kirimkan, dan pada akhirnya mereka berhenti mengirim pesan. Mereka tertidur satu sama lain.


Kasih tertidur dan Nathan pun tertidur, mereka tersenyum saat memejamkan mata. Ponsel masih di genggam di tangan mereka masing-masing, Kasih akan melalui beberapa seleksi dan pelatihan lebih banyak lagi besok dan hari selanjutnya. Ia akan merubah dirinya untuk menjadi lebih baik dan lebih bersinar nanti di depan semua orang, termasuk Nathan dan keluarga lainnya. Karena akan banyak orang yang akan menyaksikan dirinya di kemudian hari.


BERSMBUNG

__ADS_1


Hai kakak, bila berkenan mampir ke karya saya yuk judulnya. Nama pena Sea Starlee, atau Bisa klik profil saya. Awas jangan salah pilih ya. Gak bakal digantung kok.



__ADS_2