
Dilan dan Alrico baru keluar dari gedung cabang TVE mereka hanya berdua tak di temani siapapun,mereka baru mengatur semua perlengkapan iklan yang akan di buat beberapa waktu lagi,sebuah mobil sedan terparkir di depan lalu mereka masuk disitu sudah ada satu supir.
Sudah didalam mobil mereka duduk berdampingan di belakang.
"Senor Dilan hay un restaurante de comida cerca.?" (Tuan Dilan apakah disini ada restoran penjual makan siang) ia menatap Dilan menunggu jawaban.
"Cuanto,tiene hambre senor.?" (Banyak, apakah Anda lapar tuan) ia malah bertanya.
Alrico mengangguk menandakan kata iya, Dilan menyoroti kota dari jendela untuk mencari sebuah restoran.
Ia mengingat sebuah restoran terdekat yang pernah ia kunjungi. "Hay restaurantes que deberíamos parar allí." (Disana ada restoran sebaiknya kita singgah kesana)
Alrico lagi-lagi menunduk karena ia tak paham dengan tempat-tempat di Indonesia terutama di ibukota,mobil melaju menuju lokasi yang Dilan arahkan.
Kemudian mereka tiba di tempat tujuan sebuah restoran mewah ala khas kebarat-baratan,sebuah meja kosong telah terpilih mereka duduk disana dan seorang pelayan datang memberikan menu untuk Alrico dan Dilan.
Beberapa menu sudah terpilih menu makan siang untuk beberapa porsi sudah cukup untuk mengenyangkan perut.
Kasih tengah sibuk menyiapkan pesanan bersama pelayan yang lain di dapur, Ia menghiasi beragam pernak-pernik makanan di piring hingga menjadi indah bila di pandang menu sudah siap di serahkan pada sang pemesan.
"Kasih tolong antarkan pesanan ini ke nomor 14 ya." Seorang Karyawan pria menyodorkan trolly padanya.
Kasih tersenyum tanda menerima dengan suka rela,dia mengambil trolly tersebut lalu mendorongnya sampai keluar pintu dapur menuju meja tersebut.
Makanan datang.!
Dua orang pria sudah menunggu,Kasih menata makanan serapi mungkin di atas meja kedua orang itu sibuk dengan ponsel masing-masing hingga tak menyadari makanan sudah datang.
"Aaahhh.aw aw aw.!" seorang pria asing itu merintih kecil saat kuah sop yang Kasih angkat tertumpah sedikit ketangannya mana kala kuah tersebut masih sangat panas.
Kasih spontan kaget telah lalai ia menaruh mangkok itu keatas meja dengan wajah panik dan kedua pria berhenti bermain ponsel gara-gara musibah kecil.
"Ma,maafkan saya Tuan,saya tidak sengaja saya ini memang ceroboh.!" wajahnya sudah mulai pucat takut kena sembur.
__ADS_1
Satu teman pria itu membantunya membersihkan tangan dan Kasih juga ikut membantu karena merasa sangat bersalah, wajahnya terlihat sedikit merah akibat emosi.
Kasih mengambil tissue lalu mengilap tangan itu. "Sudahlah tidak usah." pria itu menepis tangan Kasih saat hendak membantu.
Kasih merasa ingin menangis sepertinya pria itu benar-benar marah. "Maafkan saya Tuan." Kasih bermohon agar di maafkan jika perlu ia ingin menangis.
"Sudah tidak mengap." belum Selesai berbicara pria itu langsung menutup mulut bila mendongak menatap wajah Kasih. "Kamu." ia melanjutkan ucapan sekaligus terkejut merasa tak asing melihat wajah Kasih.
Kasih mendadak bengong melihat pria itu. "Saya kenapa Tuan.?"
Kasih lebih terkejut karena pria itu tiba-tiba menjabat tangannya. "Kamu apa kabar.?" ia tersenyum ramah menatap Kasih lalu Kasih menjawab. "Baik,emm tapi anda siapa ya.?" penasaran ingin tau..
Pria itu melepaskan tangan usai bersalaman. "Aku Dilan orang yang tak sengaja menabrak kamu waktu itu." merasa tak bersalah telah mengaku menabrak.
"Dilan." Kasih diam berusaha mengingat pria yang sok akrab dengannya, Ia tak terlalu ingat akan kejadian waktu dulu ia juga tak merasa pernah mengalami kecelakaan,Dilan memberitahu ia detik-detik kecelakaan dan pada akhirnya Kasih mendapatkan memori otaknya kembali.
"Ooohh Iya saya baru ingat,maaf Tuan soalnya saya tak begitu memperhatikan wajah anda waktu itu." memberi senyuman hangat.
Mereka bersalaman kembali untuk kedua kalinya saling memperkenalkan diri,Dilan terlihat senang bisa bertemu dengan Kasih ia juga merasa sedikit merasa bersalah karena belum bisa mengganti rugi semua luka saat menabrak Kasih.
Kasih permisi saat sudah berteguran namun ia terhenti saat Dilan memanggilnya sambil menarik tangannya.
Kasih menoleh. "Duduklah sebentar,Kita kan belum terlalu mengenal." Dilan menepuk tempat duduk kosong yang ada di sebelahnya.
Mungkin Dilan ingin mengenalnya jadi ia pun duduk di kursi yang telah Dilan berikan,trolly tadi ia pinggirkan agar tak menghalangi jalan.
"Senor presente esto Kasih.!" (Tuan perkenalkan ini Kasih) Dilan memperkenalkan Kasih kepada Alrico.
"Owh hay,nice to meet you..!" Alrico dengan ramah mengulurkan tangan kepada Kasih dan tanpa ada jawaban Kasih membalasnya,ini pertama kalinya ia melihat bule asli di depan mata. "Your so beautiful." mengakhiri perkenalkan dengan pujian.
"Ohhh. Thank you thank you." walaupun Kasih itu udik ia juga tak terlalu mengerti bahasa Inggris ia hanya tau mengartikan dari sepenggal kata singkat.
Dilan memulai obrolan dengan beberapa pertanyaan. "Kenapa waktu itu kamu ninggalin aku,ah maksudnya pergi gitu aja waktu dirumah sakit." Dilan sedikit gemetaran saat bertanya..
__ADS_1
"Aaaa,Itu karena saya sedang buru-buru." Menjawab sedikit saja. "emm begitu rupanya.." Dilan menjawab,Kasih tak mau menceritakan detail permasalahan hidup yang membuat ia takut telah meninggalkan rumah sakit dalam keadaan luka.
"Kadang-kadang aku singgah kesini untuk makan malam ataupun siang,Tapi aku tak pernah melihatmu disini." bagai orang yang sudah lama kenal Dilan tak menggunakan kata saya anda malah ia langsung menggunakan kata aku kamu.
"Sebenarnya saya baru berapa hari bekerja disini Tuan." memberitahu agar Dilan mengerti.
Karena sudah lapar Dilan berhenti bertanya ia memilih makan dulu baru nanti berbicara lagi, Kasih memandangi wajah tampan milik Dilan pria itu terlihat kece dengan style modisnya berambut Curly sedikit bergelombang,alis kiri di codet bergaris dua tanpa ada kumis dan jenggot,memakai kalung ala anak pank dan sebuah kaos oblong di balut kemeja kotak-kotak merah serta celana jeans yang mendukung ketampanan dirinya mungkin style itu adalah ciri khas Dilan.
Kasih menemani mereka makan sampai habis Alrico hanya diam fokus mengunyah makanan karena ia tak mengerti apa yang di bahas oleh Dilan dan Kasih ia lebih mementingkan makan mengisi perut.
MALAM HARI
Kasih baru selesai bekerja dia sudah bersiap-siap ingin pulang,sebelum itu permisi dulu pada Pak Bos yang tengah sibuk menelpon tampaknya pria itu sangat sibuk jadi Kasih mengurungkan niat untuk pamit jadi ia langsung pulang saja.
Badannya agak sedikit pegal kakinya juga serasa naik betis jadi ia melangkah pelan-pelan,Kasih keluar dari pintu dan kaget melihat seseorang yang ia kenal menunggu diluar.
"Tuan sekertaris." Kasih setengah berteriak melihat Rehan berdiri di sebelah mobil.
Kasih berlari pelan menuju Rehan dengan tadi kakinya terasa sakit tapi sekarang sudah baikkan tuh buktinya ia berlari,Rehan memberikan senyuman mahal untuk Kasih.
"Selamat malam Nyonya Muda.!" Sedikit menunduk menyapa. "Kenapa anda disini Tuan.?" tak percaya maka ia bertanya.
"Tadi tuan muda menyuruh saya untuk menjemput anda."
"Kenapa.?" Pertanyaan yang sangat aneh menurut Rehan. ia pun menjawab. "Tuan muda kan sudah melarang anda naik Bus, Atau mungkin saja dia takut anda kenapa-kenapa."
Kasih tersenyum manis mendengarnya tumben sekali Tuan petir berbaik hati walaupun menggunakan tenaga orang lain tapi itu sudah termasuk sesuatu kebaikan,orang kaya tidak boleh naik Bus karena itu hanya untuk orang miskin begitulah opini Nathan dengan sifat sombongnya Itu yang diingat kasih saat mendengar ucapan Nathan.
"Apa Tuan Muda sudah pulang.?" Kasih bertanya lalu Rehan menjawab. "Tuan muda malam ini tidak pulang karena ia ingin menginap di rumah sakit." Kasih berhenti tersenyum bila mendengar kata rumah sakit tentu saja Nathan akan bermalam dengan Sera penjelasan itu membuat hatinya nyeri.
Rehan membukakan pintu untuk Kasih dan ia pun masuk dengan kesal,Rehan melihat perubahan wajah Kasih jelas membuat ia langsung paham sesuatu kecemburuan yang membuat keadaan berubah.
BERSAMBUNG
__ADS_1