Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
SEBUAH BUKTI


__ADS_3

Keesokan pagi nya. Kost-an Soka.


" Nooooonnn... Nooon... Non Naya, ada yang nyariin, bangun Non ". Suara Bu Rahma berisik sekali daritadi. Harusnya dia tau, kalau sekarang hari Jum'at waktunya aku libur kuliah pagi jadi cuma masuk kerja siang aja. Jika ini hanya tentang sarapan, sesudah subuh tadi aku membawa jatah sarapan ku ke kamar, sengaja agar bu Rahma tak menggangguku.


" Masih jam 7 pagi Bu.. Aku ngantuk, semalam ga bisa tidur ". Naya berteriak sedikit kencang dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, kini telepon nya yang berbunyi. Ka Amir atau Abah kah yang menelpon ku sepagi ini? ada apa lagi? aah malas nya, beginilah jika aku lupa mematikan hape tadi malam. Naya bangkit dan berjalan malas mengambil hape nya di meja, wajahnya langsung terlihat panik saat membaca sebuah nama yang tertera di layar hape nya.


" Hallo ".


" Ck.. Lama sekali.. Baru bangun yaa? duh anak gadis jam segini belum mandi? awas nanti jodohnya yang mendekat lho ". Suara Mahen terdengar diujung telepon.


" Ishh, aku udah mandi donk pas subuh tadi.. Semalam ga bisa tidur.. Ada apa sih, pagi-pagi gini.. Aku mau tidur, mumpung libur kuliah ". Jawab Naya menopang dagu sambil menguap.


" Aku tunggu kamu dibawah yaa. Hanya 20 menit waktu buat kamu mandi lagi dan turun lalu menemani ku sarapan. Rey belum pulang ke Hotel sejak semalam jadi aku ga ada teman.. Atau, kalau kamu menolak, aku bakal naik ke atas lho, Bu Rahma mengizinkan karena aku bilang, kamu calon istri ku ". Mahen sengaja memancing kepanikan Naya.


" Whaaaatttt..... Aaahhh ". Naya terlonjak kaget dari kursi meja rias dalam kamarnya. Otaknya berusaha mencerna dengan cepat. Apa tadi? dia ada dibawah? gawat, jangan sampai dia naik. Handuk mana handuk... gubrak gebrug.. bluggg... Suara pintu kamar mandi yang tertutup kencang.


20 menit kemudian. Naya sudah terlihat segar memakai setelan casual favoritnya, celana jeans hitam dipadu dengan kaos berlengan pendek berwarna coklat. Tangan kiri nya membawa outer hitam, sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai, dengan satu sisi bagian kiri diselipkan ke belakang telinga. Sepatu kets putih nya dia tenteng, nampak nya dia tak sempat memakai nya diatas. Manis sekali dia pagi ini. Mahen memandang Naya yang sedang turun tangga tanpa berkedip.


" Maaf yaa lama.. Kenapa sih ga bilang dulu? ". Naya berbicara pada Mahen setelah dia berada di kursi tamu namun tak melihat Mahen yang sedari tadi hanya diam memandangi nya. Ia sibuk memakai outer, menguncir rambut nya dan saat akan memakai alas kaki, sepasang tangan tiba-tiba mengambil sepatunya, Mahe melonggarkan ikatan tali nya agar kaki Naya yang sudah memakai kaos kaki leluasa masuk kedalam nya.


" Eh.. Ko jadi gini, siniin, nanti diliat temen-temen aku. Jangan gitu donk, please ". Naya jadi tak enak hati melihat Mahen yang kini telah berjongkok dihadapan nya untuk memakaikan sepatu.


" Cepat lah.. Aku bisa terlambat meeting nanti ".


Mahen tak memberinya pilihan, pada akhirnya Naya menuruti kemauan nya juga.


" Sarapan dimana? aku ikut kamu aja ". Tanya Mahen setelah mereka berdua berada didalam mobil dan keluar dari area kost-an.


" Nasi Jamblang mau? ke Mang Gembul aja yang tempat nya enak dan area parkir nya luas.. Lewat sana ". Naya memberi petunjuk arah agar Mahen tak bingung.


" Kamu, free sampai siang kan? temani aku yaa hari ini sampai jam 12 siang.. After lunch aku antar ke tempat kerja, malam nya nanti aku jemput seperti biasa.. Aku ada agenda keluar kota, Rey harus ke lokasi yang berbeda dengan ku hari ini.. Mau yaa, please ". Mahen mencoba mengajak Naya hari ini menemani nya dalam kunjungan kerja. Mahen mengajak nya bukan tanpa alasan, ia membawa Naya pergi agar Candi bisa mencari tau lebih detail tentang sesuatu di kamar Naya. Sebuah catatan atau apapun itu yang mungkin berguna untuk menjatuhkan Danureksa Subrata nanti sekaligus memasang sistem pengamanan untuk Naya.


" Kunci loker aku ketinggalan, lagipula uniform aku juga masih di kost-an.. Abang kan kerja, ngapain ngajak aku sih? Ganggu kan.. Lagian aku ga paham juga situasi kerja di sana, aku kudu ngapain? ". Naya menolak secara halus keinginan Mahen yang akan mengajaknya.


" Nanti baju, kunci mu, Bu Rahma yang mengatur untuk diantar langsung ke tempat kerja, tadi aku udah minta tolong, izin juga dan beliau tak keberatan.. Disana ga ngapa-ngapain, cuma duduk dan lihat aku kerja.. Ok? Please ". Mahen kembali memohon.


" Huft, kebiasaan, suka maksa.. Aku bisa apa ". Aneh yaa, aku kalau dipaksa dia, merasa biasa saja yaa? kenapa dengan Bagas aku sangat tak suka? dalam batin Naya terheran. (karena Mahen cool Naya 😌).


" Thankyou Honey ". Jawab Mahen asal. Merasa kelepasan atas respon Naya yang mendadak membuat nya melambung tadi, kini keduanya berada dalam situasi canggung hingga mereka tiba di tujuan.


***


" Hallo.... Hallo.... Bagas? Ini kamu? nomor kamu ga aktif, kenapa?... Aku minta maaf, aku sudah egois, kamu melakukan ini untuk keselamatan ku kan, tapi aku.... ". Sebuah pengakuan yang tak terduga dari suara seorang wanita yang sepertinya sedang menanggung sakit karena akan kehilangan kekasihnya, Bagas. Tut tut tut... Bunyi nada telepon diputus.


" Bagas... Hallo.. Hallo, jangan marah lagi.. Hiks ". Wanita ini kembali terisak.


" Temui aku di Cafe, 1 jam lagi.. Sendiri saja, dan hati-hati ". Sebuah pesan balasan masuk beberapa saat kemudian setelah sambungan telepon tadi terputus.


Wanita ini tampak sangat bahagia memikirkan jika sebentar lagi ia akan bertemu kekasih nya kembali. Ia bertekad akan mengabarkan satu berita bahagia yang mungkin bisa merubah keputusan kekasihnya untuk menikahi seorang wanita pilihan orang tua nya yang berasal dari luar kota dalam waktu dekat.

__ADS_1


Satu jam kemudian, sebuah cafe di kota sebelah utara Cirebon.


* Anda mencari Bagas? Perkenalkan, aku teman nya.. Silahkan duduk ". Suara berat seorang pria memaksa wanita tadi, untuk duduk satu meja dengan nya.


" Apa mau anda? Mana Bagas? ". Tanya nya tak sabar.


" Baiknya anda kooperatif Nona, agar aku bisa membantu mu.. Siapa tau, aku juga bisa melepaskan kalian berdua dari tekanan seseorang.. Betul demikian? ". Pria dengan suara serak ini seperti akan menawarkan sebuah pilihan bantuan.


" Darimana anda tau? Siapa anda sebenarnya? Aah... Aku permisi, jangan ikut campur dengan masalah kami karena terlalu banyak mata-mata.. Jangan libatkan hidup anda untuk kami Tuan ". Wanita ini menjawab dengan tangan mengepal menahan emosi sambil bangkit dari duduknya.


" Hanya aku. Yang bisa membantu anda berdua dan menjamin keselamatan anda. Nona, lawan mu bukan orang sembarangan. Ini adalah pilihan terbaik mu saat ini. Ceritakan semuanya atau kalian semakin berada dalam bahaya.. Termasuk janin yang sedang anda kandung mungkin tak akan selamat. Anda tentu penasaran reaksi seperti apa yang akan Bagas berikan jika tau anda sedang mengandung calon anaknya bukan? ". Pria ini dengan santai nya berkata seolah ia tau segalanya.


" Baiklah... Apa untung nya untukku? ".


" Begini....... ............ Anda mengerti? Jika anda cerdas seharusnya anda mengambil pilihan yang aku berikan. Ikutlah dengan wanita yang duduk disana, dia akan menjaga mu selama dalam persembunyian hingga waktu nya anda diperlukan untuk klarifikasi segala nya. Anda akan difasilitasi dengan baik termasuk seorang dokter untuk memantau kesehatan anda berdua ". Jelas pria ini panjang lebar.


" Baik, aku setuju.. Boleh aku tau, anda siapa? ". Tanya wanita ini kembali saat pria ini bangkit dari tempat duduknya.


" Aku, Captain sebuah team ". Ucap nya sambil berlalu pergi meninggalkan cafe.


" Mari Nona.. Ikut aku ". Sebuah suatu lembut menyadarkan nya dari lamunan. Wanita ini tak punya pilihan lain, ia hanya berharap semua lekas berakhir dan Ia dapat kembali kepelukan damai sang kekasih.


***


" Capt.. System keamanan dikamar Nona sudah aktif. Tak ada catatan tentang Bagas disini. Mungkin memang Nona tak mengetahui hal ini lebih dalam sebelum nya ". Laporan Candi dalam pesan panjang nya.


" Aku sudah selesai disini. Temui aku di tempat biasa.. Alex.. Masuk.. Alex ".


" Alex lapor Capt. Delta 04 sedang bersama Nona menuju Brebes. Posisi project aman Capt, orang Tristan perlahan mundur ".


" Siap Capt... Copied ". Terdengar candi dan Alex serentak menjawab instruksi dari Rey.


***


Tegal, Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan menuju ke sini, Naya terlihat bosan hingga Mahen memancing nya agar kembali ceria dengan sebuah game yang dia ciptakan di handphone nya.


" Selamat Pagi Pak Mahen, meja anda sudah siap, mari ". Sambut seorang wanita tinggi semampai ketika mereka berdua telah memasuki sebuah kantor. Nampak sekilas, tatapan nya memindai penampilan Naya dari atas sampai bawah.


Cckkk.. Apa maksud tatapan mu itu? Biasa aja kalle Bu ngeliat nya... Baru liat putri solo asli yaa?. Naya membatin dalam hati sambil tersenyum tipis. Mahen bukan tak tahu, wanita yang menyambut nya menaruh perhatian padanya dan pandangan nya menelisik tanda tak suka akan keberadaan Naya di sisi nya kali ini.


" Sayang... Yuk masuk ".


" Oh ya, boleh aku meminta beberapa snack dan lemon tea untuk nya? Sekalian beberapa majalah untuk dia baca agar ia tak merasa bosan ". Mahen meminta pada wanita tadi yang tak lain adalah sekretaris kantor cabang Exona di sini.


* Dia akan ikut masuk? Apakah tidak mengganggu kerja Bapak? ". Tanya sekretaris tadi berusaha menahan Naya agar tak berada disamping Mahen.


" Dia calon istri ku, aku mengajaknya karena ini bukan kunjungan resmi, hanya mampir karena aku sedang didekat sini ? ". Mahen melirik Naya, takut akan reaksinya atas pernyataan barusan. Tapi nampaknya Naya tak memperhatikan, dia masih asik dengan game yang sedang ia mainkan di handphone Mahen.


" ....... Baik Pak, akan aku siapkan... ". Wanita ini lalu berlalu pergi dengan perasaan kesal.


" Boleh aku minta handphone ku kembali ? ".

__ADS_1


". Pinta Mahen demi agar Naya mengikuti nya masuk ke dalam ruangan kerja yang didalam nya telah menunggu beberapa staff IT dan teknisi.


Sudah hampir dua jam Naya duduk di sofa empuk yang terletak di sudut ruangan meski ditemani banyak cemilan dan majalah yang sudah selesai ia baca berulang kali, tetap saja bosan melanda nya. Mahen masih sibuk diskusi dengan para pria disana. Hingga akhirnya tak lama ia kembali tertidur. Saat Naya bangun, ternyata ia sudah berada di pelataran parkir Mall tempat nya bekerja. Lelap sekali kamu Naya kalau sudah tidur.


" Naya, bangun. Sudah sampai ". Mahen berbicara lembut sekali demi agar gadis ini tak terkejut saat membuka mata nanti.


" Haaa... Sampai dimana? Jawabnya masih dengan nada malas ".


" Mall, Sunspring Mall.. Kalau kamu ga jadi kerja? Kita ke hotel yuk.. Aku mau bahas tentang Rendy, Bagas dan Tuan Danureksa ". Pancing Mahen kali ini dengan suara sedikit keras.


" Noo....". Naya terlonjak bangun.


" Lho.. Ko sudah disini, tadi kan aku tidur di sofa.. Siapa yang pindahin aku saat tidur? Abang? Kan aku udah bilang aku ga suka diperlakukan begitu " Naya kesal kenapa ia tak dibangunkan saja dari tadi. Membayangkan dia digendong Mahen dalam keadaan tertidur membuat nya malu sekaligus kesal.


" Bodyguard Istri Kacab disana yang menggendong mu ke sini.. Bukan aku ".


" Sini, tangan kiri kamu mana? Aku ada sesuatu buat kamu. Hadiah karena udah mau nemenin, di ganggu tidur nya oleh ku ". Mahen masih menanti kesadaran Naya terkumpul kembali karena ia masih belum sepenuhnya sadar selepas tidur nyenyak nya.


" Nih.. Buat apa... Eehh.. Ko... ". Naya terkejut ketika Mahen memakaikan nya sebuah gelang tali berarti hitam dengan bandul kecil berbentuk love, gembok dan kunci.


" Dipakai yaa, jangan pernah dilepas. Kamu yang jagain hati aku mulai kini. Naya, aku nyaman dengan mu. Jangan menjauh yaa, jika aku punya salah atau ada sikap ku yang tak kamu sukai, bilang saja. Aku akan berusaha merubah sifat buruk ku ". Mahen berkata lirih penuh keraguan apakah Naya akan menolak pemberian nya kali ini.


" Ini cantik. Abang bikin sendiri? tadi itu apa barusan? menyatakan cinta sama aku? haha Abang ga salah makan kan? ". Naya justru meledek Mahen.


Sungguh reaksi yang tak disangka Mahen. Dia seketika menertawakan kebodohan nya sendiri. Saking gemas akan reaksi konyol gadisnya, akhirnya dia menyentil kepala Naya. Peletak.


" Aduh, sakit.. Iya maaaf. Btw, Ini paten yaa, ga bisa dilepasin? ". Tanya Naya dengan muka polos nya.


" Hem paten. Nanti, aku akan siapkan lebih baik lagi pernyataan cintaku. Setelah semua masalahmu selesai... Mau kan tunggu aku? ".


" Boleh ga, mau ga, ini namanya pertanyaan... Bukan.. Mau kan? kalau ini pernyataan pemaksaan nama nya. Tapi, makasih yaa.. Aku turun ". Jawab Naya cepat.


Cuma begitu doank? gada basa basi nya lagi? dasar Naya. Mahen hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia sadar sedang berhadapan dengan gadis belia.


***


" Rey, aku menuju tempat mu. Mari kita selesaikan ini ". Minggu depan, tunggu saja kejutan dari ku Tuan Danureksa. Anda sudah berani mengganggu dan menyakiti gadis ku. Tangan Mahen mengepal menahan marah setelah mendapat kabar terbaru dari Rey.


***


Pagi hari, kediaman Naya.


" Aku akan datang bersama orang tua ku hari jumat saat Naya libur Om ". Suara Bagas memenuhi ruang tamu dimana Abah dan ka Amir berada.


" Akan aku sampaikan pada Naya.. Baiknya ini hanya antara kami dahulu, jangan buru-buru membawa saudara lainnya ". Pinta Abah kemudian.


" Baik Om.. Kalau begitu, aku pamit ". Bagas bangkit dari duduknya lalu pamit pulang.


" Amir.. Beritahu Naya untuk pulang kamis nanti.. Tapi, hatiku merasa gelisah, semoga semua ini baik menurut mu ya Allah.. Tunjukkan lah apa-apa yang tidak kami ketahui.. aamiin ".


" Aamiin... Baik Bah ". Tak lama, ka Amir mengirimkan sebuah pesan pada Naya agar ia pulang kamis nanti sekaligus memberitahu bahwa akan ada pembicaraan serius tentang lamaran Bagas.

__ADS_1


_____________________


Diiikkiitt lagi...... Terungkap...


__ADS_2