
Saat Naya masih terheran akan isi dalam paket nya, suara panggilan dari ponsel nya kembali berdering beberapa kali tanpa henti, ah ya dia lupa bahwa Mahen tadi akan menelpon nya kembali setelah ia selesai bersih-bersih diri dan makan malam.
" Iya.. ". Sahut Naya singkat.
" Ko lama banget, lagi apa? aku cemas daritadi siang, tapi kamu nya malah santai banget gini ". Mahen mulai kesal pada Naya bahwa rasa khawatir yang ia tunjukkan seharian ini tak berarti apa-apa bagi nya.
" Iya maaf. Tadi barusan keluar kamar, ambil paket yang ditaruh Bu Rahma di rak sepatu. Aku belum bilang ya sama Abang kalau tadi siang aku dapat paket tapi tanpa ada identitas nomor ataupun nama pengirim nya, dan barusan paket nya aku buka, makanya lama angkat telpon dari Abang tadi.. Mau tau ga apa isinya? ".
" Apa? ". Tanya Mahen acuh.
" Sebuah album foto seorang pria dewasa yang yaaaa cakep sih emang, cowok banget ". Rinci Naya tentang isi paket nya, ia tak merasa bahwa penjabaran nya yang baru saja ia katakan telah membuat seseorang di seberang sana terbakar api cemburu yang dahsyat.
" Nyalakan sk*pe kamu, segera Naya.. ". Tanpa bisa Mahen kendalikan, nada suara nya telah meninggi.
" Kenapa jadi gitu sih, kan bisa pelan-pelan ngomong nya ". Naya terkejut sekaligus kesal, ia tak merasa bersalah mengapa Mahen seolah memarahi nya.
" Eh maaf sayang... Aku boleh lihat isi paket yang kamu sebutkan tadi, please nyalakan sk*pe nya yaa ". Mahen menyadari kesalahan nya, nada bicara nya kini telah kembali melembut.
Naya kemudian menyalakan laptopnya dan mulai menunjukkan isi paket yang Mahen maksudkan.
" Abang paham ga apa maksudnya? ini salah kirim kah? ". Tanya Naya kembali penasaran saat melihat Mahen justru tertegun ketika melihat nya.
" Buang saja.. sudah pasti itu salah kirim. Lekas buang, bila perlu bakar saja ". S*al, Anggara malah mengirim kumpulan foto dengan berbagai pose dan keseharian nya pada Naya. Apa mau nya orang itu. Ku akui dia pria menarik, tak ada yang bisa menolak pesona seorang Anggara Sumitra. Naya, apa kamu juga akan berpaling dari ku?. Batin Mahen mulai gelisah kembali.
" Aku kembalikan ke kurir nya saja yaa, pasti mereka punya nomor dan nama sang pengirim ini, biar dikembalikan ".
" Ga perlu, bakar saja toh jikalau salah kirim pun, mereka pasti lebih memilih mencetak yang baru daripada menyelidiki kemana paket ini nyasar. Hanya kumpulan foto, apa penting nya ". Sebisa mungkin Mahen menahan nada suara nya tetap lembut agar tak terdengar sedang menahan rasa cemburu sekaligus emosi.
" Gitu yaa, ok aku bakar deh ". Sebenarnya aku paham, tidak mungkin ini adalah salah kirim. Tapi aku akan ikuti kata Abang. Naya memasukkan kembali album foto itu kedalam paket nya semula lalu membuang nya di tempat sampah dalam kamar nya.
" Sudah sayang? ". Suara Mahen kembali terdengar.
" Aku buang di tempat sampah dulu, besok baru aku pindahkan ke tong sampah yang di halaman belakang ". Sahut Naya sambil kembali duduk didepan laptop nya.
Mahen terlihat lega. " Tadi pagi kamu kenapa? mau cerita ga, sama aku? mata kamu bengkak sayang, di kompres pake ari dingin lalu kamu pake eye treatment serum nya, punya kan? ".
" Iya ada, nanti aku pake kalau mau tidur. Tentang tadi pagi, cuma lagi inget kebisaan aku sama ummi aja sih jadi kebawa baper. Mungkin karena istirahat yang ga bagus juga akibat begadang semalam jadi kesenggol dikit mood nya hancur hehehe ". Naya tak bisa berterus terang bahwa lusa ia akan berulang tahun. Naya hanya tak ingin Mahen bolak balik menemui nya disela kesibukan pekerjaan nya yang sedang padat.
" Bener begitu? ga ada sebab lain? ". Mahen mencoba membujuk Naya agar sedikit demi sedikit ia berani terbuka pada nya.
" Kayak nya gitu.. Oiya, Abang cape pasti nya, istirahat gih, aku juga mau rebahan. Makasih atas semua yang Abang lakukan buat aku hari ini ". Naya tau, makanan, minuman hangat, snack sehat yang dikirimkan kurir ke tempat dimana ia berada sepanjang hari ini adalah pemberian dari Mahen, bentuk perhatian dari nya meski ia tak bersama Naya, aku happy, Abang.
__ADS_1
" Peka banget, seperti biasanya. Aku temenin kamu sampai tidur, gih siap-siap Yang ". Sebenarnya ia mengantuk tapi wajah sembab dan mata Naya yang terlihat bengkak di depan layar laptop nya, membuat Mahen tak tega bila gadisnya menghabiskan malam nya yang sendu seorang diri seperti siang tadi.
Akhirnya Naya mengalah, menangis hampir setengah hari tadi membuat nya lelah dan mata nya pedih. Ia memutuskan untuk beristirahat lebih awal malam ini, hati nya sedikit tenang dan damai mengetahui kekasihnya menemani malam nya yang sunyi hingga ia tertidur nanti. Tak lama, terdengar hembusan nafas halus dan teratur tanda Naya telah terlelap. Wajahnya yang damai kala tertidur membuat Mahen betah berlama-lama memandangi nya.
" Damai banget sih kalau tidur, mimpi indah dear.. Baik-baik disana, love you sayang ". Mahen mengecup layar laptopnya bagai orang setengah waras. Hatinya bahagia meski saat ini ia harus puas karena hanya bisa mengecupnya lewat sebuah benda.
***
Exona, Jakarta.
" Rey, kita berangkat malam ini yaa agar esok pagi aku sudah bisa beri surprise untuk Naya ". Mahen merapikan meja kerja nya sebelum ia keluar dari ruangan nya.
" Siap bos. Aku jemput jam 21.00 ya Bos, agar tidak terlalu macet karena long weekend menuju cap go meh ". Rey memberikan sebuah saran.
" Atur saja. Dewi.. keruangan ku ". Mahen memanggil sekretaris nya via interkom, ia akan memberikan tugas padanya sementara ia pergi weekend ini.
" Ya pak... ". Suara lembut dewi terdengar saat memasuki ruangan.
" Senin, mundurkan jadwalku jika bisa. Mungkin aku tiba disini selasa. Jika tidak bisa, akan aku usahakan siang hari sampai di kantor dan sore hari nya kita langsung meeting internal dulu ".
" Anda akan kemana pak? ". Tanya sang sekretaris.
" Periksa progres file yang aku berikan ke team dua hari lalu. Draft presentasi penyempurnaan smart locked system untuk new project harus sudah selesai dan ada dimeja ku senin pagi ". Mahen tak menanggapi pernyataan Rey ataupun dari Dewi. Mahen tau sekretaris nya ini menaruh suka pada nya karena beberapa kali Rey memergoki nya sedang mengamati, memandang bahkan menyimpan foto Mahen dan dijadikan sebagai wallpaper di layar komputer kerja nya.
" Baik Pak. Ada lagi? ".
" Jangan suka memandang Nona, Wadir sudah ada yang punya ". Rey kembali berbicara, meski wajahnya menunduk dengan tangan yang sedang memainkan handphone nya tapi kata-kata nya tepat sasaran menohok sang sekretaris.
" Maaf.. ". Ucap Dewi sambil menunduk malu.
" Sementara itu saja, nanti jika ada kekurangan Rey akan menghubungimu, terimakasih ". Mahen berkata sambil melihat gadis itu sekilas pandang.
*
Malam hari, tepat pukul 9 malam Rey menjemput Mahen di lobby Orchid tower. Bos nya itu nampak sibuk sedang berbicara serius ditelepon nya.
" Kita berangkat bos ". Rey membuka pintu samping kiri kemudi untuk bos nya.
" Langsung jalan saja rey, aku sedang bicara dengan Pak Jim tentang Tristan Corp ". Mahen memberikan instruksi.
" Baik Pak, aku serahkan kepada anda. Terimakasih ". Pak Jim memberitahukan kepada Mahen bahwa Tristan nampaknya akan berulah kembali maka kali ini team shadow A1 milik Pak Jim yang menangani nya.
__ADS_1
" Rey, Pak Jim mengambil alih masalah dengan Tristan. Jadi kali ini aku akan fokus pada Anggara, kemarin dia mengirimkan sebuah album foto dirinya pada Naya, sungguh cara yang tak diduga dari seorang Casanova sepertinya ". Mahen menjelaskan duduk perkara yang sedang ia hadapi kali ini pada Rey berharap Rey akan punya ide segar yang bisa mereka gunakan. Setelah perbincangan seru, Mahen memutuskan untuk tidur sejenak, masih 2 jam lagi untuk sampai di hotel tempat mereka akan menginap 2 hari kedepan.
Esok hari, Hotel Santi, Cirebon.
Sekitar jam 2 dini hari mereka berdua sampai dikota ini kembali. Mahen langsung tertidur begitu masuk dan merebahkan tubuhnya di dalam kamar nya, ia memang merasa sangat letih minggu ini karena memaksakan lembur sampai dini hari untuk menyelesaikan pekerjaan nya agar hari ini Mahen bisa datang mengunjungi gadisnya dengan leluasa. Dan benar saja, setelah subuh pagi ini Mahen terlihat sibuk dengan baju yang akan dia kenakan hari ini saat mengunjungi Naya. Tepat jam 6 pagi, ia dan Rey menuju kost-an Naya. Gadisnya belum mengaktifkan ponsel maka ia berinisiatif melakukan panggilan via telepon ke Bu Rahma.
" Non, ada paket, Ibu taruh depan pintu yaa. Lekas keluar Non ". Suara Bu Rahma sambil mengetuk pintu kamar Naya.
" Iya Bu, sebentar ". Saat Naya membuka pintu kamar nya, nampak buket bunga mawar putih lengkap dengan pot dan gift card menyambut nya. Naya terheran, sembari mengambil dan membaca gift card yang bertuliskan : Happy birthday. Dari siapa ini? pikir nya. Ia memilih mengabaikan sementara buket mawar cantik itu lalu turun ke lantai dasar untuk melanjutkan aktivitas nya mengunjungi makam ummi nya pagi ini sebelum Naya mengunjungi beberapa panti asuhan yang biasa dia dan ummi nya kunjungi saat ulang tahun.
15 menit kemudian Naya sampai di TPU Kamboja, karena ini masih sangat pagi, terlihat beberapa petugas kebersihan makam yang sedang melakukan aktivitas mereka. Naya menyapa beberapa dari mereka yang ia kenal baik saat melewati menuju makam ummi nya.
Sesampainya disana, Naya membungkuk perlahan sembari mengucapkan kata-kata yang terdengar sangat menyayat hati.
" Ummi, usia ku sekarang sudah 21 tahun, sudah bisa dikatakan wanita dewasa yaa. Tidak ada lagi yang melarang ku ini dan itu, ibarat sebuah sepeda sekarang akulah yang memegang rem nya. Tak ada lagi pelukan dan belaian hangat di kepala ku saat aku akan berbagi perasaan yang sedang tumbuh dalam hatiku ". Naya berkata lirih, sangat lirih karena menahan perih dan sesak dalam hati nya. Sekuat tenaga ia menahan air mata nya agar tak jatuh.
" Aku, akan tetap melakukan semua aktivitas yang biasa kita jalani saat ulang tahun ku, ditahun ke empat tanpa Ummi, hiks.. Aku ga boleh cengeng yaa mii, harus kuat, harus seperti ummi yang tegar. Aku pasti bisa kan mii.. ". Hari ini Naya cuti karena ia ingin menikmati kenangan nya seorang diri, entah kali ini akan tegar atau tidak tapi ia akan mencoba nya.
" Bismillahirrahmanirrahim... ". Ketika Naya akan bangkit dari duduk nya, kehadiran sosok di sebelah nya yang tiba-tiba muncul mengurungkan niat nya untuk bangkit. Naya mendongakkan kepala nya pelan dan ia melihat....
" A-bang... ". Sambut Naya terheran melihat Mahen telah berdiri didepan nya. Cool sekali pacar ku pagi ini.
" Words aren't enough to let you know what you mean to me. Happy birthday sweetheart. Thank you for being my today and i hope you'll be my tomorrow as well.. Surprise honey ". Mahen ingin sekali memeluk gadisnya yang terlihat sangat ayu pagi ini namun tak bisa, hanya sebuah buket mawar rose pink dan baby breath yang bisa ia berikan pada gadisnya.
" Hiks... You are the light that shines my life, thank you for all you have given to me. Abang ko tau aku disini? dan ini rose pink? Terimakasih banyak.. Aku kira buket mawar yang dikirim ke kost-an juga dari Abang ". Ucap Naya sumringah meski mata nya nampak berkaca-kaca.
" Aku hanya bawa ini, di kost-an juga ada buket? ". Mahen berkata pelan sambil melihat ke arah Rey dikejauhan.
" Iya, tapi warna nya putih, bukan kesukaanku sih jadi aku abaikan sekejap. Tadinya mau tanya ke Abang habis dari sini, kalau itu kiriman Abang aku akan simpan sampai bunga nya layu ". Naya menunduk malu bercampur rasa tak enak hati jika buket di kost-an nya ternyata dari Mahen.
" Bukan sayang, bebas mau kamu apakan bunga yang disana. Aku ikut berdoa untuk Ummi boleh? sekaligus memperkenalkan diri ".
" Boleh.. ". Naya tersenyum manis sekali, hati nya menghangat melihat Mahen bersikap sangat manis seperti ini.
" Al-fatihah......... Ummi, aku Mahendra Guna, mulai hari ini aku yang akan menggantikan Ummi menemani Naya sepanjang hari saat ulang tahun nya. Aku hanya butuh jawaban iya dari Naya untuk menjadikan nya halal bagi ku.. Bersama nya hingga kami menua ". Mahen berkata sungguh-sungguh, terpancar jelas dari setiap perkataan nya.
" Abang, kamu sungguh-sungguh?... ". Naya membatin.
" Yuk.. Banyak tempat yang harus kita kunjungi hari ini, semoga kamu happy ya sayang ". Mahen mengusap kepala Naya dengan sayang, tangan nya tak bisa ia tahan dan kini ia menerima cubitan beruntun dari Naya hingga Mahen meringis menahan sakit di lengan nya.
Setelah selesai berdoa, keduanya beranjak dan keluar dari TPU Kamboja menuju tempat yang sudah Mahen persiapkan..
__ADS_1