
Baru saja keduanya meninggalkan lobby hotel. Mata naya sudah ga kuat menahan kantuk yang datang menyergap hingga lima menit berselang, netra nya pun terpejam perlahan.
" Mau tidur lagi? ".
" Aku betul-betul ngantuk.. Satu bulan ini aku kerja keras mengejar ketinggalan di kampus, karena ga rela bila beasiswa itu lepas dari aku. Makanya hasil kerja keras ku, membuahkan hasil lolos seleksi asisten dosen lagi... Ga tau kan? ". Naya bergumam mulai tak jelas.
" Naya-ku memang tangguh... Don't push yourself too hard.. Aku ga mau kamu sakit, denger ga sayang ".
" Heemm.... Aku tau batas kemampuan badan ku.. Abang pasti tau kan bagaimana rasanya menikmati hasil dari keringat sendiri? ".
" Iya.. Lalu guna nya aku kerja keras buat apa ? ". Saat dilampu merah, Mahen kembali memandang gadis ayu yang mulai masuk ke alam mimpi, disamping nya. Anak rambut yang menutupi sebagian dahi nya, bulu mata lentik yang rapat terpejam, hidung mancung, bibir mungil, Naya kamu sungguh ayu sesuai porsi nya.
" Nah, jangan larang aku menikmati setiap rasa sebagai hasil jerih payah ku... Yaa buat keluarga Abang nanti lah pake nanya ". Matanya terpejam, tapi ia masih tetap menyahuti perkataan mahen.
" Buat kamu... ga peka amat sih punya pacar kalau urusan begini, duuh ".
Lampu hijau kembali menyala, ia melajukan mobilnya menuju ke bibir pantai. Saat memasuki pelataran parkir, telepon nya berbunyi. Naya yang mendengar nada dering ponsel terbangun, samar netra nya menangkap sebuah tulisan di display dashboard - Melissa -. Mahen mereject panggilan seiring dengan naya yang perlahan membuka mata nya.
" Siapa? angkat aja, gak apa-apa ko. Ya kali dia mau balikan ".
" Apa sih... Jangan mulai.. ".
" Melissa... Bentar juga telpon lagi ".
Degh.
Benar saja, Melissa calling, begitu tulisan di display dashboard muncul kembali.
" Honey, kamu yang bicara ". Mahen memberikan ponselnya pada Naya.
" Ogah, selesaikan urusan Abang ". Mahen melihat Naya dengan tatapan mata tajam. Ia tak suka sikap nya yang seakan-akan Naya menganggap mereka masih berhubungan.
" Hi, Mahen... Long time no see.. How have you been ? ". Suara lembut diujung telpon. Mahen me-loudspeaker panggilan yang berlangsung.
" I'm good, thanks.. Lissa, I'm in a relationship.. I hope you have a wonderful life ahead. Goodbye. ".
" This is not goodbye Mahen, this is the beginning of our new journey, let's create memories again when we meet ".
" I'am afraid it its time to say goodbye. Best wishes for your Husband.. ". Mahen memutuskan panggilan nya, lalu menghapus nomer Melissa disaksikan oleh Naya. Sayang nya Naya enggan terlibat lebih jauh jadi dia memilih abai.
" Naya........ Ainnaya.... ".
" Haaa, apa? ". Entah kenapa sulit rasanya membuka mata, ia selalu saja merasa nyaman bila tidur didekat Mahen.
" Aku tidak pernah menghubungi atau berhubungan lagi sejak ia menikah satu tahun lalu.. Kamu percaya aku kan? ".
" Aku lapar... Ga bisa mikir ".
" Ya Allah... susah banget ngomong sama kamu ".
" Aku harus bilang apa? membenci? no, hasad, hatiku rugi... Ini diluar kuasa ku, aku gak tau Abang gimana disini.. Aku ga bisa ngatur meski aku ingin, karena Abang bukan mahram ku, kalau Abang mau balikan, go ahead.. Meski aku yakin sih abang ogah... ". Naya memilih menanggapi kejadian tadi dengan santai, meski hatinya berkedut tak suka dan sedikit cemburu, Melissa masih mengharapkan kekasihnya.
" Haha.. narsis nya keluar... Gemesin... Ya Allah, kapan lamaran aku diterima? ".
" Ngelamar kayak ngajak jajan beli permen, ga ada romantis-romantis nya ".
" Hmm, Ok, denger ini... You deserve the very best, someone who will back you up without limits, let you grow without borders, and love you without end. Will you let me be the one? ".
" Dih, geli yaa denger nya ".
" Kan susah, tadi minta romantis tapi gitu.. Aku DP-in kata-kata nya dulu, paket lengkap dengan hantaran nya nyusul ".
" Turun yuk... Dimana ini? Ancol? ".
" Hem, Marina beach bay... Aku sudah reservasi ". Mahen membuka lock kunci mobil agar Naya bisa turun.
Meski lapar, keduanya memilih lebih dulu menyusuri pantai yang sedikit lengang sore itu. Mahen kali ini benar-benar serius membicarakan niat nya melamar Naya dalam waktu dekat.
Dan masih seperti biasa, gadisnya itu menolak dengan alasan kuliah dan lainnya.
" Kita hampir satu tahun lho, aku ga mau lama-lama ".
" Istikharah dulu.. Biar mantap hati nya ".
" Kamu ga lagi hindari aku kan, Yang?.. Aku memang ga sepadan sama kamu, dari A sampai Z, banyak banget kurang nya aku.. Tapi aku ngerasa semua tertutup sempurna sama kamu ".
" Ngaco, semua mahluk juga penuh kekurangan... Guna nya menikah itu apa sih? tujuan utamanya? ".
" Ibadah sepanjang hayat..... Kebayang yaa, tiap hari tuh isinya kebaikan, pahala ini itu... dosa ini itu juga... Tapi nikah juga banyak mengundang rezeki.. Rezeki karena memuliakan istri, rezeki karena sambung silaturahim dengan keluarga besar... Rezeki karena menikah itu sendiri.. ".
" Dengan menikah itu akan menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan serta kemuliaan diri. Bahkan, diantara manfaat menikah Allah akan memberi kecukupan : Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Sebuah janji yang sangat menenteramkan hati bukan... Ini petikan makna dari surat an-nur : 32 ".
__ADS_1
" Ciyeeee, bapak menguasai materi yaa.. Jangan yang indah mulu yang dibayangin.. ".
" Yang indah nya bakalan lebih banyak daripada buruk nya. Karena dengan kamu, aku yakin kita bisa sama-sama belajar jadi lebih baik, terutama aku ". Mahen meraih tangan kiri Naya, menyematkan sebuah cincin dengan design simpel di jari manis nya.
" Apa ini? ko begini? ".
" Biar ga lupa lagi sama aku. Ainnaya, aku serius sama kamu... Janji yaa pulang dari sini, izinkan aku kerumah bicarakan ini sama Abah.. ". Mahen mengecup jemari Naya yang kini telah tersemat cincin pemberian nya.
"........... ". Naya hanya bisa tersenyum melihat kesungguhan kekasihnya itu. Mereka berdua lalu melewatkan senja berdua, hanya saling diam dengan jemari yang saling menggenggam.
Lepas maghrib, Mahen mengantar Naya kembali ke hotel tempat menginap.
" Sampai jumpa besok yaa, kabari aku kamu free jam berapa ". Ucapnya saat mengantar Naya ke lobby.
" Iya.. ".
" Sayang, hmmm, jangan dilepas yaa... Ini dan ini.. Ok? apapun keadaan mu nanti.. Yakin, aku bakalan nemuin kamu dimanapun berada ". Mahen menunjuk dua benda pemberiannya yang melekat di tubuh Naya, gelang tali dengan bandul kunci dan cincin pemberian nya tadi.
" Ko gitu bilang nya, emang aku mau kemana ".
" Entahlah, aku ngerasa kamu bakal pergi jauh... Naya, semoga kamu yang Allah takdirkan buat aku ".
" Sedih banget... Aku masuk yaa.. See you Abang ". Mahen juga merasa ada yang aneh dengan dirinya, kenapa mengucapkan kata-kata sepeti tadi. Akhirnya ia kembali ke kantor, untuk menemui Rey yang sedari tadi mengirimkan banyak pesan padanya.
***
Flashback.
Di sebuah pagelaran busana. Seminggu yang lalu.
" Kamu, Melissa bukan? ".
" Iya betul.. Ada yang ingin di bicarakan dengan ku? ". Melissa sedikit bisa berbahasa Indonesia karena ia memang kerap pergi pulang ke negara ini.
" Kamu tentunya masih ingat dengan Mahendra? ".
" Of course.. Mantan terindah ku.. Why? who are you? ".
" Aku partner.... Kamu mau balikan lagi sama dia? aku tau kamu sedang mengurus proses cerai dengan suami mu ".
" What... Aku tidak yakin Mahen masih ingin sama aku.. Ku dengar dia sedang dekat dengan wanita ".
" Are you sure? ".
" Well... keputusan mu, Melissa ".
" Ok, I'm In.. Aku tidak mau dilibatkan ketika ada masalah suatu saat nanti.. Aku tidak mau karir ku hancur ".
" (*****).... Aku akan menghubungi mu lagi ".
Flashback off.
***
Keesokan hari, sabtu siang menjelang sore Mahen kembali menjemput Naya di lobby hotel. Kali ini ia bertemu dengan rekan kerja Naya kemudian tanpa sepengetahuan nya, Mahen meminta izin bahwa Naya tak kembali ke hotel malam ini. Ia berjanji akan mengantar Naya minggu pagi kembali ke hotel, Mahen bahkan mengatakan pada senior Naya itu bahwa ia akan mengenalkan Naya pada ibu nya.
" Kita ashar dulu lalu ke atas yaa, Puncak Pass lagi ramai pagelaran paralayang sekalian nengok kebun aku, lagi mau panen ".
" Kebun? ".
" Iya, Cita-cita aku rencana pensiun dini dari Exona setelah kita nikah, kamu hamil dan kita punya baby... Aku ingin lebih banyak habiskan waktu dengan keluarga kecil ku nanti, hanya mengurus bisnis ini saja.. Selama 3 tahun ini, aku belajar ekspor komoditi organik meski belum banyak, kalau aku pensiun dari Exona semoga kamu ga kaget kalau ga ada bodyguard lagi ".
" Ish, jauh amat mikir nya... Hati-hati jatuh, sakit ".
" Wish sayang... Harapan, doa juga... Aamiin donk ".
" Aamiin...In sya Allah ".
" Ga banyak yang tahu, aku punya ini termasuk mandala dan mahesa, adikku.. Hanya Mamah, Pak Jim dan Rey.. Aku suka dengan segala hal berbau tanaman hijau, semoga kamu ga keberatan dengan status sebagai nyonya petani nanti ".
" Halal dan berkah.. Cukup dua itu.. Selebihnya, aku ga terlalu pusingkan ".
" Aku tau... ". Tangan Mahen terulur mengusap kepala Naya yang sedang menunduk membalas pesan ka Amir yang menanyakan dia dimana.
Karena mereka berangkat dari Jakarta bersamaan dengan jam bubar sebagian kantor, maka perjalanan menuju puncak agak sedikit melambat.
Maghrib, mereka sampai di sebuah pelataran sebuah rumah panggung yang asri, dengan pemandangan kabut yang mulai turun. Naya turun dari mobil dan berjalan ke sisi pagar bambu yang membentang melihat disisi utara, perbukitan sayur yang berundak-undak, terlihat beberapa saung ditengah seperti sebuah tambak ikan air tawar.
" Astaghfirullah, Den... Ga ngabarin mau kesini ". Sapa seorang lelaki dan wanita paruh baya, membungkuk hormat menghampiri kami.
" Aku hanya lewat... Ini udah mau panen semua Mang? ".
__ADS_1
" Muhun Den, nanti malam ini ba'da isya mulai datang mobil nya.. Catatan pembukuan nya sudah dirapikan sama Edi, tah lagi dibawah, lagi kelarin ikan yang mau diangkut juga.. Rezeki Aden ageung maa sya Allah, panen nya melimpah terus ".
" Alhamdulillah.. Berkat Mang agus dan Anak-anak disini.. Nanti Rey nyusul lusa paling Mang.. Biasa yaa bilang sama Rey, persen buat itu dan anak-anak ".
" Siap Juragan, kumaha teu balanter rezekina, sedekah na tara putus ya Allah balageur si Aden mah.. Hayuk masuk... Ambu keur masak pecak, bieu Ambu bilang Den Mahen tumben teu kadieu, biasana pami panen lauk sok menta di masakin pecak ku Ambu ".
" Iya aku baru sempet, ada titipan salam dari Mama buat Mang agus dan Ambu Ning... Oh ya, kenalin, calon aku.. Naya ".
" Meni geulis kieu ya Allah, ciga putri solo kalem ". Ambu Ning yang tidak pernah melihat Mahen membawa gadis bila ke kebun nampak berbinar menyambut Naya.
" Tau aja, emang putri solo dia, Ambu... ".
" Sayang, sini... Aku biasa nginep disini kalau panen ikan dibawah sana, nanti dari sana diangkut ke sini sambil nimbang ". Mahen menunjuk beberapa pekerja yang masih ada dibawah sana.
" Ngomong apa sih? aku ga paham ". Naya daritadi berusaha mencerna percakapan mereka tapi tetap saja ia tak mengerti bahasa Sunda. (hihi Naya Roaming).
" Eh beneran ini teh? aduh maaf atuh yaa.. Ambu ngomong bahasa Indonesia aja... Sini Neng, masuk yuk dingin ".
" Jawa asli dia ". Mahen menggandeng tangan Naya untuk mengikuti nya masuk ke dalam rumah panggung tadi.
" Maghrib dulu Abang, dimana wudhu nya? ".
" Disana, sini aku temani ".
Keduanya lantas sholat berjamaah dengan di imami Mang agus. Lepas sholat, keluarga itu menyilakan keduanya untuk makan malam sembari melihat pekerja yang mulai sibuk mengangkut hasil panen ke atas.
" Mang.. Sholat belum? Sholat aja dulu, gantian.. Ngopi dulu ". Mahen berbicara pada beberapa pekerja.
" Muhun Den, sudah dibawah tadi gantian.. ". Sahut beberapa pekerja yang melintas.
Tak lama, mobil yang mengangkut semua hasil panen datang. Mahen lantas berbicara via telepon kepada pengepul yang biasa membawa hasil panen nya. Naya yang melihat semua proses nya takjub, sebanyak itu mulai dari para pekerja sampai ke hasil panen nya.
" Aku pamit ya Mang, Ambu, Edi... Mau keatas biar ga kemaleman.. Tapi ga balik sini, langsung pulang.. Besok Rey kesini ". Mahen pamit tak lama setelah ia bicara ditelepon tadi.
" Hati-hati yaa Den, Neng... Siap Juragan ". Sahut mereka bertiga.
" Masih jauh yaa keatas? ". Naya membuka suara setelah ia nyaman kembali duduk di dalam mobil.
" Engga, 20 menitan sampai, kamu dingin? ada selimut dibelakang ". Mahen meraih selimut bermotif panda coklat dan menyerahkan nya agar Naya tak kedinginan.
Suasana malam itu agak gerimis, kabut tebal mulai turun. Tak lama mobil mereka sampai dan menepi di sebuah warung dekat deretan pohon pinus lengkap dengan view pemandangan indah kota bogor dibawah nya.
Mahen memesan jahe panas agar badan mereka hangat ditengah suhu yang mulai dingin menusuk tulang.
" Bbrrrr, dingin banget siii ". Naya sudah gemetar menahan dingin.
" Minum dulu, biar hangat ". Jahe panas, yang masih mengepulkan asap nya tadi, mendadak berubah menjadi hangat dalam beberapa menit.
Melihat gadisnya mulai kedinginan, mahen lalu bangkit berjalan menuju mobilnya untuk mengambil sweater. Ia lalu menyampirkan sweater nya ke bahu Naya, mengusapnya sebentar agar lebih hangat lalu menggenggam tangan gadis itu dan dimasukkan kedalam saku jaket nya.
Keduanya hanya diam melihat indahnya pemandangan malam hingga dering ponsel Mahen membuyarkan keheningan diantara mereka.
" Abaaaaaaaaang.. Mana anak gadis Mama? pulang cepetan udah jam 10 malem ini... Anak orang dibawa kemana? ". Ternyata suara melengking Mama diujung telepon.
" Ada Ma, kita mau check in malah nieh, Naya kedinginan ". Mahen menggoda Mama nya.
" Balik cepet Abang, jangan macem-macem.. Mana Naya? ".
" Sayang... Mama... ". Mahen menempelkan ponsel nya ke telinga Naya sambil berbisik.
" Iih ko aku.... ". Naya canggung sekaligus malu, ia tak tahu harus menjawab apa lebih tepatnya bila ibunya bertanya sesuatu.
" Neng, Naya, sayangnya Mama... Nginep sini yaa, buruan pulang... Mama ngantuk ini ".
" I-iyaa Maa... Ini mau pulang ".
" Dah ya maa, kita pulang... ".
Keduanya lalu saling menatap, Naya dengan kebingungan nya sedangkan Mahen dengan tatapan bahagia nya.
" Aku ga balik Jakarta? nanti gimana? ".
" Besok pagi, aku antar... Yuk cabut.. Mama udah nungguin ".
Baru saja mereka bangkit, ponsel Mahen berbunyi kembali, kali ini dari Rey. Mahen hanya melihat sekilas beberapa pesan yang masuk. Hatinya jadi makin tidak tenang.
Sesungguhnya apa rencana Melissa?
_____________________________
Nulis deg-degan.. 😌
__ADS_1