Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MEMBUJUK


__ADS_3

Simon yang menerima perintah menjalankan operasi senyap dari Tuan Besar semalam, pagi ini telah bergerak mengeksekusi semua jejak yang ditinggalkan oleh Anggara, mengumpulkan bukti untuk skenario kasus yang akan dipakai dalam rencana Tuan Besar nya nanti.


*


Limasan Gandarani, Kediaman Galuh.


Saat sarapan pagi. Keluarga kusuma berkumpul dimeja makan. Galuh menyampaikan bahwa Naya semalam terlibat insiden dengan Mahen dan Anggara, namun berhasil diselamatkan oleh Kusno, orang kepercayaan Kakek mereka.


Galuh juga menyesalkan sikap Wisesa yang seakan memberikan izin pada kakek sehingga Naya akan dinikahkan dua hari kemudian dengan anak sahabat nya itu.


" Kau tau keinginan anakmu itu Sesa, tapi kau begitu tega pada nya... ". Galuh mendengus kesal.


" Aku tidak tahu jika Naya telah masa bodoh dan manut dengan aturan kakek, aku pikir Naya lebih berhak menyampaikan keinginan nya pada beliau ". Elak Sesa.


" Kau seperti tidak tahu kakek saja... ckck ".


" Mahen terluka, sebab mencoba menyelamatkan anakmu semalam.. Kasihan anak itu, mendapatkan jahitan dan beberapa bagian tubuhnya memar parah ". Galuh melanjutkan.


" Mas mahen terluka parah, Om? ". Amir simpati dan merasa nelangsa melihat perjuangan keduanya agar dapat bersama.


" Iya, baru siuman pagi ini dan sepertinya dia shock... Berjuang sekian lama namun hasilnya begini... Akibat Abah mu yang lemot itu, gagal mengenali perasaan anak gadisnya sendiri ". Cibir nya sinis.


Huuuft. Abah menghela nafas berharap mengurangi kesesakan hatinya.


" Apa yang bisa ku lakukan untuk memperbaiki ini? belum terlambat bukan? ".


" Kita harus menghadap kakek... Dan kau, siapkan dirimu bila kakek meminta sesuatu darimu nanti ". Tegas Galuh.


" Ya Allah...................... ". Abah menghela nafas panjang.


Bukan Sesa tidak peka, ia sadar bahwa keinginan kakek nya adalah menginginkan agar dirinya kembali.


Bagi Wisesa, masa lalu nya teramat pahit. Dipaksa menjauh sedari kecil karena dianggap selalu menjadi sebab Galuh berulah, Galuh disalahkan dan sebagai nya. Kehilangan cinta dan sayang orang tua nya karena jarak pesantren yang jauh dan kondisi Ibunda yang sering sakit membuat nya bagai terasing.


Bahkan ketika kembali, sang kakek seakan tetap menganggap nya tidak pernah ada. Sang kakek menganggapnya anak susah diatur dan keras kepala sebab sering bertolak belakang dengan keinginan beliau. Hingga kejadian silam itu menjadi puncak nya, tak heran bila ia mencoba sekuat tenaga menghindari untuk tidak kembali masuk dalam kubangan luka lama yang teramat dalam.


" Abah..... Amir manut ". Tatap nya iba pada sang Ayah. Teringat pembicaraan tentang ia yang akan ditinggalkan bilamana Abah diminta tinggal di Solo dengan Uyut nya. (eps.70).


" Maafin Abah yaa Mir.... ". Tangan nya mengepal diatas meja.


" .,....... ". Amir hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala nya samar.


" Kapan kita kesana? ". Lama terdiam akhirnya Abah membuka suaranya.


" Pagi ini... Kakek mendatangkan psikolog untuk anakmu... Naya masih punya luka bathin dan hanya Mahendra yang bisa menyembuhkan nya.. Ia histeris pagi ini hanya karena nama Anggara disebut ".


" Siang hari ini juga, kakek meminta WO datang ke Joglo Ageng.... Waktu kita sempit, Sesa ".


" Baiklah.... ". Abah pasrah, ia dilema. Tak ingin kembali namun Naya jadi taruhan nya.


" Jameela arthadarma alias Meela Artha Kesuma.... Kuatkan hati ku... ". Batin Abah merindu sang pujaan hati meski dia tahu, istrinya itu tak pernah mencintai nya.


*


Joglo Ageng.


Danarhadi masih setia duduk dan berada disisi ranjang cicitnya. Naya yang tertidur akibat obat penenang terlihat sangat damai dalam buaian. Wajah nya sangat mirip bagai pinang dibelah dua dengan cucu angkat kesayangannya, Meela Artha Kesuma yang tak lain adalah Ibunda Naya.


Jika saja bukan wajah itu yang menghampiri saat ia kelelahan di taman kota beberapa bulan lalu, mungkin ia tidak akan pernah berjumpa kembali dengan salah satu cucu nya. Tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf ketika ajal menjelang nanti ia tidak dapat pergi dengan tenang dan lapang.

__ADS_1


" Kamu jelmaan Meela, tapi sifat mu persis Wisesa... Jangan tinggalkan Uyut lagi yaa, Nduk... Uyut ingin yang terbaik untuk mu... Uyut sudah menghadap Sulthan dan beliau ingin berjumpa dengan mu... Uyut malu jika anggota keluarga ku menikah dengan yang tidak sekufu.. Kamu ngerti kan? ". Danarhadi mengusap kepala Naya lembut, menyelipkan sulur anak rambut yang menghalangi wajah ayu nya.


" Ndoro, ada Raden Mas Galuh di Joglo Inggil bersama dua orang lainnya... Akan ditemui atau tidak, Ndoro? ". Tanya salah satu Mban.


" Iya, 5 menit lagi aku kesana. Jaga Cicit ku dengan baik ". Ia bangkit perlahan dari duduk nya, mencium kening Naya sayang sebelum meninggalkan kamar itu.


Danarhadi melangkah menuju pendopo rumah nya dengan langkah gontai, sesungguhnya ia ingin merebahkan tubuh tua nya yang tak dipungkiri merasakan sakit di sekujur badan akibat menahan amukan cicitnya tadi.


Memasuki Pendopo, langkah nya melambat.


" Ada a-paa mencari ku, Ga-luh? ". Ucapan nya terbata, tubuhnya menegang melihat sosok yang dia tunggu puluhan tahun hadir didepan mata nya.


" Kakek..... Aku datang ". Wisesa menghambur sungkem, mencium tangan sang kakek takzim.


" Assalamu'alaikum Uyut, aku Amirzain Zaidi Putra kedua Abah ku ". Amir memperkenalkan diri kepada kakek buyut yang baru pertama kali ia temui sepanjang hidupnya. Ia mengikuti sang Ayah yang telah lebih dulu mencium tangan pria yang usia nya menjelang satu abad itu namun masih tampak gagah berkharisma.


" Wa'alaikumussalam... Kamu juga mirip Meela, Mas ". Kakek membelai wajah Amir dengan tangan keriput nya.


" Kakek, aku membawa nya pulang... Lepaskan Naya ". Galuh meminta.


" Kurang ajar!! Dia juga cicit ku, aku menyayangi nya, terlebih dia... Menyembunyikan kehadiran cicit-cicit ku ". Tunjuk nya marah pada Wisesa.


" Duduklah dulu Kek... Maafkan aku dan Meela ". Bujuk Wisesa menuntunnya menuju kursi.


" Batalkan pernikahan nya kek, apa mau kakek sebenarnya? Jangan mengulangi kesalahan yang sama, Naya tidak mengerti apa-apa ". Hardik Galuh tak sabar. Ia sangat emosi, sudah renta masih saja berulah, pikir nya.


" Kamu, Galuh..... Berani padaku? ".


" Untuk kali ini, harus ada orang yang menyadarkan kakek bahwa ini salah... Hak Wisesa sebagai ayah masih berlaku disini... Hak Naya mendapat kebahagiaan bukan sekedar status dan ganjaran yang kakek agungkan itu... Kakek tidak dapat memutuskan sepihak tanpa restu Wisesa sebagai orang tua Naya ".


" Wisesa sendiri yang bilang ia menyerahkan segalanya pada Naya, kenapa kamu kebakaran jenggot.... Aku tahu kamu ingin membalas budi pada anak itu kan? cih, itu urusan mu.... ". Danarhadi mencebik malas.


" Anak bapak, sama saja keras kepala ".


" Keturunan Kusuma, begitulah...., ". Galuh mencemooh.


" Galuh... Kau...!! ".


" Aku lelah kek... Bicara lembut pun percuma, Kakek tidak pernah mau mengalah meskipun kakek sadar bahwa apa yang kakek lakukan ini salah... Pakai hati kek... dipakai hati nya " . Galuh memelas.


Danarhadi hanya diam, memandang bergantian Amir dan Wisesa lama.


" Nama panggilan mu siapa Mas? ". Nada bicara nya melembut.


" Amir, Uyut ".


" Mas Amir mondok juga? sedang hafalan qur'an yaa.. ".


" Nggih, tapi baru 20 Juz.. ".


" Amir sudah ada yang meminta, anak pemilik pondok pesantren Tazkiya Putri.. Jangan coba-coba menjodohkan nya juga ". Galuh hafal maksud tersembunyi kakeknya.


" Kamu itu, ga sopan sama orang tua... Sungguh aku baru menyadari sikap kurang ajar mu! ". Tatap nya tajam pada Galuh.


" Kek... Boleh aku ketemu Naya? aku rindu anakku... Sekalian aku juga meminta agar kakek dapat mempertimbangkan kembali pernikahan mereka ". Wisesa masih bersabar.


" Keputusan ku sudah final... Raden Ahmad Hasbi calon paling baik untuk cicit ku.... Naya sedang istirahat, kalau kau merasa kasihan padanya, biarkan dia tenang disini... Datanglah lusa saat ia menikah nanti ". Danarhadi bangkit dan berlalu masuk kembali ke kediamannya.


" Kek... Kakek........ ". Teriak Galuh.

__ADS_1


" Pulanglah kalian.... Berisik sekali... Keputusan ku tak akan goyah ".


Galuh dan Wisesa saling melempar pandangan satu sama lain, mereka terdiam disana. Bila Galuh sudah punya rencana beda halnya dengan Wisesa.


" Abah, Om... Aku akan bicara pada kakek ". Amir berbicara meminta saran.


" Jangan, dia memang ingin kamu yang memohon.... ". Galuh memperingatkan.


" Aku akan tinggal disini.... sampai kakek luluh ". Wisesa bertekad.


" Baiklah, kami pulang dulu... Teguhkan hatimu, Sesa... ".


Keduanya kembali pulang, menyisakan Wisesa yang duduk terdiam di Joglo Ageng milik kakek nya.


***


Sentul.


Mama terkejut mendapatkan kabar dari Rey bahwa Naya akan menikah lusa. Tak hentinya menangisi nasib sang anak, pun merengek pada Mahesa agar mengantarkan nya ke Solo agar bisa menguatkan anak sulung nya itu karena Mahen menghindari berbicara denganya.


" Rey, gimana Abang mu? ".


" Baru saja tertidur Maa... Kami akan kembali beberapa hari lagi ". Kembali jika luka sayatan itu telah sembuh meski luka hatinya tidak. Rey tidak memberi tahukan tentang Mahen yang mendapatkan luka akibat insiden kemarin malam.


" Apa dia baik-baik saja? ".


" Mama lebih tau dari aku, terlihat baik namun hancur didalam ".


" .............. ". Mama terisak.


" Apa ada cara lain Rey? izinkan aku menemui Raden Arya Tumenggung untuk bicara.... Kamu jemput Mama yaa ". Mohon nya lagi.


" Ga bisa Maa... Semua sudah di gelar, bahkan hari ini sudah ada pengajian dan siraman di kediaman beliau ".


".............. ". Mama semakin terisak.


Hari ini, Rey mendapatkan kabar dari Simon yang mengatakan segala persiapan pernikahan telah di gelar, ritual dan prosesi rentetan acara sudah dimulai.


Simon juga mengatakan bahwa dia melihat Keluarga Naya datang, kemungkinan Abah nya tak punya jalan lain selain merestui pada akhirnya. Simon mendapatkan berita ini dari Tuan besar.


" Rey.... Benarkah? ". Adnan calling via ponsel Mahen.


" Iya, apa yang bisa kita lakukan, Ad ".


" Entahlah, aku sudah menduga ini tapi Bos kukuh melanjutkan... Istriku baru saja melahirkan pagi ini... Aku istirahat sebentar nanti aku pikirkan kembali ". Adnan terdengar lelah.


" Selamat menjadi Ayah, Ad... Baiklah, aku tunggu ". Rey berharap.


Bos.... Abang.... Apa yang harus aku lakukan saat ini, aku buntu. Sama terluka seperti mu kali ini. Nona terlalu melekat di hati ku juga meski beliau sangat berisik bila menyangkut semua tentang anda. Segala sikap dan perhatian yang ia berikan pada anda, selalu tersembunyi.


" Bos, jika anda tahu... Selama ini, Nona lah yang mengatur jadwal anda berpakaian setiap hari... Menyelipkan semua keperluan anda, bahkan menu makan siang dan malam anda, Nona yang menyusun nya... Aku hanya menyiapkan permintaan nya untuk anda.... Disaat anda tidak menyadari cinta dan sayang nya karena tak terlihat, Nona sudah melakukan lebih ".


Rey menitikkan airmata nya lagi, ia yang tahu semuanya karena hanya dengan nya sang Nona kerap meminta disiapkan ini itu agar kekasihnya tidak kesulitan bahkan terlupa.


.


.


Tuhan, mau kah kau berbaik hati pada kami. Aku tahu tidak pantas memohon karena tidak percaya pada-Mu....

__ADS_1


Tapi lihatlah dia............. Dia yang selalu taat pada Ibunya, bukankah ridho mu ada pada ridho orang tua? tidak cukupkah semua itu untuk memberi nya bahagia?........


__ADS_2