Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
SEGALA UPAYA


__ADS_3

Tegal.


Ponpes Ambaruyan masih terlihat lengang meskipun salah satu penghuni nya, yang tak lain adalah putra pemilik pondok itu akan melangsungkan pernikahan esok.


Hasbi bertolak ke Solo sendiri hari ini secara sembunyi-sembunyi. Cuti akhir tengah semester ia manfaatkan untuk bolak balik Tegal - Solo, demi cinta nya yang baru bersemi sejak pertemuan mereka di kereta beberapa waktu silam.


***


Joglo Ageng.


Wisesa masih setia duduk di ruang tamu pendopo Joglo Inggil, meskipun beberapa Abdi dalem memohon nya agar pindah ke kamar tamu untuk beristirahat, ia menolak halus semua pelayanan yang diberikan padanya. Hingga beberapa Abdi dalem yang masih setia serta mengenal nya sejak belia, menemani nya di sana.


" Den Mas Sesa, istirahat saja... Ndoro Raden Arya ga bakalan luluh... Kita butuh tenaga buat itu semua... ". Salah satu Mban, memohon.


" Ga apa-apa ko Mbah, aku biasa begini dengan Amir dan Abyan, kedua putraku jika sedang dirumah ".


" Dingin Den... Dipakai selimut nya ". Ucap seorang lagi.


" Nggiih, maturnuwun... ".


" Den Mas Sesa, ga berubah dari dulu yaa.. Tetep lembut... Anu, yang tampan tadi, putra nya yaa? kayak Den Ayu Meela yaa, mirip tapi dalam wujud laki-laki ".


" Iya, putra kedua ku.. Naya anak bungsu... Bagaimana keseharian anakku disini Mban? ponsel nya disita, betul? ".


" Betul... Sejak insiden kemarin itu, Den Roro suka histeris... Kami ga tahu apa sebab nya... Dia selalu berteriak - mana Abang - ... Abang niku sinten tho Den Mas? ".


" Teman dekat Naya dan dia yang menyelamatkan kehormatan anakku.. Ceritanya panjang ".


" Owalah, ngoten... Sampun mleket... Boten saged dipisah ".


Wisesa akhirnya menghabiskan malam nya dengan berbincang dengan kedua Abdi dalam Joglo Ageng, hingga subuh menjelang. Semua orang dikediaman itu, telah sibuk mempersiapkan sesuatu.


Prosesi rentetan acara Ngunduh Mantu, akan dimulai.


*


Hasbi baru tiba di solo menjelang siang. Ia mendapatkan berita bahwa Naya, calon istrinya itu terlibat insiden Dan mengalami shock.


Ia berencana akan menemui dokter yang menangani nya kemarin. Berbekal telah membuat janji sebelum nya, tepat jam dua siang ini mereka bertemu di klinik sang dokter untuk berkonsultasi.


" Selamat siang dokter, saya Hasbi yang kemarin menghubungi dokter ".


" Oh Nggih Raden Hasbi, silakan duduk ".


" Hasbi saja... Jangan sungkan... Bagaimana sebenarnya kondisi calon istri ku kemarin dokter... Dapatkah anda jelaskan detail masalah nya? ".


" Sepertinya Nona Naya mempunyai trauma yang belum selesai, ini hanya dugaan ku... Analisa dari setiap pengakuan yang keluar dari mulut nya... Nona kerap berteriak : Abang akan mencarimu... Abang akan menjaga ku... Abang tak pernah jijik melihat ku... Anggara, pergi atau Abang membalas mu... Lepaskan aku... ".


" Sebaiknya anda bicarakan dengan keluarga beliau karena ini akan berat dilalui bilamana kita tidak tahu akar luka bathin nya... Kesehatan mental seseorang yang mempunyai luka yang belum sembuh bukan tidak mungkin akan berdampak pada masa depan pernikahan... ".


" Ada solusi yang bisa aku lakukan? ". Hasbi cemas, ia tidak menyangka Naya mempunyai trauma berat.


" Terapi untuk melepaskan segala beban hati nya... Konseling rutin agar nama Anggara tidak terlalu berpengaruh ketika disebutkan didepan nya lagi... Sepertinya sosok Abang ini sangat berpengaruh dalam setiap proses pengobatan Nona Naya saat trauma itu terjadi ".


" Selain itu? ".


" Kesabaran, cinta dan sayang..... Dukungan moril serta berdoa agar Tuhan memberikan kesehatan dan kesembuhan paripurna... Bila anda berbesar hati, mungkin bisa menemui pria yang dipanggil Abang oleh Nona, dan sharing pengobatan dengan nya... Jadi anda tidak memulai dan mengulang semua proses pengobatan dari awal lagi.. ". Dokter menjelaskan.


"........... ". Hasbi menghela nafas.


Jujur, ia malas menemui pria itu. Ia sadar kehadirannya sangat berpengaruh bagi Naya karena ia pernah mengatakan pada nya beberapa saat lalu. Namun kini ia dihadapkan pada sebuah masalah baru.


(Akankah aku sanggup bila suatu saat Naya kembali seperti ini? akankah aku sabar menghadapi nya, menyebutkan nama pria lain didepan ku saat status nya telah menjadi istriku, bagaimana hati ku nanti? ). Hasbi tetap bergeming, bergelut dengan pemikiran nya sendiri.

__ADS_1


" Raden Hasbi, anda baik-baik saja? ". Tegur sang dokter.


" Oh maaf, aku baik... Akan aku coba saran dokter.... Terimakasih banyak atas waktu dan sharing nya, Dok... Aku pamit ". Hasbi bangkit dan menjabat tangan dokter sebelum meninggalkan ruangan serba putih itu.


*


Joglo Ageng.


Hasbi kemudian bertolak menuju kediaman Raden Arya Tumenggung Danarhadi Kusuma. Ia dibuat terkejut dengan persiapan yang tengah dilakukan.


" Ndoro Gusti sudah menunggu anda diruang kerja nya, mari Den Mas Hasbi ". Sambut seorang Mban.


" Terimakasih ".


Setelah kepergian Abdi dalem yang mengantarnya, ia masih berdiri di depan pintu jati bercat hitam yang tertutup.


Tok Tok. Ketuk nya pelan.


" Masuk saja ". Sahut suara dari dalam.


" Assalamu'alaikum Kek ".


" Wa'alaikumussalam... Lungguh Mas.. Ada apa? bukankah seharusnya Mas Hasbi dirumah? ".


" Kakek belum memberikan kepastian untukku... Apakah lamaran ku diterima atau tidak? Kakek juga tidak mengabari ku tentang kondisi Naya... sedangkan diluar aku lihat Abdi dalem sudah bersiap seperti sedang melakukan prosesi rangkaian upacara adat.. ".


" Kebiasaan turun temurun ngunduh mantu itu begitu Mas... Disiapkan jauh hari... Keluarga wanita lebih repot dari keluarga mempelai pria... Kamu merisaukan apa? Naya? cicit ku tidak gila... Hanya trauma, dan itu bisa diobati... Jika kamu ragu, kamu bisa menunda nya hingga Naya betul-betul sehat kejiwaan nya ".


" Aku kesini untuk itu kek... Aku ragu, bukan ragu karena aku cinta atau tidak... Tapi aku ragu apakah aku bisa menghapus kemelekatan Naya pada kekasihnya? terlebih dengan trauma ini... Dokter menyarankan agar aku bertemu dia.. Membicarakan tentang pengobatan Naya ketika ditangani oleh nya telah sampai ditahap mana sehingga aku tinggal melanjutkan.... Menurut kakek bagaimana?.... Ahya, aku mohon jangan sampaikan tentang kejadian ini pada Buya ku.. ".


" Biarkan kakek yang pikirkan itu Mas... Kamu teguhkan saja hati mu, dengan sabar dan lembut mu suatu saat Naya pasti luluh dan membalas cinta mu ".


Tok tok. Pintu ruangan itu kembali di ketuk dari luar.


" Boleh aku masuk Kek? ". Suara Wisesa.


" Kek, diluar seperti suara Abah Naya... Aku sekalian izin bicara dengan beliau, boleh? ".


" Mas........... Yaa sudahlah, silakan.... ". Kakek mengalah pada keinginan Hasbi.


" Silakan masuk Abah.... ". Hasbi membuka pintu.


" Lho Mas ada disini?... Terimakasih ". Wisesa terkejut atas kehadiran Hasbi di ruang kerja sang kakek. Hasbi hanya tersenyum menanggapi keheranan Abah.


" Kek, Mas... Aku langsung saja, sebagai Ayah Naya, aku keberatan dengan pernikahan ini mengingat kondisi Naya yang masih terguncang.... Lagipula, Mas Hasbi, pembicaraan dengan Buya kemarin di telepon belum sepenuhnya mufakat, baiknya Abuya mu dan aku bertemu kembali membicarakan ini ". Wisesa kali ini tegas.


" Tapi Abah, Buya bilang anda setuju.... ". Hasbi mulai gelisah.


" Kemarin aku sedang Safar, bukankah lamaran baiknya dibicarakan langsung?.... Mahendra sudah lama melamar Naya meski orang tua nya belum pernah bertemu dengan ku, namun ia pernah mengutarakan niatnya itu beberapa kali...".


" Disebutkan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah, Wanita yang tidak diketahui apakah dia telah dilamar atau belum, atau apakah lamaran kepadanya telah diterima atau ditolak, maka boleh bagi yang tidak mengetahui hal tersebut untuk melamarnya, Mas hasbi lebih paham dari aku tentunya... Lamaran Mas Hasbi tidak salah, dan aku masih tetap Wali Naya, yang berhak memutuskan lamaran siapa yang akan aku terima untuk kebaikan anakku ". Abah berusaha menjelaskan asal mula keberatan nya.


" Aku yang memutuskan, Naya sudah setuju.. Sesa!! Jangan membuat malu!!! ". Kakek menggeram marah.


" Kek... Kakek sadarkah, Naya mengatakan kepasrahan jiwa raga nya saat itu tentulah dengan dan sedang dalam keadaan emosi? Aku tahu anakku, wataknya keras namun bila tentang kemanutan nya pada orang tua, ia akan memilih manut daripada di sebut durhaka... Sebutkan saja keinginan kakek? akan aku penuhi.... ".


" Serahkan Amir.... ". Kakek menantang nya.


" Tidak, aku tak akan pernah mengorbankan anak-anak ku atas kesalahan ku dimasa lalu bila kakek masih belum puas menghukum ku... ".


" Mereka tidak tahu apapun tentang masa lalu orang tua nya... Mereka tidak sepatutnya menderita atas kebencian kakek padaku... ". Wisesa akhirnya terpancing emosi.


" Maaf... Aku sebaiknya keluar dahulu.... ". Hasbi pamit undur diri keluar ruangan itu. Ia tak ingin mendengar tentang masa lalu keluarga calon istri nya itu.

__ADS_1


" Sesa.... Entah sejak dulu mengapa aku sulit menerima kehadiran mu... Tapi aku begitu kehilangan ketika kamu membawa pergi Meela.. ".


" Jelaskan padaku, awal mulai kebencian kakek.... Aku akan menerima... Bilamana ini semua bersumber pada orang tua ku, aku memohon ampun atas kesalahan mereka dimasa lalu ". Suara Wisesa mulai bergetar parau menahan aliran panas yang akan keluar dari kedua netra tua nya.


"...................... Apakah ini waktu yang tepat membuka semuanya, Tuhan? ". Lirih nya sembari memutar kursi kebesaran nya membelakangi Sesa.


***


Rumah sakit.


Mahen sudah bisa setengah duduk ketika sarapan sudah disajikan tepat didepan nya.


" Bos, makan yaa... Aku suapi ".


" Ckck, kau istri ku Rey? ". Cebiknya malas.


" Yaaa jika anda mau, aku bersedia.... ".


" Hoek...... Aku pria normal Tuan Reynan Lee.... Itulah kenapa aku sangat mencintai nya.... Rey, tidak bisakan aku bicara dengan Naya, sekali saja by phone? ".


" Simon sedang mengupayakan sejak kemarin Bos, namun akses nya diputus... ".


" Ckckck Kusno Kalani, kamu mencoba kemampuan ku?..... Siapkan laptop ku Rey, Aku akan hubungi Adnan... Terpaksa, blackhole... Aku sudah tidak tahan, aku sangat sangat merindu nya... ". Tangan nya mengepal.


" Baik, akan aku siapkan segala nya ". Rey menekan tombol akses calling cepat di ponsel nya.


" Sims, Blackhole 30 menit lagi... Prepare ". Rey bicara pada Simon dan mengirim pesan yang sama via ponsel Mahen pada Adnan.


Banyak yang harus ia siapkan, mulai dari meretas firewall, menyiapkan jalur aman dan menghapus jejak penelusuran ilegal mereka.


***


Sementara di Joglo Ageng.


Hasbi menuju pendopo rumah itu, ia butuh merenung. Apakah ia akan mengikuti saran dokter atau tidak.


Bila mengikuti saran dokter, artinya ia kalah sebagai lelaki. Namun bila tidak, dia harus memulai kembali pengobatan Naya dari awal, bukan tentang uang. Tapi lebih kepada, apakah Naya bersedia melakukan terapi dengan nya?.


Sejak tadi, dia berseluncur di dunia maya dengan meminjam laptop Naya yang diambilkan oleh Mba Warni, mencari tahu tentang terapi luka batin akibat trauma sekaligus berusaha mendapatkan second opinion atas kegundahan nya.


" Bismillah, istikharah jalan terbaik... Bantu aku Yaa Robb.. ". Hasbi berusaha meredakan rasa gelisah nya.


Banyak file penting Naya yang dikunci, ia sangat penasaran dengan berbagai isi masing-masing file terlebih karena membaca judul nya.


Ketika ia telah selesai mencari apa yang menjadi tujuan nya. Wallpaper desktop laptop itu menampilkan sosok yang ia sangat ingin cari tahu.


Foto Mahen dengan berbagai pose, lengkap dengan tautan jemari mereka di beberapa tempat. Semuanya di kolase secara apik oleh sang empunya laptop.


" Melihat ini saja.. Orang pun tahu, jika kalian itu sangat manis... Tapi sepertinya nasib baik berpihak padaku... Mahendra Guna... Maaf dan terimakasih kamu telah menjaga jodohku dengan sangat baik selama ini.... ".


Hasbi melihat ponsel nya bergetar, layar nya menampilkan satu nama disana. Amirzain.


" Maaf Mir, kali ini aku tak akan mendengarkan mu.... ". Dan ia mereject panggilan dari kakak Naya itu, tak lain sahabat karibnya saat dipesantren dulu.


.


.


___________________________


Raden Ahmad Hasbi, lembut diluar Crunchy didalam... 😅. Ckckckck gara-gara keinginan nya takut tak sampai, sahabat minggir... Hasbi hasbi...


__ADS_1



Vote, komen dah.... Mahen vs Hasbi 😍


__ADS_2