Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
PENGORBANAN


__ADS_3

Dini hari, Mahen dan kedua team nya memacu sepeda motor nya kencang mengikuti ritme kecepatan mobil yang di kejar mereka.


Rey meragu, karena ia telah lama tak melihat Abang Bos nya itu mengendarai sepeda motor pasca kehilangan tungkai kaki nya. Tugas yang semestinya mengikuti mobil pertama yang keluar, ia urungkan lalu memutar balik arah menyusul Mahen.


Diruas jalan lurus nan sepi, Mahen menepi. Ia memeriksa monitor untuk melihat reaksi dari alatnya. Jika perhitungan nya tepat, maka mobil didepan nya itu akan mengalami konslet listrik beberapa detik sesaat lagi sebelum bergerak kembali.


Kesempatan bagi Mahen, untuk dapat membawa Naya keluar dari sana maupun untuk mengaktifkan alat pelacak nya.


Baru saja Mahen hendak mengaktifkan tombol pelacak, sebuah mobil datang tiba-tiba dari arah belakang dan menghadang laju mobil yang terduga ada Naya didalam nya.


Ciiiitttt. Decit suara ban bergesekan dengan aspal jalan.


Mahen panik, ia langsung menarik tuas gas sepeda motor nya lagi berharap dapat menghalau segerombolan pria yang turun dari mobil sang penjegal di depan sana.


Jarak yang lumayan jauh, membuang beberapa detik waktunya hingga seseorang datang lebih dulu.


Bruugh, sraaaaakkkk.


Sepeda motor Mahen sengaja dia luncur jatuhkan menghalau dua pria yang hendak membuka pintu belakang mobil Naya. Mahen jatuh terguling ke sisi jalan meski tak membentur separator.


" Aahh... ". Erang nya. Lalu ia bangkit berdiri ikut dalam pertarungan dengan seorang pria yang dilihatnya tadi.


" Anggaraaaaaa....!! Hadapi aku...!! ". Teriaknya kencang.


Mereka berdua terlibat perkelahian sengit ditepi jalan, sopir mobil Naya terlihat sudah pingsan terkapar. Hanya ada Mahen dan pria misterius tadi yang masih berusaha menghalau antek Anggara.


" NAYAAAAAA.. TIDAK...!! ". Mahen berteriak seiring Simon yang datang menyusul. Mobil yang membawa Naya berhasil dibawa kabur oleh sang pria misterius.


" Kejar mobil Naya, Sims... ".


" Boooss, Awasss!! ". Teriak Rey dari arah samping yang baru saja tiba. Dan Simon bersamaan.


Jleeepp.


Mahen lengah, Anggara menghujam perut nya dengan pisau lipat yang berhasil Mahen hempaskan tadi. Anggara berhasil kabur dengan salah seorang anak buahnya yang menaiki motor trail, meski Rey sempat melemparkan pisau belati ke arah nya namun meleset.


" Simoooonnn, kejar Anggara... ". Pekik Rey kalut.


" Boooss....... ". Teriak Rey lagi.


" R-Rey, aku tak apa... Hanya lu-kka kecil, Na-ya jangan sampai lep-aas... Kejar dia, entah siapa yang mem-bawa nya... ". Mahen roboh, nafasnya tersenggal karena menahan sakit nya tertusuk.


" Kita ke rumah sakit... ". Rey memapah bos nya itu bangkit perlahan. Tangan kiri nya menekan satu tombol panggil cepat di ponselnya.


" Tuan besar, Delta 04 terluka... Mohon bantuan ".


Jimsey malam ini tidak dapat tidur, ketika netra nya baru akan memejam, dering ponselnya diatas meja nakas mengagetkan pria paruh baya itu.


" What.. !! segera ". Balas Pak Jim cepat.


Mahen berhasil dibawa ke rumah sakit dua puluh menit kemudian. Cukup kehilangan banyak darah membuat dokter yang menangani nya terpaksa harus memberikan obat bius agar Mahen tenang sehingga proses tindakan pengobatan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.


Pak Jim bergegas meninggalkan kediaman nya menuju rumah sakit tempat anak kesayangan nya itu di rawat tepat pukul tiga pagi dini hari. Ia bertemu Rey disana dengan tampilan yang sangat kacau, kemeja yang dikenakan nya terdapat banyak bercak noda darah yang mulai mengering.


" Bagaimana Abang mu? ".


" Tuan Besar... Ia mendapat 4 jahitan di perut sebelah kiri, lukanya lumayan meski tak terlalu dalam.. Bahu dan kaki kanan nya memar akibat benturan dengan aspal jalan ". Rey menundukkan kepalanya, ia shock melihat Abang nya dalam kondisi demikian apalagi saat menunggu bantuan datang tadi ia meracau ngawur.


" Siapa? ".

__ADS_1


" Anggara Sumitra... Abang mengejar dan berhasil menemukan Nona.......... ". Rey menceritakan apa yang ia tahu.


" Rey......... Tuan besar..... ". Simon pun sampai satu jam kemudian.


" Nona dikediaman..... Hmmmm,... ". Ia tak berani melanjutkan karena sungkan pada Jimsey.


" Dirumah kakek ku... Kusno kalani, yang membawa Naya tadi... ". Jimsey melanjutkan kalimat Simon.


" Rawatlah Abang mu disini Rey... Bagian ku yang menyelesaikan sisa nya ". Pak Jim melangkah pergi menjauh dari kedua anak buahnya itu dengan wajah tegang penuh emosi.


" Simon, Smoothies Operation... ". Perintah nya saat ia telah jauh dari ruangan Mahen.


Mahendra Guna....... Teguhkanlah hatimu Nak......


***


Joglo Ageng.


Kusno mengangkat tubuh Naya yang pingsan akibat benturan saat mobil nya dijegal tadi. Kusno malam ini terkecoh oleh umpan yang di berikan oleh Mahen hingga ia terlambat mengikuti sang Majikan Den Roro nya itu.


Kusno baru saja akan melangkahkan kakinya menuju kamar belakang agar ia dapat beristirahat, seketika langkah nya kembali tertahan oleh kehadiran Ndoro Gusti dihadapan nya.


" No..... ". Panik Danarhadi yang terbangun akibat laporan anak buahnya tentang insiden cicitnya itu.


" Den Roro pingsan dan sudah ada dikamar nya, Ndoro... Maafkan aku teledor... ". Tunduk Kusno.


" Ada apa? ceritakan... Tidak biasanya kamu begini ". Sergah Danarhadi.


" Mahendra cerdik, ia memberikan umpan pengalihan padaku dan aku mengikuti nya untuk memastikan... Lalu..... ". Cerita Kusno detail.


" Hmmm, Naya tau kehadirannya? ".


" Aku tidak dapat memastikan Den Roro mendengar suara nya atau tidak karena situasi amat kacau.. Ketika aku berhasil menghalau salah satunya, Den Roro sudah tergeletak tak sadarkan diri di kursi belakang ".


" Baik, Ndoro ".


" Warni, jaga Naya baik-baik... Ia aku larang keluar dari kamar mulai esok hari ". Titah nya tegas saat melihat Warni yang baru saja keluar dari kamar Naya membawa baki bekas kompres.


" Kusno, bawakan aku WO esok hari, aku harus mengurus pernikahan mereka ". Danarhadi memberikan beberapa perintah kepada seluruh pekerja yang ada dirumah nya dini hari itu.


Keesokan paginya, Minggu, di Joglo Ageng.


Naya terbangun dengan kepala teramat pusing, tangan nya terasa sakit dan ia menyadari bahwa rasa sakitnya berasal dari selang infus yang telah menancap cantik di nadi kiri nya.


" Mba War... Aku kenapa? dahi ku di plester gini ". Tanya Naya bingung.


" Den Roro lupa kejadian semalam? ada yang menjegal anda, Anak sulung Sumitra kabar nya.. Tuan Muda Anggara ".


" Ang-gara..... Tidak... Tidak... Tidak !! ". Naya histeris mengingat kejadian silam saat dilecehkan pria itu.


" Abang... Abang mana... Abaaaaaaang... Tidak, aku tidak mau.. Abaaaaaaang.... hiks hiks Abaaaaaaang.... ". Naya butuh Mahen, hanya Mahen yang mampu menenangkan nya dari rasa takut dan hina.


Warni yang terkejut atas prilaku majikannya itu berteriak memanggil bantuan para Abdi lainnya. Ia amat kesulitan menahan tenaga Naya yang berusaha melepas selang infus ditangan nya.


Danarhadi tergopoh melangkahkan kaki nya lebar menuju kamar sang cicit. Ia terperangah tak percaya melihat kondisi mental cicit didepan nya ini. Ia yang terbiasa melihat Naya kalem meski kerap emosi padanya tak sampai hati melihat cicit perempuan satu-satunya mengalami guncangan mental kembali.


" No... Kusno, katamu Naya sudah sembuh ". Tanya nya marah.


" Secara rekam medis, Den Roro sudah sembuh Ndoro tapi secara bathin, karena Mahendra yang selalu ada disamping nya saat itu.. Den Roro ketergantungan padanya.. Bahkan Mahendra mempunyai team dokter khusus untuk Den Roro disana yang masih rutin memberikan konseling ".

__ADS_1


" Bagaimana ini, panggilkan psikolog atau psikiater terbaik untuk cicit ku ". Perintah nya lagi.


" Baik Ndoro ". Kusno melangkah pergi.


Danarhadi menghampiri Naya perlahan, membantu Warni dan beberapa Abdi dalam yang masih menahan gadis itu agar tidak berontak.


" Nduk.... Uyut minta maaf... Sama Uyut yaa, sini... ". Danarhadi luluh, ia memeluk cicit kesayangannya itu dengan erat tak peduli dengan cakaran dan pukulan yang diberikan Naya pada nya.


Tubuh renta nya masih kuat jika hanya menghalau rasa sakit akibat pukulan, anggap saja Naya sedang meluapkan kekesalan dan kekecewaan padanya karena keputusan untuk menikahkan dengan pria yang tak dicintai nya.


" A-bang........ A--ba-ng... ". Suara Naya mulai melemah setelah dokter datang memberinya penenang.


***


Ruang perawatan VIP, rumah sakit.


" Sayang...... ". Mahen tersadar dari tidur nya pasca tindakan operasi ringan semalam. Ia lalu memegangi kepala nya yang berdenyut nyeri, melupakan rasa sakit di perut kirinya.


" Bos, jangan banyak bergerak dulu, luka operasi nya masih basah ". Rey bangkit dari sofa didepan ranjang Mahen.


" Dimana aku Rey? Naya ketemu? aku khawatir, dia sepeti memanggilku.... Rey please cari tahu info detail nya ". Mahen merengek, ia merasa putus asa tak bisa berbuat banyak.


" Nona ada dikediaman kakek buyut nya Bos.. Pagi tadi seorang psikolog datang atas undangan beliau... Aku rasa, Nona shock ". Rey melanjutkan laporan yang didapat oleh Simon.


" Pantas saja... Ia seperti sedang meneriaki ku tadi... Apa dia baik-baik saja? ".


" Pasti baik Bos, kakek buyut nya melindungi Nona sedemikian rupa ".


" Antar aku kesana Rey.... Please, aku rindu Naya-ku ". Mahen memelas.


" Tidak saat ini Bos... Dan lagi, kemungkinan bertemu Nona tipis harapan... Dua hari lagi ia akan dinikahkan dengan sahabat kak Amir ".


" A-ppa Rey.... Coba kamu ulangi lagi.... ". Mahen terperanjat lemah.


" Nona akan menikah dengan Raden Ahmad Hasbi anak pemilik Ponpes di Tegal, lusa... Kuatkan hati Anda ". Rey menepuk pundak bos nya pelan, airmata nya tak sanggup ia tahan sedari Simon mengabarkan berita ini.


" Engga.... Ga bisa, Ga boleh.. Aku harus ketemu Naya.... Rey.... Reyyyyyyyy... Bantu aku ". Mahen memaksa bangkit, semua rasa sakit ia abaikan.


" Bos.... A-bang...... ". Rey luruh, kaki nya tak kuasa menopang berat badan nya dan ia jatuh terduduk lemas di kursi samping brangkar Bos nya itu. Bahu nya terguncang hebat, Mahen dibuat terkejut dengan sikap asistennya itu.


" Rey....... ". Mahen menepuk bahu kokoh itu lembut.


" Aku gagal melindungi Abang ku... Aku gagal menjalankan sumpah ku... Apa gunanya aku? hukum lah aku Bang.... Hukum saja aku... Ini karena salah ku juga ". Rey terisak kencang menutupi wajahnya dengan menunduk dalam.


" Bukan salah mu.... Takdir Allah saja yang tak berpihak pada ku.... Lagi... Kuatlah... seperti biasanya... Kita bisa melewati ini kan? temani aku... Lagi... yaa Rey ". Mahen menghibur hatinya yang tercabik, bagai luka disiram cuka, panas dan perih.


Keduanya larut dalam suasana sedih yang tak pernah mereka bagi sebelum nya semenjak bersama. Mahen dengan segala penyesalan nya karena terlalu lamban dan Rey dengan segala rasa bersalah nya.


Tuhan ku yang pengasih.... Seandainya memang dia jodohku, pastikan engkau mengembalikannya utuh padaku.


Mahen memejamkan mata nya yang panas, sebaris cairan bening yang menggenang di manik matanya sedari tadi, akhirnya luruh membasahi pipi.


Sayang... Aku tak menyangka keputusan ku mengunjungi mu kemarin justru membawaku untuk menyaksikan mu bersanding dengan pria lain.... Inikah akhir kita, Ainnaya Misbach Shaki?..............


.


.


.

__ADS_1


___________________


Jangan nangis.............. Nanti batal puasa nya 😅


__ADS_2