
Selama meeting berlangsung di kota Kuning, hati Mahen gelisah, ia merasa tak tenang.
" Bram, Naya gimana? "
" Candi report masih dikost-an tadi bos ".
" Baik. Bisa tolong dipastikan Bram, signal yang akan kukirimkan ".
" Silakan Bos, akan aku pindai ".
" Thanks Bram ".
Hati nya masih merasa tak tenang, sembari menunggu Bram berhasil melacak signal dari gelang tali Naya, Mahen kembali mengirimkan sebuah pesan pada Candi secara langsung.
" Can.... Naya? ".
" Aku mengantarnya ke tempat kerja Bos, Nona tak ingin kembali kerumah, Ia terlalu sungkan bila harus berinteraksi dengan kakak sulung nya ".
" Apa dia baik saja? ".
" Terlihat agak kuyu Bos, mungkin karena memikirkan ayah beliau ".
" Temani yaa Can, aku khawatir ". Mahen meminta hal yang sama berulang kali, jujur ia merasa gelisah.
" Aku pastikan Bos ".
Panggilan dari Bram masuk ke ponsel nya. Mahen menjeda sesaat meeting yang sedang berlangsung.
" Bos, Nona didalam kamar ".
" What? apa-apaan ini Bram, Candi bilang ia baru mengantar nya ke Mall.. Kamu tidak sedang bercanda kan? ".
" Signal nya berasal dari kamar Nona saat ini ".
" Ya Allah Naya... ( Jangan sayang, jangan begini ) ". Firasat Mahen, apa yang ia khawatirkan terjadi.
Mahen lalu mengalihkan panggilan nya ke laptop dan meng-koneksikan ke ponsel nya untuk menggunakan fitur multi-call saat ini.
" Can, report ".
" Nona di Mall bos, I'm In... ".
" Soon Can, hurry up ".
" Bram, pastikan lagi, ponsel nya aku pasang micro gps, bisa kamu lacak? ".
" Sama bos, semua nya masih dikamar Nona "
"Shiitttttt..... Card nya, kapan terkahir dia transaksi by card.. Bram ".
" Wait the minute.......... ".
" Bos, Nona tidak bekerja hari ini.. Staff lainnya bilang, Nona mulai resign.. Sorry bos, tadi aku mengantar nya disini.. Aku bahkan menunggu nya di depan pintu masuk karyawan saat ini dan tidak ada satupun karyawan yang keluar sejak jam masuk shift dua siang tadi ". Candi perasaan nya, panik dan cemas berbaur jadi satu. Ia berlari sepanjang lorong teras Mall mencari tau ke semua orang yang ia temui.
" Bos... Transaksi terakhir dari card nya, ATM Mall, satu jam yang lalu.. Nona menarik semua uang cash nya ".
" Shiitttttt.... All of you guys... Call to all of team Delta 04 shadow forced A.... Repeat... Call to all of team Delta 04 shadow forced A... Report one by one please come in... Copied ".
" I'm In..... I'm In.... I'im In..... I'm In.... I'm In.... Rey also confirm... Bos ada apa? (we're ready to a mission Delta 04, copied) ". Mahen turun langsung memberikan instruksi pada team besutan nya.
" Mission : Find my girls, kemana dia pergi.. Bram, tampilan look terakhir Naya via CCTV Mall yang bisa dijangkau... Can, deskripsikan Naya tadi memakai apa saja ".
" Share bos... Look terakhir Nona.. ".
" Temukan, bagaimana pun caranya. Gunakan semua logika dasar kemungkinan penyamaran. Gadisku cerdas, mungkin dia memang sudah menyiapkan misi pelarian.. GO guys... Berikan hasil terbaik kalian ".
" Copied.... Copied... Copied bos ". Mahen mempunyai puluhan mata-mata yang tersebar di setiap kota dalam wilayah jangkauan nya. Mustahil rasanya bila ada yang luput dari pandangan orang sebanyak itu.
" Adnan... Are you free now? ".
Mahen meminta bantuan Adnan kembali. Sebenarnya ia sungkan, namun Adnan adalah kemungkinan terbaik yang dia miliki, karena Adnan tak terikat oleh Exona, Mahen lebih leluasa memberinya perintah.
" I'll always free for you, bos... Whats going on? ".
" Naya ". Jawabnya lemas.
" Aku paham Bos... I'll call you back, soon ".
Tak sabar, Mahen tetap mencoba menelpon Naya, hasilnya seperti yang ia duga sebelumnya. Ponsel nya sudah tidak aktif.
Mahen sudah sangat tidak bernafsu dan konsentrasi dengan meeting nya. Namun sebisa mungkin harus ia lanjutkan karena esok hari, ia akan fokus mencari kemana gadisnya pergi.
" Alex in... Look mirip Nona terlihat di stasiun siang tadi, sedang aku pastikan kemana tujuan nya.. ". Alex mengirimkan pesan singkat.
" CCTV Lex... ".
" Nihil bos.. ".
__ADS_1
" Lanjutkan.. ".
Mahen berpikir keras, bila Candi tak melihat nya keluar dari pintu karyawan, ada kemungkinan Naya keluar dari pintu paviliun mengingat Mall itu punya banyak pintu untuk menyelinap. Bisa saja Naya membujuk satpam yang bertugas disana, gadisnya seorang yang humble siapapun mudah luluh jika ia sudah mengeluarkan jurus puppy eyes nya.
" Bram, CCTV sudah semua? ".
" Done, meluncur bos... Please check ".
" Rey, Rey dimana? ".
" Aku sedang mengejar Melissa sebelum ia flight ke Paris, bos, I'll call you back soon ". Rey merasa tak tenang, meski baru saja merasa fit pasca benturan kecelakaan lusa pekan lalu, ia paksakan mengejar seseorang yang ia curigai turut andil dalam kepergian Nona nya.
" Rey, luka mu... Hati-hati ".
Otak Mahen seketika kusut, rasanya ia tak mampu lagi mencerna dengan baik. Pekerjaan nya, Naya dan kemungkinan ka Amir yang sebentar lagi menanyakan tentang adiknya. Bagaimana ia akan berbicara nanti?.
Dalam kekalutan nya, meeting yang tidak lagi fokus. Mahen kembali izin keluar ruangan beberapa saat lamanya.
" Ma, Naya kayak nya pergi, orang ku lagi nyari sih dia kemana ". Mahen menelpon Mama nya, panggilan nya terjawab di dering ke lima, Mama mengangkat telpon dari anak sulung nya itu.
" Ya Allah, apalagi ini Abang? ga mungkin, pasti ada sebab nya... Abang, istighfar dulu, biar tenang "
" Ma, kalau beneran pergi, aku gimana? ".
" Abang, abang pasti bisa ketemu Naya lagi.. Semangat Nak.. Mama sedih nih, anak mama ilang ".
" Ma.. Aku... Aku... ". Suara Mahen tercekat di pangkal tenggorokan, rasanya sulit meski hanya untuk berucap bahwa ia takut kehilangan, pada Mama nya.
" Sayang, Ya Allah Abang.. Mama bisa bantu apa atuh? ".
(Sifat romantis welas asih nya Mahen nurun dari emak nya gaes... Asik banget yaa punya mertua macam Mama).
" Doain aku, bantuin aku minta ke Allah.. Mama redho kan sama Aku dan Naya "
" Redho sayang, ikhlas, Abang emang harus bahagia.. Anak Mama satu lagi belum bisa Mama antarkan menuju bahagianya... Abang, maafin Mama ya nak... Maafin Mama... Hiks ".
" .......... ". Satu tetes airmata, lolos dari netra Mahen yang kala itu berdiri di belakang sebuah bangunan proyek.
" Abang kuat, Abang tegar... Semangat sayang, Mama doakan Abang selalu yaa.. Naya pasti ketemu... Ya?! ".
" Sehat disana ya Nak, jaga makan, istirahat dan ibadah Abang.. Cari Naya sampai dapat, Ok?! Tegakkan kepala Nak, ayok Abang selalu mampu.. Abang selalu bisa Mama andalkan, kejar Naya nak... Abang pantas untuk Naya.. Ya Allah mudahkan urusan anakku... ".
" Thanks Mom, sudah selalu ada buat aku ".
" My baby boys, peluk jauh, doa Mama selalu bersama Abang.. Bawa Naya kembali, yaa?!.. ".
Mama diujung sana, menangisi nasib putra sulung nya, Mama sangat merasakan bahwa anak nya itu memang sudah cinta mati dengan Naya.
Pun dengan dirinya yang telah dibuat jatuh cinta pada sosok ayu yang baru ia temui pertama kali nya kemarin saat berkunjung kerumah.
Karena menjeda beberapa saat, akhirnya meeting selesai menjelang maghrib. Mahen berusaha tenang, ia memanjatkan doa nya lama dari biasanya.
" ( Ya Robb ku... Bolehkah kali ini aku meminta? agar aku bisa dipertemukan kembali dengan mahluk mu? Bukankah Engkau maha penyayang? ) ".
" Sayang, salahku kah? yang membuat mu pergi? ". Sungguh hatinya pilu.
Lama Mahen berada dalam sebuah masjid di tepi jalan saat akan memasuki perbatasan kota Cirebon.
Bram dan team yang lainnya masih intens mencari keberadaan wanita bos nya itu. Beberapa dari mereka menemukan sebuah petunjuk, tapi mereka ragu karena apa yang terlihat sangat bertolak belakang dari penampilan Nona yang dishare oleh Bram dan Candi siang tadi.
" Bram, kita kembali ke hotel.. Aku lelah, disana semoga aku bisa berpikir lebih jernih ".
" Baik bos... Alex memberikan report sebuah foto buram, tapi aku ragu jika ini Nona karena Alex mengatakan ia mendapatkan foto tersebut dari kamera belakang sebuah mobil ".
" Kirimkan ke email ku ". Mahen berkata sembari memejamkan mata. Netra nya panas, hati nya sesak.
" Bos, dinner ".
" Nanti saja Bram, aku terlanjur kenyang "
" But, Nona pasti ga suka jika Anda melewatkan dinner bos. Kemarin Nona mengomeli ku karena tak memaksa Anda turun dari mobil untuk dinner ".
" Begitulah dia... ( Sayang, belum juga satu hari... Aku sudah kangen omelan mu yang berisik itu ) ". Mahen semakin merapatkan netra nya yang memejam.
30 menit telah berlalu, mobil Mahen memasuki pelataran hotel tempat nya menginap. Tanpa banyak kata, ia langsung menuju kamarnya membersihkan diri dan melanjutkan membuka laptopnya, memandang lama disana.
" Guys.... Istirahat lah, sudah hampir tengah malam. Kita lanjutkan esok pagi ".
" Lex.... Dia Naya, terlihat dari sneaker nya.. Aku yang memberikan nya bulan lalu via Candi.. Cari tau kemana tujuan nya... Besok saja, istirahat lah ".
" Copied Bos... "
Mahen menutup laptopnya, pikirannya berkecamuk memikirkan segala kemungkinan alasan mengapa Naya tiba-tiba menjauh.
Pantas saja, gadis itu memberikan signal seakan mengatakan bahwa ia takut namun karena Mahen tidak peka maka ia luput mendengarkan seksama keluhan gadisnya.
" Bodoh kamu Mahen.... Bodoh, padahal Naya sudah memberitahu mu.. Kamu mengaku paling tau gadismu, tapi untuk masalah keluhan nya saja kamu abai, kekasih macam apa dirimu, Mahendra?!! ". Mahen meremas rambutnya kesal. Ia menyesal.
__ADS_1
" Sayang, maafkan aku..... ". Lagi, netranya meloloskan satu tetes bulir bening jatuh membasahi pipi nya.
***
Candi pulang ke kost-an menjelang pagi. Ia menangisi kebodohan nya sepanjang jalan. Hujan yang mengguyur tak ia hiraukan, ia terus saja mencari Nona nya satu persatu di terminal angkutan umum, namun nihil.
" Nak Mega, ya Allah darimana? ibu cemas ".
" Cari Naya Bu... ".
" Non Naya? bukannya dikamar yaa? ".
" Masa? ga ada dari siang Bu... Ibu punya kunci kamar nya kan? kita cek yuk ".
Mereka berdua lalu naik keatas, meski Candi bisa melihat isi kamar Naya dari mini cam yang ia pasang tetap saja Mega penasaran, barangkali Naya meninggalkan sesuatu petunjuk untuk mereka.
Clak, Bu Rahma membuka pintu kamar Naya dengan kunci cadangan.
Candi menghambur melesak masuk begitu saja. Pandangan nya menangkap sesuatu di meja belajar yang biasa Naya gunakan.
" Bu.... Hiks... Hiks... Naya pergi.... Buuuuuuu ". Mega yang memang sudah merasa bersalah, semakin merasakan sakit kala mendapati kenyataan didepan nya.
Bu Rahma yang tak kalah terkejut, perlahan mendekati Mega yang sudah tersedu, beliau lalu duduk sembari membelai lembut bahu Mega di tepi ranjang. Membaca bersama Mega surat yang Naya tinggalkan untuk mereka bertiga.
" Nayaaaaaa, engga... Kamu ga boleh begini.. Hiks hiks ". Mega lemas, Rey pasti memarahi nya habis-habisan. Papa angkat nya pasti akan murka pada nya.
" Non Mega.. Ini ada surat lagi, buat Ayah dan kakak nya... Lalu ini apa? ". Bu Rahma mengangkat dua benda dalam amplop coklat.
" Kemarikan Bu... Aku akan mengantar nya ke Abang bos ".
" Hati-hati yaa.. Semoga Non Naya lekas ketemu ".
Mega memacu sepeda motor nya kencang membelah sepinya jalanan menjelang subuh di kota itu. Disaat orang lain terlelap, ia duduk di lobby hotel dengan pandangan kosong, badannya yang lelah tak ia hiraukan. Ia bertekad akan menunggu Abang bos nya turun untuk breakfast nanti. Ia tak ingin mengganggu istirahat sosok panutan nya itu.
Pukul 7 pagi, mahen turun karena panggilan dari receptionist yang mengatakan seorang wanita menunggu nya sejak jam 4 pagi tadi.
" Can.. ada apa? ".
" Bos.. Nona meninggalkan ini, untuk anda ". Mega menyerahkan dua amplop coklat. Satu bertuliskan ka Amir, satu lagi bertuliskan sorry.
" Ikut aku, breakfast ". Mahen menerima dua amplop pemberian Mega. Jantung nya berdegup kencang.
" No... Abang, aku tidak pantas... Aku, salahku, ini salahku.... Maaf ". Mega menundukkan kepala nya, ia menangis. Jika ia saja sesakit ini, bagaimana perasaan sosok didepan nya?.
" Naya memang sudah memutuskan pergi, bukan salah mu... Makan, jangan sampai sakit... Jika kamu merasa bersalah, tetaplah sehat agar bisa membantu ku mencari nya ".
" Baik... ".
Kriing, ponsel Mahen kembali berdering.
" Mahen, Naya kemana? ". Mahen menerima panggilan dari Pak Jim.
" Aku masih berusaha mencari, Maafkan aku Pak ".
" Aku bantu kirimkan Simon ke sana.. Kerahkan kemampuan mu Mahen.. Aku percaya kamu akan menemukan nya ".
" Pak... ".
" Pergilah Mahen, berjuanglah dengan benar Nak.. Aku melihat mu dari sini ".
" Aku... Apakah pantas? ".
" Menurutmu? pantas atau tidak, tergantung dari seberapa gigih kamu berjuang untuk bersama nya.. Go ahead, jangan kecewakan aku ".
" Baik, bismillah, doakan aku... ".
Sembari melanjutkan sarapan, Mahen menyimpan kontak Simon, orang kepercayaan Pak Jim.
" Adnan, aku kirimkan sebuah kontak yang akan membantu mu.. ". Mahen meminta Adnan agar berkoordinasi dengan Simon nanti.
Hatinya sedikit tenang, banyak orang baik disisi nya yang bersedia membantu.
" Honey....... Ainnaya, aku akan menemukan mu... Pasti menemukan mu ".
" Ok bos ". Adnan sedang menyusun draft pencarian nya yang akan dimulai hari ini.
_____________________________
😌 Mahen menuai semua hasil kebaikannya selama ini...
**VOTE, LIKE KOMEN FOLLOW YAA GAES, 😅
sedekah ama mama, gratis lho..
atau follow IG : mama_qiev jangan lupa yaaks, update judul novel balu disana nanti...
See you.. mamaciih support nya yaak... ❤**
__ADS_1