Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
DARI HATI KE HATI


__ADS_3

Kriiiing.. Kriiiing..


Alarm dari ponsel Naya berbunyi. Jam 04.00 tepat, Naya terbangun. Ia menoleh ke sebelah kiri nya, tampak Mahen masih pulas tertidur dengan posisi membelakangi Naya. Kebiasaan Naya ketika bangun tidur sebelum ia turun dari ranjang adalah minum air putih. Sayang nya air minum yang ia inginkan, berada jauh dari jangkauan nya. Tubuh nya seketika melemas kembali. Rasanya malas untuk beranjak. Untunglah, tak lama kemudian Mahen terbangun karena alarm dari ponselnya berbunyi.


" Naya, sudah bangun daritadi yaa? ". Suara serak dan berat Mahen khas bangun tidur, terdengar seksi ditelinga Naya.


" Barusan, 15 menit yang lalu. Tapi malas turun ". Naya menjawab dari balik selimut nya.


" Oh aku lupa, air minum nya yaa. Sebentar aku ambilkan ". Mahen perlahan turun dari ranjang nya, jalannya pincang karena ia tak memakai kaki sintesis nya.


" Minum dulu baru siap-siap subuh ". Mahen menyerah kan segelas air minum untuk Naya.


" Abang tau kebiasaan aku dari siapa? ". Tanya Naya heran.


" Rahasia ". Jawab Mahen sambil menyalakan ponsel nya. " Kita gantian, kamu dulu bersiap, bentar lagi subuh, lalu sholat berjamaah yuk ". Ucap Mahen kembali membelakangi Naya.


" Iya, ini mau siap-siap ". Naya melihat Mahen berdiri tanpa kaki sintesis nya. Abang tetap cool meski begitu, tapi kenapa dia minder yaa. Naya tak habis pikir.


" Aku masuk kerja jam 9, keburu ga yaa dari sini? ". Tanya Naya sambil berkemas.


" Keburu in sya Allah, jika kamu terlambat aku bisa ikut kamu buat jelasin ke store manager mu kalau perlu ". Mahen menawarkan bantuan agar Naya tak dapat sanksi.


" Selalu.. unexpected ". Balas Naya sambil berlalu masuk ke toilet.


Setelah sholat subuh, mereka berdua masih bertahan duduk diatas sajadah masing-masing sambil membaca dzikir pagi, disaat inilah Naya memberanikan diri untuk mengutarakan maksud hati nya.


" Abang maaf.. Jika sudah selesai, bisakah aku bicara serius? ". Izin Naya takut.


" Aku sudah selesai, bicara saja, kamu mau membahas tentang apa? ".


" Aku minta maaf jika ada perkataan aku yang akan menyinggung Abang nanti. Bismillahirrahmanirrahim.. Abah melarang ku pacaran, Abang tau kan? maka dari itu aku ingin melepaskan diri dari hubungan yang membingungkan ini. Antara aku dan Abang seolah ada hubungan di mata orang lain meski kenyataan nya kita adalah teman. Malam ini, bertambah lagi orang yang sudah kita bohongi dengan status kita yang bukan sebenarnya. Jadi, aku seperti nya akan menolak jika suatu saat Abang mengajakku kembali dalam setiap acara yang harus Abang hadiri.. Maaf aku ga bisa ". Naya menunduk merasa tak enak dengan ucapan nya barusan.


" Naya, kenapa tidak berpikir sebalik nya? kamu menerima ku agar kita tak lagi membohongi orang lain? aku juga lebih leluasa menjaga mu karena ada penerimaan dari mu ". Mahen mencoba membujuk.


" Tapi aku... ".


" Aku apa? jelaskan saja, aku akan mendengarkan ".


" Aku pernah bilang, tak sebanding dengan Abang meski dilihat dari segala sisi, aku tak punya sesuatu yang istimewa dan pantas disandingkan dengan reputasi Abang yang glamour ". Naya berusaha jujur.


" Aku merasa sebaliknya. Aku yang tak pantas untuk mu. Tak pantas bila masuk dalam keluarga mu karena aku faqir ilmu Naya. Aku khawatir kamu malu berdiri di samping ku karena jarak usia kita terlalu jauh juga fisik aku yang tak lagi sempurna ". Mahen mulai merasa minder kembali.


" Aku ga lihat itu. Keluarga Abang pasti menginginkan seseorang yang bisa dampingin Abang, bukan lagi sekedar mencari teman jalan pastinya. Banyak mimpi yang belum aku capai. Aku ga mau Abang banyak berharap padaku jika pada akhirnya tak bisa bersama Abang nanti. Aku ga mau Abang membuang waktu dan berharap sia-sia. Dan juga ga sanggup lihat Abang terluka nanti ". Naya mulai berkata lirih menjelaskan kegundahan nya.


" Sayang, kamu khawatir padaku? terimakasih banyak, hati mu memang lembut banget yaa. Kamu tau, aku bahagia denger ini. Aku bilang akan menunggu mu. Kita wujudkan mimpi mu sama-sama, yaa Ainnaya ". Mahen harap-harap cemas menunggu jawaban Naya.


" Tapi Abah? "


" Aku bersedia menemui Abah kamu nanti malam ".


" No.. Jangan.. ". Naya terlonjak kaget


" See.. ini semua hanya alasan kamu saja kan agar lepas dan menjauh dari aku ".


" Bukan gitu, takut nya Abang begini karena nafsu. Menikah bukan cuma antara aku dan Abang, tapi dua keluarga, dua budaya dan kebiasaan. Lalu jika Abang fokus menemani untuk mewujudkan mimpi ku, bagaimana dengan mimpi Abang lainnya yang belum terwujud? ". Naya mulai takut Mahen tersinggung.


" Mimpi aku yang belum terwujud cuma sisa satu, yaitu pengen sama kamu. Jawab aku jujur, Ainnaya Misbach Shaki, kamu sayang sama aku? ". Deg deg deg deg.. Jantung Mahen berdetak kencang.


" deg deg deg... ". Naya gelisah, jantung nya berdebar hebat.


" Ainnaya.. Jawab aku ".


" Aku... Iya, nyaman sama Abang ".


" Sayang atau nyaman? ga jelas banget kamu ini ". Mahen menutupi rasa bahagia nya dengan sindiran.

__ADS_1


" Ish.. Umur udah banyak tapi ga peka ".


" Pria pun butuh kejelasan, sayang. Agar tak salah melangkah. Lagian kamu bilang aku berniat menemui Abah karena nafsu? , pria normal kalau liat wujud pacar nya begini siapa yang ga nafsu coba. Sekuat tenaga aku menahan diri asal kamu tau itu ". Mahen mengeluarkan unek-unek nya.


" Aku sayang Abang ". Naya menunduk malu, ingin rasanya bersembunyi dibalik mukenah nya kini.


" ............... Alhamdulillah, lihat aku Naya ". Ingin rasanya Mahen melompat karena bahagia tapi ia tahan karena gengsi.


" Apa ".


" Dengerin yaa, sebentar.. ". Mahen mengambil ponsel nya lalu menekan satu nomor, Naya tak bisa melihat nya dan tak mengerti apa maksud nya.


" Assalamu'alaikum Mah.. Tolong dengerin Abang dulu yaa, jangan nyela ". Mahen ternyata menelpon Ibunya.


" Sayang, Ainnaya. Kamu mau kan jadi istri aku? kamu sayang kan sama aku? ".


" Abang ini siapa? ". Tanya Naya ingin memastikan.


" Jawab dulu Naya ".


" Kan aku udah jawab ". Naya malu untuk mengulangi nya.


" Ish, Mantu Mamah ini ngeyelan, Mamah masih mau punya mantu kayak dia ni? ". Mahen bicara pada Ibunya, ponsel nya sengaja ia loudspeaker agar Naya bisa mendengar suara ibunya.


" Abang, ga sopan.. Palingan kamu nya yang genit dan suka maksa ". Terdengar suara lembut Ibunya diujung telepon.


" Jawab sayang ". Desak Mahen kemudian.


" Iya, aku sayang Abang. Tapi ga mau pacaran ". Nada bicara Naya sebal.


" Mamah udah denger sendiri kan? Jadi kapan Mamah lamarin dia buatku? jawab nya nanti aja karena kita mau jalan pulang, bye Mah assalamu'alaikum ". Tutup nya sambil tersenyum lebar.


" Tadi Mamah aku. Dari kemarin minta denger suara kamu melulu. Sekalian aja tadi, biar ada saksi ". Mahen cengengesan.


" Aku tau dan berharap kamu jadi istriku ". Mahen tersenyum.


" Aku ga suka jika Abang sentuh seenaknya. Janji yaa jangan gitu lagi. Dan, aku ga mau Abang ikut campur untuk membiayai semua kebutuhan ku setelah ini. Hanya status saja yang berubah, selebihnya tidak. Aku tak suka dikasihani dan lagi belum waktunya Abang bertanggungjawab terhadap aku ". Naya seakan sedang membuat perjanjian.


" Syarat nya itu? berat yaa? kalau aku pengen meluk kamu meski lagi sedih juga ga boleh? "


" Tadi kata Abang aku boleh bahas apa aja. Aku mau nya begitu, kalau ga sanggup mundur aja dari sekarang ".


" In sya Allah.. Ada lagi? ". Mahen sudah gemas.


" Sementara engga ".


" Ainnaya, ini syarat dari ku : Bilang kemanapun jika kamu akan pergi, jangan lupa balas pesan dan telpon dari aku. Kalau kamu punya sesuatu yang mengganggu pikiran mu, diskusi sama aku yaa, kita cari solusi sama-sama. Apapun masalah nya, aku ingin jadi orang yang pertama kali tau kalau kamu sedang gelisah, ok? jangan pernah membohongi aku yaa sayang, jujur lebih baik meski sakit ".


" Berat banget sih, Abang tau aku intro.. ko gitu ".


" Karena aku adalah kamu, Naya. Cuma sama kamu, aku merasa nyaman menunjukkan semua sifat asli ku ". Mahen menatap Naya lekat.


" Ana uhibbuka fillah, Ainnaya, semoga Allah menjaga kita dari nafsu berlebihan ". Mahen mengucapkan nya dengan nada yang sangat lembut.


" Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu ". (Semoga Allah swt mencintaimu, Dzat yang telah membuatmu mencintai ku karena-Nya). Naya menjawab pernyatan Mahen dengan suara lirih namun jelas terdengar olehnya.


" Terimakasih banyak, Naya. Akhirnya aku bisa lebih leluasa memanggil mu sayang. Siap-siap check out yu, habis breakfast kita pulang. Uniform kamu sudah ada di meja kamu jadi kita langsung ke tempat kerja ". Mahen berdiri, merapihkan sajadah nya kembali


" Abang, pembawaan kamu memang sudah tenang dan kalem tapi melihat mu memakai koko dan kain sarung seperti ini, adem banget sih. Aku beruntung kah ada disamping mu? ". Naya tanpa sadar membatin sambil memandang nya


" Aku tau aku tampan dan gagah sayang, mulai berani curi pandang yaa sekarang ".


" Dih narsis nya kumat ". Deg deg deg deg, Oh jantung ku, sehat lah selalu.


" Naya.. Kamu harus tau ini.. Jika dahulu aku menjalin hubungan dengan wanita manapun termasuk dengan Melissa, tanpa sepengetahuan Mamah, maka kali ini akan berbeda. Aku menceritakan segala nya tentang kamu dari awal ke beliau. Aku ingin meminta restu Mamah sejak awal "

__ADS_1


" Lalu...... ". Naya penasaran.


" Jika Mamah tak mengizinkan, aku tak akan mengejar mu dan hari ini tak akan pernah ada. Aku ga mau mengulangi kesalahan ku yang dulu. Bismillah yaa Naya, aku ga main-main menjalani ini dengan mu, terlepas kamu akan jadi takdir aku atau bukan nanti nya. Semoga sih iya, ya Allah maafkan aku memaksa kali ini ". Mahen berharap sepenuh jiwa raga, doa nya hanya ingin Naya menjadi pendamping hidupnya kelak.


" Bismillah... ". Naya ikut menarik nafas panjang, semoga aku tidak salah langkah.


Setelah semua barang bawaan Naya telah masuk dalam tas ranselnya dan baju pesta keduanya telah selesai di laundry dan dilipat rapi, Mahen kemudian duduk di sofa karena akan memakai kaki sintesis nya. Tiba-tiba Naya ikut berjongkok di hadapan nya, lalu memakaikan sesuatu pada kaki Mahen.


" Apa ini sayang? ". Tanya Mahen heran.


" Kata temen aku, pakai kaki beginian suka bikin kram atau bahkan pegal pada kaki dan tungkai, jadi ini sebagai pelindung agar beban tubuh tak bertumpu terlalu berat di tungkai Abang, juga melindungi kaki abang yang bekas luka operasi ini agar tidak meninggalkan bekas setelah seharian memakai nya. Dipake yaa, orang bule pakai ini disana ". Naya menjelaskan sembari mengamati apakah ini sesuai atau tidak untuk kaki Mahen.


" Beli dimana? ". Mahen punya satu, tapi memang kurang nyaman jadi jarang dipakai, ia tau produk ini bukan berasal dari dalam negeri. Sempat berniat untuk membeli kembali jika ia bepergian nanti tapi karena sangat sibuk ia terpaksa menundanya dan akibatnya memang kakinya gampang cedera.


" Aku nitip ke temen ku yang dari U.K kemarin ". Jawab Naya tak ingin berbohong.


" Temen kamu yang kemarin itu, yang anterin paket? ".


" Yups. Ini di box nya ada dua, jadi Abang bisa pake gantian ".


" Makasih sayang, udah peduli sama aku, sampai mencari tau tentang rasa nyaman untuk kaki ku ". Mahen memandang gadisnya yang masih tertunduk karena berjongkok di depan nya.


" Bekas terkilir aja sakitnya susah hilang, Abang pasti masih merasa ga nyaman sampe sekarang bukan ".


" Iya. Ini ga murah lho, tabungan kamu habis donk sayang. Aku ganti yaa, kan ini untuk keperluan ku ". Mahen Hati-hati membicarakan ini, ia khawatir Naya tersinggung.


" Uang itu dicari untuk dipakai bahkan dihabiskan bukan? Tapi aku beruntung, uang ku tak habis hanya karena beli ini. Rezeki itu dijemput dan aku menjemput nya karena masih bekerja, lagipula jika hanya untuk sekedar makan, gaji ku sudah lebih dari cukup ". Naya bangkit dari posisi nya berjongkok tadi sambil tersenyum.


" Aku kalau ngobrol sama kamu, berasa bukan ngobrol sama gadis kebanyakan yang seusia mu. Sayang banget ga bisa meluk yaa duh nasib, padahal sweet moment ". Mahen mulai menyesal dengan keputusan nya menerima syarat dari Naya tadi.


" Hmm modus mesum mode on ".


" Hahahaha.. Kan harus tetap berusaha sayang ".


" Coba Abang rasain bedanya nanti yaa, kalau ga nyaman jangan dipakai lagi. Kenyamanan Abang beraktivitas seharian lebih penting buat aku ". Naya masih memperhatikan kaki Mahen.


" Iya sayang, makasih ". Mahen tersenyum bahagia.


Sejak bertemu Naya nampaknya ia lebih mudah untuk tersenyum. Jam di pergelangan tangan kiri Mahen menunjukkan pukul tujuh tepat. Mereka memutuskan segera keluar kamar dan turun ke bawah bersiap checkout setelah breakfast. Rey sudah berada di coffee shop menunggu mereka berdua dengan satu porsi sarapan yang telah sebagian disantap nya.


" Pagi Rey, serius amat sarapan nya ".


" Pagi Bos, Nona. Kita hari ini langsung pulang setelah antar Nona bos, Pak Jim baru tiba dari USA 30 menit yang lalu dan mengatakan ingin bertemu anda segera ". Rey menjelaskan agenda pagi ini ke Mahen.


" Sayang, aku ga bisa datang nanti malam, maaf yaa ". Mahen merasa bersalah.


" Iya gapapa, masih banyak waktu ko ". Jawab naya sembari menuangkan teh ke cangkir Mahen dan cangkir nya.


"Ehheeemm.. Resmi bos? ".


" Apa? selesaikan makanan mu Rey. Aku akan pamit pada Mas Andres dan Saras. Sayang, kamu lanjutkan makan saja, akan aku sampaikan salam darimu untuk Saras ". Mahen beranjak pergi.


" Nona. Silakan.. ". Rey mengambilkan salad dan pastry untuk Naya.


" Tuan Rey, apa anda yang mencari tau semua tentang aku dan melaporkan ke Abang? kesukaan ku, kebiasaan ku dsb ". Naya bertanya menyelidik.


" Tidak (salah)... ". Batin Rey. " Lekas habiskan breakfast anda Nona jika anda kasihan padaku karena Bos akan marah padaku jika anda tak makan dengan baik ".


Naya melanjutkan sarapan nya tanpa Mahen, namun dia diam-diam memesan seporsi salad, dan sandwich agar Mahen bisa sarapan di perjalanan nanti.


Pagi ini, Naya merasa bahagia, beban dihati nya seakan sedikit berkurang. Ia akan punya tempat berbagi yang mungkin akan mengerti betul tentang dirinya karena ternyata Mahen sama seperti nya, seorang yang introvert.


_______________________________


😌😌😌, definisi dicintai dan mencintai dengan orang yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2