Dia.. Pilihan Untuk Ku

Dia.. Pilihan Untuk Ku
MEMUKUL MUNDUR


__ADS_3

Markas, perbatasan Cirebon.


Alex memberitahukan kabar terbaru tentang Melissa pada Rey. Suaminya akan menjemput dan meminta mereka bertemu di titik poin yang telah disepakati.


" Capt, suami Miss Lisa, ingin bertemu di Statiun agar langsung berangkat pulang kembali ". Lapor alex.


" Pastikan ia benar-benar pergi, berikan rekaman yang aku kirimkan tentang kelakuan Melissa disini ". Rey memberikan beberapa bukti kejahatan Melissa.


" Baik... ".


Mel, maafkan aku. Kamu memulai ini, jangan salahkan aku ataupun Abang bilamana suatu hari, jika kamu mengingkari janji kembali. Kamu dan suami mu, akan hancur ditangan Jimsey Exona. Yang kamu usik, adalah seorang penting dalam jajaran elit negeri ini. Batin Rey memandang benda pipih didepan nya.


***


Disaat yang sama, Sumitra Land.


Sumitra yang mendatangi kantor berlantai dua puluh lima pagi ini murka, karena Jimsey kembali memperingatkan nya tentang kelakuan anak sulung nya, Anggara.


Braaakkk. Tendang nya keras pada pintu ruangan Anggara.


" Apalagi yang kau lakukan? masih belum puas juga? ". Murka Sumitra merangsek masuk paksa.


" Apa maksud Papa... ". Elak Anggara tenang.


" Anak itu, Mahendra... Sudah ku bilang, jangan usik... Kamu akan berurusan dengan Jimsey ".


Plakkk.


Sumitra membanting map ke meja kerja Anggara.


" BUKA!! ". Perintah nya.


Anggara membuka map yang ada di depan nya, netra nya membulat sempurna tak percaya terhadap apa yang ia baca dan melihat beberapa foto disana.


" Apa-apaan ini... Papa, aku tidak... Fu*ck Mahendra ". Anggara serasa di kebiri, semua aktivitas gelap nya diketahui sang Ayah.


" JELASKAN....!! BIKIN MALU, SUMITRA LAND akan hancur bila kamu seperti ini.. ANGGA....!! ". Murka sang Ayah.


" Semua yang aku lakukan demi kepentingan perusahaan, Papa... Mengertilah, Sumitra Land tidak akan sebesar ini bila aku berada di jalur putih... Semua perusahaan pun sama kan? ".


" Termasuk meniduri semua wanita, membeli, dan menghadiahkan wanita untuk para klien? ".


" What the..... ".


" Angga, ingat satu hal ini... Sumitra Land, dahulu nya ada di bawah perusahaan milik Jimsey, bilamana aku tidak bisa mengendalikan mu... Semua yang kau nikmati hingga hari ini, harus aku kembalikan pada nya ". Sumitra terduduk lemas di sofa depan meja kerja anaknya itu.


" Papa, maksudnya? ".


" Ceritanya panjang, pikirkan Anggi Nak... Pikirkan Papa... Berhentilah mengejar gadis Mahendra... ". Mohon sang ayah.


" Aku mencintai nya Pa... Sejak mengenal Naya, aku tak pernah lagi affair atau *O.N.S dengan wanita manapun... Aku menghargai rasa cintaku pada nya... Meski Naya tak melihatku, aku yakin bisa membahagiakan nya dan membuatnya membalas cinta ku, Pa... Dukunglah aku... ".


" Untuk tujuan apa kamu melukai Mahendra? Demi Tuhan Anggara...! ". Sumitra geram.


" Dia mengancam keselamatan ku, Papa lebih membela nya daripada aku? ". Sinis nya.


" Jimsey Exona... Jangan pernah kamu mengusiknya... Meski dia tidak berada di puncak kekuasaan saat ini, tapi nama nya berkibar dan harum di dunia bawah... Kau ingat baik-baik Anggara ". Sumitra bangkit keluar ruangan anaknya dengan hati cemas.


" Arrrggghhh...... Mahendra.... !! ". Teriak nya frustasi.


Anggara tak mengetahui bahwa Sumitra dahulu berjanji pada Jimsey bahwa ia akan membayar semua hutang budi nya suatu saat nanti bila Jimsey menagih nya.


Jimsey, menyelamatkan nyawa istri dan jabang bayi nya saat persalinan Anggi. Sumitra yang baru saja di PHK oleh perusahaan retail kala itu, bertemu dengan nya di lorong IGD rumah sakit karena Melinda, putri Jimsey demam tinggi.


Karena obrolan sesama ayah yang kalut di lorong Koridor rumah sakit, Ia lalu diberikan kepercayaan oleh Jimsey untuk mengelola anak perusahaan Exona yang baru saja di bangun, Exona Constructicons yang kemudian diubah nama menjadi Sumitra Land dibawah perjanjian hitam putih yang mereka sepakati di kantor advokat puluhan tahun silam.


Anggara juga rupanya tidak peka terhadap salah satu dewan direksi dengan inisial nama MBY alias Mathew Baratayuda, salah satu pemegang saham terbesar yang kehadiran nya tak terlalu dianggap karena tak pernah menampakkan batang hidung nya pun ketika rapat direksi. Ia adalah pangeran Exona, putra sulung Jimsey.


Jimsey orang yang sangat teliti, pergaulan nya di dunia bawah, berkali di khianati membuatnya selalu menata langkah hati-hati terhadap siapapun orang yang ditolong nya.

__ADS_1


*


Satu jam sebelum nya. Ponsel Sumitra berdering sepagi ini. Jimsey Exona, nama yang tertera dilayar handphone nya, si pelaku yang akan membuat pagi nya muram.


" Selamat Pagi Jim... ". Sapa nya ragu.


" Pagi, Tra... Aku tidak suka basa-basi... Anak mu melukai anakku, kamu mengurusnya atau aku? tentukan pilihan mu ". Tegur nya tajam.


" Apalagi kali ini... ".


" Kejahatan nya tak bisa lagi aku tolerir, Sumitra Land, ingatlah asal usul mu... ". Ancam Jimsey kemudian.


" Jim, easy... Kenapa dengan Anggara? ".


" Tanyakan padanya, apa yang dia perbuat di kota leluhur ku... Bila kamu tidak sanggup mengendalikan nya, aku yang akan mendidiknya... Kamu paling tahu maksud ku bukan, Tra... ? ".


" Baik, beri aku waktu Jim... Maafkan ketidakcakapan ku mengurus Angga... Pertimbangkan lagi masa depan kami, ada Anggi bila kau lupa... Anak gadisku yang pernah kamu sayangi Jim.. ".


" Ckckck... Anggi sudah berada dalam tanggung jawab Rendy, jangan kau bawa-bawa... Danureksa sudah berjanji padaku tak lagi mengusik keluarga ku... Sebaiknya kamu pikirkan.... Selamat Pagi ".


***


Joglo Ageng.


Danarhadi bertahan di ruang kerja nya sedari semalam menghindari bertemu dengan Wisesa dan Naya hari ini. Ia teringat akan semua prosesi adat yang masih akan berlangsung hingga satu pekan kedepan.


" No, pengajian... Siraman... WO nya bagaimana? hari ini rencana nya keluarga Kyai Maksum akan datang ".


" Aku meminta mereka datang menghadap Ndoro, setelah pertemuan anda selesai ".


" Baik... Sesa dan Naya, dimana? ".


" Dikamar Den Roro, sejak kemarin malam keduanya tidak keluar kamar, Ndoro.. ".


" Apa aku salah, No? berikan pendapat mu... ". Ucapnya gamang.


" Pantas kah aku? ". Tanya Kusno meragu.


" Sebaiknya anda istirahat dahulu, Ndoro... Kesehatan anda lebih utama ". Kusno melihat majikan nya itu teramat letih, mungkin sebab beban pikiran yang menghimpit nya akhir-akhir ini.


" Tidak apa.. Kamu lupa, aku ini ahli tirakat sedari muda, begadang semalam tak membuatku mati lemas ". Sombongnya.


" Baik... Menurut ku, Mahendra lebih unggul dibanding dengan Raden Mas Hasbi, karena beliau cakap baik dalam pekerjaan maupun mengendalikan emosi Den Roro.. Meskipun Den Mas Hasbi tak kalah mumpuni dari segi financial dan masa depan.. Tapi Mahendra adalah anak kesayangan Raden Mas Galuh, yang sudah ia siapkan kelak untuk membantu di Kerajaan Properti miliknya mendampingi Raden Mas Mathew... Ndoro ".


" Apalagi.... ". Lanjut Danarhadi memperhatikan.


" Mahendra punya orang-orang loyall disekitarnya, sifat welas asihnya membuat ia kerap dikelilingi orang baik dengan kemampuan yang sama sepertinya... Analisa terhadap masalah yang ditemui nya selalu akurat dan detail, bilamana ada musuh yang mengancam keselamatan mereka, dari performa yang Mahendra tunjukkan padaku, ia lebih dari mumpuni menjaga semua asset nya... Sabar dan tenang, sifat utama yang Mahendra miliki ".


" Sedangkan Den Mas Hasbi... Pria yang lembut, penyayang dan humble... Digilai kaum hawa, karena status nya dan segala prestasi nya... Nasab yang sangat baik menjadi pertimbangan tersendiri.. Namun, dibalik semua itu, Den Mas Hasbi adalah pria yang tegas, disiplin dan keras, sama seperti Den Roro... Den Mas Hasbi lemah dalam segi pengawasan dan kekuatan internal meski mungkin Ndoro yang akan memberikan ini namun, ke-loyall-an orang-orang yang Mahendra punya jauh diatas sekedar sebuah team penjaga ". Kusno memberikan opini sesuai yang ia lihat dan perhatikan beberapa waktu belakangan.


" Mahendra tidak sekufu dengan kita, No... Lagipula jarak usia dengan cicit ku sangat jauh... Aku sayang Naya sekaligus membenci sifat yang di turunkan Wisesa... Aku ingin meminta maaf pada mereka namun hati ku seakan mengunci mulut ini untuk berkata semuanya... ". Sesaknya.


" Itu hanya pendapat ku saja, Ndoro ". Kusno menundukkan kepalanya hormat.


" Aku tidak mau mereka menjauh lagi dariku, sedangkan aku telah renta, sudah bau tanah... Siapa nanti yang mengurus kematian ku... Mengurus peninggalan ku? sejujurnya aku butuh Sesa untuk lebih mendekat pada Gusti Allah... Tapi.... ". Akhirnya pengakuan dari mulutnya meluncur sudah.


" Apa aku perlu panggilkan Kyai Jazuli? beliau sahabat kecil Raden Mas Wisesa yang baru menetap kembali disini, Ndoro... Setidaknya, ilmu beliau setara dengan cucu anda karena mereka berdua pernah satu pesantren di Surabaya dahulu ".


" Aturlah semuanya diam-diam, No.. ".


" Sendiko, Ndoro ". Kusno mengerti, harga diri, kekuasaan, kehormatan dan perjuangan yang telah majikannya usung sejak masa lampau membuat satu benteng kokoh dalam dirinya yaitu, gengsi.


Beberapa Jam kemudian.


Joglo Ageng.


Hasbi dan ayah nya datang kembali menghadap ke Joglo Ageng. Awalnya, hari ini yang sejatinya akan dilangsungkan akad nikah, batal digelar karena Wisesa meminta kejelasan keputusan lebih dahulu untuk sang putri.


Di Joglo Inggil, telah duduk Abah, Kyai Maksum, Raden Mas Hasbi dan Danarhadi, dalam situasi tegang itu memecah kesunyian suara sang Tetua rumah terdengar.

__ADS_1


" Panggilkan Naya kemari... ". Perintah Danarhadi.


Mba Warni membawa Naya, duduk di sebelah sang Ayah. Kondisi nya lemah dan terlihat pucat karena ia mengira akan di nikahkan segera.


" Monggo Yai, sampaikan maksud kedatangan anda ". Danarhadi menyilakan.


" Naya terlihat kurang sehat Nduk, begini... Buya meneruskan niatan Mas Hasbi untuk mengkhitbah mu... Jikalau kamu ingin melihat profile, nasab calon suami mu, silakan kami membawa apa yang kamu butuhkan sebagai bahan pertimbangan ". Kyai Maksum memberikan sebuah amplop ke hadapan Naya berisi portofolio putra nya.


" Ana sebagai Wali Naya, menerima portofolio ini Yai... Terlebih kepada keputusan diterima atau tidak.... Silakan Naya yang akan memutuskan langsung... ". Sahut Wisesa pelan.


" Tidak bisa! aku yang memutuskan... ". Sergah Danarhadi.


" Punten... Mboten ngoten Gusti, Benar memang Kaji Ahmad lebih berhak atas anaknya karena beliau masih hidup dan Naya masih membutuhkan Wali nikah ". Kyai Maksum menengahi.


" Silakan Naya.... ". Yai melanjutkan.


" Naya, please.... Kamu sudah janji memberiku kesempatan bukan? ". Hasbi menyela.


" Nak, menikah bukan untuk mainan, ibadah sepanjang hayat... Didalam nya harus ada keridhoan satu sama lain, agar rahmat Allah mengalir deras... Ishbir, Mas... ". Yai menenangkan Hasbi.


" Nduk, jangan takut... Ada Abah... ". Genggam erat tangan Naya.


" Bis-millah... Aku... Mencintai orang lain yang kehadiran nya didalam hati ku tak sanggup digantikan oleh sosok yang baru... ". Ucap Naya lirih.


" Diperjelas maksud nya Nduk... ". Yai menuntun sabar.


" Aku.... Menolak lamaran A Has-bi... Maaf, maafkan aku... ". Lanjut Naya menunduk dan berurai air mata.


" Gak apa-apa Nduk... ". Abah memeluknya.


" BIKIN MALU....!! ". Hardik Danarhadi murka.


Naya semakin menangis dalam pelukan Abah nya. Ia tertekan.


" Engga, Naya... Jangan begini, beri aku kesempatan... Aku juga bisa menyembuhkan luka mu Naya... Mari kita coba ". Hasbi kembali memohon.


" Jalan tengah nya saja... Ana meminta kesempatan bagi Mas Hasbi dalam mengatasi trauma Naya, bagaimana? ". Pinta Kyai Maksum.


" Monggo Yai... Tapi diakhir nanti, tetaplah Naya yang akan memilih dan memutuskan ini... Bila Yai setuju, ana mengizinkan ". Wisesa mencoba memakai jalur aman agar meminimalisir kebencian dan dendam di diri Hasbi.


" Kapan Ji...? ".


" Sekarang tidak mengapa, Naya memang sedang down akhir-akhir ini ".


" Nduk, mau yaa dicoba ". Wisesa menatap Naya yang ada dalam pelukan nya.


Naya hanya menganggukkan kepala nya samar. Danarhadi telah gusar, ia merasa dipermalukan Wisesa.


Kusno kemudian memanggil tiga orang psikolog untuk menganalisa hasil nya nanti.


***


Limasan Gandarani.


Jimsey mengatakan pada Mahen, bahwa sedang ada pertemuan ulang yang membahas tentang lamaran Hasbi.


" Pak, aku ingin menemui Naya " .


" Tidak sekarang... Sudah ku bilang aku punya rencana... Sabarlah Nak.. Lukamu juga hampir sembuh, tenang lah... Aku tak akan tinggal diam kali ini ". Jimsey menenangkan Mahen.


Aku yakin, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Pak Jim. Tapi apa yaa? Mahen berpikir keras dalam kamar nya..


" Sayang.... Yakinlah pada hatimu... Yakinlah padaku, kita akan bersama.... ". Do'anya selalu..


.


.


_______________________

__ADS_1


Yang mau jadi saksi.. ngacung.... 😅. Maapin telat up karena kesiangan sahur dan belum punya draft wakakakaka...


Jangan lupa ampau, like follow dan rate yaak..


__ADS_2