
Lama keduanya berpelukan di sana hingga Warni datang meminta maaf kembali. Naya memegang pinggang Mahen melerai tautan tubuh mereka, tanpa sengaja telapak tangan Naya menyentuh luka nya.
" Basah, ini apa? darah? Abang... kenapa? ". Naya menatap khawatir.
" Sedikit sayang, gak apa-apa ". Meski Mahen menahan nyeri.
" Maaf Den Roro, tadi sempat kena pukulan saya sebelum Ndoro Panji menghindar.... Ampuni saya, saya pikir Ndoro Panji bukan suami Den Roro ". Warni sudah gemetaran.
" Mbaaaa, ko bisa?.... Honey, Rey mana?.... Mba panggilkan Rey ". Pinta Naya.
" Didepan sama Pak Darso, aku masih bisa jalan sayang... Meski pelan-pelan.. ".
" Engga, aku ga tau Abang kenapa... Disana kan perbukitan, butuh tenaga untuk naik.... Abang, maafin aku, aku hanya tak ingin keluarga Abang terluka sebab menemuiku karena Kakek buyut orang yang sangat tegas, dan lagi aku khawatir mereka akan melukai Abang dan yang lainnya maka dari itu aku tadi menghindar ". Naya menjelaskan sebisanya sembari menatap luka di perut Mahen.
"............... ". Mahen hanya tersenyum, nyeri lukanya ia abaikan melihat Istrinya mengkhawatirkan dirinya seperti itu.
" Aku lihat boleh? tapi duduk di sana dulu... ". Tunjuk nya di sebuah bilik beratap daun kelapa.
" Sabar sayang, masa disini sih? tubuh ku ini cuma kamu yang boleh lihat ".
" Diihh, apaan.... Messuuummm ". Naya melengos pergi meninggalkan Mahen menuju bilik di ujung taman pos 3.
" Haha, sayang.... Ko gitu, suaminya di tinggalin... ". Mahen menduga jahitan di bagian tengah yang terbuka, karena nyerinya terasa makin menusuk.
" Sakit... ". Wajah nya kembali memucat, Ia berpura kesakitan di depan Naya.
" Reeeeyyyy disini..... Sabar honey, sakit banget yaa, tahan sebentar.... Reeeyy!! ". Naya memeluk Mahen sambil berteriak memanggil Rey dan Pak Darso yang mencari nya.
" Ya ampun Bos... Kita Papah Pak... ". Angkat lengan Mahen untuk membantunya berdiri dibantu Pak Darso.
Rey yang terheran melihat Bos nya justru sangat santai. Ia curiga, Bos nya itu hanya berpura-pura kesakitan untuk mendapatkan perhatian istri kecil nya itu.
" Ckck ga elit banget sih Bos.. ". Bisiknya sembari memapah Mahen yang tersenyum jahil.
" Usaha dikit Rey, tapi aku beneran nyeri... Lihat saja ". Mahen menunjukkan bekas rembesan darah di kemeja nya.
" Halah, sedikit... Lebay ". Sungut nya lagi. Mereka berjalan di depan Naya, menaiki undakan satu persatu hingga sampailah diatas dan langsung kembali ke Joglo Ageng.
Baru saja Danarhadi keluar dari kediaman nya menuju Joglo Inggil untuk menemui WO. Ia melihat cicit mantu nya berjalan sambil dipapah Rey, seketika ikut panik terburu menghampiri.
" MAAAASSS...!! Kenapa ini? Warni, Darso jawab!! ".
" Ga apa-apa... Abang butuh dokter Uyut... ". Naya takut uyut nya marah besar.
" No, Kusno... Panggilkan dokter segera ". Danarhadi kembali masuk rumah, menuju kamar Naya, membukakan pintu dan mengatur bantal untuk Mahen merebahkan tubuhnya.
" Pelan-pelan Nak Rey... Mas, kamu kenapa? Nduukkk!!! Ini suami mu kenapa? ". Danarhadi tak henti berteriak.
" Uyut, berisik banget... Aku juga ga tau, ini Abang kenapa.. ". Naya membawa baki berisi kasa, air hangat dan perlengkapan P3K yang diserahkan oleh Warni.
" Aku gak apa-apa ko Uyut... ". Mahen mencoba menenangkan.
" Gak apa gimana kamu Mas... Iki lho, rembes... Duh....... ". Uyut mendadak lemas dan sesak.. disanggah oleh Rey saat akan jatuh.
" Tuhkan kumat lagi.... Uyut sih lebay, udah duduk dulu.. Sayang, aku lihat dulu yaa luka nya... ". Naya mendekat, membuka kancing kemeja Mahen satu persatu.
__ADS_1
Benar saja, luka nya sedikit terbuka, karena tidak memakai kasa perban, luka nya bergesekan dengan kain kemeja makin memperparah sayatan yang terbuka itu.
" Kamu kenapa sih sayang, ini lho... Ko begini... ". Suara Naya mulai parau menahan tangis.
" Ssstt, cuma terbuka sedikit... In sya Allah lekas pulih, aku bandel, harusnya masih memakai kasa hingga benar-benar kering ". Mahen membelai wajah istrinya yang terus menunduk sembari membersihkan luka.
" Ndoro, dokter nya.... Silakan dokter ".
Naya menepi, memutari sisi ranjang satu nya dan menggenggam tangan Mahen.
" Ini luka yang cukup dalam sepertinya... Tapi sudah berangsur-angsur membaik dilihat dari jahitan tepi, hanya saja bagian tengah ini agak terbuka... seperti terkena benturan ".
" Salah aku Ndoro, ampuni aku ". Warni mengakui kesalahannya.
" Aku tadi tergesa turun perbukitan dokter... Memaksakan diri ". Cegah Mahen.
" Sudah-sudah, dibahas nanti... Mas..!! kamu istirahat total, biar lusa sudah bisa aktivitas lagi karena sinuhun minta peresmian gelar mu sekaligus di acara syukuran... Kamu juga Nduk, jangan mancing suami mu... Pokoknya Mas, ga boleh anu dulu sebelum luka mu betul-betul kering... Paham kalian ". Tegas Danarhadi.
" Uhulk... Uhulk... ". Dokter tersedak.
" Pfftttt..... ". Rey menahan tawa nya. Sedangkan Mahen dan Naya hanya saling pandang. Sementara Kusno menundukkan kepalanya tersenyum simpul.
***
Sumitra Land. Kemarin Malam.
Anggara murka pasalnya ia baru diberitahu oleh asisten nya bahwa malam ini Mahen akan melangsungkan akad nikah di Solo.
" Bodoh kalian... Kenapa terlambat?... Masukkan orang kita dan buat kekacauan disana agar mengulur waktu ". Perintah nya.
" Fu*cckkk..... Selalu saja sempurna pengamanan mereka..... Lalu bagaimana sekarang? ".
" Meskipun kita melakukan sesuatu disana percuma saja Bos... Mahendra baru saja resmi menjadi suami Nona Muda ".
" Pastikan kembali.... Apa yang bisa kalian lakukan, Haaaahh.... !! ". Amuk nya lagi.
" Valid Bos, lagipula Mahendra kabarnya mendapatkan gelar kehormatan dari Kasultanan disana... Ini artinya beliau mendapatkan pengamanan khusus dan hak ekslusif sebagai cicit mantu Tumenggung ".
" Aaargh.... NAYAAAA....!!!! Sesulit itukah menjadikanmu milikku...!! ". Anggara membuang semua benda yang ada di hadapan nya.
" Mahendra.... Lihat saja, urusan kita belum selesai ". Geramnya sambil kembali meremas gelas diatas meja nya hingga pecah.
***
Malam hari. Joglo Ageng.
Danarhadi sedang berada di kamar Mahen, melihat dokter yang berkunjung lagi mengganti kasa dan mengoleskan salep untuk luka Mahen.
" Itu obat china lho Dok, biar cicit ku lekas pulih ". Sela Danarhadi.
" Nggih Ndoro, salep ini memang ampuh sekali.. Tapi yaa kami tutup mata saja, karena secara medis belum teruji... Ok, Den Panji, sudah selesai.... Saya izin pamit yaa ". Dokter pamit undur diri.
" Mas, setelah syukuran nanti mau langsung kembali atau bagaimana? Resepsi nya di Cirebon atau Jakarta? Uyut bakal sendiri lagi, ga ada yang enak diajak ngobrol selain kamu Mas... ".
" Nanti gimana Abah dan Naya saja, aku ikut kata mereka... Uyut mau ikut tinggal sama kita? aku ga keberatan ".
__ADS_1
" Lalu tugas ku disini gimana? aku masih punya tanggungjawab dengan sinuhun kecuali Wisesa mau menggantikan aku... Yaaa aku bebas mau kemana saja ".
" Oiya, tadi aku sempat urun saran sama Pak Kusno, mobil Uyut aku pasang sensor juga yaaa sekalian semua mobil keluarga Sinuhun... Jika bersedia, nanti Rey membantu... Biar aku tenang ".
" Kamu itu... Mikiri orang lain terus... Oiya dokter terapi Naya sedang menuju kesini, anak itu sepertinya cuma nunut sama kamu ".
" Terapi Naya dua kali lagi kalau ga salah... Tapi tertunda kemarin karena aku kembali ke Jakarta lalu Naya ngilang dari aku... Trauma itu bisa sembuh ko Yut, bantu do'akan kami selalu yaa ".
" Nggih Mas... Kenapa keluarga Wisesa adem dan lembut semua yaa, sampe ke mantu nya juga kecuali cah wedok itu... ". Danarhadi melirik Naya yang baru saja masuk membawa air minum disusul dokter terapi nya.
" Hayoo.... Aku denger lho Uyut ngatain aku ". Tuduh Naya.
" Bener kan Mas..... ".
" Sayang.... Ga sopan...! ".
" Uyut puas yaa, Abang belain uyut mulu daritadi.... Aku udah pensiun jadi cicit kesayangan Uyut kek nya ".
" Lha kelakuan mu begitu.... Untung suamimu ini sabar Nduk... Wes sana terapi... Uyut temani ".
Naya meminta duduk disebelah Mahen untuk sesi kali ini. Dokter kemudian memulai terapi. Danarhadi memperhatikan setiap gerakan, ucapan, belaian dan support yang Mahen berikan pada Naya.
Pantas saja cicit nya menaruh kepercayaan besar pada Mahen, dia selalu lembut dan sabar menghadapi Naya. Ketika berinteraksi dengan dokter pun, Mahen terlihat tegas dan profesional. Benar-benar pribadi yang bisa berubah mengikuti dengan siapa lawan bicara nya. Danarhadi baru mengerti, pesona Mahen yang memang sudah usia matang tak bisa di pungkiri menjadi magnet tersendiri pun baginya yang baru beberapa jam mengenal cicit mantunya itu sudah dibuat jatuh hati.
" Alhamdulillah, Den Roro banyak kemajuan... Berkat motivasi Den Panji yaa ".
" Karena kemauan nya, Dokter... Aku hanya mendampingi ". Naya memeluk Mahen begitu saja dihadapan mereka.
" Sudah selesai?.... Istirahat yaa.... Inget lho Mas, ga boleh anu dulu.... Nduk, jangan mancing!! ". Tegur danarhadi mengingatkan kembali.
" Haha, apa sih Uyut.... Iya iya.. Uyut istirahat juga, maaf aku ga bisa nganterin keluar yaa Dokter.... Ini sudah nempel ". Mahen membelai kepala Naya yang mulai tertidur dipelukan nya.
" Lekas pulih anda berdua... Aku permisi ". Pamit dokter. Danarhadi lalu bangkit dan keluar kamar mereka.
" Sayang.... Kamu sudah tidur? ko ga kiss dulu? ".
Cupppp...
" Love you sayang... ". Naya kembali memejam.
" Fore*play yuk..... ". Mahen berbisik menggoda di telinga Naya.
" What....... Ga boleh.. Inget luka Pak ". Ia beringsut menjauhi tubuh suami nya.
" Dikkiit sayang, yaaaa..... ".
" Aku pindah sofa nih.... ". Naya melihat suaminya itu ada rasa tak tega, ia lalu mematikan lampu kamar nya, mengganti dengan cahaya temaram dari lampu tidur. Beringsut mendekat kembali ke pelukan suami nya lalu memulai apa yang Mahen mau....
" Sa-yaaang, kamuu...... Habis yaa malam ini ". Lirihnya, mulai terpancing.
_______________________
Puasa gaes... mo bikin yang panas, tapi belum buka... 😂
__ADS_1