
" Ponsel kamu belum diaktifkan? aku tadi menghubungi Bu Rahma dan beliau bilang kamu ke sini, jadi aku menyusulmu. Aku iseng tanya ke petugas pengurus makam, mereka lalu kasih petunjuk yang sejujurnya agak bikin bingung. Sampai akhirnya aku menemukan pacarku sedang berjongkok disini ". Mahen menjelaskan mengapa ia tau keberadaan Naya disini.
" Hmm tapi aku harus ke suatu tempat. Ga bisa ikut Abang deh, maaf yaa ". Naya kali ini menolak ajakan Mahen yang akan membawa nya entah kemana.
" Ikut saja, aku antar ". Jawab Mahen tenang seperti biasanya.
Perjalanan mereka kali ini ditempuh dengan waktu yang cukup lama, sekitar 45 menit menuju utara tepat nya ke sebuah panti sosial yang letak nya tak banyak diketahui oleh para donatur mungkin, karena terlihat dari bagian luar nya saja tampak kurang terawat, kusen pintu dan jendela nya nampak rapuh dimakan rayap meski sesungguhnya ruangan yang terdapat didalam nya terlihat sangat bersih.
" Abang... Ini kan... Jalan menuju ke panti.. Abang tau darimana? ". Naya bertanya tak sabar penuh menyelidik.
" Rahasia.. Enjoy the party ya, kan aku tadi sudah janji bakal temenin kamu seharian ini ". Mahen tersenyum memandang gadisnya yang nampak penasaran.
Setelah sampai di panti, mereka bertiga turun dari mobil dan langsung disambut oleh kepala panti. Seperti biasanya, Naya menyalami dan memeluk wanita paruh baya ini, sebuah pelukan yang di liputi kerinduan teramat dalam nan tulus terpancar dari keduanya. Beberapa saat lama nya mereka berpelukan hingga Ibu kepala panti mengurai pelukannya sambil berkata " Neng Naya, sudah makin dewasa dan makin ayu sekarang. Yuk masuk, udah ditungguin para nenek dan kakek didalam yang kangen sama neng Naya ". Ajaknya kemudian pada mereka bertiga.
Sementara Naya dan Mahen di panti bercengkrama dengan para lansia, seseorang tengah mengamuk dari ruangan berlantai 3 sebuah hotel karena ia kalah cepat dengan rival nya untuk mengunjungi Naya hari ini.
" S*al... S*al... Aku kalah cepat. Dimana mereka sekarang? ". Tanya anggara murka pada bodyguard nya.
" Tidak diketahui Tuan, maaf kami kehilangan jejak mereka ". Sahut salah satu anak buahnya yang berbadan tegap dan bermata sipit seraya menundukkan kepala takut akan murka sang majikan.
" B*doh kalian.. Sekarang cari tau dimana mereka segera. Alihkan perhatian Mahen dari gadis itu ". Titah Anggara lagi.
" Baik Tuan ". Kedua anak buah nya pamit untuk melaksanakan tugas mereka yang baru.
*
" Rey, report ". Tulis Mahen pada pesan yang ia kirimkan ke Rey disela kesibukannya meladeni para nenek genit yang mengerubuti nya bagai semut sedari tadi.
" Anak buah Anggara berhasil terkecoh bos, mungkin lain ini dia akan mencoba mendekati Nona saat anda lengah ". Rey menjelaskan pada Mahen situasi terkini. Otaknya harus berpikir cepat karena kali ini rival bos nya adalah lawan yang sebanding.
" Terimakasih Rey ". Balas Mahen singkat meski hati nya khawatir jika ia meninggalkan Naya, maka celah bagi Anggara untuk masuk mendekati gadisnya akan terbuka lebar.
" Sayang, tolong aku. Para wanita mendekati expired ini sudah sangat membuatku geli ". Mahen mengirimkan pesan pada Naya tetapi malah disambut tawa renyah dari gadis itu.
" Nikmati saja, kan ga tiap hari.. Kenarsisan yang suka anda banggakan itu, lari kemana Tuan Mahen? ". Balas Naya lagi. Naya pun sama, sibuk meladeni pertanyaan dari para lansia yang lama tak dikunjungi nya. Tapi tak lama kemudian ia bangkit dan melepaskan diri perlahan dari kerumunan fans nya menuju tempat Mahen berada.
" Nenek, ga boleh genit lho yaa, ini punya nya Naya, kalau di colek-colek terus nanti lama-lama habis. Naya dapat apa donk? ga kebagian. Nanti Naya ga mau kesini lagi aah, Soalnya nenek semua ga mau berbagi sama Naya ". Ia pura-pura merajuk. Sejenak terjadi keriuhan diantara mereka, sebagian membela Naya sebagian lagi malah memegangi Mahen erat dengan mengatakan : punyaku.. punya ku.. punya ku...
Karena mulai terjadi kericuhan akibat memperebutkan Mahen, petugas panti turun tangan melerai kerumunan itu. Mahen bernafas lega, baru kali ini ia tak kuasa melawan meski dirinya merasa dipermainkan. Sedangkan Naya malah tak henti tertawa melihat kekasihnya menjadi idola baru para lansia yang genit. Mahen merasa malah ia yang sedang dikerjai di hari ulang tahun Naya, hingga pada akhirnya ia menemui Ibu panti kembali lalu mengajak Naya pamit dari panti karena akan mengunjungi tempat lainnya. Ketika keduanya kembali ke mobil mereka, kepala panti berbicara berdua dengan Rey.
__ADS_1
" Terimakasih banyak atas bantuan nya, tolong sampaikan pada Nak Mahen ya Pak Rey. Ini sangat berharga sekaligus berguna buat kami semua ". Kepala panti kemarin menerima cek sejumlah 100 juta dari Mahen agar panti ini bisa direnovasi dan melengkapi fasilitasnya agar lebih lengkap dan layak demi kenyamanan para penghuni nya.
" Baik, akan saya sampaikan, tolong jangan sampai Nona tau ya Bu ". Pesan Rey pada Ibu panti, setelah berjabat tangan, Rey langsung menyusul bos dan Nona nya yang telah menunggu di mobil lalu bersiap meninggalkan tempat itu.
" Rey, kita sarapan dulu ". Mahen merasakan perih menyerang lambung nya, ia ingat tadi tak sempat breakfast di hotel karena terburu-buru.
" Abang belum sarapan? kruyuuukkkk ". Bunyi perut Naya terdengar.
" Kamu juga sama tuh, bedanya perut ku ga bersuara ". Mahen tertawa merasa bisa membalas kejahilan Naya sewaktu di panti tadi.
" Ish.. balas dendam. Kita sarapan di dekat masjid yang ada pom bensin aja yaa, disana banyak menu pilihan meski kantin nya kecil tapi bersih ko.. Aku sama Ummi suka kesitu ". Saran Naya memberi petunjuk dan di iyakan oleh Mahen.
***
Kediaman Danureksa.
" Apa kamu bilang? Jimsey tahu dan memasang parameter untuk mu? ". Tanya nya dengan nada tinggi penuh amarah menggema di seluruh penjuru ruangan kerja nya.
" What your plan now? ". Ia tak bisa berpikir jernih kali ini.
" Ok, aku ikuti saran mu ".
***
Setelah sarapan, Mahen meminta Rey melanjutkan ke tempat kedua. Kali ini mereka menuju ke sebuah panti asuhan anak berkebutuhan khusus. Rey juga telah memberikan cek dengan jumlah 15 juta untuk digunakan membeli peralatan stimulasi belajar yang merangsang motorik halus dan kasar serta beberapa produk digital dilengkapi dengan coding sederhana yang diciptakan oleh Mahen agar anak-anak disini bisa berkembang lebih baik lagi. Mahen mengatasnamakan pemberian nya ini dari Naya.
Masih ada beberapa panti asuhan ataupun pondok pesantren yang aka mereka kunjungi satu hari ini. Aktivitas itu mereka lakukan hingga sore hari. Dan mereka tiba kembali di pusat kota sesaat sebelum petang menjelang, kini mereka telah berada di tempat terakhir, di sebuah panti pinggir pantai. Keduanya turun dari bahu jalan raya, menapaki tangga kecil yang langsung terhubung menuju halaman belakang, lalu duduk di sebuah batang pohon kelapa yang tumbang menikmati view sunset yang masih menggantung dilangit senja.
" Abang, thank you for coming to my birthday. It was more special getting to celebrate with you. I know you spend a lot of time picking out there perfect gift for me and i feel blessed to have such a thoughtful man in my live. You make my day amazing ". Naya memandang langit senja dari tempat duduk nya dengan Mahen yang duduk di tempat yang sama, tak jauh darinya. Ia sudah membayangkan akan menjalani hari ini dengan berat, tapi nyatanya bisa ia dilalui dengan sangat ringan dan bahagia karena kehadiran Mahen di sisi nya sepanjang hari.
" When I think about things I'm grateful for, you are always on the list and I'm so grateful you choose to be with me ". ( ketika aku berfikir tentang hal – hal yang harus aku syukuri, kamu selalu ada di dalam daftar itu dan aku sangat beruntung kamu memilih untuk bersama ku ). Balas Mahen tak kalah manis.
Tak lama adzan maghrib berkumandang. Kepala panti yang memang telah diberi wejangan di hari sebelumnya oleh Rey, kini menghampiri keduanya dan mengajak nya masuk ke panti. " Neng Naya ko ga bilang mau kesini, yuk masuk dulu, sudah maghrib ". Ibu kepala menggandeng tangan Naya agar mengikutinya.
" Sepi banget bu, anak-anak kemana? pada pulang yaa. Oiya Abang, kalau disini, anak-anak masih boleh pulang ke rumah karena yang disini tidak sepenuhnya tanpa keluarga seperti di tempat lain tadi ". Naya menjelaskan sikon panti yang berbeda dari tempat yang mereka kunjungi seharian ini.
" Tapi kalau sehari-hari, mereka makan sekolah dari sini ya? ". Tanya Mahen kembali.
" Betul pak, diizinkan untuk pulang saat sabtu sore dan minggu siang sudah harus kembali lagi kesini ". Ibu panti memberikan penjelasan lebih detail pada Mahen.
__ADS_1
Setelah sholat maghrib, Naya memutuskan pamit dengan memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang hasil tabungan nya. Tapi Ibu kepala panti bilang " Kita ke teras depan dulu yuk, biar adem ". Ajak nya pada naya dan Mahen.
" Surprise.................. Happy birthday kakak ". Seru anak-anak panti bersamaan, suara tiupan peluit, terompet, dekorasi ruang tamu, kueh, tumpeng, tart, balon dan bunga rose pink memenuhi ruangan. Naya bingung sekaligus terkejut melihat semua anggota panti kini berkumpul lengkap ada dihadapan nya. Ia terharu dan bahagia.
" Abang, Is what I am seeing for real? its really a big surprise ". Ucap Naya sambil melirik pada Mahen, tangan nya tak sengaja memegang lengan Mahen karena ia terlalu bahagia sekaligus haru atas perlakuan semua orang-orang tersayang nya hari ini.
" Enjoy honey... Happy birthday.. ". Mahen hanya tersenyum melihat gadisnya sudah mulai berkaca-kaca.
Ibu kepala panti meminta Naya bergabung bersama anak-anak untuk memulai rangkaian acara dari doa hingga potong kueh dan makan nasi tumpeng bersama. Tidak ada tiup lilin seperti kebanyakan pesta ulang tahun, mahen memang sengaja tak menyediakan nya karena sebelum melakukan ini ia telah berkonsultasi pada guru nya.
Hingga jam sembilan malam, acara di panti yang terletak di pinggir pantai ini selesai sudah. Satu persatu anak-anak kembali bersiap untuk istirahat, memulai ritual mereka mulai dari mencuci kaki, tangan dan gosok gigi lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.
" Terimakasih yaa Neng Naya, Nak Mahen sudah mampir kesini, anak-anak ikut happy merayakan syukuran hari ini ".
" Aku yang makasih sama Ibu, sudah mau direpoti oleh dia. Pasti disiapkan dari kemarin yaa Bu? ". Tanya Naya menyelidiki.
" Duh ini mah rahasia Neng ". Jawabnya kembali sambil tersenyum.
" Terimakasih banyak yaa Bu. Tolong bantu aku jaga dia kalau kabur kesini ". Mahen merasa Naya lebih nyaman disini dibandingkan tempat lainnya meski lokasinya berdekatan.
" Bu, Naya punya sedikit buat keseharian adek-adek disini ". Naya mengambil sebuah amplop dari dalam tas nya untuk diserahkan pada kepala panti.
" Udah Neng, kan udah banyak ngasih nya, yang ini disimpen aja ". Kepala panti kelepasan berbicara, ia melihat pada Mahen yang justru pura-pura tak mendengar perkataan ia tadi. Akhirnya setelah perdebatan lama, Naya mengalah, ia kembali memasukkan amplop berisi uang tadi kedalam tas nya, kemudian mereka pamit undur diri dari sana.
Setelah didalam mobil, Naya yang sedari tadi menahan diri untuk tidak bertanya akhirnya mengutarakan perasaan nya pada Mahen.
" Abang.. aku tau, Abang hari ini banyak mengeluarkan uang untuk setiap tempat yang kita kunjungi. Semua yang Abang lakukan ini bertujuan untuk? ".
" Sedekah sayang.. Udah itu aja. Ga usah dipikirkan, ok? Rey kita ke kost-an Naya ". Mahen mulai membuka ponselnya untuk menghindari Naya bertanya lebih jauh. Ternyata banyak sekali notifikasi pesan masuk yang harus ia balas dan mengharuskan nya untuk mengabaikan Naya sejenak karena Mahen pun melihatnya sedang serius memeriksa ponsel nya. Tak ada percakapan lainnya selepas ini, mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing, hingga tak lama kemudian Naya turun dan Mahen langsung pamit kembali ke hotel.
" Aku telepon lagi selepas tiba di hotel yaa ". Mahen memandang gadisnya dalam temaram lampu taman di depan gerbang kost-an. Naya hanya merespon nya dengan sebuah anggukan pelan dan senyum samar " thanks a lot ". Balas naya lirih sebelum mobil Mahen berlalu pergi meninggalkan pelataran gang soka.
Setelah mobil Mahen lepas dari pandangan nya, Naya membalikkan badannya dan masuk kedalam kost-an. Baru saja kaki nya melangkah beberapa kali, panggilan dari pak satpam menghentikan nya. Sebuah surat undangan diserahkan pak satpam pada tangan kanan nya. " Neng Naya, tadi ada yang anterin ini. Terus ada orang hotel Bintang kesini juga mau jemput kata nya jam 7 pagi besok ". Pak satpam memberi Naya informasi tentang tamu yang datang mencarinya siang tadi.
" Hotel? saya ga reservasi ko Pak? lalu ini apa? ".Tanya Naya bingung.
" Ga ngerti atuh, coba neng Naya pelan-pelan baca deh. Masuk aja dulu gih, beres-beres lalu dipahami ". Saran nya kemudian.
" Hotel bintang, jam 7 pagi ballroom 2 private party special for my girls ". Siapa yaa? Naya bergumam sembari menaiki tangga menuju kamar nya. Ada beberapa pesan masuk dari ka Amir, Vita dan beberapa teman yang ia kenal mengucapkan selamat bagi nya untuk hari ini. Karena lelah dan lama menunggu Mahen menghubungi nya, Naya tak sengaja tertidur dengan posisi tengkurap dengan handphone yang masih menyala. Beberapa kali nada panggilan terdengar namun nampak nya sang empu nya ponsel telah lelap ke alam mimpi.
__ADS_1